
Bambang menemani Arvida menemui Maraden dan istrinya. Bambang menyampaikan jika dia tidak mengantar mereka pulang karena Arvida melarangnya. Arvida yang tidak sudi dijadikan kambing hitam menimpali dengan memberi alasan bahwa Bambang sangat lelah. Arvida menginginkan Bambang beristirahat. Maraden, Koes Andrina, dan Indah memahami. Namun, isi hati mereka berkata lain. Walaupun tanpa hubungan telepati, mereka bertiga yakin kalau alasan Arvida menolak diantar Bambang pastilah jauh lebih rumit daripada yang diucapkan Arvida. Indah tahu seberapa rumitnya sementara Maraden dan istrinya belum, tetapi melihat perdebatan Bambang dan Arvida dari kejauhan saja telah mengisyaratkan ketidakberesan. Ketika Arvida hendak masuk mobil, Bambang kembali membisikkan pernyataan cintanya.
"I love you, too, Mas Bambang."
Arvida ingin cepat menghilang dari hadapan Bambang. Semakin lama melihat wajah Bambang, kian membangkitkan kegusarannya. Mobil Arvida menghilang dari pandangan Bambang. Achmad membukakan pintu mobil untuk Bambang. Setelah Bambang duduk di mobil, Peter masuk dan duduk di samping Supardjo. Mobil Tedjo menunggu di belakangnya. Achmad menghormat sampai mobil Bambang bergerak meninggalkannya. Dia memikirkan tingkah aneh Arvida. Arvida tidak pernah mengabaikan Bambang selama ini. Dia memuja Bambang. Namun, malam ini terlihat jelas sinar mata kebencian Arvida setiap melihat Bambang.
"Ada masalah apa lagi di antara bapak dan ibu Arvida?"
Achmad merenung sembari berjalan.
"Astaghfirullah al-'Adhim .... Apa ibu Arvida menyadari kecurangan bapak?"
Safira resah di tempat tidurnya. Dia ingin memejamkan mata, tetapi sulit. Tadi siang, dia menemukan kenyataan menyakitkan. Tanpa sengaja, dia mendengar percakapan telepon Safina dengan seseorang. Sepertinya, rekan sesama dokter. Safina sering menyebut kata CT scan, MRI, lumpektomi, mammogram, dan mastektomi. Tadinya, Safira tidak mengacuhkan pembicaraan kakaknya. Namun, dia tercekat mendengar kelanjutan ucapan Safina.
"Jadi, stadium tiga! Aku juga sudah curiga, tapi Aku pikir semuanya dapat teratasi. Aku tidak ingin kehilangan milikku yang berharga, Mel! Kasihan mas Gatot kalau harus menghadapi kenyataan tidak lagi memiliki istri yang bertubuh sempurna!"
....
"Aku mengerti, tapi walaupun Aku dokter, Aku tetap tidak siap melakukannya, Mel!"
....
"Kami tidak berhubungan sudah lima bulan. Aku menolaknya. Aku tidak mau mas Gatot melihat perubahan payudaraku, Mel."
Safira mendekap mulut lalu masuk kamar tidurnya. Safira belum yakin benar dengan dugaannya bahwa kakaknya mengidap kanker payudara. Dia memerlukan penjelasan gamblang. Safira menghapus air matanya kemudian mendatangi kamar tidur kakaknya. Dia mengetuk pintu.
"Siapa?"
"Fira, Mbak."
__ADS_1
Safina menyilakan Safira masuk. Awalnya, pembicaraan Safira dan Safina berlangsung manis sampai Safira mulai menyinggung fakta pembicaraan Safina dan temannya yang terdengar Safira. Meledaklah tangis Safina. Dia tidak mengingkari ucapan Safira. Safira pun tersedu mendengar kenyataan kanker yang sudah bercokol lama di payudara kakaknya.
"Kasihan mas Gatot yang selama ini tidak memahami penderitaan mbak Fina. Mas Gatot kebingungan menghadapi perubahan ekstrem temperamen mbak Fina."
Safira meminta Safina jujur kepada Gatot.
"Tidak ada gunanya lagi menyembunyikan penyakit Mbak dari mas Gatot."
"Fir, Mbak tidak kuat menyampaikan tentang penyakit Mbak ke mas Gatot."
"Mbak Fira, kanker Mbak sudah stadium tiga. Cepat atau lambat, mas Gatot pasti tahu juga!"
Ketegasan ujaran Safira menyadarkan Safina akan perbuatan bodohnya selama ini.
Gatot meremas kepalanya mendengar pengakuan Safina.
"Mengapa kamu menyembunyikan masalah sedarurat ini dariku begitu lama? Sudah stadium berapa, Fin?"
Safina hampir tidak mendengar suaranya sendiri saat menyebutkan stadium kankernya.
"Stadium tiga??? Sudah tahap lanjut!!! Selangkah lagi ke stadium empat, Fin!!! Stadium akhir, Fin!!! Astagfirullah al-'Adhim" .... Mengapa kamu begitu tega kepada anak-anakmu, Aku, Safira, dan terutama dirimu sendiri??? Kamu tidak memikirkan bagaimana keadaan kami semua tanpamu, Fin! Ya, Allah!!! Apa yang harus kulakukan??? Aku tidak akan rela kehilanganmu! Anak-anak sangat membutuhkanmu! Juga Safira serta kedua orangtuamu!"
Safina meraung didera penyesalan. Gatot menghubungi papanya. Malam itu juga, ayah dan ibu Gatot tiba di Cimanggis. Safina, Safira, dan ibunya Gatot bertangis-tangisan. Bapaknya Gatot, Brigjen Purn. Subarkah berdiskusi dengan Gatot mengenai keputusan mengirim Safina ke Singapura untuk menjalani pengobatan intensif. Subarkah menghubungi temannya di Singapura yang memiliki dua apartemen dan tiga rumah di sekitar Rumah Sakit Mount Elizabeth. Subarkah ingin mengontrak satu rumah teman Singapuranya itu selama setahun. Johnny Yew siap membantu. Dia menggratiskan uang sewa. Subarkah sering menolongnya sehingga Johny Yew tidak segan membantu sahabatnya yang beda bangsa itu kali ini.
Arvina memikirkan kado terbaik yang dapat diberikan untuk Gabriella, mantan sekretarisnya. Arvina sudah berhenti bekerja dan Gabriella pun ikut mengundurkan diri. Arvina dan Havi akan ikut Hans pindah ke Manado. Hans harus segera bertugas menjadi Kepala Pajak Sulawesi Utara. Gabriella hendak dinikahi kekasihnya, seorang pengusaha muda pemegang lisensi jaringan restoran makanan siap saji asal Jepang di Indonesia. Gabriella adalah wanita Kawanua dan calon suaminya mengijinkan dia membuka cabang-cabang restoran siap saji itu di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.
"Sebentar lagi, kau bakal jadi konglomerat, Gabby. Mantap kali, kau! Memang, otak bisnismu itu mengagumkan!"
Pujian Hans dibalas tawa Arvina dan Gabriella. Arvina dan Gabriella merasa senang. Hubungan baik mereka sebagai bos dan sekretaris akan menjadi hubungan teman dekat. Apalagi, Gabriella akan sering mengunjungi Manado nantinya. Terbit ide Arvina memesan kalung emas putih berliontin berlian seorang wanita penari Maengket. Tiba-tiba, Hans menelepon. Suara Hans menahan tangis. Adiknya, Haris Hutagaol, ditahan KPK dalam operasi tangkap tangan di sebuah kelab malam mewah di Jakarta Barat beserta sekretaris pribadi dan seorang ajudannya yang membawa koper berisi uang 300 ribu USD. Dua orang wanita berusia sekitar dua puluhan tahun dan berprofesi sebagai gadis pemandu ikut digelandang. Arvina menghubungi orangtuanya. Saat itu, kedua orangtua Arvina, Arvida, dan Indah baru tiba di rumah orangtua Arvina. Maraden mengambil alih ponsel di tangan istrinya. Arvida terduduk lemas.
__ADS_1
"Tuhan, mohon lindungi Arvina. Aku berharap bang Hans tidak terlibat."
Seluruh orang di rumah Maraden Simanjuntak gelisah. Semuanya memikirkan hal yang sama : Terlibatkah Hans? Maraden dan Koes Andrina sibuk berbicara di ponsel masing-masing. Seorang perwira pertama polisi muncul di rumah Maraden. Dia menemani Arvida dan Indah yang akan menjemput Arvina dan Havi. Dia sudah menyuruh dua temannya menjaga rumah Arvina.
KAMUS
1. CT scan
Computerized Tomography scan
Menentukan besarnya ukuran benjolan.
2. KPK
Komisi Pemberantasan Korupsi.
3. Lumpektomi
Operasi pengangkatan jaringan terkena kanker tanpa pengangkatan payudara.
4. Mammogram
Foto payudara untuk mendeteksi kelainan pada payudara.
5. Mastektomi
Operasi pengangkatan payudara yang terkena kanker.
6. MRI
__ADS_1
Magnetic Resonance Imaging
Mengetahui seberapa parah penyebaran sel-sel kanker.