CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
KEGILAAN NATALIA


__ADS_3

Natalia berbaring di samping Rocco, namun dia mengirim pesan ke Achmad terlebih dahulu.


"Aku suka kamu, Achmad."


"Aku sudah jujur ke papa tentang perasaan Aku ke kamu."


Natalia tertawa tanpa bersuara. Dia tidak sabar menunggu yang akan terjadi besok. Di tempat tidurnya, Achmad sedang resah. Dua pesan Natalia membuat jantungnya seperti berhenti sesaat. Achmad tersenyum melihat foto Natalia di ponselnya. Tetapi, dia mendadak teringat Safira. Dia tidak mungkin memutuskan pertunangannya dengan Safira. Menyakiti Safira berarti menyakiti Wenny. Achmad tidak sanggup membayangkan jika ada pria mempermainkan hati Wenny. Achmad masih belum membalas. Pikiran Achmad yang berhati lurus sibuk memikirkan Natalia dan Safira padahal Natalia menipunya habis-habisan. Achmad berjaga sepanjang malam sementara Natalia tertidur pulas. Pukul 04.00 pagi, Achmad mengirim balasan.


"Lia, Aku cinta kamu!"


"Aku siap terima konsekuensi apa pun dari papa kamu."


"Tapi, apa yang harus kulakukan dengan Safira?"


"Menyakiti Safira berarti menyakiti Wenny."


Achmad sabar menanti balasan.


Bambang, Arvida, dan Natalia tampak rapi di Minggu pagi. Mereka hendak ke gereja bersama Peter, istri, dan anaknya. Yang lain diijinkan melakukan kegiatan suka-suka. Achmad dan Farid memutuskan tetap menjalankan pengawalan walaupun dilarang Bambang. Sepanjang perjalanan, Natalia yang duduk di kursi terbelakang terpekur ke ponselnya. Achmad mencoba melirik melalui spion, namun pandangannya bersirobok dengan mata Bambang. Achmad teringat bahwa Natalia sudah memberitahu Bambang mengenai hubungan mereka. Achmad gugup.


"Apa mungkin bapak marah karena Aku pacari anaknya? Nanti, Aku dimutasi. Aku malah sulit ketemu Lia."

__ADS_1


Sementara itu, Natalia baru menyadari jika Achmad telah membalas. Natalia membaca semua pesan Achmad. Tawanya meledak. Arvida dan Bambang menoleh ke arahnya menunjukkan keingintahuan.


"Forgive me, everybody! This news is sooo ridiculous!"


Natalia menahan tawa. Arvida dan Bambang memaklumi. Farid masih mengelus dadanya. Dia kaget. Tawa keras mendadak Natalia membuyarkan khayalannya tentang Wenny. Hanya Achmad yang tidak tepengaruh. Tingkat pengendalian dirinya menakjubkan. Natalia tidak buru-buru menjawab pesan Achmad.


Acara kebaktian berakhir pukul 07.00 pagi. Bambang mengajak semua orang untuk sarapan di sebuah restoran, sedangkan Natalia akan pergi bersama Carlos yang hadir juga di gereja tadi. Achmad menunjukkan ketidaksenangannya terhadap Natalia. Natalia hampir memberikan pandangan menantang, tetapi dia teringat saatnya memulai permainan menghancurkan hati Achmad.


"Papa, Carlos will not deliver me home. May Achmad pick up me later?"


"Sure, he may. Do you need Achmad to go along with you?"


"May I?"


Natalia berterima kasih kepada papanya. Bambang menyampaikan perintah ke Achmad. Ketiga mobil tersebut meninggalkan gereja. Mobil yang dikendarai Farid bergerak ke Utara, sedangkan mobil Carlos dan mobil Achmad bergerak ke Selatan.


Natalia mengambil beberapa tumpuk kertas dari kamar kos Carlos. Natalia membiarkan Achmad ikut masuk. Natalia sedang sibuk memberi petunjuk ke Achmad ketika Carlos memegang punggung Natalia. Achmad mengepalkan kedua tangannya ingin meninju Carlos, namun Natalia tidak menyadari reaksi Achmad. Ia tekun menghitung semua bundelan kertas.


"Los, Gue sudah ambil semua dokumennya," tandas Natalia.


Natalia dan Achmad meninggalkan tempat kos Carlos. Natalia yang kelaparan meminta diantar ke sebuah restoran cepat saji. Natalia mengajak Achmad sarapan. Ketika Natalia hendak membayar, Achmad sudah mengangsurkan uang sejumlah pembelian.

__ADS_1


"Kok, kamu yang bayar, Mad?" tanya Natalia.


Natalia berencana menyakiti hati Achmad, tetapi dia tidak suka Achmad mengeluarkan uang. Papanya memberitahu jika Achmad rutin mengirim setengah gaji bulanannya ke keluarganya di kampung. Achmad adalah anak sulung dari empat bersaudara. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai petani. Adik pertamanya ialah Wenny. Adik kedua dan adik bungsunya duduk di kelas tiga SMA dan kelas tiga SMP. Kalau adik keduanya meniru jejak Wenny, tembus perguruan tinggi negeri, Achmad boleh bernapas lega sebab biaya masuknya terjangkau. Bahkan seandainya memperoleh beasiswa BIDIK MISI, uang kuliah pun digratiskan dan mendapat uang bantuan per bulan. Menurut Bambang, adik keduanya Achmad pintar seperti Wenny. Selama makan, Natalia banyak membahas Achmad dan keluarganya. Natalia kagum terhadap Achmad. Hatinya goyah meneruskan pembalasan dendamnya.


"Lia, Aku mau tanya tentang hubungan kita. Aku--" tutur Achmad terputus sebab mulutnya dibekap Natalia.


"Aku belum siap, Mad! Aku juga ragu waktu membaca pesan kamu yang menyinggung Safira! Aku tersadar. Aku lupa ternyata ada Safira di antara kita berdua."


"Aku cinta kamu, Lia. Aku mau kamu, tapi Aku tidak mungkin menyakiti Safira!"


Achmad membelai bibir Natalia lalu mengecupnya lembut. Natalia tersenyum. Dia menggeser kursinya agak menjauh. Dia menghela napas dan memejamkan mata sekejap.


"Aku cinta kamu, Mad dan Aku sudah jujur ke papa tentang hubungan kita, tapi ...."


"Tapi apa, Lia?"


"Tapi ..., tapi semuanya bohong, Achmad!"


Natalia tertawa terbahak-bahak."


Wajah Achmad merah padam. Seandainya Natalia di dekatnya, Achmad bakal reflek memukulnya. Natalia menyadari hal itu sehingga dia menjauh sebelum bicara. Natalia terus terbahak. Para pengunjung melihat dia dengan kesal. Natalia berhenti tertawa. Achmad meninggalkannya. Setengah jam kemudian, Natalia keluar. Dia menuju mobil. Natalia masuk mobil.

__ADS_1


Minggu sore, rombongan Bambang meninggalkan Bandung. Sebelumnya, Bambang menyuruh Achmad mengantar Wenny langsung ke Depok memakai salah satu mobil. Bambang menyetujui Farid yang ingin ikut mengantar Wenny.


__ADS_2