
"Vida, andingan boi hita baen kebaktian syukur nunga dilamar si Bambang ho, inang?"
("Vid, kapan kita bisa adakan acara kebaktian syukur kau dilamar si Bambang?")
Maraden menanyai Arvida.
"Boa na denggan ma menurut Amanguda! Alani, anggo bulan on hita baen, boi Ahu dohot. Dang adong ikkon martugas ahu tu luar Jakarta."
("Bagaimana baiknya Amanguda. Bulan ini Aku tidak tugas ke luar Jakarta.")
Arvida menanggapi anangudanya. Maraden mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ai ikkon adong atong ho dohot si Bambang alani hita baen on nang naeng melakukan prngucapan syukur si Bambang melamar kau, inang! Alai, boasa dang hea ro si Bambang tu jabu sejak makan malam waktu itu?"
("Ya, harus ikut, dong, kau dan Bambang! Acara ini untuk kalian. Tapi, kenapa si Bambang tidak pernah datang lagi sejak acara makan malam di sini?")
"Ai sibuk ibana, Amanguda. Naeng marulang tahun muse Kostrad tanggal 6 Maret on!"
__ADS_1
("Dia sibuk, Om. Tanggal 06 Maret ini Kostrad ulang tahun, kan, Om.")
"Oh, toho! Boasa dang hu ingot i? Ahu pensiunan tentara alai masai lupa!"
("Oh iya! Aku pensiunan tentara bisa lupa! Sudah bahaya ini!")
Arvida tertawa mendengar ujaran amangudanya.
Koes Andrina belum pulang. Arvina akan mengantar pulang mamanya. Arvina sedang di RSCM menjenguk teman kuliahnya yang dirawat di paviliun Kencana. Di saat yang sama, Koes Andrina didaulat sebagai pembicara bersama beberapa rekan sejawatnya yang berprofesi sebagai onkolog, radiolog, dan internis yang belajar pengobatan alternatif di Tiongkok di seminar mengenai metode pengobatan kanker yang membahas keefektifan penggabungan sistem pengobatan medis dan sistem pengobatan alternatif di aula FKUI, Salemba. Seminar tersebut untuk kalangan medis. Seminar berakhir pukul 05.00 sore, namun Koes Andrina menemui Arvina sejam setelahnya. Tadinya, Koes Andrina bernaksud mendatangi Arvina sekaligus menjenguk sahabat putrinya itu, tetapi gerbang pembatas RSCM dan FKUI telah ditutup sejak pukul 05.00 sore sehingga siapa pun harus mengambil jalan lebih panjang jika dari RSCM ke FKUI ataupun sebaliknya. Arvina tidak mengijinkan mamanya berjalan terlalu jauh. Jadi, Arvina memutuskan menjemput mamanya. Mobil Arvina menunggu di pelataran parkir FKUI. Koes Andrina masih berbicara dengan beberapa dokter peserta seminar. Arvina menghampiri mamanya dan diperkenalkan mamanya kepada para peserta seminar yang rata-rata seumur Arvina.
"Arvina!"
"Kak Willy! Apa kabar?"
William alumni SMA PSKD 1 dan Arvina alumni SMP BPK Penabur 3. Kedua sekolah itu bertetangga sederet di seberang RSCM. Mereka akrab setelah William menolong menangkap payung Arvina. Waktu itu, Arvina hendak menyeberang ke RSCM karena akan pulang naik mobil mamanya. Hujan rintik-rintik mengharuskan Arvina mengembangkan payungnya. Angin kencang menyebabkan payung dalam genggaman Arvina terbang. William yang tinggi berhasil menangkap payung Arvina. Ketika William kelas dua belas dan Arvina kelas sembilan, Arvida terdaftar sebagai siswa kelas tujuh. Arvina dan Arvida bersaing memperoleh perhatian William Fransiskus Rantung yang merupakan pebasket liga yang dilirik PERBASI. Koes Andrina masih mengobrol dengan para peserta seminar yang lain sembari menunggu William dan Arvina yang terlibat pembicaraan seru. William berperawakan seperti kebanyakan pria Kawanua. Kulit putih, wajah tampan ditambah tubuh tinggi ideal, mata coklat muda, dan rambut kemerahan. Dia tamatan fakultas kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, tetapi menyelesaikan pendidikan pediatrinya (spesialis kesehatan anak) di The University of Sydney, Australia. Kedua orangtua William merupakan aparatur sipil negara daerah tingkat satu provinsi Sulawesi Utara. Papanya adalah pensiunan pegawai dinas pekerjaan umum sementara mamanya merupakan guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1, Manado. Adik perempuan William, Christina Rantung, menjadi bidan puskesmas di kabupaten Minahasa Tenggara. Christina dinikahi seorang anggota DPRD kabupaten Minahasa Tenggara dan adik bungsunya William, Ipda Patrick Rantung, lulusan Akpol yang bertugas di Polda Sulawesi Tengah. Waktu menunjukkan pukul 07.00 malam saat mobil Arvina menuju rumah orangtuanya di kawasan Kayu Putih.
"Vid, I met with someone in FKUI."
__ADS_1
Arvina bicara dengan heboh. Arvida memicingkan mata menebak kalau seseorang itu sepertinya spesial.
"Who is that, Vin???"
"He is our cute boy!"
"Whatttttt??? Where??? How does he look now??? How is his wife??? How many children does he have???"
"Oh My God! Why did you directly ask about his wife and his children??? It is sooo eeembarrassiiing, Lady Arvida!"
Arvina menjulurkan lidah yang disambut dengan pencetan hidung Arvina oleh Arvida.
"Auccchhh .... It is a painful pinch, girl! I got his number, but I would not share it with you!"
I will tell bang Hans that you betrayed him. Give it to me now, Vin!"
Arvina berlari masuk kamar tidur mereka dan mengunci pintu. Arvida menggedor-gedor pintu. Maraden dan istrinya tersenyum melihat tingkah kedua anak perempuan mereka. Arvida akhirnya mengetahui jika William seorang dokter dari inangudanya. Arvida semakin ribut memanggil Arvina, sedangkan Arvina tertawa meledek.
__ADS_1
Bambang bingung. Genap dua minggu Arvida tidak menghubungi Bambang. Biasanya jika Bambang menelepon sekali maka Arvida segera menelepon. Terakhir kali mereka berhubungan sewaktu Arvida membalas dua pesan yang dikirimkan Bambang sepulang dari acara makan malam di rumah amangudanya Arvida. Harus diakui Bambang jika dia sedikit merindukan Arvida. Dia ingin meminta Arvida mendampingi dirinya saat menghadiri peringatan hari jadi Kostrad minggu depan. Bambang berencana memperkenalkan Arvida sebagai calon istrinya. Sebentar lagi Kostrad akan memiliki ibu Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Gabungan Kostrad.
Bambang masih dalam perjalanan dari Bogor bersama Peter dan Supardjo.