
Kantor Polres Jakarta Timur, suatu siang di tahun 1990.
Letkol Maruap Simanjuntak mengamati dengan saksama peta provinsi Lampung. Dia melingkari sebuah titik beberapa kali. Dia berpikir cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
"Jadi, bagaimana keadaan tempat itu sebenarnya, No?"
"Siap, Komandan! Sangat rawan, Ndan! Beberapa rekan Polwil Lampung cerita bagaimana repotnya mereka kalau lagi mengepung, Ndan!"
"Ada informasi baru apa tentang grup si Muhaji?"
"Empat kaki tangan Muhaji lagi di daerah itu! Mereka semua punya istri simpanan. Si Muhaji belum kelihatan batang hidungnya, Ndan! Tapi, Muhaji selalu kumpulkan anggotanya di sana, Ndan! Soalnya, tempat itu perbatasan provinsi Lampung dan provinsi Sumatera Selatan, Ndan! Ada jalan tikus yang susah dilacak, Ndan!"
"Pantas, mereka sulit ditangkap!"
"No, kamu kabari Polwil Lampung kalau kita akan menangkap kelompok Muhaji! Tanyakan semua hal yang bisa kamu dapat! Informasi sekecil apa pun!"
"Siap, Ndan! Mohon ijin bergerak, Ndan!"
Maruap menganggukkan kepala. Kapten Sudarno bergegas meninggalkan ruang komandannya.
"Kalian, terus pantau pergerakan si Muhaji! Hati-hati bertindak! Jangan sampai informan kita ketahuan! Tanyakan keseharian para istri simpanan anak buah si Muhaji!"
Maruap memberi perintah kepada sejumlah anak buahnya yang masih bersamanya.
Dua masalah besar dihadapi Maruap bersamaan. Pertama, rencana penggerebekan kelompok penjahat sadis yang merampok di sebuah rumah pengusaha grosir kebutuhan sehari-hari lalu menghabisi nyawa si pengusaha, istri, dan ketiga anaknya. Mereka terlalu bengis. Mendidih darah Maruap ketika mendatangi TKP. Dia meneteskan air mata melihat mayat ketiga anak tersebut. Dia langsung teringat istrinya Farida yang sedang mengandung calon anak pertama mereka. Calon anak yang berhasil tumbuh dalam rahim Farida setelah enam tahun mereka menikah dan Farida mengalami keguguran dua kali. Farida adalah masalah keduanya. Ginekolog memberitahu mereka jika Farida mengalami masalah kehamilan serius. Ginekolog mewanti-wanti Farida agar menjaga kondisinya. Syukurlah, Farida menaati anjuran. Dia mendisiplin diri sehingga di kehamilannya yang memasuki bulan kesembilan, kondisinya cukup stabil. Namun, Maruap takut menghadapi kemungkinan jika dia tidak dapat mendampingi istrinya sewaktu proses melahirkan. Rencana penyergapan kelompok penjahat biadab itu harus dilakukan paling lambat pertengahan bulan ini. Tidak berbeda jauh dari waktu prediksi Farida melahirkan. Meskipun begitu, Maruap merasa tenang sebab adik iparnya, Koes Andrina, istri adiknya, Maraden Simanjuntak, berjanji hadir saat Farida hendak melahirkan, di luar berhalangan atau tidaknya dia mendampingi.
__ADS_1
Sudarno kembali menghadap sore harinya. Ketegangan muncul di wajah Maruap dan anggota tim. Malam ini, mereka harus berangkat ke Lampung. Muhaji muncul! Kelengkapan tim dipersiapkan. Teman-teman mereka di Lampung bersiaga. Farida menelepon dari rumah Maraden.
"Hati-hati, Bang! Mereka sangat berbahaya!"
Maruap mencoba menenangkan istrinya.
"Iya, Da! Kau pun baik-baiklah! Selesai ini, Abang balik Jakarta temui kau! Doakan Abangmu ya, Da!"
Farida dijemput Maraden dari rumahnya. Maraden memutuskan kakak iparnya tinggal dengan mereka selama abangnya bertugas. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan kakak ipar dan calon keponakannya. Arvina, gadis kecil keluarga Maraden yang berusia dua tahun, setia mendampingi inangtuanya. Dia kerap duduk di pangkuan Farida. Pelukan Arvina kecil selalu menenangkan Farida.
Maruap dan timnya tiba di Pelabuhan Bakaheuni tengah malam. Mereka dijemput beberapa rekan polisi berpakaian sipil. Suasana mencekam tampak selama rapat koordinasi di markas Polwil Lampung. Komplotan Muhaji sudah membunuh tiga orang polisi yang menjadikan rencana pembekukan kelompok itu memeroleh perhatian luar biasa dari para rekan polisi. Bahkan, Kapolwil ikut dalam rencana penyergapan.
Deru mesin sepuluh mobil Kijang memecah keheningan malam. Setiap penumpang bertampang serius. Mereka tidak banyak bicara. Suara walkie-talkie silih berganti terdengar melaporkan terperinci gerakan para target. Di sebuah tempat, tiga mobil berhenti, sedangkan tujuh mobil lainnya melanjutkan perjalanan. Keluarlah setiap penumpang yang mengenakan rompi anti peluru. Lima orang berjaga sementara sepuluh tangan yang memegang pistol berperan menjadi para pemburu. Mereka menyusuri hutan yang gelap, jalan tercepat menuju lokasi. Seluruh titik lain bakal dikepung teman-teman mereka yang berada di tujuh mobil. Para pemburu berpencar begitu menginjakkan kaki di lokasi perburuan. Hanya ada satu lampu penerang jalan kampung sehingga menguntungkan para pemburu. Maruap, dua anak buahnya, dan satu rekan Polwil Lampung mengendap-endap mendekati satu rumah. Mendadak terdengar satu kalimat berbahasa Lampung diteriakkan. Rekan dari Polwil Lampung langsung memaki kesal. Maruap tidak mengerti bahasa itu, tetapi dia paham sesuatu yang buruk terjadi. Dia menyuruh anak buahnya mengikuti rekan Polwil Lampung yang berlari ke Barat.
Suara Kapolwil berkali-kali terdengar lewat pengeras suara membujuk Muhaji menyerah. Sementara itu, Maruap dan Sahat mengejar Muhaji yang nekat berlari kencang di depan mata para petugas ke arah sebuah motor X-King. Perintah Maruap diabaikan Muhaji. Muhaji berhasil menaiki motornya dan mengarah masuk hutan--
"Kurang ajar! Dia berbelok. Dia tidak masuk hutan! Dia tahu siapa yang menanti!"
Tidak mau membiarkan penjahatnya kabur, Maruap melepaskan satu tembakan terkenalnya. Muhaji terpelanting dari motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Motor itu berhenti sesudah menabrak pohon besar. Maruap mendekati Muhaji. Empat orang mengikutinya di belakang. Muhaji mengaduh kesakitan. Dua polisi memegangi Muhaji yang tersenyum licik ketika akan diborgol rekan Polwil Lampung. Maruap melihat senyum jahat itu. Dia pun mengetahui tangan kanan Muhaji yang masuk saku celananya. Maruap mendorong rekannya itu. Kejadiannya berlangsung cepat. Maruap jatuh telentang di tanah. Satu peluru menembus keningnya.
Di Jakarta, Farida yang tertekan memikirkan suaminya menyebabkan rahimnya berkontraksi. Farida dibawa ke rumah sakit. Proses persalinan terpaksa dilakukan. Bayi perempuan Maruap dan Farida lahir di hari papa pemberaninya gugur bertugas. Farida akhirnya meninggal kehabisan tenaga. Keluarga Maraden mengasuh dan menamai bayi perempuan itu Arvida.
KAMUS
__ADS_1
Amangtua
Sebutan di suku Batak untuk memanggil abangnya papa.
Ginekolog
Dokter spesialis kandungan.
Inangtua
Istri Amanguda. Ditujukan juga untuk memanggil kakak perempuannya mama.
Polres
Kepolisian Resor dikepalai Kapolres (Kepala Polres)
Polwil
Kepolisian Wilayah dikepalai Kapolwil (Kepala Polwil) Sekitar tahun 1990an.
TKP
Tempat Kejadian Perkara.
__ADS_1