CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
INDAH, OH, INDAH


__ADS_3

"Gue antar ke ruang keponakan lo dirawat, Vid!"


Pengajuan tawaran William membuat Arvida hampir menjerit kesenangan, tetapi Arvida teringat sesuatu!


"Nanti kak Willy bertemu Jenderal Bam-ba-ng! Ketahuan, deh, kalau Gue bakal jadi istri ompung-ompung! Bagaimana caranya menghindar? Gue nggak rela jika hati kak Willy nan keren bersedih karena fakta menyedihkan itu!"


"Mbok, ya, diajak toh, Bu, teman ne!"


Sindiran Indah yang menyebalkan dihadiahi cubitan sedetik Arvida di pahanya. Indah meringis kesakitan. Dia menjauhi bosnya. William keheranan.


"Ada apa, Mbak Indah?"


"Perpaduan sosok Kuntilanak dan Mak Lampir menyakiti Saya, Dok ...."


Arvida tidak bisa mencubit Indah lagi.


"Kurang acem benaran si Indah! Mempermalukan Gue di hadapan kak Willy! Bonus tengah tahunan lo kudu dikurangi seratus persen!"


Arvida masih berkutat mencari cara untuk menghindari William menemaninya.


"Dokter William!"


Seorang perawat senior memanggil William untuk menyampaikan bahwa ada orangtua pasien yang meminta waktu berbicara. William langsung menyanggupi. Dia meminta maaf kepada Arvida dan berjanji akan meneleponnya. William dan perawat bergegas pergi.


"Pfffhhhh, saved by the bell, Ndah!"


Arvida berkata lega. Indah mengerucutkan bibirnya.


"Saya mengendus aroma CLBK, Saudara dan Saudari!"


Arvida berlagak tidak mendengar nyinyiran Indah yang berjalan di belakangnya. Indah sesungguhnya merasakan kepedihan hati Arvida. Dia menyaksikan perbuatan Bambang terhadap Arvina di waktu acara makan malam keluarga dan dia melihat pula Arvida yang memergoki hal itu. Indah telah bersiap menyelamatkan Arvida. Ternyata, dia tidak perlu melakukannya. Ketenangan yang dipertontonkan Arvida seakan menamparnya yang kerap cengeng memohon Krisna tidak menceraikannya walaupun Krisna kembali tepergok menyelingkuhi Tina.

__ADS_1


"Arvida!"


Bambang menghampiri, memeluk lalu mencium pipi Arvida penuh kerinduan. Dia memandang lekat Arvida.


"You look fabulous and sweet, Vid!"


Bambang memuji tulus penampilan Arvida. Setelah menanggapi pujian Bambang, Arvida menyapa amanguda dan inangudanya.


"Amangtua Todjo!"


Arvida memeluk internis yang merawat Natalia itu. Todjo membisikkan sesuatu yang memancing ledakan tawa Arvida. Arvida mendekati Natalia yang berbicara dengan Indah. Arvida mencium kening dan pipi Natalia yang tampak mengurus sejak pertemuan terakhir mereka.


"Still no one knew who did this to Lia?"


Arvida bertanya tajam.


We are still focusing on Natalia's condition. Besides, there is one more result that we are waiting for. The drug test."


"The drug test? Isn't it used for finding out the forbidden substances in users' blood?"


Todjo menerangkan kepada Arvida. Farid memandang Natalia kasihan. Dia tidak menyangka kalau tuduhan kehamilan Natalia yang dia "sebarkan" ternyata salah besar.


"Ya, Allah .... Berarti, kemarin mbak Lia sudah memasuki masa kritis waktu kami menggosipkannya!"


Pesanan makan malam dari restoran langganan Bambang tiba. Farid menemui si pengantar sementara Achmad, Indah, dan Peter menyiapkan meja untuk meletakkan semua makanan.


"Ndah, kamu beli taplak dan es krim, ya! Sekalian wadah dan sendok plastik es krimnya!


"Es krim rasa apa, Bu?"


"Rasa kelapa, Ndah!"

__ADS_1


Natalia justru yang menjawab pertanyaan.


"Eh, pasiennya sudah berani bersaran rasa makanan. Padahal belum direstui bapak dokter!"


Peter mencandai Natalia. Todjo memberi kode gerakan jari tidak mengijinkan.


"Be patient, Dear! If this is over, you may satisfy your eating hobby again."


Arvida menghibur Natalia.


"I will cook your favourite foods as soon as you get well, Darling."


Janji Koes Andrina membuat Natalia menyunggingkan senyum. Indah menerima uang dari Arvida. Bambang menyuruh Farid menemani Indah. Achmad dan Arvida mengeluarkan semua makanan dari setiap kantung plastik.


Indah dan Farid memasuki sebuah minimarket. Mereka beruntung karena mendapatkan semua yang dibutuhkan. Indah mengambil sepuluh kotak es krim literan rasa durian, keseluruhan stok di minimarket itu lalu menyuruh Farid membawa ke kasir. Indah mengambil dua lembar taplak plastik, sepak tissue, tusuk gigi, wadah plastik dan sendok serta lima kotak kopi instan. Farid menghampiri Indah lalu menanyakan apakah belanjaan berikutnya sudah selesai dan bisa dibawa ke kasir juga. Indah memastikan setiap item sebelum mengijinkan Farid. Kasir menghitung semua belanjaan. Seorang pramuniaga pria memasukkan semua belanjaan ke dalam sejumlah kantung plastik. Kesepuluh kotak es krim dimasukkan ke kantung plastik terpisah yang berisi dry ice.


"Mas Krisna, Aku nggak mau susu hamil yang itu! Rasanya aneh!"


Indah membeku padahal kasir sedang menyodorkan uang kembalian beserta struk pembayaran. Farid yang menerima. Dia bingung melihat Indah mendadak diam. Indah tersenyum kepada Farid. Dia mengeluarkan kacamata hitam dari tas lalu memakainya disusul mengeluarkan pashmina lebar yang dikenakannya menutupi kepala hingga pinggangnya.


"Dingin, Mas Farid!"


Indah beralasan ke Farid. Ketika Farid mengangkat belanjaan, Indah menengok ke pria dan wanita tadi. Krisna dan Tina berdebat di konter susu. Mata Indah tertumbuk ke perut besar Tina. Indah duluan keluar. Ternyata, Indah menunggu Farid di luar. Dia membukakan pintu untuk Farid kemudian mengambil dua kantung plastik dari tangan Farid. Indah dan Farid berjalan ketika ....


"Tina, tunggu!"


Krisna memanggil Tina dengan nada putus asa. Farid menengok sekilas ke pria dan wanita tersebut sementara Indah tetap berjalan. Farid sedikit tertinggal di belakang.


"Mbak Indah, jalannya cepat sekali seperti kowad!"


Farid mengeluh dibalas tawa kecil Indah yang seperti menahan tangis. Farid menautkan kedua alisnya. Indah meletakkan belanjaan di meja. Dia sudah tidak kuat. Dia meminta Arvida ikut ke kamar mandi. Peter, Achmad, Farid, Natalia, dan bik Ninis dikejutkan suara tangis memilukan Indah. Sepuluh menit kemudian, Arvida dan Indah keluar. Wajah Arvida sangat mengerikan, cantik campur bengis, sedangkan Indah tetap mengenakan kacamata hitam. Dia digandeng Arvida. Natalia menghela napas. Dia mengulurkan tangan ke Indah dan menyuruhnya duduk. Natalia tampaknya dapat menebak masalah Indah. Achmad dan Peter memanggil Bambang dan yang lainnya. Farid terus menatap Indah. Dia berusaha mencerna apa yang dialami Indah yang awalnya terlihat ceria.

__ADS_1


Farid memerintahkan otaknya mengurutkan setiap kejadian mulai dari mereka masih di ruang rawat inap Natalia sampai dengan mereka kembali ke tempat yang sama.


"Perubahan tingkah mbak Indah dimulai saat ada suara wanita memanggil suaminya. Mbak Indah mematung sewaktu suara si wanita terdengar. Terus, dia cepat pakai kacamata hitam dan pashmina lebar. Mbak Indah menyempatkan diri menengok mereka waktu Aku kerepotan mengangkat belanjaan. Mbak Indah keluar tergesa ninggalin Aku. Sepertinya, pasangan suami-istri itu atau entah apa pun hubungan di antara mereka yang menjadi pemicu tangis mbak Indah!"


__ADS_2