
Bambang terenyak sebab Arvina menyebut nama Natalia. Dia melepaskan cengkeramannya. Arvina segera berjalan melewati Bambang, tetapi dia tersandung karena tergesa. Tubuhnya ditangkap lalu didekap Bambang. Aroma tubuh Arvina membangkitkan gairah Bambang.
"Release me! Don't let anyone see you holding me like this!"
Bambang melepaskan Arvina dari pelukannya. Sesaat tadi, Bambang hampir mengenyampingkan akal sehatnya. Untung, Arvina mengingatkannya.
Achmad mengamati atasannya dari kejauhan.
"Terkadang pria lupa menjaga miliknya. Malah mengejar milik orang lain yang belum tentu bisa diraih."
Semua orang berkumpul di dalam. Maraden memimpin doa memohon berkat sebelum semua orang menikmati makan malam. Suasana dipenuhi canda. Waktu perpisahan tibalah! Keluarga Hans dan keluarga Bambang akan pulang. Arvida dan Indah telah berencana menginap di rumah Maraden. Bambang menyempatkan diri melirik Arvina yang langsung membuang wajahnya. Dia muak melihat wajah Bambang.
Natalia mengantuk. Dia memejamkan matanya.
"Mad, kapan kamu mau menikahi Safira?".
"Tahun ini, Jenderal! Saya tunggu Wira diterima di universitas dulu, Jenderal!"
Kecemburuan menyelimuti Natalia yang mendengar percakapan itu. Akhirnya, dia akan kehilangan Achmad. Dia tetap memejamkan mata. Percakapan Bambang dan Achmad masih berlangsung.
"Wira rencana ambil apa, Mad?"
"Dia tertarik ambil hukum, Jenderal."
"Coba daftar ke universitas negeri, Mad?"
"Iya, Jenderal. Wira mau coba ke Unpad dan UNS."
"Wah, kalau masuk Unpad bakal jadi adik jurusan Mbak Lia."
"Wira diterima di negeri atau swasta, tapi kalau dia ambil hukum, buku-buku Aku dikasih ke Wira, Papa!"
__ADS_1
Iya. Nanti biar dikirim ke Wira kalau lanjutnya di Solo. Kalau lanjut di Jakarta atau Bandung, Wira bisa ambil sendiri, Mad!"
"Siap, Jenderal. Terima kasih, Jenderal. Terima kasih, Mbak Lia!"
"Kamu juga kuliah, Mad! Biar mudah naik pangkat!"
"Iya, Mbak Lia."
"Betul. Jadi, Gatot mudah bantu kamu. Terus, setelah menikah, kamu tetap jadi ajudan Saya? Kalau tidak lagi berarti tahun ini menyedihkan sekali. Kamu dan Mbak Lia bakal pergi!"
"Eits, kak Arvida akan temani Papa kalau sudah menikah nanti!".
Achmad membalikkan tubuh. Dia memandang Natalia.
"Mbak Lia mau kemana?"
"Mbak Lia lanjut kuliah master hukumnya di Amerika. Dibiayai beasiswa LPDP, Mad!"
"Alah, Papa yakin kamu pasti dapat! Papa tahu otak kamu!"
Achmad tersenyum. Tetapi hatinya hancur. Kalau Natalia bermaksud kuliah dengan beasiswa berarti dia merencanakannya bukan dalam waktu hanya sebulan atau dua bulan.
"Jadi, Aku memang dianggap iseng!"
"Semoga Mbak Lia tembus beasiswanya."
"Terima kasih, Mad."
"Mudah-mudahan kamu dan Safira menikah tahun ini dan acaranya berjalan lancar."
"Aamin, Mbak Lia!"
__ADS_1
"Setiap orang memiliki tujuan hidup termasuk kalian. Semoga, seluruh tujuan kalian yang baik akan terwujud," tutur Bambang.
Achmad kembali ke posisi semula. Pandangannya lurus ke depan. Natalia memejamkan mata. Air matanya menggenang. Dia memiringkan tubuhnya menghadap jendela supaya Bambang tidak melihat. Bambang sibuk dengan ponselnya. Achmad mengajak Safira mengobrol online. Dia tidak ingin pikirannya rumit. Kabar mengenai Natalia cukup mengguncang hatinya.
Keluarga Bambang sampai di rumah. Achmad membukakan pintu. Bambang keluar disusul Natalia. Achmad melihat mata sembab Natalia.
"Mbak Lia capek? Matanya sembab."
Natalia hanya menganguk lemah kemudian berjalan tanpa semangat. Ponsel Bambang berbunyi. Bambang memeriksa ponselnya. Bambang terpana melihat Arvina yang menelepon. Dia terburu-buru masuk kamar tidurnya. Dia akan menjawab telepon Arvina di kamar tidurnya. Selama dua jam, Arvina dan Bambang bertengkar hebat. Arvina marah besar terhadap Bambang. Dia minta Bambang memutuskan Arvida jika memang terpaksa menikahinya. Menurut Arvina, sepupunya berhak merasakan kebahagiaan. Banyak pria mapan yang jauh lebih muda yang menginginkan Arvida. Padahal, Arvida sedang didekati dua pria yang disukai keluarga Maraden Simanjuntak. Arvida sendiri tengah mencoba membuka hati. Dia mulai nyaman ketika Bambang mendadak menawarinya harapan lagi. Arvida berpikir jika Bambang telah yakin ketika melamar dirinya.
"Leave her if you do not have any willings to love her! She deserves to get a real happiness!"
Bambang diintimidasi Arvina. Bambang tersadar telah bertindak egois karena dia seperti menggantung status Arvida. Seharusnya, Arvida yang hampir seusia putrinya layak dilindunginya. Natalia sebagai putrinya akan pergi meninggalkan kesendirian untuknya sementara Arvida sebagai calon istri akan datang memberikan kebersamaan buatnya.
"Arvina, please forgive me. I made mistake. I will not disturb you and I shall not hurt Arvida. Arvida is going to be my wife. I will give her an abundant love. She will not be forsaken, Arvina. I promise!"
"If you hurt Arvida again, you must lose her forever. She can not be with you and you will be lonely forever or meet with a useless woman! I guarantee it!"
Bambang belum sempat menjawab, tetapi Arvina sudah memutuskan pembicaraan.
"Luar biasa! Ikatan persaudaraan mereka mengerikan! Kalau Arvida dan Arvina jadi penjahat, mereka pasti jadi pasangan penjahat sukses karena menolak saling mengkhianati."
Bambang berkirim pesan WhatsApp kepada Arvida.
"Have a nice sleep, Arvida."
"I love you, Darling."
Bambang bergidik mengingat ancaman Arvina.
"Bagaimana kalau Arvina tidak dapat kuraih dan Arvida malahan lepas dari genggamanku? Apa yang terjadi jika Aku malah dijebak wanita tidak benar? Pasti Natalia pun memusuhiku!"
__ADS_1