CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
BADAI


__ADS_3

Maruap menelepon dua temannya yang ditugasi menjaga rumah Arvina. Kedua temannya itu merupakan mantan bawahan kakak laki-lakinya yang pernah bertugas sebagai Kasatreskrim Polres Jakarta Utara. Kini, Heru Sumarno menjadi Kapolres Lampung Selatan, sedangkan Maruap bertugas di Polres Jakarta Selatan.


"Kak Arvida, dua teman Aku sudah di rumah kak Arvina. Kata mereka, bang Hans dibawa ke KPK!"


"Loh, memang bang Hans di kelab juga waktu penangkapan bang Haris?"


Arvida naik pitam mendengar Hans ikut diciduk. Maruap segera menelepon agak lama. Arvida mendengar baik-baik pembicaraan Maruap di telepon. Kemarahan Arvida mulai memuncak. Dia langsung menelepon menggunakan ponsel Indah.


"Achmad, Lia masih belum tidur?"


....


"Saya mau bicara sekarang!"


....


"Lia, bang Hans ditangkap KPK. Sebenarnya, abang Haris, adiknya bang Hans yang terlibat masalah. Jadi ....


....


"Tunggu. Papa Maruap, bang Hans ditangkap di mana?"


Maruap tertawa sebentar sambil menjawab pertanyaan Arvida. Maruap adalah putra kedua Sumarno, polisi dari Polwil Lampung yang nyawanya diselamatkan mendiang Letkol Polisi Maruap Simanjuntak. Arvida tidak tega memanggil Maruap Sumarno hanya nama depannya sehingga selalu memanggilnya papa Maruap, meskipun Maruap memanggilnya kakak Arvida.


"Abang Hans ditangkap di kantornya, Kak!"


"Lia, bang Hans ditangkap di kantornya!"


....


"Tunggu, Lia! Talk directly to papa Maruap!"


Arvida menyerahkan ponsel ke Maruap.


"Papa Maruap bicara sama adik Aku, ya. Namanya Natalia."


Maruap menerima ponsel Arvida.

__ADS_1


"Halo, Kak Natalia. Saya, Maruap, temannya kak Arvida."


....


"Iya, bang Hans ditangkap di kantornya!"


....


"Tunggu sebentar, Kak."


Maruap kembali berbicara dengan temannya.


"Kak, tidak ada tuduhan resmi apa pun ditujukan kepada bang Hans. Cuma, bang Hans sebagai adik bang Haris adalah pegawai BPK dan dia sebentar lagi menjadi Kepala Pajak Sulut, makanya dia diciduk juga!"


....


"Tidak ada surat perintah penangkapan diterbitkan untuk bang Hans juga, Kak. Oh, iya, Kak!"


Maruap menyerahkan ponsel Indah ke Arvida. Arvida meraihnya sambil berterima kasih.


....


"Okay. Tapi, Aku menolak pengacara terkenal yang cuma mau nego-negoan. Otak tidak dipakai!"


....


"Wah, mantap, Lia. Iya, cepat kirim nomornya, Lia."


....


Natalia menyuruh Achmad mencari nama seseorang di daftar kontaknya. Achmad menunjukkan ke Natalia disambut anggukkan Natalia.


"Tolong kirim ke kak Arvida, Mad."


Achmad melakukan permintaan Natalia. Arvida langsung menelepon untuk berterima kasih. Dia menyudahi pembicaraan karena sudah di rumah Arvina. Maruap yang bersarung tangan turun untuk mengambil dua koper milik Hans yang diletakkan di teras rumah. Mobil Arvina yang ditumpangi Arvina, Havi, dan pengasuh Havi dan kedua temannya Maruap, salah satunya bertugas menyetir, telah pergi lebih dulu menuju rumah Maraden. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Maruap, Arvida, dan Indah, ketiganya bersarung tangan, sibuk memeriksa semua dokumen Hans. Isi koper pertama selesai diperiksa.


"Puji Tuhan, bang Hans bersih. Tapi, koper kedua???"

__ADS_1


Arvida gemetar. Maruap dan Indah sudah mulai memeriksa dokumen di koper kedua. Seperempat bagian sudah diperiksa mereka bertiga dan mereka tetap belum menemukan bukti kesalahan Hans.


"Kak, tolong telepon tanya kak Arvina apakah semua dokumen bang Hans sudah diambil. Arvida langsung menelepon Arvina ke ponsel pengasuhnya Havi. Maruap melarang menghubungi nomor ponsel Arvina karena kemungkinan semua nomor kontak di ponsel Hans sudah dilacak. Bahkan setiap kontak yang sering dihubungi ataupun menghubungi Hans bisa jadi sudah disadap.


"Mas Krisna, kapan Aku dinikahi resmi?"


Tina merenggut. Krisna yang membelai-belai perut hamil Tina langsung cemberut dan menghentikan aktivitasnya.


"Kamu sabar, dong, Tin! Aku siap nikahi kamu. Biarpun Indah tidak setuju, Aku mau ceraikan Indah. Tapi, bapak dan ibu pasti menentang keras. Indah itu menantu kesayangan mereka. Meskipun Indah mandul, mereka tidak mau Aku menceraikan Indah. Aku cuma disuruh cari wanita yang bisa melahirkan anakku dan mereka siap bayar tinggi. Aku cinta kamu, tapi kedua orangtua Aku tidak suka kamu! Kalau kita nikah resmi, kamu mau Aku didepak ayah dari jabatan dirut di perusahaannya? Bagaimana Aku membiayai kamu dan calon bayi kita? Lagian, takutnya si Indah yang dijadiin dirut pengganti ayah!"


Sebenarnya, Mas Krisna anak mereka atau bukan? Kok, jadi si Indah yang dicintai ayah dan ibu Mas Krisna?!"


"Pertanyaan aneh! Fisik Aku saja perpaduan plek ... plek ...plek ayah dan ibu. Si Indah perpaduan kedua orangtuanya cuma condong ke bapaknya. Jadi, Tina pasti tahu apakah Mas anak asli kedua orangtua Mas atau tidak!"


"Iya, benar juga!"


Tina pusing memikirkan kesempatan menjadi istri direktur utama Krisna Murti akan gagal karena kedua orangtua Krisna sangat mencintai menantu mereka. Tina yakin kalau kedua orangtua Krisna lebih memilih mempertahankan Indah daripada Krisna.


Safira mengemasi koper Safina. Dia menyusun rapi barang-barang kakaknya sembari air matanya terus mengalir.


"Aku merasa ini akan menjadi kesempatan terakhir Aku untuk mengurus pakaian mbak Fina."


Safira sesengukkan seraya menciumi gamis biru kesayangan Safina. Kecantikannya selalu terpancar sempurna jika mengenakan gamis itu menurut Gatot dan Safira.


"Sepertinya, Aku merasa percaya diri kalau pakai gamis ini karena warnanya warna favorit Aku dan potongannya sesuai selera Aku. Makanya kalian selalu bilang kecantikan Aku terpancar sempurna!"


"Tapi, kamu memang terlihat dua kali lebih cantik saat memakainya, Fin."


"Oh, jadi kalau Aku pakai gamis lain, cantik Aku tidak sempurna, ya?"


Tanggapan Safina membuat Gatot terkekeh.


"Istriku memang pintar membalikkan kata!"


Gatot yang mau masuk ke dalam kamar tidurnya jadi berdiri di depan pintu. Tingkah Safira mengingatkan Gatot akan percakapannya dengan Safina tentang gamis biru itu. Gatot menunduk sedih karena terakhir Safina memakainya, gamis itu terlihat kebesaran di tubuhnya. Kejadian itu seminggu lalu. Gatot tidak menyangka jika gamis Safina yang kebesaran itu diakibatkan berat tubuh Safina yang turun drastis karena kanker payudaranya. Seandainya saja Safina tidak mementingkan keegoisannya. Safina memegang pundak Gatot. Mas Gatotnya yang gagah! Mungkin, akhirnya, dia tidak bakal pernah lagi mendampingi pria dicintainya ketika saatnya dia harus tidur dalam kematian.


Bambang terburu-buru ke RSPAD Gatot Subroto setelah dikabari Natalia. Dia mengendarai sendiri salah satu mobil pribadinya. Rombongan Arvida tiba di tujuan. Mereka bergegas menuju ruang rawat inap Natalia. Mereka berpapasan dengan Achmad yang akan menjemput atasannya di parkiran. Sebentar lagi Bambang datang. Arvida, Indah, dan Achmad mengangguk satu sama lain. Maruap berjalan di belakang sambil menggeret dua koper dokumen Hans. Setibanya di ruang rawat inap Natalia, mereka segera bekerja. Maruap, Arvida, dan Indah memeriksa setengah bagian terakhir dokumen Hans sementara Natalia memeriksa ulang semua dokumen Hans. Begitu selesai pemeriksaan awal, Maruap membantu Natalia melakukan pemeriksaan ulang. Bambang dan Achmad muncul.

__ADS_1


__ADS_2