
Arvida terus membujuk Indah untuk memikirkan kelanjutan hubungan pernikahannya dengan Indra. Kali ini, Arvida lebih tegas memaksa.
"Ndah, kamu lihat sendiri, kan? Tina hamil! Apalagi yang kamu pertimbangkan? Indra memilih Tina, Ndah!"
"Tapi, Bu ...."
"Indah, kamu sayang kedua mertua kamu, Aku mengerti! Mereka juga sayang kamu! Tapi, rasa sayang itu jangan menyiksa dan menyia-nyiakan masa depan kamu."
Indah terdiam. Perkataan Arvida tidak terbantahkan kebenarannya, namun dia masih bingung. Selain menyayangi kedua mertuanya, dia tidak rela membiarkan Indra jatuh ke pelukan Tina. Dia menolak terhina dikalahkan Tina, sahabatnya waktu kuliah dulu. Indah merebut Indra si kakak tingkat dari Tina, tetapi Indra kembali kepada Tina. Sangatlah memalukan jika seluruh temannya mengetahui.
Bambang bahagia mendengar Natalia berangsur membaik bahkan diperbolehkan pulang secepatnya. Achmad mempertimbangkan untuk mengunjungi Safira dan Wenny. Dia sudah menceritakan kepada Bambang tentang Safina. Bambang mengijinkan Achmad menengok Safira dan Wenny.
"Kamu berangkat Jumat sore dan pulang Minggu sore, Mad! Kasihan mereka! Satu rumah wanita semua, meskipun ada ajudan si Gatot!"
"Siap, Jenderal! Saya berterima kasih atas ijin Jenderal!"
Farid masuk dan memberitahu jika Nino datang. Bambang tampak sumringah sementara jantung Achmad berdebar cemburu. Bambang memeluk Nino yang menghampirinya lalu membimbing Nino ke Natalia. Nino mencium pipi Natalia.
Bambang mengajak seluruh orang keluar. Achmad enggan menggerakkan badannya, tetapi dia gengsi terlihat gusar di hadapan Natalia. Achmad menuju pintu dengan tenang dan semeyakinkan mungkin. Di dalam hatinya, dia terus mengulang kalimat, "Lia cuma pacar gelap Aku!"
"Achmad!"
Achmad menoleh. Tangan Natalia menyuruhnya mendekat.
"No, ini Achmad, mas-nya Wenny."
Natalia mengenalkan Achmad kepada Nino yang segera mengulurkan tangan bermaksud menyalam.
"Oh, Mas Achmad! Wenny jadi trending topic di kedokteran. Banyak yang suka Wenny, Mas. Tidak sangka ternyata Lia kenal Wenny."
__ADS_1
Achmad menyunggingkan senyum mendengar kisah adiknya.
"Apa kabar Wenny, Mad?"
Achmad menjawab pertanyaan Natalia dengan menceritakan perihal Safina, kakaknya Safira dan Wenny yang bersama Safira sekarang termasuk rencana Achmad menginap untuk menemani mereka.
"Iya, Mad. Aku sudah baikan jadi tidak perlu terlalu dijaga."
"Bapak juga bilang begitu, Mbak."
Achmad kesal karena Natalia tidak menunjukkan kemarahan, sedangkan Natalia geram sebab Achmad ingin menemani Safira.
"Kamu boleh keluar, Mad."
Achmad pamit. Dia menatap Natalia dan Nino. Jarak antara wajah mereka terlalu dekat. Achmad kembali melafalkan kalimat saktinya, "Lia cuma pacar gelap Aku." Achmad menutup pintu. Achmad menjelaskan mengapa dipanggil Natalia sebab Bambang bertanya. Perkataan Achmad membuat Farid merenung.
Ponsel Arvida bergetar. Arvida melirik layarnya dengan malas.
"Kak Willy? Ya, ampun ... video call pula!"
Arvida buru-buru masuk kamar tidurnya. Dia bercermin sambil menyisir rambut. Indah terbelalak saat Arvida memoleskan lipgloss pink! Indah segera ikut masuk. Dia melihat nama penelepon.
"Pantesan! Mendadak ribet!"
Indah iseng akan mematikan ponsel Arvida, namun Arvida menyelamatkan ponselnya.
"Jangan buat Gue potong gaji lo juga!"
Indah terbengong sementara Arvida berbincang dengan William. Indah tidak kuat melihat sikap Arvida. Senyumnya dibuat semanis mungkin. Bahkan, tawanya tidak sebebas biasanya. Indah menggumam tidak jelas. Tetapi, dia menyunggingkan senyum menyaksikan rona bahagia nyata terpancar di wajah bosnya. Saat Arvida selesai, Indah mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
"Bu, maksudnya apa gaji Saya dipotong?"
"Waktu itu, kamu mempermalukan Aku di hadapan kak Willy. Aku putuskan potong seratus persen bonus tengah tahunan kamu. Kalau tadi kamu jadi matikan ponsel Aku, gaji kamu bulan ini didiskon seratus persen juga."
Indah terkekeh mendengar ancaman bosnya. Akhirnya, Arvida menceritakan bagaimana kisahnya dengan William.
"Bapak William cinta pertamanya Ibu?"
"Yup. Cinta pertama yang terpendam! Banyak sekali cewek yang suka kak Willy, Ndah. Soalnya dia ganteng, kaya, keren, dan pebasket pula! Bukan sekadar pebasket. Masih SMA saja dia dilirik banyak klub. Yang Aku dengar waktu kuliah dia masuk liga. Malahan, dia jadi atlit nasional! Tapi, Aku tidak tahu jelasnya. Aku yakin kak Willy tidak sadar Aku suka dia. Aku kelas tujuh waktu dia kelas dua belas."
Arvida tertawa mengenang betapa tergila-gilanya dia yang waktu itu masih kecil kepada William.
Arvina sedang di kamar tidurnya. Matanya menerawang. Dia masih sulit memahami mengapa dia tidak menunjukkan perubahan tingkah laku setelah perbuatan Bambang. Seharusnya dia menunjukkan kepanikan. Sekecil apa pun! Namun, dia selalu tampil tenang. Hal ini malah menimbulkan perasaan takutnya apabila suatu hari dia dapat meledak dalam kemarahan yang merugikan dirinya dan orang lain. Arvina nemutuskan berdoa dengan khusyuk. Setelah itu, dia mengambil buku gambar dan pensilnya. Dia mulai menggerakkan pensilnya menggambarkan kualitas hubungan sebenarnya di antara dia, kedua orangtuanya, Arvida, dan Hans selama bertahun-tahun. Kemudian, dia tenggelam dalam keasyikan menggambar kehidupannya sekaligus hubungannya dengan teman-teman sekolah, kuliah, bekerja, dan pernikahan. Arvina menyadari sesuatu. Arvina pemalu karena tubuhnya selalu gemuk sejak SD sampai kuliah dan sering menjadi bahan ejekan beberapa teman bahkan orang-orang yang tidak dikenal, namun dia memiliki sepasang orangtua dengan hubungan pernikahan harmonis. Setiap dia marah dan malu karena diejek, dia selalu ingin berada di rumahnya dan bertemu semua orang yang disayanginya. Berada di tengah mereka selalu menenangkan perasaan Arvina.
"Aku memiliki keluarga yang Aku percayai sepenuh hati. Aku tidak takut mengungkapkan masalah jika Aku berpikir itu keharusan. Mungkin, ini yang menyebabkan Aku mampu mengendalikan diri. Dan, bisa jadi karena pelakunya bukanlah pria yang Aku anggap menjijikkan."
Arvina menyadari kesalahan cara berpikirnya karena menganggap Bambang bukanlah pria yang menjijikkan, tetapi dia harus mampu menganalisis dirinya sendiri dengan sejujurnya supaya dia tidak melakukan kesalahan besar di masa depan. Seharusnya, dia membicarakan hal ini dengan seseorang, namun dia tidak sanggup melakukannya. Maka, dia memutuskan berjuang sendiri. Sesuatu yang selalu dia jalani sejak kecil.
"Mbak Fira, Aku pinjam ponsel Mbak, dong. Ponsel Aku mati total. Lagi di-charge off. Aku mau kirim pesan ke mas Achmad."
"Di kamar, Wen. Ambil sendiri, ya! Aku tidak kunci ponselnya. Aku lagi menggoreng."
"Sip."
Wenny masuk kamar tidur Safira. Dia mengambil ponsel Safira lalu me-WhatsApp Achmad. Sifat ingin tahu Wenny yang sering dianggap Achmad tidak sopan membuatnya memeriksa galeri Safira. Wenny tersenyum melihat foto-foto Safira. Banyak fotonya berdua dengan Achmad, fotonya dengan Wenny, keluarganya, teman-temannya .... Wenny tertegun melihat sebuah foto yang di keningnya tertancap sebilah pisau yang digambar dan foto satu lagi lebih mengerikan karena masinf-masing matanya ditusuk sepucuk anak panah.
"Astaghfirullah! Keduanya foto mbak Lia???"
Wajah Wenny memucat. Dia menutup galeri lalu menuju phone manager dan manajemen aplikasi yang merekam semua aplikasi yang dibuka. Dia memilih galeri untuk dihapus. Namun, dia memeriksa dahulu total bite seluruh foto yang dibuka. Ternyata, aktivitas membuka galeri hanya dilakukan Wenny. Dia menghapus data galeri. Wenny membalas pesan Achmad dengan baik, tetapi hatinya tidak tenang.
__ADS_1