CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
KISAH SEDIH


__ADS_3

Semua orang di ruangan akhirnya mengetahui jika kemungkinan besar pelakunya adalah Safira. Semua orang tertipu penampilan luar Safira. Achmad yang paling berhati-hati pun berhasil teperdaya Safira. Natalia sebenarnya tidak dapat memaafkan Achmad. Dia tidak mampu membayangkan tubuhnya menjadi konsumsi publik. Natalia memilih berbaring. Dia menahan air matanya tidak keluar, tetapi dia sepertinya tidak mampu. Dia menyuruh semua orang keluar dan berpesan tidak boleh ada yang masuk jika tidak diijinkannya. Setelah semua orang keluar, Natalia memuaskan menangis. Dia menjaga suara tangisnya tidak terdengar. Otaknya mulai berpikir.


"Bagaimana kalau Aku gagal dapat beasiswa LPDP? Bahkan, Aku gagal seleksi awal. Kalaupun Aku berhasil, bagaimana jika di masa mendatang semua video dan foto itu tersebar lagi? Aku kalah sebelum kompetisi dimulai. Safira sialan! Perempuan laknat! Cuma demi laki-laki, lo mampu berbuat kejam! Najis! Lo menganggap diri sempurna akhirnya jadi mencelakai orang lain yang dianggap hina! Perempuan setan! Perempuan narsis!"


Bambang mengetuk pintu. Dia mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Lia, Papa mau masuk!"


"Ya, Papa. Kalian semua boleh masuk."


Semua orang masuk. Mereka melihat sisa air mata di wajah Natalia.


"Lia, semua video dan foto kalian berdua tidak akan tersebar ke publik karena si pelaku hanya mengirim kepada Papa, Achmad, Farid, Peter, Supardjo, dan Tedjo. Ahli IT teman Arvida sudah membuktikan. Semua video dan foto kalian ditransfer dari nomor Safira ke nomor yang digunakan untuk mengirim. Bodohnya Safira karena dia tetap memakai ponsel yang sama. Semuanya berawal dari ponsel Achmad yang dikirim ke ponsel Safira lalu dikirim lagi ke ponsel Safira, tetapi beda nomor. Jadi, tersangka utama memang Safira. Tetapi, untuk saat ini, Papa memutuskan belum bertindak. Memroses Safira berarti harus berurusan dengan Subarkah. Papa menghindari itu! Tapi, bukan berarti kita diamkan Safira. Kita terus pantau Safira sampai dia melakukan kesalahan terhadap orang lain juga yang bukan dari kelompok kita supaya si Subarkah tidak akan berani memfitnah jika semua ini rekayasa Papa!"


"Tapi, itu artinya kita mengorbankan orang lain, Pa!"


"Apa boleh buat! Mari kita berharap jika dendamnya hanya ditujukan kepadamu! Dia tidak memiliki kebencian terhadap orang lain, Sayang! Lagipula, istri si Gatot sedang pengobatan kankernya di Singapura. Terlalu kejam jika kita mempermasalahkan Safira sekarang. Papa benci Subarkah, tapi masih merespek Gatot! Yang penting, penjagaan ke kamu diperketat. Maruap siap membantu. Dia akan meminta temannya terus memantau Safira. Wenny juga aman di asrama. Yang penting, kamu jangan keluar dari asrama atau lingkungan UI tanpa teman, Wenny! Setiap orang harus bekerja sama supaya masalah mengesalkan ini selesai cepat!"


Ponsel Achmad berbunyi.


"Safira menelepon!"


Pemberitahuan Achmad menegangkan mereka.


"Jawab, Mad!"


"Jangan, Mas!"

__ADS_1


Wenny membantah perintah Natalia.


"Mbak Lia, mas Achmad harus diamkan! Jika mbak Safira masih menginginkan mas Achmad dan pak Gatot memujanya, dia pasti akan marah besar karena tidak diacuhkan! Mudah-mudahan cara ini dapat menjadi pemicu!"


Semua orang menyetujui ide Wenny. Bahkan, Supardjo mengemukakan pendapatnya mengapa mendukung usul Wenny.


"Tepat! Manusia narsis adalah pemuja pujian dan hormat! Jika tidak mendapatkan kedua hal itu, emosi negatif akan menguasainya sehingga dia mampu melakukan apa saja termasuk mencelakai orang lain!"


Safira menelepon beberapa kali tanpa digubris Achmad. Di rumahnya, Safira mulai gusar, tetapi dia mencoba berpikir jika Achmad sibuk bekerja. Dia membanting ponselnya ke kasur. Galuh yang sedang belajar di kamar tidur Safira terkaget. Gayatri yang asyik menonton televisi langsung menangis. Gayatri memang lebih cengeng dibandingkan Galuh saat seumur Gayatri.


"Diaaaammm!"


Safira membentak Gayatri. Kepalanya sakit mendengar tangis Gayatri. Cicih mengetuk pintu kamar tidur Safira untuk mengambil mereka. Safira membuka pintu kamar tidurnya. Dia memohon maaf kepada Cicih sebab tidak sengaja membentak Gayatri. Cicih memaklumi. Namun, Cicih beralasan jika Galuh dan Gayatri harus tidur.


"Biar Galuh dan Gayatri tidur sama Aku, Cih!"


"Kalau begitu, Saya ganti baju mereka dulu dan suruh Galuh dan Gayatri sikat gigi, Mbak!"


"Kalau sampai Wenny pengaruhi mas Achmad, dia dan Lia harus Aku hukum."


Gatot kembali menelepon Safira untuk memastikan keadaan Galuh dan Gayatri.


"Mas Gatot sampai telepon Aku dua kali dengan beralasan mau tahu keadaan Galuh dan Gayatri. Pasti dia kangen Aku, tuh! Dasar, mas Gatot genit!"


Maruap muncul di rumah sakit. Dia berbincang lama dengan Bambang, Achmad, dan Peter. Todjo Simanjuntak tengah menghadiri acara ramah tamah para pengurus Persatuan Taekwondo Indonesia di hotel Mulia, Senayan. Arvida berjanji akan datang besok malam. Besok, dia kembali bekerja. Kasus anggota DPRD Haris Hutagaol bertubi-tubi diberitakan di seluruh stasiun televisi nasional. Arvida terus memantau. Sekali saja Christian Fernando berani menyinggung Hans, Arvida akan segera bertindak. Indah sibuk menyiapkan snack di dapur karena semua pembantu Arvida sudah tidur.


"Ndah, kamu lebih baik pindah sinilah!"

__ADS_1


"Oh, biar Aku bisa disuruh tiap waktu, Bu?"


"Kok, kamu bisa baca pikiran Aku, Ndah?"


Arvida dan Indah tertawa. Indah tertarik dengan tawaran Arvida. Kalau dia berencana menceraikan Krisna maka dia harus keluar dari rumah Krisna. Menyewa apartemen sendiri akan menjadi bumerang karena saat Krisna merayunya, pasti Indah akan tergoda sehingga dia kembali jatuh dalam jerat Krisna. Bersama Arvida, dia lebih terkontrol sebab dia takut menentang Arvida yang baginya seperti kakak sendiri. Kini, dia sedang memikirkan cara memberitahu kedua mertuanya tanpa menyedihkan hati mereka.


William menatap foto Arvida saat di kelas tujuh. Dia tersenyum sekilas. Dia memutuskan menghubungi Arvida begitu keluar dari mobil. Arvida menyetujui ajakan makan malam William.


"Gue di lobi apartemen lo, Vid!


Arvida hampir menangis mendengar ucapan William. Mandi membutuhkan waktu tiga puluh menit! Kalau acaranya spesial, harus minimal 45 menit. Acara berdandan sejam. Berarti, Arvida seharusnya meluangkan waktu minimal dua jam.


"Kak Willy tega!"


Arvida tetap memutuskan mandi cepat. Dia memakai celana jeans dan kaus oblong putih. Rambutnya digelung.


"Alamat Gue bakal garuk kepala selama sama kak Willy nanti. Gue belum keramas!"


Arvida menuju lobi. Wajah cemberutnya berubah ceria melihat penampilan William. Indah menguntit di belakang.


"Mbak Indah? Ikut, yuk!"


"Ayo, Ndah! Ambil tas kamu!"


Indah terdiam sebentar lalu segera mengajak mereka pergi.


"Loh, nggak ambil tas, Ndah?"

__ADS_1


"Tidak perlu, Bu! Ada ponsel! Baju juga tidak usah ganti. Bapak dan Ibu gayanya sama seperti gaya Saya! Perlu uang, nanti pakai uang elektronik!"


Rembulan tampak di langit gelap malam ini. Sebagian orang diliputi kebahagiaan, beberapa orang tertimpa kesedihan, sejumlah orang terjebak masalah, dan segelintir orang terkungkung dendam kejiwaan. Tetapi, kehidupan terus berjalan seperti roda bumi yang tiada berhenti berputar.


__ADS_2