
Suasana hening tercipta di antara Natalia dan Achmad. Natalia sibuk dengan pikirannya tentang Achmad, Safira, Wenny, pembukaan pendaftaran beasiswa LPDP, makanan enak, film action yang ditontonnya semalam lalu kembali ke Achmad, masa SMA, masa SMP, masa kuliah, dan puluhan topik pemikiran yang wara-wiri di dalam otaknya sementara Achmad sibuk memikirkan Natalia, Safira, dan kemungkinan kehamilan Natalia. Achmad telah membuat pilihan. Jika Natalia memang hamil dan dia menuntut Achmad bertanggung jawab, dia pasti siap bertanggung jawab. Tetapi, bayangan wajah Wenny menciutkan hatinya. Dia teringat lagi prinsipnya bahwa menyakiti Safira berarti menyakiti Wenny. Namun, Achmad takut.
"Bagaimana kalau Lia hamil lalu menggugurkan kandungannya? Atau, dia hamil dan melahirkan lalu bayinya diberikan kepada seseorang?"
Achmad sangat khawatir. Dia yakin jika Natalia hamil, kemungkinan pilihan kedualah dipilih Natalia. Demi ambisi, Natalia bersedia mengorbankan apa pun. Achmad memutuskan harus berbuat sesuatu. Dia menoleh ke arah Natalia. Natalia tengah mengamatinya. Achmad melepaskan genggamannya. Dia membelai puncak kepala Natalia kemudian menyentuhnya. Kini, Achmad sibuk membahagiakan Natalia. Dia merindukan Natalia, meskipun Safira sudah memuaskannya minggu lalu. Setiap Jumat malam sampai dengan Minggu malam, Achmad bertemu Safira dan mereka pasti melakukan kebersamaan itu. Tetapi, Achmad hanya ingin berkonsentrasi menyenangkan Natalia saat ini. Dia bekerja semakin keras menyaksikan detik-detik Natalia bakal mencapai puncaknya.
Safira tersenyum seraya melihat layar ponselnya. Wajah Achmadnya yang tampan. Dia menggeser lagi layar ponselnya. Foto dia dan Achmad, dan geseran berikutnya menampakkan foto .... Ponsel Safira memperdengarkan nada dering.
"Assalammualaikum, Wenny."
....
"Aku baik. Kamu bagaimana, Wen?"
....
"Iya, Wen. Mas Achmad mengunjungi Aku tiap akhir pekan sekarang. Aku bahagia karena mas Achmad lebih perhatian kepada Aku sekarang, Wen!"
....
"Wenny bisa saja. Jangan bicara begitu. Aku malu. Aku bersandar pada ketetapan Allah saja, Wen. Kalau memang mas Achmad jodoh yang dipilih Allah untuk Aku, alhamdulillah. Namun, kalau Aku tidak berjodoh dengan mas Achmad, itu merupakan takdir Allah, Wen."
....
"Aku juga maunya seperti itu, tetapi takdir Allah tidak boleh ditentang Wenny!"
....
"Benar, kita bisa jalan berdua besok? Ya, sudah. Pulang dari kampus, Aku temui kamu di stasiun UI besok."
....
__ADS_1
"Kamu mau samperin Aku? Boleh, dong, anak Depok, hahaha .... Aku tunggu besok, Wen."
....
Ya, deh. Assalammualaikum, Wenny."
Safira kembali mempersiapkan keperluannya mengajar besok. Dia menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Akuntansi Dasar satu dan dua.
"Selesai! Aku ngantuk!"
Wenny baru saja memutuskan pembicaraan dengan Safira. Tiba-tiba, Farid meneleponnya. Namun, Wenny bingung akan menjawab telepon Farid atau tidak. Perbuatan Achmad menyebabkan dia agak takut membuka hati menyambut kehadiran cinta seorang prajurit. Dia berang membayangkan seandainya Farid bertingkah seperti Achmad.
"Tak bejek-bejek jadi keremes kalau sampai mas Farid terbukti setali tiga uang dengan mas Achmad. Huh, kasihan si bapak sama si mbok. Punya anak lelaki ganteng, tapi otak ne ndablek karena cinta. Oala ..., mas Achmad. Untung ne kowe baik ndak bertepi. Jadi kangen sama Mas Achmad. Aku telepon dulu, deh. Tapi, jangan-jangan si mas lagi pacaran sama mbak Lia! Aduh, sakit kepala Aku! Serba salah jadi ne!"
Ponsel Wenny berdering lagi.
"Oala, Aku lupa! Aku belum jawab mas Farid!"
"Aduh, piye to? Ngapain mas Ivan telepon??? Jantungku ora mau kompromi. Detak ne, kok, koyok gini! Kencang banget!"
Wenny mondar-mandir menimbang apakah akan menjawab telepon Ivan.
"Wenny! Pusing Aku lihat gaya kau! Siapa sang peneleponnya? Aneh, kali! Kau kayak cacing kepanasan! Baru kali ini yang centilan Aku lihat kau!"
"Rotua, ini persoalan menyangkut hati Aku!"
Rotua--teman sekamar Wenny, mahasiswi Fisika semester tiga--jadi penasaran. Dia bangkit kemudian melihat ke layar ponsel Wenny.
"Amanggoi, si Ivanov martelepon! Pantas kau kecentilan! Tapi, tadi kau bilang si Farid yang telepon!"
"Malam ini, kedua pria itu menelepon Aku Rotua!"
__ADS_1
"Dan, satu pun nggak ada yang kau jawab. Biar Aku yang jawab!"
Wenny kaget dan berusaha merebut ponselnya dari Rotua. Ketika ponsel Wenny berbunyi lagi, Rotua langsung menjawab. Dia sengaja berbicara dengan logat Batak super kental.
"Halo, selamat malam! Kenapa engkau terus menelepon? Sudah malam! Saya ini ibu asrama! Ponsel Wenny Saya sita karena teman sekamarnya mengeluh susah tidur nyenyak!"
....
"Aduh, Mbok, ya??? Mbok, Rotua baik. Nggak, Mbok. Rotua bercanda. Wenny ada. Sama Rotua di kamar, Mbok!"
Rotua segera menyerahkan ponsel ke Wenny.
"Si mbok, Wen! Sampaikan permintaan maaf tertulus dari lubuk hati Aku terdalam!"
Wenny cekikikan seraya menerima ponselnya.
"Wen, sampaikan salam sayang Aku juga untuk bapak dan si mbok, ya!"
Wenny mengacungkan jempol.
Farid membanting ponselnya. Wenny tidak menjawab teleponnya. Dia menelepon Wenny beberapa kali, namun tidak dijawab sehingga dia berhenti. Tetapi, ketika dia iseng menelepon Wenny lagi, ternyata sambungan ke nomor Wenny memperdengarkan nada sibuk. Setengah jam kemudian, dia mencoba lagi dan tetap nada sibuk terdengar.
"Ada apa dengan Wenny? Dia jarang menjawab telepon dari Aku. Tadi, Aku telepon, tapi tidak dijawab. Aku telepon lagi malah nada sibuk. Telepon orang dijawab. Giliran telepon Aku didiamkan. Apa maksud Wenny? Kalau memang tidak suka sama Aku, jangan beri harapan. Eh, tapi apa mungkin si Wenny sudah tidur terus beberapa orang telepon dia makanya waktu Aku telepon terdengar nada sibuk."
Farid mencoba berprasangka baik. Farid mau mengenal sosok Wenny, gadis manis adik rekan sekerjanya, dengan lebih baik.
"Mad, perut Aku sakit lagi!"
Achmad memeluk dan mengusap perut Natalia. Natalia meringis menahan sakit. Dia memandang Achmad dipenuhi perasaan bersalah.
"Maafin, Aku, Mad! Kamu harus stop. Tapi, sakit sekali!
__ADS_1
"Kita ke dokter sekarang! Jangan menentang, Lia!"