
Arvida menelepon Bambang menanyakan Natalia. Bambang menjelaskan kondisi Natalia.
"Is it true? Did Inanguda say that too?"
....
"Oh, you are right, Mas! I and Arvina call him amangtua Todjo. So, Amangtua Todjo is becoming Lia's doctor. He is a good doctor."
....
"Yes, I will be coming tonight. I have to see Natalia. Arvina is feeling sad of hearing Natalia's bad condition. But, she could not come because She is busy with Havi. She has retired. Bang Hans is going to be promoted as the head of tax of North Sulawesi province. Arvina and Havi will follow bang Hans."
....
"Of course, Mas. But, it is not wise to talk about our marriage plan now. We need to concern on Natalia's health, Mas."
....
"I love you too, Mas Bambang!"
....
"See you too!"
Arvida bosan berbasa-basi dengan Bambang. Tetapi, dia mengkhawatirkan keadaan Natalia yang mengalami percobaan diracun. Bambang bingung dengan Arvida . Saat Bambang bilang "I love you", Arvida terdengar kikuk fan malas membalas.
"Arvida seperti mendingin sikapnya menghadapi diriku selama beberapa hari ini!"
Achmad setia duduk di samping Natalia. Dering ponsel membuyarkan pikirannya.
"Assalamu'alaikum, Wenny."
....
"Mas baik. Bagaimana keadaanmu? Kuliahmu?"
....
"Alhamdulillah, kamu dan kuliahmu baik-baik saja. Kita tidak bisa ketemu dulu, Wen. Lia sakit. Dia dirawat di rumah sakit sekarang!"
Achmad menangis ketika mengatakan keadaan Natalia. Dia kembali mencium tangan Natalia.
"Mbak Lia sakit apa, Mas?"
....
"Astaghfirullah al-'Adhim. Mbak Lia diracun??? Kondisinya kritis???"
__ADS_1
....
"Aku dan mbak Safira boleh tengok mbak Lia, Mas?"
....
"Ya, Allah, Mas. Aku nggak menyangka! Ya, sudah. Mas Achmad jaga kesehatan, ya!"
....
"Iya, mbak Safira sama Aku lagi jalan ke Senayan City. Salam si Mas bakal Aku sampaikan ke mbak Safira."
....
"Wa'alaikumussalam, Mas!"
Safira tampak bingung.
"Ada apa, Wen?"
"Mbak Lia lagi dirawat di rumah sakit. Dia diracun, Mbak!!!"
"Astaghfirullah al-'Adhim. Apa mbak Lia punya musuh? Apa pak Bambang sudah lapor polisi?"
Safira tampak terkejut mendengar informasi yang disampaikan Wenny.
"Aku juga tidak kenal mbak Lia, tapi Aku tidak suka kalau orang yang tidak bersalah dicelakai! Semoga masalah ini cepat selesai! Makan, dong, pizzanya, Wen!"
Bambang dan Maraden bergegas menuju ruang rawat inap Natalia diiringi Farid dan Supardjo. Koes Andrina telah tiba lebih dulu. Dia berbincang serius dengan Todjo.
"Ada apa dengan Lia, Dok?"
"Lia terbangun, tetapi masih lemah kondisinya!"
"Untuk jumlah Bisacodyl di tubuh, kondisi Natalia cukup kuat, Jenderal! Apalagi, keracunannya itu mungkin terjadi dua atau tiga hari sebelumnya! Sebenarnya, sudah terlambat membawanya ke rumah sakit!"
Koes Andrina dan Todjo menjelaskan kepada Bambang. Mendadak, Peter keluar memberitahu kalau Natalia minta bertemu Bambang. Selain Farid dan Supardjo, semuanya masuk. Todjo meneriksa keadaan Natalia dengan teliti. Bambang melirik Peter. Peter mengangguk. Ponsel Bambang berbunyi. Bambang membaca pesan dari Peter yang memberitahu jika Achmad mencium bibir Natalia. Achmad juga mendapat telepon dari Wenny. Dia menangis sambil menjelaskan kondisi Natalia. Kemudian, sepanjang waktu bersama Natalia, kerja Achmad hanya menggenggam, mencium tangan, dan menangis seraya membelai kepala Natalia. Bambang menatap Achmad dengan penuh pandangan menyelidik.
"Baiklah! Sementara ini, kamu kelihatannya bersih dari tuduhan sebagai peracun putriku, Mad! Aku berharap kalau kamu tetap bersih termasuk alasan kamu mendekati Lia bukan untuk berniat menyakitinya dengan mencari keuntungan darinya!"
Pengaruh obat tidur yang dikonsumsi Natalia semakin menghilang. Namun, Todjo belum memberi lampu hijau bahwa Natalia telah melewati masa kritisnya. Natalia masih harus berjuang keras. Untunglah, daya tahan tubuhnya menakjubkan. Achmad menyunggingkan senyum.
"Kekuatan otak dan kekuatan tubuh Lia ternyata memang tidak memalukan! Kalau orang lain, jangan-jangan---"
Bambang penasaran melihat senyum Achmad sehingga menanyakannya kepada Achmad.
"Siap, Jenderal! Saya mohon maaf karena tidak sengaja tersenyum. Saya kagum kepada mbak Lia setelah menyadari kekuatan otak dan fisik mbak Lia boleh dibanggakan, Jenderal!"
__ADS_1
Natalia tersenyum manis kepada Achmad.
"Makanya, mbak Lia itu bandelnya minta ampun! Cuma satu anak perempuan saja sudah sering buat Saya sakit kepala!"
Semua orang terbahak. Wajah Natalia berubah dingin. Dia marah kepada Achmad yang memicu ledekan papanya. Achmad berhenti tertawa. Dia menunduk menghindari tatapan menohok Natalia. Bambang kian tertawa melihat perlakuan sinis Natalia terhadap Achmad serta respon sungkan Achmad.
Arvida dan Indah berjalan sambil mengobrol. Seorang bapak dokter berjalan menunduk melihat kertas-kertas di kedua tangannya dari arah berlawanan. Akhirnya, Arvida dan bapak dokter bertabrakan. Mereka saling meminta maaf. Arvida berjongkok membantu bapak dokter memungut kertas-kertasnya. Arvida merapikan semua kertas itu lalu menyerahkannya kepada bapak dokter.
"Kak Willy!"
"Arvida!"
"Yeahhh! Nggak Gue sangka! Gue ketemu Kak Willy juga! Beuhhh, Madam Arvina bakal ngamuk berat kepada Gue kalau dia tahu keadaan ini!"
"Lo ngapain di sini, Vid?"
"Gue mau jenguk keponakan, Kak! Oh ya, ini Indah asisten Gue!"
William menyalami Indah.
"Lo artis, Vid? Lo punya asisten pribadi!"
"Hahhh??? Gue bukan artis, Kak! Gue penyiar berita televisi!"
"Aduh, maaf, Vid! Gue nggak tahu! Gue ketemu Arvina di FKUI kemarin. Tapi, dia nggak bilang kalau lo penyiar berita televisi!
"Lo ketemu Arvina kemarin, Kak? Arvina belum sempat beritahu Gue!"
Arvida berbohong penuh totalitas.
"Gue minta nomor Kak Willy, dong!"
William dan Arvida bertukar nomor kontak. William memandang Arvida.
"Anak lo sudah berapa, Vid?"
"Gue belum menikah! Belum dapat jodoh, Kak!"
"Lo benaran belum menikah, Vid?"
"Belum, Kak. Gue belum bertemu pria yang cocok."
Indah mengernyitkan kening. Ucapan Arvida sangat memicu Indah sampai berani menatap tajam Arvida.
"Kak Willy anaknya berapa?"
"Gue juga belum menikah, Vid."
__ADS_1
"Apa-apaan si Ibu bos??? Dia bilang kalau dua belum dapat jodoh??? Wah, Aku sungguh mengendus bau ketidakberesan akut!"