
"Indah, kamu masukkan daftar pertanyaan buat narasumber Aku di mana?"
Arvida bolak-balik memeriksa tas dokumennya. Panik melandanya.
"Indah taruh di file biru terus dimasukkan ke tas seperti biasa, Bu. Tunggu, biar Indah yang cari, Bu!"
Indah menghentikan aktivitas menyarungkan dua blazer yang tidak jadi dipakai bosnya ke dalam tiap kantung pelindung lalu menghampiri Arvida.
"Oops, I found it, Baby. I am so sorry, My girl!"
"Si Ibu gugup, nih! Makanya, grasa-grusu tidak tenang dari pagi, deh!"
Arvida tergelak mendengar ledekan Indah. Dia mengedipkan mata kirinya kemudian berlari kecil menuju studio meninggalkan Indah yang sigap merapikan isi tas dokumen bosnya yang berserakan di meja.
Arvida dan narasumbernya tampak terlibat pembicaraan serius ketika ponselnya yang dipegang Indah bergetar.
"Indah, Saya mau bicara dengan Arvida!"
Suara bariton Bambang terdengar. Indah memberitahu keadaan Arvida saat itu. Bambang meminta dihubungi apabila Arvida sudah tidak sibuk.
Sesi penayangan program berita siang hari itu selesai. Arvida selaku produser sekaligus salah satu penyiar beritanya berterima kasih kepada narasumber atas kesediaannya menyempatkan diri.
"Kamu punya waktu malam ini, Arvida? Saya ingin mengajak kamu dinner!"
Nada suara sang narasumber memuakkan Arvida. Arvida santun menolak, meskipun dia tak henti mencela dalam hati. Sang narasumber memahami alasan yang Arvida utarakan. Walaupun begitu, dia pantang menyerah. Dia kembali mencoba mengajukan ajakan makan malam di salah satu hotel berbintang di kawasan Sudirman. Arvida yang sebenarnya mulai naik pitam tetap menolak halus.
"Mengerikan sekali itu orang! Aku tolak, eh, masih mencoba!"
Indah dan seorang penata rias yang asyik menikmati makan siang hanya cekikikan menanggapi omelan Arvida. Arvida justru dicandai mereka. Tiba-tiba, Indah menepuk keningnya.
"Aduh, Indah lupa! Bapak tadi telepon. Indah bilang kalau Ibu lagi sibuk. Bapak minta ditelepon balik! Maaf banget, Bu!"
Indah mengembalikan ponsel Arvida.
"Indaaah, kamu nyebelin, ih!"
Arvida meraih ponselnya dan menghubungi Bambang.
__ADS_1
"Siapa, Say?"
Si penata rias menatap Arvida yang sedang bertelepon lalu bertanya kepada Indah dengan penasaran.
"Calon bapak!"
Jawaban Indah yang singkat, namun memenuhi unsur pergosipan segera memancing teriakan manja si penata rias yang sontak memenuhi ruangan. Kabar bahwa Arvida ternyata mempunyai calon "bapak" menyebar ke setiap telinga dalam beberapa menit. Ketika sambungan telepon diputus, semua orang berdehem penuh arti.
"Pasti pekerjaan si Indah! Benaran tukang gosip sejati anak itu!"
Ritme wajah Arvida yang cemberut dibalas ringisan mengiba ampun Indah. Semua kru stasiun televisi itu bersahut-sahutan menggoda Arvida sepanjang hari.
"Indah, mas Bambang mau jemput Aku untuk dinner. Aku sudah tulis dan tempel di pintu kulkas tambahan persiapan besok."
"Tenang, Bu! Percayakan ke Indah!"
"Kamu memang terpercaya soal profesionalisme kerja! Sayang, kamu itu penggosip nomor wahid, Ndah!"
Indah tertawa mendengar perkataan Arvida. Arvida menyiapkan penampilan terbaiknya untuk dipamerkan ke Bambang sementara Indah menyelesaikan kewajibannya demi kinerja prima Arvida besok hari.
"Aku sangat berharap semoga bapak Bambang menjadi jodoh nyata ibu!"
Arvida tumbuh di keluarga amangudanya, Letkol Purn. Maraden Simanjuntak. Inangudanya, Raden Ayu Koes Andrina Sosrodiningrat, merupakan internis terkenal yang berpraktek di RSCM. Ayahnya Koes Andrina, Raden Mas Soebroto Prawiro Sosrodiningrat adalah salah satu diplomat legendaris yang menempati posisi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris sebelum pensiun dari Kemenlu. Pendidikan keluarga yang diterima Koes Andrina berdasarkan adat Jawa kental dipadu kehidupan yang terbiasa di antara keberagaman budaya bangsa menjadikannya sosok inanguda menyenangkan. Mendiang papanya Arvida merupakan seorang perwira menengah polisi yang gugur bertugas. Mendiang mamanya Arvida meninggal setelah sepuluh menit Arvida dilahirkan. Arvida memiliki puluhan cita-cita sejak kecil, tetapi akhirnya memilih menggeluti profesi penyiar berita di salah satu stasiun televisi yang diawali keberhasilan dirinya memenangkan ajang pencarian bakat calon penyiar berita sebuah stasiun televisi terkenal dalam rangkaian tur road show ke berbagai kampus di Indonesia. Sebenarnya, Arvida sempat nekat mendaftar ke Akpol, namun amanguda dan inangudanya memohon membatalkan keikutsertaannya. Arvida menurut berdasarkan banyak pertimbangan.
Arvida berusia tiga puluh tahun sekarang. Dia mulai serius memikirkan pernikahan. Pilihannya jatuh kepada Letjen Bambang Marino, duda cerai mati yang berputri tunggal. Perbedaan usia yang terpaut jauh tidak menyurutkan Arvida dari menggilai Bambang. Penampilan fisik, tingkah laku, dan kehebatan Bambang menyebabkan Arvida tidak membiarkannya terpikat wanita lain. Sejauh ini, Bambang tampaknya menginginkan Arvida pula. Hanya Arvidalah yang selalu Bambang munculkan di publik. Karena itu, Arvida setia menanti Bambang bertanya kesediaannya dinikahi.
Perasaan Arvida tidak menentu sejak dirinya diajak Bambang makan di luar malam ini. Bambang sering mengajak Arvida pergi di akhir pekan, tetapi tidak pernah melakukannya di lima hari kerja.
"Apakah malam ini mas Bambang berencana melamar Aku? Mungkinkah dia sudah menyiapkan cincin lamaran? Setelah melamar Aku, kami dapat merancang pesta pernikahan impian, merencanakan bulan madu terindah bahkan mendiskusikan jumlah anak yang bakal kami miliki."
KAMUS
Akpol
Akademi Kepolisian di Semarang, Jawa Tengah.
__ADS_1
Amanguda
Panggilan di suku Batak untuk adik laki-lakinya ayah.
Bariton
Jenis suara pria; perpaduan jenis suara tertinggi Tenor dan suara terendah Bass.
Kemenlu
Kementerian Luar Negeri.
Inanguda
Panggilan di suku Batak untuk istrinya amanguda.
Internis
Dokter spesialis penyakit dalam.
Letjen
Letnan Jenderal AD. Perwira tinggi berbintang tiga.
Letkol
Letnan Kolonel AD. Perwira menengah bermelati emas dua.
Purn.
Purnawirawan (pensiunan)
RSCM
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo merupakan milik pemerintah pusat yang berlokasi di Jakarta, DKI Jakarta. Rumah sakit pusat rujukan nasional.
__ADS_1