
Laptop Wenny sudah dibeli. Achmad mengajak Wenny dan Natalia untuk makan siang. Wenny duduk di depan Achmad. Achmad menarik tangan Natalia supaya duduk di sampingnya, tetapi Natalia buru-buru duduk di samping Wenny. Natalia tersenyum manis kepada Wenny yang wajahnya berubah cemberut.
"Wenny, kamu sakit?"
"Ndak! Kenapa?"
"Wajah kamu seperti menahan sakit waktu aku mau duduk. Makanya, aku tanya untuk pastikan! Aku ini tipe wanita yang perhatian, Wen."
Wenny hampir tertawa sinis. Natalia dan Wenny menunjukkan kebencian satu sama lain. Dalam sekejap, Wenny menyadari jika Natalia bukanlah Safira yang mudah tertindas. Wenny berlagak menampakkan senyum sopan.
"Sebenarnya, perutku mendadak melilit, Mbak. Maagku kambuh kali, ya!"
"Kamu sarapan, Wen?" selidik Achmad.
"Ndak. Soalnya sudah mau telat kuliah tadi pagi, Mas."
"Harusnya kita beli snack dulu untuk ganjal perut, Mad!" timpal Natalia berpura-pura peduli.
Achmad tersenyum kepada Natalia. Wenny menekuk wajahnya.
"Mas Achmad sudah disihir si Natalia! Wanita penuh kepalsuan! Aku harus selamatkan mas Achmad dan mbak Safira secepatnya!"
Acara makan siang didominasi kebisingan tawa dan obrolan akrab Natalia dan Wenny yang terkesan dipaksakan. Achmad malas terlibat dalam pembicaraan palsu kedua wanita tersebut. Dia fokus menikmati makanannya.
"Kacau seluruh rencanaku! Kupikir Wenny dan Natalia bakal akrab! Dua wanita yang kusayang malah seperti berencana saling bunuh."
******
Achmad, Wenny, Natalia, dan Bambang berkumpul di rumah saat ini. Wenny mendatangi Bambang. Dia menyalim Bambang lalu berterima kasih atas bantuan Bambang membelikannya laptop. Wenny sangat menghormati Bambang. Kebaikan hati Bambang kepada semua pekerja dan keluarga pekerjanya menyebabkan dirinya direspek.
"Semoga laptopnya membantu kelancaran kuliahmu, Wenny!"
Bambang mengemukakan harapannya.
"Iya, Pak."
Selesai Wenny berbicara, gantian Natalia yang bersuara.
__ADS_1
"Papa tidak kerja hari ini?"
Natalia bertanya sebab dia tersadar dengan penampilan kasual Bambang.
Bambang kembali kesal mengingat pengalaman buruknya.
"Papa cuti sehari! Papa tadinya rencana jemput kamu. Ternyata, kamu ikut Achmad dan Wenny!"
"Lia mau kenalan sama Wenny sekalian kangen lihat UI, Pa!"
"Kangen lihat UI atau dokter UI?"
"Papa!"
"Tapi, Papa dengar fakultas kedokteran sudah dipindah ke kampus Depok juga?"
"Iya. Cuma, tingkat empat, lima, dan enam tetap di kampus Salemba karena harus koas di RSCM, Pa."
"Benar juga!"
Rombongan Bambang tiba di Bandung. Natalia meminta Wenny tidur di kamarnya. Selesai makan malam bersama, Achmad dan Wenny mengobrol di taman. Bambang bermain catur dengan Peter. Di teras, Farid sibuk menggoda di telepon. Entah siapa lagi wanita yang sedang dirayunya. Supardjo dan Tedjo menyuruh Farid pindah kalau masih ingin bicara menggoda karena ada tiga anak kecil bermain di teras itu. Dua anaknya Supardjo dan satu anaknya Peter. Istrinya Supardjo, istrinya Tedjo, dan istrinya Peter berkumpul di kamar tidur besar. Natalia bersembunyi menguping pembicaraan Achmad dan Wenny.
"Membela benar, Mas! Sudah tergila-tergila sama dia, Masnya. Mbak Safira dilupakan! Jangan sampai menyesal, Mas! Mbak Natalia pengalaman sama pria. Tidak seperti mbak Safira. Mas Achmad cinta pertama mbak Safira!"
"Jangan hanya menilai luarnya seseorang, Wenny!"
"Aku mau tidur!"
Natalia menuju kamar tidurnya tergesa-gesa.
Pintu kamar tidur Natalia diketuk.
"Siapa?"
"Wenny, Mbak Lia."
"Masuk, Wenny! Pintu tidak dikunci!"
__ADS_1
Wenny masuk. Dia mengucapkan salam.
"Achmad mana, Wenny?"
"Di luar, Mbak. Ikut mengantar tadi."
"Achmad!"
Achmad muncul. Natalia meminta Achmad mendekat. Achmad menurut. Wenny bingung. Achmad berdiri di hadapannya. Natalia menyingkapkan selimut lalu duduk di tempat tidurnya. Natalia tersenyum menggoda Achmad. Achmad tertunduk. Wenny mendelik marah. Natalia membelai paha Achmad. Wenny menghardik Achmad. Achmad meraih tangan Natalia, menggenggamnya, duduk di samping Natalia kemudian merangkul pinggang Natalia. Natalia mencium sudut bibir Achmad. Wajah cantik Wenny begitu murka melihat tingkah mas kandungnya yang menikmati perlakuan Natalia.
"Wenny, hubunganku dan Achmad adalah hubungan simbiosis mutualisme. Kami saling membutuhkan untuk beberapa hal. Aku kenal Safira. Kecantikan Safira akan membuat Achmad mencintai dia selamanya! Jadi, kamu tidak usah bersusah payah memusuhi atau menyindirku! Achmad akan tetap memilih menikahi Safira. Tolong mengerti, Wenny! Lebih baik Achmad menjadi pacar gelapku daripada dia kepincut wanita lain yang tidak jelas. Andai Achmad dan Safira menikah kelak, aku tidak seperti wanita lain yang bakal ribut menggagalkan pernikahan mereka!"
Achmad tercekat. Dia melepaskan rangkulannya di pinggang Natalia. Hatinya terluka mendengar omongan Natalia. Dia tinggalkan Natalia dan adiknya. Wenny mengejar Achmad.
"Enjoy it, The fricking siblings! That is only an introduction, Idiots!"
Rocco masuk ke kamar tidur Natalia.
"Hi, Rocco Darling!" sapa Natalia.
Rocco melompat ke pelukan tuannya.
"Let me accompany you to opa Bambang's bedroom," ujar Natalia.
Dia mencium pipi Rocco lalu mengunci pintu kamar tidurnya.
Natalia dan Rocco berpapasan dengan Wenny dan Achmad.
"Hai .... Aku antar Rocco dulu ke kamar opa Bambangnya!" kata Natalia ramah.
Wenny tersenyum tipis. Dia tidak mampu menahan senyumnya tidak terkembang mendengar Bambang disebut sebagai opanya Rocco, anjing kesayangan Natalia. Wenny mengangguk. Dia mengamati saksama penampilan ramah dan ceria Natalia.
"Memang mbak Natalia mau membalasku tadi, rupanya!"
Natalia membelai dada Achmad. Achmad menggenggam tangan Natalia beberapa detik. Namun, Achmad tersadar lalu menyingkirkan tangan Natalia. Gadis itu terkekeh mengejek.
"Come on, Rocco Baby!" ajak Natalia kepada Rocco yang sibuk mengejar cecak dan nyamuk.
__ADS_1
Rocco terpaksa meninggalkan aktivitas serunya. Dia berjalan lincah di samping Natalia setelah menggonggongkan salam perpisahan.