
Achmad, Farid, dan Wenny sudah di Bekasi. Wenny yang lelah meminta diantarkan ke asrama. Dia tidak ikut ke rumah Safira. Wenny sudah memasukkan ke plastik oleh-oleh untuk Safira sekeluarga.
"Wen, kok, kamu tidak ikut ke rumah Safira? Tidak seru kalau kamu tidak ikut!" keluh Farid.
"Aku capek, Mas Farid! Besok, Aku harus kuliah pagi, Mas!" tutur Wenny.
"Sudah benar kalau Wenny tidak ikut, Rid. Mau jam berapa dia kita antar pulang nanti? Sekarang saja sudah jam 07.00 malam," timpal Achmad.
"Ya, sudah. Hari Sabtu depan kita pergi dengan Safira dan Wenny, Mad! Double date, Bro!" usul Farid antusias.
Achmad menoleh ke Farid seraya memicingkan mata, tetapi sesudahnya tertawa lepas.
"Asyiknya .... Di Bandung, kamu sibuk merayu cewek lain, eh, sekarang mau dekati adikku!" protes Achmad bercanda.
"Mendekati banyak cewek wajib hukumnya selama janur kuning belum terpancang baik untuk kita ataupun cewek yang kita dekati. Tapi, tetap saja cewek yang kita akan nikahi haruslah cewek terbaik!" jelas Farid pongah.
"Mas Farid, mbak Natalia bagaimana orangnya?" tanya Wenny.
Achmad tetap menyetir.
"Aku tidak mengerti! Kita tidak akrab. Dia tidak pernah buat masalah. Dia tidak banyak teman. Dia rajin belajar dan hobi membaca. Dia tidak banyak bicara. Dia senang mengamati kalau kita sedang bicara. Kayaknya, dia mau menilai kita apakah berbohong atau tidak! Pokoknya, nggak usah dekat ke dia, Wenny!"
Suasana hening sejenak. Achmad berusaha tidak memikirkan Natalia sementara Wenny justru semakin tertarik dengan Natalia. Tiba-tiba, intro pembuka lagu All of Me terdengar di radio.
"Nah, ini lagu gambarin mbak Lia kata mas Nino. Waktu itu Aku antar mbak Lia dan mas Nino ke UI Salemba. Lagu ini diputar terus mas Nino bilang itu lagu cocok gambarin mbak Lia."
"Nino siapa, Rid?" tanya Achmad.
"Pacarnya Mbak Lia!"
Achmad mengerem mobilnya mendadak.
"Maaf, Aku tidak lihat lampu merah!" kata Achmad gemetar.
"Tumben, lo, Mad! Biasanya lo paling awas! Mata lo sudah minus, kali!"
__ADS_1
Wenny tidak mau mengorek keterangan dari Farid tentang Natalia lagi. Mereka tiba di asrama UI pukul 08.30 malam. Ketika Achmad dan Farid akan meninggalkan Wenny, Wenny meminta Farid yang menyetir pergi ke dan pulang dari rumah Safira nanti.
Safira sangat senang bertemu kekasih hatinya. Achmad mengobrol dengan abang ipar dan kakaknya Safira. Dia menyerahkan oleh-oleh untuk Safira sekeluarga. Abang ipar Safira ialah Kapten Gatot Dirga Subarkah, Danramil 06 Cimanggis, Depok. Kakaknya Safira, Safina Nurhallida, bekerja sebagai dokter umum di puskesmas Cimanggis. Mereka dikaruniai dua putri cantik. Anak sulung mereka duduk di kelas empat dan adiknya masih berusia tiga tahun.
"Enak sekali! Masakan kamu lezat, Fir," puji Achmad.
"Si Lia cuma bisa merebus air!"
"Kok, senyum-senyum, Mas?" tanya Safira.
"Aku pikir pasti beruntung pria yang menyunting kamu, Fir!" ujar Achmad berdusta.
Farid sengaja berbatuk ria. Safira tersipu yang menyebabkan kecantikannya semakin bersinar. Gatot dan Safina saling memandang lalu tersenyum simpul.
"Berarti, kamu akan jadi pria yang beruntung itu, Mad," tegas Gatot.
Semua orang tertawa lepas. Achmad bahagia berada dekat Safira. Dia dapat melupakan amarahnya terhadap Natalia. Bersama Safira menyadarkan Achmad jika dia masih mencintainya. Dia memutuskan secepatnya menghalalkan Safira sebagai istrinya. Namun, Achmad sesaat ragu memikirkan reaksi Natalia kelak.
"Bagaimana kalau Natalia tidak terima lalu mencelakai Safira? Natalia sinting dan terobsesi menghancurkan orang-orang yang dianggap musuhnya!"
Sedangkan di saat yang sama, Natalia sedang tekun berdoa ditemani Rocco di kamar tidurnya.
Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.
Bapak, saat ini Lia datang kepada-Mu ingin mengungkapkan isi hati Lia. Tapi, sebelumnya, Lia berterima kasih kepada-Mu untuk berkat cuma-cuma yang Engkau berikan berupa napas hidup bagi semua makhluk hidup termasuk keluarga besar papa dan mama juga seluruh orang yang Lia kasihi termasuk Rocco dan semua binatang di bumi ini.
Bapak, Lia mengaku kalau ternyata, Lia agak sedikit mencintai Achmad.
Tapi, Lia tahu bahwa Lia dan Achmad sulit dipersatukan dengan banyaknya perbedaan kami.
Terutama, Lia tidak pernah tahu isi hati Achmad sesungguhnya, Bapak.
Suara-suara di kepala Lia terus mengganggu Lia.
Mereka memberikan berbagai komentar buruk tentang Achmad yang membuat Lia tambah bimbang.
__ADS_1
Bapak, mohon bantu Lia agar bijaksana mengambil keputusan untuk kebahagiaan Lia dan Papa.
Yang terpenting, Lia memohon keputusan Lia semakin mendekatkan Lia kepada-Mu.
Bapak, mohon berkati papa dan kak Arvida yang saling membutuhkan.
Lia memohon pernikahan papa dan kak Arvida dapat terlaksana supaya mereka memulai kehidupan baru bersama menurut jalan-Mu.
Lia juga berharap agar masalah tentang Achmad terselesaikan sesuai ajaran-Mu.
Bapak, apapun rencana yang dirancang oleh Lia dan papa, namun Lia sadar kalau rancangan-Mu yang harus terjadi dan semua itu demi kemulian nama-Mu.
Bapak, Lia mohon ampun atas setiap dosa yang Lia lakukan sengaja.
Lia siap memaafkan kesalahan orang lain kepada Lia.
Bapak, Lia juga memohon supaya Engkau menguatkan Lia kala Lia dapati Achmad memang berniat jahat terhadap papa.
Bantu Lia memaafkan Achmad dan mohon lindungi papa dari setiap rencana jahat, Bapak.
Doa ini Lia panjatkan melalui perantara kami, Yesus Kristus.
Amin."
Natalia membuka mata. Dia terkejut karena tangan seseorang menghapus air matanya yang tumpah ruah.
"Papaaa ...."
Tangis Natalia pecah di dada Bambang. Hanya di pelukan papanyalah, Natalia tidak malu menangis keras. Bambang mengusap-usap kepala Natalia dengan sedih.
"Lia, I am your Papa. You always have me anytime you need me. Don't ever forget that, My Dear!"
Pengingat dari Bambang menyebabkan Natalia kian menangis. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya di hadapan orang lain sehingga banyak orang salah mengira jika dia tegar. Saat ini, dia menunjukkan kelemahan dan kerapuhannya di hadapan papanya, satu-satunya pria yang dia percaya sepenuh hati dan tidak akan berniat jahat terhadapnya. Satu-satunya pria yang mempedulikan kebahagiaan sejatiya. Natalia teringat sebuah kutipan terkenal yang cocok didedikasikan buat Bambang.
"Girls' first boy friend is the father."
__ADS_1
Rocco minta ikut dipeluk opa Bambangnya. Jadilah Bambang memeluk Natalia dan Rocco.
Achmad mencium lembut bibir merah ranum Safira. Benih cinta di hati Achmad kembali menyegar. Achmad tidak ikhlas mendua hati lagi. Dia tidak rela Safira terlepas dari pelukannya karena kebodohan sesaat. Achmad berjanji menemui Safira Jumat depan. Dia hendak mengajukan cuti tahunan yang belum diambilnya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Safira. Dia ingin menikahi Safira setelah tahu Wira diterima di universitas mana. Achmad sudah mempersiapkan uang kuliah Wira. Jika dia kuliah di universitas swasta, Achmad harus mengumpulkan uang lagi untuk biaya menikah. Kalau Wira tembus universitas negeri, Achmad bisa menggunakan sisa bakal uang kuliahnya sehingga dia hanya perlu sedikit tambahan biaya.