CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
AWAN KELABU


__ADS_3

"Hari yang melelahkan dan membosankan."


Natalia hanya menelan ludah melihat setiap orang makan. Achmad tidak tega melihatnya. Dia memutuskan tidak makan. Indah pun tidak mau makan, namun Arvida menyuruhnya.


"Kamu harus makan, Ndah! Sebesar apa pun masalah kita, kita harus tetap hidup dan sehat supaya bisa mencari solusi. Setiap masalah pasti punya jalan keluar."


"Kalau tetap tanpa solusi, Bu?"


"Berarti solusi dari masalah itu yaitu tanpa solusi. Artinya let's move on!"


Celetukan Natalia membangkitkan tawa.


"Kamu mau makan apa, Ndah? Aku yang ambil!"


"Gurame asam manis, udang goreng kecap sama mi goreng, Bu."


"Gue menyesali kebodohan Gue yang sok menasihati orang rakus!"


Natalia dan bik Ninis tertawa mendengar pesanan makanan Indah yang sedang dirundung kekecewaan. Natalia dan Indah setali tiga uang mengenai makanan.


"Bik Ninis juga makan! Bik, selundupin es krim dong!"


Arvida mendelik ke Natalia. Arvida mengajak bik Ninis ke meja makanan. Bambang menghampiri Arvida.


"What happened, Vid?"


Bambang ingin merangkul pinggang Arvida, tetapi malu. Arvida terlihat lebih cantik malam ini.


"Woman's joke, Mas!"


Arvida menjawab pertanyaan Bambang.


"I miss you very much, Vid. You are so adorable."


Bambang berbisik mesra di kuping Arvida.


"You seduced me, My naughty Lieutenant General!"


Senyum Arvida terkembang mendengar rayuan Bambang.


"Just go to hell, Bambang!"


Todjo mengamati keadaan Natalia.


"Drin, Natalia boleh diberi makanan, tetapi jangan yang pedas dulu. Kasihan anak itu! Terus menonton kita makan!"


"Jangan dulu malam ini, Bang! Makanan seperti ini memicu pencernaannya bereaksi. Dia nanti jadi mau BAB. Akhirnya lemas. Dia harus menghindari aktivitas yang memacu semua organ sistem pencernaan tubuhnya bekerja lebih cepat secara mendadak! Lagipula, setiap aktivitas yang paling sederhana tetap membutuhkan energi sehingga dia akan cepat lelah karena cadangan energi tubuhnya dipakai."

__ADS_1


"Ya, kau benar, Drin! Asupan makanan yang masuk tubuhnya belum kita normalkan dosisnya. Seharusnya, semua organ tubuhnya harus kembali beraktivitas normal setahap demi setahap. Tapi, Aku kasihan melihatnya, Drin!"


"Natalia tersiksa, tetapi dia mengerti. Buktinya, walaupun matanya jelalatan ke semua makanan ini, dia tidak menuntut. Dia tetap menguasai diri!"


Maraden menimpali pembicaraan istri dan abang iparnya.


"Mantap juga calon boru ni Arvida kita, Den!"


Pujian Todjo untuk Natalia disetujui Maraden dan Koes Andrina.


"Tapi, siapa yang tega meracuninya? Apa dia punya musuh?"


"Aku tanya si Bambang, tapi dia tidak tahu. Si Bambang tanyai supir pribadinya Natalia. Dia pun tidak tahu. Selama menjadi supir Natalia, dia tidak pernah melihat anak itu bermusuh walaupun juga jarang berteman."


Percakapan Todjo, Maraden, dan Koes Andrina berlanjut.


"Achmad!"


Natalia memanggil Achmad.


"Ada apa, Mbak Lia?"


Achmad hendak mendatangi Natalia.


"Kenapa tidak makan, Mad? Kamu kelihatan lemas. Mata kamu juga bengkak! Kamu sakit? Kurang tidur?"


Semua orang menyetujui perkataan Natalia.


Bambang bertanya prihatin.


"Siap, Jenderal! Saya tidur nyenyak semalam. Mata Saya bengkak karena kurang minum!"


"Tapi, kamu sekarang harus makan, Mad!"


Kelembutan ucapan Natalia menyuruhnya makan membuat Achmad menyesal mengatakan dia tidur nyenyak semalam. Sebenarnya, dia ingin menunjukkan kepada Natalia kalau dia tidak terpengaruh dengan kondisi Natalia.


"Papa, Achmad jaga Lia malam ini, ya!"


"Iya, Saya setuju, Mbak Lia!"


"Waduh, si Achmad langsung setuju disuruh jaga mbak Lia!"


"Mad, kalau mbak Lia macam-macam ancam kamu supaya kamu tidak mengadukan kesalahannya kepada Saya, jangan turuti! Kamu ajudan Saya bukan ajudan mbak Lia!"


"Siap, Jenderal. Mbak Lia tidak punya kesalahan apa pun, Jenderal!"


Bambang berkata bercanda, namun sebenarnya dia mencurigai Natalia. Natalia tipe manipulatif. Dia takut jika tingkah Natalia yang menyebabkannya diracun.

__ADS_1


"Saat jatuh cinta, tahi ayam pun rasa coklat! Si Lia keras kepala. Mana mungkin Lia tidak punya salah."


"Malam ini, Achmad, Farid, dan Ninis menjaga mbak Lia."


"Vid, Aku antar kamu pulang sekalian abang dan kakak, ya."


"Tidak usah, Mas. Aku yang antar amanguda dan inanguda. Supir Aku masih menunggu."


"Apa maunya Arvida? Giliran kubuka hati, mengapa dia seolah berlari menjauh? Apa yang salah?"


"Kamu suruh si Roni pulanglah sekarang! Aku yang antar kalian. Mobilnya abang Maraden juga tadi sudah dibawa pulang setelah mengantar kak Andrina ke sini."


"Okay, Mas."


Arvida menyetujui permintaan Bambang. Natalia menghela napas lega. Dia tadi agak takut melihat gelagat Arvida seperti melawan Bambang. Natalia mengharapkan hubungan papanya dan Arvida baik-baik saja sehingga perkiraannya terbukti salah. Dia tidak mau Arvida gagal menjadi ibu tirinya. Dia cocok dengan Arvida. Selain itu, meskipun usianya dan Arvida tidak terpaut terlalu jauh, tetapi Arvida bermental dewasa saat menghadapi masalah.


"Papa tidak perlu mengurus wanita lemah yang bakal menyusahkannya jika papa menikahi kak Arvida. Aku pun tenang lanjut kuliah kalau lolos LPDP! Ya, ampun .... Dua bulan lagi pembukaan pendaftaran LPDP! Tuhan, bantu Lia sembuh secepatnya. Lia tidak dendam dengan peracun Lia. Lia mohon Engkau sudi menyembuhkan Lia secepatnya dan Lia berjanji untuk tidak lagi sembrono dan masa bodoh. Dua sifat yang hampir membunuh Lia, Tuhan."


Indah mengamati bosnya. Dia tidak yakin Arvida mudah menurut.


Pukul 10.00 malam, beberapa penjenguk Natalia beranjak pergi. Achmad ikut mengantar rombongan Bambang ke lobi sementara Supardjo dan Tedjo mengambil mobil. Todjo pulang sejam lalu.


"Mas Bambang, Aku yang mengantar amanguda dan inanguda. We will meet again tomorrow!"


"What??? But, you nodded your head before, Vid!"


"Yes, I did then I suddenly changed my mind! Goodnight, Mas. See you tomorrow!"


Arvida hendak meninggalkan Bambang untuk kembali bersama


amangudanya dan inangudanya serta Indah. Bambang meraih tangan Arvida.


"What did you mean, Honey?"


"Release me! I do not want us to be seen like this. Later, everybody thinks that we are having a quarrel, Mas!"


Arvida kaget dengan tindakan Bambang. Dia berusaha melepaskan cekalan Bambang.


"Mas, I need to have time with my family. Only with them."


"Aren't I one of your family members, Vid? Why didn't you spend time with me also?"


"You are going to be not you are!"


Perkataan Arvida membuat Bambang melepaskan cekalannya. Bambang menatap pergelangan tangan putih itu yang kini dihiasi bekas memerah. Bambang mengusap-usapnya.


"Forgive me, Honey. I hurted you!"

__ADS_1


"Tidak sesakit perasaan Aku saat ini!"


Arvida tersenyum mengangguk. Dia belum ingin menunjukkan kemarahannya. Dia masih menganalisis perasaan sebenarnya terhadap Bambang sebelum mengambil keputusan selanjutnya. Dia tidak mau gegabah yang hanya bakal menggiringnya menghindari suatu masalah dengan menciptakan masalah baru.


__ADS_2