CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
SUARA HATI NATALIA (1)


__ADS_3

Natalia akhirnya mau bangun.


"Kamu tidak cuci muka, Lia?"


"Aku mandi, kok, setelah 'kuliah malam' kita selesai!"


Achmad tertawa lepas mendengar canda Natalia. Rocco menggonggong sambil mengibaskan ekornya. Achmad tidak berani bermesraan di kamar tidur Natalia yang terbuka.


"Aku tinggalin kamu jam 02.00 pagi! Kenapa kamu nekat mandi, sih? Aku kecewa sekali. Kamu nggak suka sama Aku, Lia? Aku kurang jago semalam, ya?"


Achmad bertanya sedikit genit. Natalia mengulum senyum, namun tidak menjawab pertanyaan Achmad. Dia sibuk mencari sesuatu. Achmad mengambilkan sandal Natalia yang berada di kolong tempat tidur. Sesuatu yang tengah dicari Natalia. Sepertinya Rocco yang menendang tanpa sengaja.


"Sandal Aku! Wow, ternyata sandalnya cocok! Akulah calon permaisuri pangeran Achmad yang ganteng ...."


Natalia tersenyum manis seraya mengedipkan mata ke Achmad, tetapi Achmad diam tidak menimpali candanya.


"Ayo, Lia! Bapak menunggu terlalu lama!"


Achmad berjalan keluar. Natalia bingung. Achmad tidak bereaksi dengan candaannya. Natalia dan Rocco pun keluar. Wajah Natalia masam. Achmad meraba belakang pintu lalu menutup pintu kamar tidur Natalia.


"Kuncinya mana Lia?"


Natalia berkacak pinggang sambil menjatuhkan kunci itu tepat depan kakinya. Achmad menggeser kaki Natalia yang sengaja menginjak gantungan kuncinya kemudian memungut kunci itu. Dia hendak mengunci kamar tidur Natalia, namun Natalia mengingat ponselnya.


"Ponsel Gue masih di tempat tidur! Gue ambil dulu!"


Achmad berinisiatif mengambilnya. Dia menyerahkan ponsel dan pengisi daya ke Natalia. Natalia melihat batere ponselnya hanya tersisa dua puluh persen. Natalia berterima kasih kepada Achmad.


"Aneh! Gue nggak mengerti si Achmad!"


Natalia dan Rocco berjalan di belakang Achmad.


"Kenapa lo nggak ketawa waktu Gue bercanda tentang sandal tadi, Mad?" Natalia mencoba menanyai Achmad baik-baik. "Memangnya Aku wajib menangapi semua candamu, Lia?" Natalia membuka mulutnya terpana mendengar jawaban Achmad yang menurutnya sangat menakjubkan tingkat ketidaksopanannya. "Oh My God! Gue terhina, Mad! Lo berani melawan Gue sekarang???" Natalia langsung berjalan mendahului. Dia sengaja menabrak kasar tubuh Achmad. Rocco mengikuti tuannya cepat-cepat. Achmad hanya memandangi Natalia.


Natalia terpekik girang melihat Arvida.

__ADS_1


"Kak Arvida! What time did you arrive?"


"Around 5 .A.M., right, Mas?!"


"Yup. Unfortunately, the crown princess was awaken very late therefore she could not go with us to have yummy breakfast outside!"


Natalia menyesal memikirkan kesempatan membeli makanan yang terlepas akibat kemalasannya. Tetapi, nasi goreng sosis dan roti bakar berselai coklat campur kacang yang ditaburi parutan keju di meja makan menenangkannya. Natalia akan meraih nasi goreng sosisnya.


"Lia, wash your hands first!"


"I had done it before I left the bedroom, Pa."


Natalia membohongi papanya karena malas ke wastafel yang hanya berjarak sepuluh meter dari posisinya. Natalia selesai berdoa. Dia menikmati nasi goreng sosisnya.


"Totally delicious. It is far better than Bik Yanah's cooking whereas she cooks well!"


Arvida memberitahu Natalia.


"Acmad cooked it! He stayed at home this morning. When we were back, all of these foods were already served on the table!"


"Wenny helped him?"


"Did he pour poison into the foods?"


Arvida dan Bambang menatap Natalia tidak senang.


"Just joked. I know Achmad! He is a so loyal man!"


Arvida dan Bambang berbincang dengan semua orang. Bahkan, Rocco memilih bergabung. Natalia mengamati dari balik tirai jendela kamar tidurnya. Wenny dan Rocco tampak lebih akrab walaupun Wenny selalu waspada supaya tidak tersentuh Rocco yang kelihatannya tertarik dengan gamis Wenny. Beberapa kali dia kedapatan ingin menarik ujung bawah gamis Wenny seperti yang selalu dilakukannya jika melihat Natalia memakai rok. Tetapi, para pria selalu menegurnya.


"Rocco jangan genit sama Mbak Wenny yang cantik jelita!" ingat Farid.


"Benar! Rocco tidak boleh mengikuti contoh buruk ajudan Farid!" sindir Tedjo.


Tawa keras membahana. Semua orang meledek Farid yang bertampang mesem. Kekesalan Natalia terhadap Achmad sedikit mencair. Dia senang melihat kebahagiaan tercipta di depan matanya. Papanya tampak lebih santai bersama Arvida. Wenny terlihat lebih cantik lagi saat tertawa dan Achmad tetap yang tertampan di hatinya. Natalia menghela napas sedih. Terkadang, dia ingin jujur kepada papanya tentang Achmad. Namun, dia takut papanya murka. Selain itu, Natalia tidak mau kecewa. Sebenarnya, dia sering merasa rendah diri ketika di dekat Achmad yang menjadi idola kaum hawa. Natalia seperti dibisiki bahwa Achmad hanya berpura-pura baik dan lembut kepadanya selama ini.

__ADS_1


"Natalia, terus terang kalau kamu bukan selera Achmad. Pria seperti dia terbiasa berada di antara kerumunan gadis yang kecantikannya di atas kamu! Dia dekati kamu supaya cepat naik pangkat!"


(suara hati negatif Natalia)


"Natalia terapkanlah kewaspadaan berdasarkan fakta hasil pengamatan dari kabar burung atau prasangka! Jangan hanya menurut kabar burung atau prasangka semata!"


(suara hati positif Natalia)


Adu mulut di antara si suara hati positif dan si suara negatif meruncing. Saling berbalas komentar panas terjadi.


"Teori sekali, sih! Pokoknya, percayai setiap kecurigaanmu, Natalia! Tidak usah percaya teori! Aksi lebih berharga daripada teori!"


(suara hati negatif Natalia)


"Aksi berdasarkan teori yang mengalami penyesuaian sesuai fakta lapangan adalah yang seharusnya dilakukan, Natalia!"


(suara hati positif Natalia)


"Jangan percaya, Natalia! Jangan-jangan kamu si Achmad yang menyamar dan coba pengaruhi alam bawah sadar Natalia lewat ilmu hitam, Positif!"


(suara hati negatif Natalia)


"Apaaaaaa...??? Menuduh Aku si Achmad??? Pakai menyinggung ilmu hitam pula! Kamu yang pakai ilmu hitam!"


(suara hati positif Natalia)


"Biar Aku jahat, tapi Aku benci ilmu hitam!"


(suara hati negatif Natalia)


"Bohong! Aku tidak percaya kamu, Negatif!"


(suara hati positif Natalia)


"Diam kamu, Achmad!"

__ADS_1


(suara hati negatif Natalia)


Mendadak, banyak suara muncul di kepala Natalia. Sepertinya sedang berlangsung perkelahian hebat antara kubu si suara hati positif dan kubu si suara hati negatif. Semakin lama, suara-suara itu bertambah sehingga mengakibatkan kepala Natalia terasa penuh. Natalia mengikik. Dia menikmati perkelahian kedua kubu suara hatinya dan perasaan kepalanya seakan hendak meledak. Dia meneguk kopinya. Dia terus mendengarkan dengan saksama pertengkaran kedua kubu suara hatinya. Terkadang Natalia tersenyum. Beberapa kali dia tertawa pelan, tetapi dia sering mengernyitkan kening mencoba mencerna sejumlah ucapan para pihak yang terlibat. Tiga kali dia membelalakkan matanya. Berbagai ekspresi emosi lalu lalang di wajahnya. Puluhan ekspresi emosi yang Natalia ijinkan tampil ketika dia sendiri. Namun, Natalia tidak mengijinkan mereka muncul saat dia bersama orang lain ataupun sewaktu berada di keramaian.


__ADS_2