Cinta Untuk Lea

Cinta Untuk Lea
Menjadi Tameng


__ADS_3

"Dewa... jangan tinggalkan aku, Dewa.. Dewa!" Lea berteriak agak sedikit kencang karena mimpinya


"Hei bangunlah! Alea!" Richard mencoba untuk membangunkan Lea dengan menggoyangkan tubuh Lea


"Haaaah!" Lea terbangun dengan air mata mengalir dari sudut matanya dan menatap Richard lalu refleks Lea menghapus air mata yang keluar


"Kau mimpi buruk?" Tanya Richard sambil mengernyitkan dahinya


Lea menggeleng dan menggigit bibirnya


"Bahkan dalam mimpinya pun nama laki-laki itu tetap disebutnya, hah... kau sangat mencintainya bukan?" Hati Richard benar-benar tidak suka dengan apa yang baru dilihatnya tadi. Ada rasa kesal, marah, kecewa yang membuatnya merasa tak nyaman

__ADS_1


"Maafkan aku, Tuan!" Lea menunduk dan meremas kedua tangannya


"Duh, semoga aku tidak mengatakan apapun tadi dalam mimpiku... kenangan hari pernikahanku dengan laki-laki di sampingku ini.. baru saja hadir lagi di mimpiku.. dengan Dewa yang meninggalkanku dan sangat membenciku di hari itu." Jauh di dalam sudut hati Lea masih teringat apa yang terjadi di hari pernikahannya di pagi hari, ketika Lea menangis saat Dewa meninggalkannya pergi dengan sangat marah.


"Kita sudah sampai di rumah besar. Jangan katakan apapun kepada Eyang Bagas mengenai kejadian tadi pagi! Cukup kamu membuatnya senang dan melupakan semua kejadian tadi pagi. Apa kamu paham?" Richard bertanya kepada Lea dengan tatapan matanya yang sangat mengintimidasi


"Maafkan aku kali ini Lea, aku sengaja mengarang cerita bahwa eyang marah kepada mu, karena tak Menemukanmu pagi ini. Tak Ada cara lain yang dapat aku lakukan selain melakukan itu untuk melindungi Viona dari kemarahan Eyang. Aku tahu eyang sangat menyukai mu, karena itu aku Menjadikanmu sebagai tameng untuk melindungi Viona yang tidak bisa hadir hari ini. Aku Menjadikanmu bahan untuk membuat Eyang melupakan Viona beberapa saat selama kepergian Viona." Kata hati Richard jujur mengenai alasannya hingga mau menjemput Lea ke kampus tadi. Tak ada yang ingin di lakukan oleh Richard selain melindungi Viona dari kemarahan keluarganya.


"Memang apa lagi yang bisa aku lakukan selain berusaha untuk memperbaiki mood Eyang?" Lea menimpali dalam hati kalimat perintah dari Richard


Mereka berdua turun dari mobil melalui pintu yang berbeda. Richard dengan Pintu sebelah kanan sedangkan Lea dengan pintu di sebelah kirinya dan Richard langsung berjalan masuk ke dalam tanpa menengok ke belakang untuk menggandeng Lea. Keduanya memasuki rumah yang Alexander yang terlihat lengang dan sepi

__ADS_1


"Selamat datang tuan muda!" Sapa Bi Siti di depan pintu sambil membuka pintu untuk Richard dan Lea.


"Pada di mana semua, bi? Kenapa sepertinya sepi sekali?" tanya Richard sambil melihat jam tangannya


"Nyonya Riyanti masih belum pulang, Tuan Bambang juga belum pulang, hanya ada tuan besar di rumah. sekarang, tuan besar ada di taman belakang sedang menikmati teh sorenya tuan muda!" jawab Bi Siti sambil menunduk sopan kepada Richard


"Baiklah, terima kasih informasinya Bi lalu Richard menatap ke belakang ke arah Lea. "Ayo ke belakang dulu kita siapa eyang!" Richard lalu melangkah ke taman belakang di ikuti Lea yang berjalan di belakangnya.


Eyang duduk di kursi taman sambil menatap kearah taman bunga yang ada di hadapannya. Pak Warsono berdiri di belakangnya menemani eyang tanpa berkata apapun membiarkan eyang menikmati Taman bunganya.


"Selamat sore, eyang!" sapa Richard dengan senyum khasnya lalu duduk di samping Eyang

__ADS_1


__ADS_2