
Lea berjalan pelan ke arah tempat tidur Richard dan menaruh nampan berisi makanan di nakas di samping tempat tidur Richard
"Kamu tidak kuliah?" Richard yang menyadari seseorang membuka pintu kamarnya, membuka matanya dan menatap ke arah Lea
Lea menggeleng, dan duduk di sisi tempat tidur
"Kamu baik-baik saja, Tuan?" Lea menempelkan tangannya di dahi Richard lalu mengecek nadinya untuk mengetahui tekanan darah Richard kemudian mengambil stetoskop di dalam tasnya mengecek kondisi Richard
"Dokter keluarga Alexander tadi sudah datang untuk memeriksaku. Apa kamu mau menjadikanku kelinci percobaan permainan dokter-dokteranmu?" tanya Richard sambil tersenyum kecil kepada Lea
"Hihihi ide bagus juga! Kamu bisa jadi pasienku, Tuan sekalian buat praktekku, belajar bagaimana menangani pasien." Lea tersenyum sangat manis kepada Richard Lea seakan lupa dengan perbuatan Richard tadi malam Rasa bersalahnya saat melihat wajah Richard yang pucat dengan tangan di infus, membuat Lea justru bersikap kebalikan dari apa yang ingin dilakukannya pada Richard dari malam.
"Tapi kan sekarang Aku sakitnya betulan bukan mainan" jawab Richard yang masih diselingi dengan tawa kecil juga
"Hmmm. baiklah, Semoga pasien betulanku kali ini, tidak bermasalah kalau dirawat bukan oleh dokter profesional betulan Hanya seorang mahasiswa fakultas kedokteran tingkat tiga yang masih belajar menggunakan cara pakai jarum suntik. Hehehe." Lea meladeni candaan Richard dengan candaan lagi, sehingga suasana tidak lagi tegang di antara mereka.
"Hmm.. Not Bad! Baiklah... terserah kamu saja, yang pasti, usahakan besok aku harus sembuh, karena aku ada rapat penting yang tidak bisa diwakilkan!" pinta Richard sambil mencoba untuk duduk dari posisi tidurnya.
Tunggu sebentar biar aku bantu.. Kalau sembuh itu, bukan urusan dokter Semua tergantung yang Maha Kuasa. Tapi, aku akan berusaha menjaga Tuan dengan baik hari ini. Lea mengganjal bantal di belakang Richard sehingga Richard dapat duduk dalam posisi yang pas sambil bicara menjawab permintaan Richard sebagai pasiennya.
"Seperti itu enak?" Lea memastikan
Richard mengangguk.Lea lalu mengambil mangkuk berisi bubur yang telah disiapkan oleh Bi Siti, mengipasnya dan menyuap ke Richard sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Kenapa tidak ditiup?"
"Enggak boleh.. kalau ditiup itu nanti ada kandungan gas CO di dalam makanannya Karena mulut kita menghembuskan gas karbon dioksida. Apalagi ada kuahnya kayak gini inih." jawab Lea sambil menyuap bubur ke Richard lagi.
"Siapa yang menamparmu?" Richard memegang wajah Lea dengan tangan kanannya lalu melihat bekas tamparan yang berbentuk tangan di wajah Lea yang putih
"Matanya sembab.. dia pasti habis menangis.. pipinya juga habis ditampar.. apa ibu ya yang melakukan ini? Tapi ibu tak pernah begini pada Viona!" gumam Richard menerka nerka
"Bukan siapa-siapa. enggak usah dipikirin, makan saja yang banyak, terus minum obat, habis itu tidur Kalau demam begini, harus banyak istirahat dan banyak minum air putih! jangan sampai kurang dari 8 gelas. Tapi, karena kamu dibantu infusan sepertinya akan turun lebih cepat demamnya. Tadi masuk obat juga, kan dari infusnya?" tanya Lea ke Richard
"Aku nggak tahu... Enggak terlalu merhatiin juga soalnya buat buka mata aja rasanya berat banget." jawab Richard jujur setelah itu membuka mulutnya lagi menerima suapan bubur dari Lea
"Ini namanya nyari sakit sendiri. Siapa suruh mandi lama-lama! Tengah malam, lagi! Yang ada malah demam, kan" jawab Lea sambil mencibir ke arah Richard
"Kenapa malah senyum-senyum?" Lea heran sendiri melihat Richard yang tersenyum tanpa arti setelah Lea menyelesaikan kalimatnya
"Enggak apa-apa.. Enak juga ya, kalau punya dokter pribadi! Sakit ada yang ngurusin!" celetuk Richard mencoba mengalihkan pembahasan.
"Keluargamu juga kan sudah punya dokter pribadi!" jawab Lea sambil menaruh mangkok bubur yang sudah kosong lalu mengambilkan obat dan air minum untuk Richard.
"Terima kasih, ya." jawab Richard sambil memberikan gelas kembali kepada Lea.
Lea mengambil gelas yang tadi sudah diberikan oleh Richard dan menaruhnya kembali di nakas kemudian memberikan termometer kepada Richard untuk mengukur suhunya. ada semu merah di wajah Lea menerima ucapan terima kasih dari Richard, yang tidak dijawabnya.
__ADS_1
"Kenapa enggak beli yang digital aja sih?" Lea sedikit protes pada Richard
"Buat apaan?" Radit bertanya sambil mengernyitkan dahinya
"Buat ngecek suhu badan kalau demamlah, Tuan!" Lea menjawab cuek sambil mengangkat nampan yang berisi mangkok dan gelas tadi, membawanya keluar dan menaruhnya di pinggir pintu luar kamar Richard.
"Pemborosan! Kalau bisa yang manual kayak gini tuh lihat, suhunya juga kan keukur.. Ngapain juga harus beli yang digital?" jawab Radit berdasarkan prinsip ekonomi.
"Yang digital itu lebih akurat... kalau kau punya anak nanti, Tuan butuh itu untuk mengukur suhu badan anak kalau sakit. Bayi susah disuruh diam. Jadi yang digital lebih akurat. Lagipula, anak kecil itu rawan sakit, jadi, yang namanya termometer itu penting banget ada di rumah!" Lea menjawab sambil mengambil tasnya, menaruhnya di atas meja, mengeluarkan handphone dan mencharger handphonenya yang lowbat karena tadi malam lupa di charger, kemudian mengeluarkan laptop, lalu bersiap untuk mengerjakan tugasnya, di meja dekat jendela
"Apa dia bilang tadi? anak? hahaha apa sekarang dia sedang mau mengajariku untuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan oleh aku nanti saat mengurus anakku tanpa adanya seorang ibu kandung? Huuufhh.. aku rasa, Viona sudah paham apa saja yang harus dilakukan seorang ibu dan dia tidak perlu khawatir terhadap anaknya nanti. aku dan Viona pasti bisa mengurus anaknya." gumam Richard yang merasa bahwa Lea sangat berlebihan mengkhawatirkan anak yang akan dilahirkannya nanti
"Hahah.. apa yang kau lakukan membahas anak padanya Lea? Huuffh ..anggap saja pesan untuknya supaya memperhatikan bayinya nanti! Tapi, apa yang aku lakukan setelah kami berpisah ? Impianku bersama Dewa sudah tak mungkin terwujud!" Lea kembali merasa sesak di hatinya mengingat Dewa.
"Masih ada kelas nggak di kampus?" Richard berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ada rasa tak jelas dalam dirinya membahas masalah anak Lea menggeleng
"Cuma ada satu. Itu juga tadi jam 11 siang dan ajudanmu sudah datang, jadi belum sempat masuk kelas, aku udah pulang". Lea menjawab sambil menyalakan laptopnya dan tidak menatap ke arah Richard.
"Mendekat ke sini!"
"Ada apa?" tanya Lea menengok ke arah Richard. Karena posisi meja jauh di sebelah kanan, dekat jendela, dan Richard ada dibelakang Lea, di tengah ruangan di atas kasur besar
"Kau bisa memijat?"
__ADS_1
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,