Cinta Untuk Lea

Cinta Untuk Lea
Kehangatan pertama


__ADS_3

Lea menggeleng. "Belum pernah coba sih... tapi kalau pijat amatiran, ya lumayan sering kalau ayah minta pijit di rumah." Jawab Lea masih sambil berdiri di samping laptopnya


"Ya sudah kemari, pijat aku dulu!"


"Huuuhh., orang kaya, sukanya gratisan! Kenapa nggak panggil tukang pijat profesional aja sih! Dia kan, kaya! Kenapa harus menyuruhku? aku kan mahasiswi kedokteran bukan mahasiswi tukang pijat!" Lea bergumam kesal tapi tetap mendekat ke arah Richard


"Apa dia sudah memaafkan kesalahanku tadi malam, ya? Sepertinya Dia terlihat biasa-biasa saja dan tidak marah seperti tadi malam? atau justru dia keenakan dengan apa yang aku berikan tadi malam? eh, tapl mana mungkin... perbuatanku tadi malam itu sangat kasar padanya! Mungkin hanya orang gila yang merasa nyaman dengan diperlakukan seperti itu. Huuffhh... Bagaimana aku meminta maaf padanya, ya?" Richard mencoba mencari cara meminta maaf atas perbuatannya kepada Lea, namun sampai saat ini dia masih belum menemukan cara yang pas untuk meminta maaf kepada Lea.


"Apa yang harus aku pijat?" tanya Lea saat duduk disamping tempat tidur Richard


Dreeeet.. Dreeeet.. Dreeeet


Belum sempat Richard menjawab pertanyaan dari Lea, handphone yang di charger Lea di meja sudah berbunyi, membut suara getaran di atas meja


"Angkat dulu teleponnya!" perintah Richard dengan menunjuk menggunakan dagunya ke arah telepon kepada Lea. Lalu Lea berjalan ke arah meja tempatnya menaruh telepon.


"Kenapa tidak diangkat teleponnya? Kenapa cuma dilihatin aja?" tanya Richard sambil duduk bersandar memperhatikan Lea yang hanya melihat handphonenya tanpa melakukan apapun


"Dewa... apalagi yang ingin kau bicarakan denganku? Apa tidak cukup kau menyakitiku dan menipuku selama tiga bulan? Aku pikir aku sudah jahat padamu dengan menikahi orang lain di saat hubungan kita baik-baik saja... tapi ternyata kau juga sudah bertunangan tiga bulan lalu tanpa memberitahuku. Aku tidak pernah menutupi apapun darimu Dewa! Aku selalu berusaha jujur mengenai keadaanku kepadamu... tapi apa balasannya untukku? Kau menghianatiku! Kau berhubungan dengan orang lain bahkan sudah bertunangan di belakangku! Hahaha... lalu apa yang harus aku harapkan darimu? Dan kenapa aku harus menangis seperti ini karenamu? Kau jahat Dewa!" Lea Bahkan tak mendengar Apa kata-kata Richard yang baru saja diucapkan. Lea sangat sibuk

__ADS_1


dengan pikirannya sendiri mengenai penelepon yang baru saja menghubunginya. Ingin rasanya tangan Lea mengangkat telepon itu, tapi luka dari dalam hati Lea seakan melarang memencet tombol hijau di teleponnya


"Dewa ku!' Richard sudah ada di belakang Lea dan membaca ID penelepon yang ada di handphone Lea, berhasil membuat Lea kaget dibuatnya Richard berjalan berpegangan pada tiang infusnya menuju ke arah Lea yang membelakanginya berdiri di dekat meja yang menghadap ke jendela besar, dengan pemandangan taman belakang rumah besar


"Kau mau apa?" tanya Lea agak histeris melihat Richard sudah ada di belakangnya


"Mau apa dia dibelakangku? Bukannya dia lagi sakit ya? Dia tidak akan bisa macam-macam denganku, kan? Kenapa tatapannya menjadi sangat mengerikan? Apa dia kumat lagi?" Lea bergumam di dalam hatinya sedikit ketakutan melihat Richard sudah ada di belakangnya bahkan hembusan napas Richard yang panas pun bisa terasa tadi oleh Lea, sebelum dirinya mundur beberapa langkah


"Kenapa kamu tidak mengangkatnya? Dan kenapa menangis seperti itu?" mata Richard masih bergantian menatap ke arah Lea dan kearah ID penelepon di belakang Lea.


Lea tidak menjawab Richard dan kemudian buru-buru matikan kembali handphonenya yang sedang di charger setelah panggilan telepon dari dewa berhenti.


"Ah, Jadi... dia tidak ingin mengangkat teleponnya... Apa kalian bertengkar? Atau lebih parah kalian putus?" sedikit ada rasa aneh di dalam diri Richard yang melihat Lea menangis karena seorang pria, justru menimbulkan rasa bahagia yang dari kemarin tak pernah muncul di hatinya. Ada senyum yang disembunyikan oleh Richard di wajahnya tapí hatinya tidak bisa bohong kalau sangat bahagia Lea tak mengangkat Telepon dari dewa.


"Apa yang dilakukannya padaku? Kenapa dia merangkulku seperti ini? Apa maunya orang ini sih? Jujur tangisanku nggak akan pernah berhenti kalau dia masih memelukku seperti ini! Huuufhh ke mana sih istrimu? Kenapa sih kalian harus menyiksaku seperti ini?" Lea protes dan sangat kesal dengan apa yang dilakukan Richard tapi, Lea tidak berani melakukan apapun karena khawatir kemarahan Richard.


"Kamu belum jawab aku Alea !" Richard mengingatkan Lea yang masih menangis selama beberapa saat di dalam pelukannya.


"Maafkan Aku.. tadi sedikit terbawa emosi." jawab Lea beberapa saat setelah Richard bertanya kembali tadi.

__ADS_1


"Haduh, kenapa dia tidak mau melepaskan tangannya yang mendekapku, sih?" Lea berusaha keluar dari dekapan Richard saat menjawab pertanyaan Richard tadi. tapi, tangan Richard justru semakin erat memegangnya seakan tak ingin melepaskan Lea dari dekapannya.


"Katakan kepadaku kenapa kamu menangis? Kamu belum menjawab aku tadi!" Richard masih memegang tubuh Lea dan menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan dengan tetap berada dalam dekapannya.


"Jawab saja sekarang karena aku tidak ingin melihat wajahmu menangis. Aku tidak suka melihat kamu menangisi pria tadi yang menelponmu. Seperti ini jauh lebih baik, karena aku bisa mendengar walaupun suaramu hanya berbisik". Richard bergumam dalam hatinya tak ingin melepaskan Lea. Menurutnya, Lea yang menangis dalam dekapannya lebih bisa diterima daripada melihat Lea menangis karena orang lain dihadapannya.


"Dia sudah bertunangan dengan orang lain tiga bulan lalu." Jawab Lea lirih sangat pelan tapi memang terdengar jelas di telinga Richard


"Jadi dia menipumu?"


"Ah, aku paham situasinya sekarang... pria itu tidak baik untukmu, kan? Dia menyakiti hatimu, kan? Dan sekarang kau terluka, kan? Eh.. tapi, ada apa denganku? Kenapa aku seperti seseorang yang berbahagia di atas penderitaan orang lain? Kenapa aku merasa lebih baik seperti ini?" Lea tidak bisa melihat wajah Richard untungnya. Karena, saat ini senyum benar-benar merekah di bibir Richard.


"Aku tidak tahu.. aku masih belum bisa apa dia memang menipuku atau memang dia terpaksa melakukan itu dan dia akan meninggalkan tunangannya untukku." jawab Lea mengalir seperti air.


"Apa kau berharap dia meninggalkan tunangannya hanya untukmu?"


"Harusnya kau biarkan saja dia bertunangan! Apa bagus dia seperti itu! Masih mau bersamamu, tapi tak mau melepaskan wanita lain yang sedang bersamanya! Pria yang sangat menyebalkan di seluruh dunia, adalah pria egois seperti itu! Kenapa wanita ini bodoh sekali harus menyukai pria semacam itu? Apa hanya ada satu pria di dunia ini yang mencintainya, sehingga dia mau menahan rasa sakitnya dan menerima pria itu?" Richard kembali jengkel mendengar kata-kata Lea yang berharap bahwa suatu saat Dewa akan meninggalkan tunangannya dan kembali . kepadanya


"Aku tidak tahu.. tapi tadi katanya jangan salah paham dulu, dia bisa menjelaskannya kepadaku."

__ADS_1


"Apa kau tidak menunggunya menjelaskan dulu padamu?" Richard seakan menjadi seorang detektif yang menyelidik, ingin tahu segala kejadian saat itu.


"Aku tidak bisa berpikir waktu itu... aku hanya berlari meninggalkannya dan tunangannya.. Apa aku salah dan harus kembali menemuinya sekarang?"


__ADS_2