
Lea mematikan teleponnya dan dengan kesal berjalan berdiri di samping Richard
"Apa maumu tuan muda Richard prayoga Alexander?"
Richard tidak menjawab Lea, tetap fokus kepada laptopnya
"Jadi kau tidak mau menjawab ku? Ah, tak apa. Baiklah aku paham! Aku juga cukup tahu diri kok!" Lea bicara dengan agak ketus dan ingin meninggalkan Richard yang hanya sibuk dengan laptopnya walaupun Lea sudah berdiri hampir lima menit tanpa jawaban
"Duduk "dengan cepat Richard memegang tangan Lea dan menyuruhnya untuk duduk sebelum Lea beranjak pergi meninggalkannya
"Hah... jadi kau mau tawar-menawar denganku?" gumam Lea sambil duduk di tempat yang diperintahkan oleh Richard di sofa tempat dimana Richard duduk sekarang.
Tak ada lagi yang dikatakan oleh Richard setelah menyuruh Lea duduk. Dia hanya sibuk dengan laptopnya tanpa memperdulikan Lea sama sekali, seperti sebelum menyuruh Lea duduk.
"Sampai kapan dia menyuruhku duduk seperti ini, ya! Apa sebaiknya aku tanya maunya apa? Tapi... sepertinya dia tak ada niat untuk menjawabnya, aku tunggu sajalah sampai dia menjawabnya!" Lea cukup gelisah setelah tiga puluh menit duduk tanpa ada penjelasan apapun.
Dreeeet Dreeeet Dreeeet
Handphone Richard berbunyi kembali dan dengan cepat Richard mengangkat teleponnya
"Halo sayang? Kau belum tidur?"
__ADS_1
"Hah.. lagi-lagi aku harus menjadi obat nyamuk mendengarkan dia bermesraan dengan istrinya! menyebalkan! Apa dia sengaja menyuruhku duduk di sini untuk mendengarkannya menyapa istrinya seperti itu? Apa dia pikir aku mulai tertarik dengannya dan sekarang dia berusaha untuk membuatku sadar siapa diriku? Richard Prayoga Alexander, jangan kau berpikir bahwa aku tertarik padamu, dan akan jealous dengan perbuatanmu itu, ya! Tak ada dalam kamusku yang menyatakan bahwa Kau adalah tipe pria yang aku sukai! Jadi jangan sampai kau ke-ge-er an! Aku juga tahu diri tentang siapa diriku hubungan kita tidak lebih dari hubungan simbiosis mutualisme di mana kau dengan uangmu, mensupport pengobatan ibuku dan aku dengan kemampuanku yang tidak dimiliki istrimu, akan memberikanmu anak Setelah itu, hubungan kita akan selesail Asal kau tahu ya, kalau bukan karena ancamanmu tadi.. aku juga sudah pergi dari kamar ini!" Lea cukup kesal mendengar Richard yang menelepon Viona kurang lebih hampir setengah jam dan harus mendengar mereka bermesraan di telepon
"Baiklah Viona selamat beristirahat Aku mencintaimu!
Klik
Akhirnya Richard mematikan teleponnya setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Viona. Tapi kali ini, ada yang berbeda, Richard langsung meletakkan handphone-nya tanpa tersenyum sama sekali, seperti yang biasa dilakukan apabila baru menerima telepon dari Viona Dan Richard kembali fokus kepada laptopnya juga tanpa menegur Lea sama sekali.
TOK TOK TOK
Seseorang mengetuk pintu kamar Richard
"Duduk" Perintah Richard kepada Lea, sesaat sebelum Lea bangun dari duduknya untuk membuka pintu. Richard kemudian berdiri dan membukakan pintu kamarnya.
"Apa tadi dia bilang kaki aku sakit?" Lea sedikit kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku bisa turun buat makan, kok! Gak perlu menyuruh makanannya di bawa ke kamar! Lea berteriak dari tempat duduknya refleks.
"Diam!" Richard melirik Lea, lalu menatap lagi ke Bi Siti, "bawakan saja makanan ke kamar!" dan kemudian menutup pinturiya
"Apa-apaan dia? Apa Sekarang dia sedang memainkan peran bahwa dia memperdulikanku?? Setelah dari kemarin dia mencuekkanku? Haiissshh.. manusia seperti apa sih, dia? Kenapa aku harus berhubungan dengan manusia seperti dia?" Lea yang kesal bergumam memaki Richard di dalam hatinya.
__ADS_1
Lea yang masih malas, enggan menyapa Richard, dan membiarkan Richard kembali duduk disampingnya tanpa bertanya atau memprotes apapun lagi. Lea memilih hanya duduk diam tanpa berkata apa-apa lagi hingga akhirnya Bi Siti datang kembali mengantar dua piring sarapan pagi untuk Lea dan Richard Bi Siti meletakkan makanannya di atas meja makan yang ada di kamar Richard, lalu izin keluar dari kamar Richard
"Mau sampai kapan dia berperilaku seperti ini? Apa dia tidak tahu kalau perlakuannya ini sangat menyakitkan? Hah sudahlah aku tidak mau peduli! Terserah dia saja. Sekarang, aku habiskan makananku, lalu melakukan semua hal lainnya yang dia mau perintahkan kepada aku! Anggap saja aku adalah robot yang tidak punya perasaan yang melakukan apapun berdasarkan atas keinginan tuannya!" Lea mencoba untuk tidak lagi memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh Richard dan memilih untuk fokuskan pada kepentingannya saja. Banyak yang Lea pikirkan saat ini, untuk merubah fokusnya. Mulai dari memikirkan ibunya, kuliah Didi yang harus dibiayainya tahun ini, tugas-tugas kuliahnya, dan berbagai hal lain yang menarik menurut Lea sehingga perlahan otak Lea mulai sibuk dengan hal lain selain memikirkan Richard bersikap seperti itu kepadanya.
"Ayo berangkat!" Richard pun berdiri setelah Lea menghabiskan makanannya dan Richard juga sudah menghabiskan makanan dan meminum airnya.
"Berpegangan pada lenganku!" Richard memberikan lengannya kepada Lea untuk dipegang sebelum mereka berjalan keluar pintu
"Aku nggak apa-apa kok... aku bisa jalan sendiri!" jawab Lea enggan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Richard Tapi
"Kita tidak akan keluar dari kamar ini kalau kamu tidak memegang lenganku!" bukan Richard namanya kalau bukan pemaksa dan membuat Lea harus mematuhi perintahnya
"Teruslah kau menahan senyummu seperti itu Ratih, semoga saja kau tidak sakit perut dengan menahan seperti itu." Lea dengan wajah yang sangat merah melirik ke arah Ratih yang sedang menahan tawanya melihat Lea berjalan berpegangan tangan dengan Richard menuruni tangga.
"Apa kalian berdua akan berangkat sekarang? Lea Bagaimana sakit kakimu?" Tanya Riyanti yang berjalan dari arah dapur menghampiri Lea dan Richard dengan senyum merekah dibibirnya
"Kakiku gak apa-apa kok, paling juga nanti sore udah sembuh". Lea tersenyum kepada Riyanti sambil menjawab pertanyaannya.
"Terima kasih kau sudah merawat Richard dengan baik, Lea." Riyanti datang dengan sangat ramah dan memeluk Lea
"Tapi aku kan nggak ngelakuin apa-apa kemarin. jawab Lea setelah melepaskan pelukan dari Riyanti dan sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Kamu sampai sakit seperti itu kan karena memapah Richard untuk pergi ke terapis. Kamu juga sudah capek bolak balik ngurus Richard kan? Harusnya kamu gak usah memapah Richard! Ibu yakin kok. sebenarnya Richard kuat untuk bisa jalan sendiri! "Riyanti lalu tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, "Palingan dia mengerjaimu saja supaya mau memapahnya! Dia ini kan orangnya iseng banget." Riyanti mencibir Richard lalu mengelus rambut Lea, "maafkan Ibu ya Lea... ibu kelewatan. Ibu benar-benar berpikir kalau kamu tidak peduli kepada Richard. Tapi tadi malam, Richard sudah menjelaskan melalui pesan singkat betapa kamu mengurusnya dengan sangat baik. Terima Kasih, ya!" Wajah Riyanti sudah menunjukkan rasa bersalah karena perbuatannya kemarin yang menampar Lea