
Lea dan Dewa sama-sama menengok kearah suara di belakang mereka. Ke arah seorang wanita cantik sedikit judes, dengan kulit putih terawat seperti kulit seorang gadis gadis kaya yang selalu melakukan perawatan tubuh dengan rambut sebahu dan riasan minimalis sederhana membuatnya terlihat cantik natural. tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Lea, dengan badan yang lebih berisi daripada Lea.
"Siapa dia, Dewa?" Gadis itu menatap tak suka kepada Lea dan langsung menghampiri Dewa. Kemudian, menarik tangan Dewa, dan terperanjat kaget saat melihat jari tangan Dewa. "Kenapa kau tidak menggunakan cincin pertunangan kita, Dewa?" wajahnya menunjukkan kemarahan kepada Dewa saat tak menemukan cincin yang di carinya
"Anita Pergilah! Aku sudah katakan padamu jangan pernah ke kampusku!!mau apa kau kesini? Dewa berusaha untuk melepaskan tangannya dari Anita dan menunjukkan wajah ketidaksukaannya dengan apa yang telah dilakukan oleh Anita yang mengaku sebagai tunangan Dewa
"Kalian sudah bertunangan?" Lea mengernyitkan dahinya, rasa sesak tiba-tiba kembali menyeruak dalam dadanya dan pening di kepalanya mendengar apa yang baru saja di dengarnya
__ADS_1
"Cincin tunangan? Sejak kapan Dewa bertunangan dengan wanita ini? Apa yang dikatakannya itu benar?" jantung Lea bergetar hebat mengingat apa yang baru saja di dengarnya tubuhnya terasa lemas dan ingin roboh ke lantai, namun Lea bersandar pada meja dan berusaha untuk tetap sadar, tak pernah terpikir olehnya bahwa Dewa Sudah bertunangan.
"Iya, kami memang sudah bertunangan sejak tiga bulan lalu apa itu bermasalah untukmu?" dengan Ketus Anita menjawab keingintahuan Lea terhadap hubungannya dengan Dewa
"Aku katakan diam! itu tidak seperti yang kau bayangkan aku bukan tunangan mu!" Dewa menjadi gusar dan sangat marah dengan apa yang baru saja di katakan oleh Anita
"Jangan mimpi!" Dewa lalu menatap kearah Lea ingin memberikan pengertian kepada Lea. "Kamu jangan salah paham! dengarkan aku dulu!" Dewa berusaha untuk memegang tangan Lea dan memberikan ketenangan kepada Lea Tapi
__ADS_1
"Jangan sentuh aku Dewa!" kata itu yang terdengar dari bibir Lea. Lalu Lea menarik tangannya dan menunjukkan wajah sangat marah kepada Dewa, mengambil buku bukunya, menaruh kembali uang yang tadi di berikan oleh Dewa di meja dan kemudian pergi meninggalkan Dewa dan Anita tanpa peduli dengan panggilan dari Dewa.
"Lea dengarkan aku dulu!" masih terdengar suara Dewa di ujung sana tapi Lea tetap berlari meninggalkan Dewa yang tak dapat mengejarnya karena tangan Dewa di pegang erat oleh Anita yang juga tidak mau melepaskan pegangan tangannya kepada Dewa.
"Fuuuuh!" Dewa menghela napas panjang dan menatap arah ke arah Anita "Apa mau mu? Kenapa menemuiku di sini? aku sudah katakan padamu kita tidak pernah bertunangan! kejadian pada hari itu, bukan karena keinginanku!tapi karena paksaan kedua orang tuaku dan harus kau tahu, Aku berjanji akan mengembalikan semua uang yang telah di keluarkan oleh ayahmu untuk membantu perusahaan orang tuaku setelah aku lulus dan aku bekerja Tapi jangan pernah sekali-kali kau berpikir bahwa aku akan mau menikah denganmu! Kita tidak pernah bertunangan dan jangan pernah berharap apapun dariku!" Dewa berbicara sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari Anita dan segera pergi untuk mengejar Lea
"Aku tidak akan Melepaskan Mu! Aku tidak akan membiarkanmu lari untuk mengejar wanita itu! aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, tapi asal kau tahu kalau Ayahku menarik uang dari perusahaan ayahmu sekarang, kau tahu apa artinya itu? kalian sekeluarga akan jadi gembel di jalan!" Anita bicara lantang mengancam kepada Dewa hingga menyita beberapa perhatian di kantin.
__ADS_1