
"Haduh... Kenapa kau bodoh sekali Lea! Kenapa kau curhat padanya? Apa kau sudah tidak punya teman lain lagi untuk curhat sehingga harus menceritakan masalah paling pribadimu kepadanya? Kau bodoh Lea! Tapi, mau bagaimana lagi, berada dalam dekapannya saat ini sangat nyaman... membuatku mungkin gila karena mempercayainya!" Lea bergumam di dalam hatinya menyerukan semua rasa yang di rasakannya selama berada di dalam dekapan Richard yang terasa hangat dan nyaman
"Tunggu saja dulu... kamu lihat bagaimana dia berjuang mendapatkanmu lagi. kamu juga harus menunggu Sampai hatimu benar-benar tenang untuk bertemu dengannya."
"Cih! Aku baru saja menyatakan apa tadi? hahaha! Apa sekarang Aku beralih profesi menjadi penasehat cinta? Richard.. . Richard... kau apa-apaan sih Richard! kok Berencana untuk menenangkannya? atau menasehatinya? Atau membuatnya kembali pada kekasihnya itu?" Richard tak tahu alasannya Mengapa memberikan saran seperti itu kepada Lea. tapi, setelah mendengar saran dari Richard, suara tangis Lea, perlahan menghilang dan Lea sudah tak lagi menangis histeris seperti tadi.
"Terima kasih untuk sarannya..."
"Apa kau merasa lebih tenang sekarang?"
"lya.. sudah lebih baik, tapi bisakah kau lepaskan tanganmu dari tubuhku?"
"Apa aku membuatmu merasa tak nyaman?"
"Kau bisa membuatku jatuh cinta kepadamu Richard, kalau kau masih terus memperlakukanku seperti Ini! Aku tidak mau jadi perebut laki-laki orang! aku masih mau hidup normal! laki-laki di dunia ini sangat banyak dan aku tidak mau jatuh ke dalam perangkap hatimu, yang merupakan suami dari orang lain!" Lea sudah mewanti-wanti dirinya sendiri untuk tidak mau bermain api
"Bukan tuan... aku merasa terlalu banyak menyusahkan mu. Ehmmm... Apa kau jadi.. mau dipijit?" jawab Lea sekenanya, dia sendiri tak tahu apa yang baru saja di katakannya dan coba mengalihkan Richard dengan sesuatu yang tadi sedang diminta oleh Richard.
"Boleh juga!" jawab Richard sambil melepaskan dekapannya pada Lea
"Ah, akhirnya dia melepaskanku juga! Huuuffhhh... lega sekali rasanya!" Lea merasa bersyukur setelah Richard melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Apa dia menyukai berada disisiku seperti tadi? lihat... Wajahnya bahkan merah seperti tomat! Ehh, tapi.... mungkin saja dia menjadi merah seperti itu karena habis menangis, kan? Richard... Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau berpikir macam-macam seperti ini?" Richard cukup kesal dengan apa yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya. perasaan tidak nyaman membuatnya tak dapat berpikir jernih. Richard memilih mengalihkan pikirannya berjalan ke arah tempat tidur daripada menatap Lea yang sekarang berjalan di belakangnya
"Kamu naik dari sisi kanan tempat tidur! Supaya bisa memijat kepalaku!" perintah Richard sambil membenarkan posisi tidurnya telentang, dengan infusan tetap di sebelah kirinya dan Lea berjalan ke sisi lain tempat tidur, yang tadi malam kosong dan sampai sekarang pun masih rapi. Lea naik mendekat ke arah kepala Richard, dengan tangan langsung memijat kepala Richard
"Terlalu pelan!" Protes Richard sambil memejamkan matanya merasakan pijatan Lea, membuat Lea merubah tekanan pada tangannya saat memijat kepala Richard
"Sekarang terlalu sakit, ini terlalu kencang!" Richard protes lagi
"Cerewet... Aku kan sudah bilang kalau aku ini, tak bisa memijit profesional.. Kalau dia mau enak, Kenapa nggak Panggil tukang pijat aja sih! Udah jelas enakkan, kalau pakai tukang pijat! menyusahkan saja!" Lea mencibir sedikit kesal kepada Richard yang terlalu banyak protes
"Apa segini cukup?" tanya Lea masih memijat kepala Richard dengan mengurangi tekanannya saat ini
"Kencangkan sedikit!" Pinta Richard
"Hmmm... segitu boleh, cukup pas!" lalu Richard tak memprotes lagi membiarkan Lea melakukan perintahnya, yaitu memijat kepalanya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam tidak ada percakapan lagi di antara mereka, Richard menikmati pijatan Lea kali ini tak berpikir macam-macam sedangkan Lea memijat Richard tanpa mengharapkan apapun. Keduanya menjalankan perannya sebagai tukang pijat dan pasien pijat dengan sangat baik. Selama 15 menit mereka saling diam, Walaupun lama-lama, di dalam hati mereka sangatlah berisik
"Tanganku pegal... Sampai kapan aku harus memijat seperti ini? Apa dia akan membayar aku setelah aku memijatnya? Ini kan tak ada dalam kontrak pernikahan kami, jadi seharusnya aku mendapat bayaran lebih untuk tugas lebih seperti ini! Tapi orang pelit seperti dia, bahkan membeli termometer pun harus yang paling murah... Mana mungkin membayarku mahal! Haissshhh... Katanya dia suamiku, cuma sampai sekarang pun, dia tidak memberikan aku nafkah sama sekali,kan! Ah, tunggu.. apa dia berencana membayar nafkah dengan membiayai ibuku di rumah sakit, ya? Baiklah kalau memang seperti itu pola pikirnya, aku rasa aku dapat menerimanya... Biaya rumah sakit ibu kan memang cukup mahal!" gumam Lea memijat Richard di menit-menit terakhirnya sudah dengan keluh kesah dan kesal, tapi tetap mempertahankan kekuatan pijatannya sama dan tidak berubah sama sekali walaupun tangannya sudah sangat pegal
"Sampai kapan dia berhenti memijatku ya? Apa aku harus menyuruhnya berhenti? Lalu apa yang harus aku katakan kalau aku membuka mataku dan dia berhenti memijat dan kami berdua di kamar ini? tak ada lagi yang ingin aku obrolkan dengannya... apa şebaiknya aku biarkan dia memijat itu sampai aku tertidur? Sehingga aku tidak perlu lagi berbicara dengannya di kamar ini? Hmmm... Aku rasa itu ide bagus! Dengan begitu, aku tak harus mencari bahan lagi untuk berbicara dengannya."
__ADS_1
Richard akhirnya menentukan pilihan apa yang harus dilakukannya, hingga akhirnya rasa kantuk mulai muncul di diri Richard. namun, saat matanya mulai terlelap..
Dreeeeet... Dreeeeet... Dreeeeeet
Suara handphone milik Richard di nakas di samping kiri Richard, menimbulkan suara getar pada nakas kayu, menyebabkan Richard terbangun dan sedikit pusing karena kaget
"Sssshhh... Richard meringis
"Ada apa" Lea terlihat khawatir
"Aku tadi sudah hampir tertidur, tapi tadi kaget karena suara handphone dan sekarang sedikit pusing lagi!" jawab Richard sambil membenarkan posisi menjadi duduk dan mengambil handphone yang bergetar di atas meja.
"Viona!" Gumam Richard dalam hatinya Saat melihat ID penelepon
да моя дорогая жена? (lya istriku, sayang?) jawab Richard dengan berbicara bahasa Rusia pada Viona
"Sayang, Kenapa kau bicara pakai bahasa Rusia?" Tanya Viona yang merasa aneh, karena Radit biasanya lebih suka mengajak Viona berbicara Bahasa Indonesia untuk melatih Viona lancar dalam bahasa Indonesia
Я просто хочу быть с тобой романтично ( Aku hanya ingin berbicara romantis denganmu) jawab Richard dengan suara datar menanggapi pertanyaan Viona
"Hah, kau lucu sekali Richard! Baru semalam aku pergi. Apa kau sedang merindukan ku?"
__ADS_1
Я всегда скучаю по тебе дорогая Buona (Aku selalu merindukanmu Viona sayang!) Jawab Richard yang sedikit menggombal tapi Tentu saja tidak mencurigakan bagi Viona, karena memang Richard selalu memujanya seperti itu setiap saat selama sepuluh tahun terakhir ini
"Baiklah Richard, kau kelihatannya sangat merindukanku.. kalau begitu, Aku akan memberikanmu hadiah! Kita akan video call-an sekarang!"