
"Mau buang sampah di luar, emang kenapa?"
"Berikan itu padaku!" Lea langsung menarik paksa plastik sampah milik Ratih dan membawanya segera keluar dari rumah besar Alexander. Tempat sampah ada di luar pagar dan untuk membuang sampah mereka harus melewati gerbang rumah. Ini adalah kesempatan satu-satunya bagi Lea untuk keluar dari dalam rumah keluarga besar Alexander.
"Kalian semua telah mempermainkanku Dewa, Richard. kalian berdua sama aja! Aku benci kalian! Kalian menyebalkan!" Lea terus saja memaki Richard dan Dewa sepanjang jalan. Setelah membuang sampah di tong sampah besar samping rumah besar, Lea memang tidak kembali ke dalam rumah. Lea berlari dan berjalan menjauhi rumah besar hingga tak terasa oleh Lea rasa panas terik matahari di siang itu, ataupun rasa dahaga dan lapar karena telah berjalan lebih dari sepuluh kilometer. Hati Lea yang sudah berisi penuh dengan amarah kebencian dan juga rasa kesal karena merasa terus saja dipermainkan oleh orang-orang yang memiliki uang berlebih darinya, membuat Lea tak lagi mempedulikan hal lainnya
Flashback off
"Hai cantik.. aku dari tadi menyapamu kenapa tak dijawab?" Dimas mendekat ke arah Lea yang sedang duduk di dekat meja kasir. Dimas sebenarnya tidak ingin mendatangi Lea ke meja kasir tapi karena Dimas sudah memanggil-manggil Lea, tapi Lea tak juga datang, maka Dimas datang menghampiri Lea
"Apa maumu?" tanya Lea masih ketus kepada Dimas. Kali ini, bukan cuma karena Lea kesal pada Dimas tapi juga karena Lea kaget baru tersentak dari lamunannya, membuat Lea mundur satu langkah dari Dimas dengan posisi sangat dekat pada Lea
"Pertama aku mau bayar makananku Berapa totalnya?"
Lea lalu mengetuk meja kasir yang ada di samping kanannya.
"Pesanan meja nomor tiga!" kasir pun mengerti apa yang dimaksud dengan Lea dan kemudian segera memberikan total Bon milik Dimas.
"Mau apa lagi masih di sini?" tanya yang Lea sangat tidak nyaman berada di dekat Dimas.
"Kedua, Aku mau ngajak kamu temenan! Namaku Dimas! Aku bisa panggil kamu Lea atau Alea?" tanya Dimas kali ini sambil tersenyum tapi tidak memberikan tangannya kepada Lea hanya menatap pada Lea saja.
"Terserah kau mau panggil yang mana. Sekarang, kami sudah mau tutup kalau memang mau pergi itu pintunya!" Lea menjawab sekenanya.
"Jangan galak-galak dong, kita udah temenan,kan.. kalau udah temenan nggak boleh judes lagi!" Dimas masih melancarkan serangannya kepada Lea Kali ini, bahkan Dimas selangkah lebih dekat kepada Lea.
"Hei! Bersikap sopan kepada wanita dan menjauhlah dari wanitaku!" suara di belakang Dimas dan Lea membuat mereka berdua langsung menengok menatap pemilik suara.
"Halo.. kamu pasti ponakannya Ando, ya?" tanya Dimas sambil tersenyum menatap ke arah Dewa
__ADS_1
"Segera menjauh dari Lea!" pinta Dewa sambil mengusir Dimas sedikit menjauh dari Lea.
"Dimas, kerjaanku sudah selesai ayo kita pergi dari sini!" tanpa diduga-duga Lea bicara seperti itu, sambil membuka celemek nya lalu menaruhinya di meja kasir dan kasir memberikannya lima puluh ribu rupiah, kemudian Lea mengantonginya dan menggandeng tangan Dimas keluar dari kafe tanpa mempedulikan keberadaan Dewa.
"Lea, dengar aku dulu!" Dewa berusaha memegang tangan kiri Lea untuk menghentikan Lea yang hendak pergi bersama Dimas
"Lepaskan tanganku!" Lea menatap marah ke arah Dewa sambil menarik paksa tangannya yang sudah dipegang oleh Dewa.
"Lea aku mohon dengar aku dulu!" Dewa masih memaksa kepada Lea untuk mendengarkannya, tapi tak dihiraukan oleh Lea yang justru malah menarik Dimas pergi menjauh dari Dewa
"Yang mana mobilmu?"
"Itu Jaguar!"
"Ya sudah, cepat naik!" Lea segera berjalan ke arah pintu penumpang yang ada di samping pengemudi dan karena keyless entry, maka pintu Lea otomatis terbuka setelah Dimas membuka pintunya
"Lea jangan nekat! Dengar aku dulu! Semua itu salah paham! yang kamu dengar di kampus itu, gak seperti yang kamu pikirkan! Aku sangat mencintaimu Lea, dengarkan aku dulu, aku mohon... Aku sudah mencarimu dari tadi kemana-mana." Dewa yang memang terlihat kucel tidak seperti biasanya, saat ini memelas kepada Lea untuk mendengarkannya dulu sebelum mengambil keputusan pergi bersama Dimas.
"Lea kamu bilang apa? kamu mau berhenti Kuliah? Aku gak bisa biarin kamu berhenti kuliah! Kita udah bicarakan ini, kan? Apa kamu lupa rencana kita setahun ke depan? Aku sangat mencintaimu Lea... semua yang dikatakan oleh Anita itu tidak benar! Aku mohon, percayalah padaku!" tapi Lea tak menggubris semua yang telah dikatakan oleh Dewa. Lea menepis tangan Dewa, lalu tanpa berkata apa-apa lagi masuk ke dalam mobil Dimas dan menutup pintu. Dewa masih berusaha menggedor pintu Lea untuk mengeluarkan Lea dari mobil Dimas tapi lLea masih tak bergeming Lea justru menyuruh Dimas untuk berangkat Lea parkiran Cafe tempat di mana Lea bekerja. Dan mobil pun melaju meninggalkan Dewa yang masih berteriak memanggil Lea
"Hmmm.. Jadi mereka baru putus...berarti aku datang tepat waktu dong? Kalau begini ceritanya.. aku ada harapan dong? Hahaha! Kamu memang beruntung Dimas!" Dimas sangat bahagia dalam hatinya dan memutuskan untuk tidak mengganggu Lea yang sedang menumpahkan air mata di sampingnya. Untuk sementara, Dimas hanya menunggu Lea berhenti menangis tanpa berkata apapun entah kemana mobil itu melaju, tidak dipikirkan olehnya. Dimas hanya berputar-putar tak tentu arah, hingga akhirnya Lea terdiam dan menghentikan tangisannya.
"Maaf aku menyusahkanmu." Lea akhirnya berbicara juga kepada Dimas setelah hampir setengah jam mereka tidak saling bicara.
"Udahan ya nangisnya?"
"Terima kasih sudah mengizinkanku untuk naik ke dalam mobilmu. Bisa aku berhenti di pinggir situ."
"Aku antar aja. di mana rumahmu?"
__ADS_1
"Nggak usah! Turunin aja aku di situ!"
"Kalau aku nggak mau?"
"Ya, kamu nanti harus terima akibatnya!" jawab Lea asal dan sedikit malas menanggapi Dimas
"Akibatnya apa?" Dimas masih belum menyerah kepada Lea
"Boleh pinjam Handphone mu?"
"Nih!" Dimas memberikan handphonenya setelah dibuka kuncinya. lalu Lea melihat nomor kontak Dimas dan mencari nomor seseorang yang ada disana
"Kamu ngapain sama handphone aku? Mau manggil polisi?" Dimas lalu tergelak tawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"orang kaya kamu itu, mana takut sama polisi!" Nada mencibir ke arah Dimas.
"Ya, habisnya kamu pinjem telepon aku. Kalau bukan mau nelpon polisi, emang mau nelpon siapa? Tia? atau Ando?" tanya Dimas penasaran sambil ketawa kecil, merasa yakin bahwa tebakannya adalah benar.
Lea menggelengkan kepalanya
"Kalau aku nelepon mereka, sama aja aku cari mati! Mereka pasti nyuruh Dewa buat jemput aku, kan!" Lea tersenyum sinis kepada Dimas
"Nama pacar kamu Dewa.. eh, maksudku mantan pacar!" jawab Dimas sambil mengkoreksi kalimatnya
-
Maaf kalau cerita gak terlalu bagus karena ini karya pertama author tungguin terus ceritanya dan Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,
-
__ADS_1
-Bye