
"Tumben gak telat sekarang!"adina menyambut Lea dengan senyum mengembang Tentu saja Andina sangat senang Lea tidak telat, dengan begitu dirinya tidak akan telat juga sampai ke kampusnya
"Ho-oh! Hari ini lagi nggak ada kerjaan, lagi gabut. Ya udah ke sini aja cepet-cepet!" jawab Lea sekenanya sambil duduk bersandar di kursi dekat loker ruang karyawan, dan memijat pelan kakinya. Lea juga berusaha menghilangkan peluh dan lelah yang dirasakan oleh tubuhnya dengan mengipasi tubuhnya lalu meminum air putih yang tadi sudah diambilnya dari dapur sebelum masuk ke ruang karyawan.
"Kamu nggak dari tempat kuliah?" tanya Andina sambil membuka celemeknya dan celingak-celinguk mencari tas Lea
Lea menggeleng setelah meminum air dalam gelasnya.
"Nggak dari tempat kuliah tap dari kandang macan!" jawab Lea sambil berdiri mengambil celemek Andina dan langsung keluar menggantikan Andina yang kebingungan dengan jawaban Lea
"Hai cantik," sapa seorang pria yang sudah pernah dilihat Lea di cafe ini bersama Richard, Tia dan Ando
"Pas banget aku datang ke sini. Pas nggak ada Tia dan Ando." Dimas merasa beruntung karena hari ini bisa bertemu dengan Lea tanpa gangguan dari sahabat-sahabatnya. Dimas baru saja masuk ke dalam cafe bersamaan dengan saat Lea keluar dari ruang karyawan
"Selamat sore, mau pesan apa?" jawab Lea sambil memberikan daftar menu kepada Dimas.
"Pesan kamu boleh nggak?" Dimas mulai melancarkan serangan mautnya
'Gila! Ternyata semua orang dekat Richard itu gila, kecuali Ando dan Tia! gumam Lea sedikit kesal dengan godaan dari Dimas. Tapi Lea yang sudah terlalu lelah malas untuk menggubris Dimas.
"Kalau gak ada menu yang mau dipesan, silahkan keluar, di situ pintu keluarnya!" jawab Lea sedikit ketus kepada Dimas sambil tangannya menunjuk ke arah pintu keluar. Lea juga tak menatap ke arah Dimas dan tidak menggubris kehadiran Dimas. Lea memilih melayani tamu lain yang sudah memanggilnya.
__ADS_1
'Kamu tipe jinak-jinak merpati ternyata!' Dimas masih belum menyerah untuk mendekati Lea. Dimas akhirnya duduk di kursi kosong dan melambaikan tangan kepada Lea sebagai tanda ingin memesan sesuatu.
"Mau pesan apa?" Lea sudah menyiapkan kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan Dimas
"Mau pesan hatimu!" Dimas sesegera mungkin memegang tangan Lea untuk menghalangi Lea supaya tidak pergi setelah mendengar gombalannya.
"Aglio Olio Spaghetti sama Frozen Cappucino," jawab Dimas masih sambil memegang tangan Lea dan menatap Lea tepat menusuk pada mata Lea.
"Baik, pesanannya akan segera diantar dalam lima belas menit." Kemudian Lea melepaskan tangannya secara paksa dari tangan Dimas.
'Huuuuffh... dasar buaya darat! Dia pikir dia seganteng apa sih, sampai kepedean kayak gitu!" gumam Lea masih kesal dengan kelakuan Dimas.
Sepanjang Lea bekerja di cafe hari ini, Dimas menjadi pengganggu utama di cafe tempat Lea bekerja. Ada saja yang di pesannya mulai dari spaghetti, burger, salad, ice cream, pancake, nasi goreng, kebab, juice, smoothies bowl, vanilla latte dan beberapa menu lainnya yang di pesan Dimas hanya dengan tujuan untuk memanggil Lea ke mejanya. Semua yang dipesannya hanya diicip-icip kemudian ditaruh dan memanggil Lea lagi untuk memesan yang baru, terus saja seperti itu. Mulai dari jam empat sore Lea datang ke cafe hingga jam delapan malam, Dimas tak henti-hentinya mengganggu Lea
flashback on
Masih teringat di dalam ingatan Lea saat Richard menyuruhnya keluar tadi. Mengusirnya bagai mengusir binatang hanya dengan tangan tanpa bicara apapun.
Huuufhh kau sengaja menggunakan bahasa planet untuk bermesraan dengan istrimu, supaya aku tidak dengar kan? Dasar cowok, di mana aja semua kelakuannya sama aja! Nggak Dewa, nggak Richard, sama aja! Sudah punya istri masih ingin mengganggu orang lain, masih ingin memiliki wanita lain! Jangan harap kamu bisa memilikiku Richard! gumam Lea saat meninggalkan kamar Richard.
Lea duduk di luar kamar Richard bersandar pada pintu kamar Richard namun, sialnya tadi Lea tidak menutupnya dengan benar sehingga terbuka sedikit ketika Lea bersandar pada pintu kamar Richard walaupun Richard tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Aku tutup atau enggak ya? Ah tapi biarin aja lah nanti kalau aku tutup, terus bunyi klek, malahan disangka aku habis nguping lagi, padahal emang pintunya masih kebuka sedikit seperti ini! Lea tidak bisa melakukan apapun dan membiarkan pintu itu terbuka sedikit lalu Lea duduk di lantai sesuai dengan perintah Richard menyuruhnya hanya untuk menunggu di luar, tak boleh pergi ke mana-mana lagi.
'Hadeuuuuuh... kenapa aku harus mendengar semua perkataannya seperti ini sih? Pintu yang terbuka sedikit membuat Lea mendengar apa yang dikatakan oleh Richard kepada Viona dari luar. Ada rasa risih di hati Lea tapi Lea tidak bisa pergi kemana-mana karena perintah dari Richard tadi.
"Sabar.... sabar... Lea!" gumam Lea masih berusaha untuk menyabarkan dirinya namun lama-kelamaan rasanya semakin tidak nyaman untuk Lea.
'Gila! Apa yang mereka lakukan? Kenapa dia mengeluarkan suara-suara seperti itu? Lea yang penasaran akhirnya melirik sedikit dari pintu dan melihat ke arah kaca beras yang memantulkan refleksi Richard di atas tempat tidur. Tak ada kata yang keluar dari bibir Lea saat melihatnya, entah rasa apa yang mencuat dalam dirinya membuat Lea sudah kehilangan kata-kata dan juga merasa jijik dalam satu waktu.
'Kau menjijikkan Richard! Bahkan kau lebih menjijikkan daripada Dewa! Aku hampir saja menyangka bahwa kau adalah orang baik... Ternyata kau sama tak ada bedanya dengan Dewa! Kau lebih parah daripada Dewa! Kau melakukan itu, karena kau sangat mencintai istrimu, kan. Lalu motif apa yang ada dalam pikiranmu saat kau melakukannya padaku? Apa aku begitu rendah dan hina sehingga aku berhak diperlakukan seperti kemarin malam di hadapanmu? Apa seseorang yang tidak punya uang itu sangat hina di depan orang kaya, sehingga mereka bisa mempermainkan hati orang miskin sesuka mereka? Apakah aku harus menjadi kaya dulu supaya aku bisa dihormati dan tidak terlilhat seperti ini? Dengan bodohnya aku mau duduk di luar seperti ini menunggumu yang sedang melakukan tindakan menjijikan bersama istrimu melalui video call, mendengarmu mengeluarkan suara-suara aneh dan mendapatkan kepuasan hanya dengan menatap wajah istrimu dan menggunakan tanganmu seakan-akan itu adalah tangan istrimu yang memuaskanmu! Kau bodoh Lea!" Lea mencoba untuk menahan dirinya di depan kamar walaupun air matanya sudah tidak tertahankan lagi. Lea tidak ingin menangis tapi entah kenapa matanya masih saja mengeluarkan air mata saat melihat apa yang dilakukan Richard di dalam.
Klek
Lea segera menutup pintu ketika Richard sudah berjalan ke arah kamar mandi dan Lea berlari secepat mungkin ke lantai dasar
"Ratih, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Lea kepada Ratih yang sedang membawa plastik bag berwarna hitam besar.
-
-
Maaf Raiders Kemarin author gak bisa update karena sakit😷 Maaf juga kalau cerita gak terlalu bagus karena ini karya pertama author tungguin terus ceritanya dan Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,
__ADS_1
-kalian mau author update setiap hari atau seminggu 3 kali
-Bye