
'Ga tahu juga lah hubungan aku rumit sama dia kayaknya aku bukan pacarnya lagi tuh dan kami memang sudah putus dari seminggu lalu Lea membetulkan persepsi Dimas terhadap hubungan Lea dengan Dewa.
"Jadi sekarang kamu udah bukan pacar dia lagi?" Dimas sudah tersenyum sumringah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Lea.
Bahkan senyumnya semakin mengembang setelah Lea menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Dimas
"Wah, jadi aku ada harapan dong?" tanya Dimas bahagia.
"Jangan mimpi!" Lea lagi-lagi mencibir ke Dimas, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya "Aku tanya ke kamu kali ini terakhir.... kamu mau turunin aku di depan situ atau kamu mau aku menelepon seseorang dengan handphone-mu?" tanya Lea dengan sedikit mengancam kepada Dimas.
"Tapi aku enggak ada niat buat berhenti... gimana dong?" Dimas sudah tersenyum jahil kepada Lea dan memang dia tidak ada niatan untuk berhenti selain berhenti di apartemennya yang hanya berjarak kurang lebih lima kilometer dari tempatnya saat ini
"Kalau begitu jangan salahkan aku, ya!" Lea membuka kontak handphone Dimas namun, sebelum Lea sempat untuk memencet nomor yang ada di sana, suara sirine polisi sudah semakin mendekat dan menghimpit mobil Dimas hingga membuat Dimas terpojok dan harus berhenti karena kepungan polisi.
"Haduh, kenapa nih? Kamu enggak jualan narkobakan?" selidik Dimas ke Lea
"Mana ada! Ngelihat bentuknya aja aku belum pernah, kok! Jangan-jangan kamu mafia lagi, pembunuh bayaran!"
TOK TOK TOK
Belum sempat Dimas meladeni sindiran Lea, kaca mobilnya sudah diketuk seseorang dan memaksa Dimas untuk membukakan jendela Mobilnya
__ADS_1
"Richard?".
"Turun dari mobil sekarang!" Richard menengok melalui kaca jendela dan memerintah ke arah Lea dengan tatapan matanya yang sudah tak ada lagi senyum di wajah Richard menyuruh Lea untuk turun dari mobil Dimas
klek
Lea tak melakukan perlawanan apa-apa langsung turun tanpa berkata apapun lagi
- klek
Dimas juga membuka pintu mobilnya dengan raut wajah yang bingung sekaligus marah tak tahu harus berbuat apa
"Kenapa nih, Ric?" Dimas berusaha meminta penjelasan kepada Richard, namun Richard yang terlihat marah enggan untuk meladeni Dimas justru menarik paksa tangan Lea berjalan ke arah mobil Richard. Dimas tidak tinggal diam dan mengikutinya ke arah mobil.
"Gue udah peringatkan dari dua hari lalu, jangan deketin Alea! Tapi lu tetep gak máu denger gue!" jawaban Richard bukan jawaban yang diinginkan oleh Dimas.
"Alasannya apa? Dia simpanan lo?"
"Alea Safitri binti Tono adalah istri dari Richard Prayoga Alexander." Richard bahkan memberikan penekanan kata demi kata kepada Dimas
"Haaah? Apa lu bilang? Istri? Tapi kan lo... Viona..." Dimas tak tahu lagi Bagaimana cara merangkai kata. Pada saat ini dirinya sangat gugup mendengar apa yang baru saja didengarnya dari Richard.
__ADS_1
"Lo nggak bohong ke gue! Dan dari tatapan lo gue tahu kalau lo serius ngomong kayak gitu! Jadi Alea Istri lo? Pantesan dari kemarin gue ngerasa elo ngelindungin dia sama kayak lo ngelindungin Viona!" hati kecil Dimas bergumam
"Jadi ini cuman sampai lo dapet anak dari Lea, kan?" Dimas sudah tahu masalah yang dialami oleh Richard. Dimas dan Ando memang sudah tahu masalah yang dialami oleh Viona. Mereka juga dulu pernah menyarankan kepada Richard untuk menikah dengan wanita lain yang mudah diatur dan kemudian mudah untuk dilepaskan kembali tanpa mengganggu rumah tangganya dengan Viona.
Richard tidak menjawab apapun, hanya wajahnya saja yang menegang mendengar pertanyaan dari sahabatnya.
"Jadi lu nggak mau jawab pertanyaan gue? Oke, gak papa Ric!" lalu Dimas mengalihkan pandangannya ke Lea dan mendekat ke arah Lea satu langkah.
"Aku tunggu kamu! Sampai kamu melahirkan anaknya Richard, kita akan menikah! Kamu jangan khawatir, aku gak akan membahas masalah ini selama pernikahan kita nanti! Aku akan memperlakukan kamu dengan baik, dan kamu juga jangan khawatir dengan sikap Playboy aku. Mulai hari ini aku akan menunggumu dan aku tidak akan lagi bermain dengan wanita manapun.Mulai hari ini, aku akan menyewa seseorang untuk terus mengawasimu! Setelah semuanya berakhir, aku akan menjemputmu dan membawamu pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan masa lalumu dan kita akan memulai di tempat yang baru, kehidupan kita berdua!" Dimas menyelesaikan kata-katanya dan tanpa melihat ke arah Richard, Dimas kembali ke mobilnya dan men starter mobilnya, Pergi lebih dulu meninggalkan lokasi
"Huuufhh... apa yang tadi Dimas bilang? Jadi dia mau menikahiku walaupun aku bekas temannya? Hahaha! Dasar orang kaya gila! Apa kalian pikir aku ini piala bergilir? Apa kalian pikir hati wanita itu mudah untuk disakiti, apalagi wanita miskin sepertiku aku? Kalian semua memang tidak berperasaan!" Lea menggerutu dan sangat kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Hati Lea tidak tersentuh sama sekali dengan apa yang baru saja didengarnya dari bibir Dimas, justru kebencian dan Semakin jijik muncul di dalam diri Lea baik kepada Dimas, Dewa, ataupun Richard.
"Kenapa hatiku sakit mendengar kata-kata Dimas tadi? Jadi, dia akan mengambil wanita yang ada di sampingku ini setelah semuanya berakhir? Jadi, setelah wanita ini melahirkan anakku, maka Dimas akan mengambilnya dari sisiku? Wah, urusan Dewa belum selesai.. dan kini sahabatku sendiri mengincarnya mati-matian! Aku tahu kau memang Playboy, tapi kau tidak pernah berbohong dengan kata-katamu! Aku tahu yang kau ucapkan itu pastilah benar! Kau sudah tergila-gila dengan wanita di sampingku ini!" Pikiran Richard berbeda dengan pikiran Lea Kata-kata Dimas sangatlah mengganggu Richard, apalagi Dimas mengatakan bahwa akan menunggu Lea dan akan membawanya pergi sejauh mungkin. Ada rasa perih di dalam hati Richard karena dia tak mampu menjawab apapun yang dikatakan oleh Dimas tadi dan dia tidak dapat melarang Dimas
untuk melakukan apapun terhadap Lea
Richard berusaha untuk mengembalikan pola pikirannya mengenai siapa Lea, tapi sayangnya.. semakin dia berpikir, justru yang ada, hatinya semakin sakit. Hingga akhirnya Richard memilih diam, tak berkata apapun.
Lea dan Richard tidak bicara selama menyusuri jalanan kota Jakarta yang lenggang di malam hari. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing mencoba untuk menerka apa yang ada di dalam pikiran orang di sebelahnya, juga untuk menenangkan hati mereka masing-masing tanpa mengeluarkan satu katapun.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Lea memilih diam dan duduk dekat dengan jendela pintu tanpa menatap ke arah Richard. Sedangkan Richard dengan Aura penuh kuasanya, memilih Duduk menatap ke arah depan tanpa senyum menunjukkan sikapnya yang dingin, penuh kuasa bagai seorang raja.
__ADS_1
Awalnya Lea tidak terlalu terganggu dengan sikap diam Richard seperti itu. Tapi lama-lama, suasana jadi semakin tegang, apalagi mendekati rumah keluarga besar Alexander. Hati Lea sedikit ciut, walaupun Lea berusaha untuk memberanikan diri.
Maaf kalau cerita gak terlalu bagus karena ini karya pertama author tungguin terus ceritanya dan Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,