
"Apa aku minta maaf aja ya, di sini? Mumpung belum sampai rumah... supaya aku gak dapat hukuman lagi!" kekhawatiran Lea mulai muncul, sehingga membuatnya sedikit panik hingga meremas kedua tangannya.
"Apa yang dipikirkannya? Dia terlihat mulai gugup?" Richard menyadari bahwa Lea sudah menunjukkan perubahan sikapnya tapi, Richard membiarkan tanpa bertanya.
"Huuufh... kuatkan dirimu Lea!Apapun yang terjadi di dalam kamu harus kuat Lea! Hahaha! memang apa lagi yang bisa dimiliki oleh orang miskin sepertiku selain kekuatan untuk bertahan? Kalian orang kaya bisa berbuat sewenang-wenang menindas orang yang tidak memiliki kekuatan! Mempermainkan perasaan orang orang sepertiku seperti tidak ada harganya!Orang miskin sepertiku, tidak punya hak untuk memilih dan berbicara dihadapan orang-orang kaya seperti kalian! Lagi pula, aku sudah menjual diriku sendiri untuk pengobatan ibu. Jadi, apapun yang kalian lakukan, aku harus menerimanya! Bukan begitu?" Lea mulai mengingatkan diri sendiri untuk lebih tegar saat pintu gerbang rumah keluarga besar Alexander telah dibuka. Pikiran Lea masih sama seperti saat meninggalkan rumah keluarga Alexander tadi siang.
Klek
Richard menutup pintu mobilnya setelah mereka sampai di depan teras rumah dan berjalan masuk kedalam rumah tanpa menyuruh Lea turun.
"Bagus! Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? ikut turun dengannya atau tetap di mobil ini?"
Untuk beberapa saat Lea masih diam di dalam mobil berpikir untuk menentukan apa yang harus dilakukannya.
"Jadi seperti itu sikap dia sebenarnya!" Lea tersenyum sinis, lalu keluar dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah besar keluarga Alexander,
Klek
"Selamat datang Nyonya Muda!"
"Lea! Namaku Lea bukan Nyonya Muda! Lea menjawab Bi Siti, tidak seperti biasanya, kali ini.. tanpa senyuman dan tanpa menengok ke arahnya. Lea terus melangkah, berjalan masuk, naik ke atas tangga menuju kamar Richard.
__ADS_1
"Mantap! belum ada seminggu menikah, sudah ada bumbu rumah tangga! Berantem dikit nggak papa toh bisa nambah romantis nantinya." Bi Siti mencibir Sambil tersenyum kecil. Tadi, Richard masuk juga memperlakukannya sama seperti Lea cuek tanpa membalas sapaannya dan sekarang nada juga melakukan hal yang sama jadi menurut Bi Siti, ini adalah kemajuan yang baik bagi hubungan keduanya.
Ada ragu ketika Lea memegang gagang pintu. tapi setelah menghela napas untuk menguatkan dirinya, Lea akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Richard ada di dalam, duduk bersandar di tempat tidurnya, tanpa menegur Lea. Tanpa mempersilahkan Lea untuk masuk ke dalam kamar, tapi Richard juga tidak melarang Lea untuk masuk ke dalam kamarnya. Yang dilakukannya, hanya duduk di tempat tidurnya membuka handphone-nya tanpa mempedulikan apapun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Lea sedikit salah tingkah melihat tingkah Richard yang memang benar-benar mencuekkannya. Richard seperti menganggap Lea tidak ada di sana.
"Dasar orang gila! Kalau dia pengen cuekin aku kayak gini, ngapain susah payah jemput aku tadi ke mobil Dimas, sampai bawa-bawa polisi segala? Baiklah kalau memang dia mau seperti ini, lebih bagus! Aku juga bisa menganggapnya tidak ada!" akhirnya setelah meyakinkan dirinya Lea menghela napas dan melangkah masuk dan menutup pintu kamar Richard. Lea tanpa bicara dengan Richard langsung ke tujuannya yaitu membuka tas berisi pakaiannya, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
klek
Selesai dari kamar mandi, Lea langsung menuju meja kerja, menyalakan laptopnya dan mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya. Sedangkan Richard masih asyik dengan handphonenya di tempat tidur hingga satu jam kemudian dia meletakkan handphone-nya dan tidur di tempat tidur tanpa mengajak Lea bicara sama sekali.
"Ah, jadi dia masih mau mendiamkanku? Hahaha! Aku tidak peduli! Lebih bagus begini, aku bisa mengerjakan tugas-tugas ku tanpa ada gangguan!" Lea Richard mengambil hal positif dari aksi diam Richard! walaupun dalam hatinya terasa perih menusuk melihat sikap Richard padanya saat ini. Lea merasa terabaikan.
Jam satu malam.
Lea menyelesaikan semua tugas-tugas kuliahnya. Richard sudah tidur dari tiga jam lalu, saat Lea merapikan buku-bukunya, mematikan laptopnya, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Baiklah, aku akan tidur di sini saja malam ini!" Lea merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tanpa menunggu lama hanya dalam beberapa detik, rasa kantuk sudah menguasainya. Hari ini Lea melakukan banyak sekali aktivitas fisik yang melelahkan.
__ADS_1
Terutama untuk jalan sepuluh kilometer lebih dari rumah Richard menuju ke tempat kerjanya dan harus berdiri seharian melayani orang bolak-balik di dalam Cafe sehingga kakinya terasa sakit dan pegal hingga membuatnya sangat mudah jatuh tertidur.
"Jadi dia memilih untuk di sana?" dari tadi Richard memang tidak tidur dan hanya berpura-pura tidur. Rasanya Richard juga ingin memejamkan matanya dan tertidur. Tapi, entah kenapa matanya tak bisa terpejam
"Kau bahkan tidak menyapaku atau sekedar meminta maaf atas kesalahanmu. Apakah kau merasa tak bersalah dengan meninggalkan rumah ini tanpa seizinku? Dan kau juga merasa tidak bersalah dengan pergi bersama sahabatku? Huuufh.. Kenapa dadaku terasa sesak seperti ini?" ada sedikit perih di hati Richard saat mengingat Lea di dalam mobil bersama Dimas dan mendengar kata-kata Dimas tadi untuk Lea.
Untuk beberapa saat dari kejauhan, Richard hanya mengamati Lea yang sedang tertidur di sofa. Richard tidak mendekat hanya membiarkannya saja Lea tidur sangat pulas di sana.
"Hah, apa enaknya tidur di sofa seperti itu? Aku mencobanya kemarin dan tubuhku semuanya terasa sakit! Apa dia ingin menyiksa dirinya sendiri dengan tidur di sana? Atau mencari belas. kasihanku kalau dia sakit nanti?" tersenyum kecut dan kemudian berdiri dari tempat tidurmu mendekat ke arah sofa dan bersiap untuk memindahkan Lea ke atas tempat tidur.
"Ibu... ibu sembuhlah..." Lea lagi lagi meracau di dalam tidurnya, kali ini dengan memanggil nama Ibunya dan menitikkan air mata walaupun matanya masih terlelap tertidur
"Kali ini kamu menyebut nama yang lebih baik untuk didengar dalam tidurmu! Apakah kamu juga akan menyebutkan namaku juga di dalam tidurmu? Lalu, kamu akan tersenyum atau menangis saat menyebut namaku dalam tidurmu?" ada rasa senang dalam hati Richard saat melihat Lea tak lagi menyebut nama Dewa di dalam tidurnya tapi, ada rasa gelisah di dalam hatinya memikirkan bagaimana perasaan Lea saat menyebut namanya di dalam tidurnya
"Haishhh.. kau berpikir Apa Richard! Kau sudah gila! Kenapa kau ingin dia memikirkanmu dalam tidurnya? Hahaha!" Richard tak berani melanjutkan kalimatnya dan dia juga tak berani memindahkan Lea ke tempat tidur. Tiba-tiba saja, hati Richard terasa sakit dan memilih untuk membiarkan Lea tidur di sofa itu sampai pagi, walaupun Richard sendiri tak tidur di malam itu.
Masih teringat dalam pikiran Richard, bagaimana ketika tadi dia mengetahui bahwa Lea tidak ada di rumah. Seluruh ajudannya mencari Lea, tapi tidak menemukannya. Jejak Lea diketahui hanya sampai membuang sampah di tempat sampah dan kemudian tidak ada lagi tanda-tandanya. Mereka tahu bahwa Lea berlari, tapi mereka tidak tahu kemana Lea berlari. Tak ada seorangpun dari ajudannya Richard yang menyangka bahwa Lea akan berlari sepanjang sepuluh kilometer lebih dari rumah Richard menuju Cafe.
-Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,
-٩(ര̀ᴗര́)ᵇʸᵉ
__ADS_1