
Hmmm.. Tuan, apa Sekarang Anda mulai berbicara lagi denganku?" tanya Lea yang baru menyadari bahwa Richard sudah tidak bersikap seperti tadi pagi lagi
"Jangan potong kalimatku! Kenapa kamu meringis?" Richard mengulangi pertanyaannya
"Hahaha... Anggap saja aku gila dan mau berbicara lagi denganmu!" kata hati Richard mencoba mencari jawaban pertanyaan ada tadi.
"Harga gaunnya, mahal sekali.. itu cukup untuk biaya hidupku satu tahun, bahkan lebih beberapa bulan!" Lea mencibir menunjukkan mimik wajah yang sangat lucu di mata Richard.
"Hahaha!" Richard tergelak tawa melihat ekspresi Lea dan mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Lea
"Apa ada yang lucu?" Lea mengernyitkan dahinya tak paham dengan maksud Richard tertawa
"Hmmm... lumayan! Ayo makan dulu!" Richard lalu berjalan di depan Lea menuju ke arah meja makan, yang sudah dihias cukup indah, memang sengaja untuk candle light dinner, Lengkap dengan bunga mawar berwarna putih di atas meja, lilin-lilin yang juga ada di atas meja dan makanan yang sudah tersedia di atas meja semuanya masih hangat bagaikan baru disiapkan beberapa menit yang lalu
"Wah... pas sekali aku sudah sangat lapar dari tadi!" Celetuk Lea tanpa memperdulikan ekspresi Richard. Perut Lea memang sudah tidak bisa diajak kompromi, ketika melihat hidangan yang ada di atas meja.
"Duduk! " satu kalimat perintah dari Richard seperti biasanya
"Kenapa dia tidak berkomentar ini romantis atau tidak ya?" Richard agak bingung melihat ekspresi Lea yang masih datar dengan semua yang sudah dibuat begitu romantis
"Sepertinya makanan ini baru disiapkan "Lea celingak-celinguk mencari orang yang menyiapkan makanannya
"Tak perlu dicari pelayan dan chef-nya sudah pulang" Richard yang tahu apa yang sedang dicari Lea menjelaskan.
"Kenapa dia justru mencari Siapa pembuat makanan ini bukannya berterima kasih padaku untuk makanan romantis seperti ini? Viona akan berlari ke arahku dan memberikan kecupan hangat padaku apabila aku memberikan sesuatu yang romantis seperti ini Apa ada yang salah dengan otaknya?" Richard masih belum mengerti cara pikir otak Lea
"Hmmm. Baiklah! Selamat makan!" Lea tersenyum sangat manis sekali lalu menyuap makanannya yang sudah disiapkan di atas meja
"Hah! Apa yang dilakukannya? Sungguh tak ada manis manisnya! Cara makannya berantakan seperti itu. Apa dia tidak paham kalau romantic dinner harusnya dia bersikap anggun?" Richard tidak habis pikir melihat cara makan Lea yang juga cuek tanpa memperhatikan table manner sama sekali, yang penting perutnya kenyang saat ini.
__ADS_1
"Kenapa melihatku, Tuan?" refleks Lea bertanya kepada Richard ketika matanya menatap kearah Richard yang sedang menatapnya, dan tertawa kecil
"Apa yang lucu? Kenapa dia menertawaiku seperti itu ya? Apa ada yang aku lakukan salah? Atau memang dia saja yang bermasalah? Hah. Kalau saraf otaknya tidak konslet, dia tidak akan menyuruhku memakai pakaian ini hanya untuk makan seperti ini! Dasar orang kaya aneh!" gumam Lea seperti biasa memprotes Richard habis-habisan di dalam hatinya
"Kamu berantakan!" jawab Richard sambil tersenyum mengejek lalu memakan makanannya
"Apa ada makanan di wajahku?" tanya Lea sambil menujuk ke wajahnya
"Hoaaaaah... memalukan sekali kau Lea... Apa ada saos atau sesuatu di wajahku ya?" hati Lea sudah sangat malu dengan apa yang dikatakan Richard tapi Lea masih menutupinya dengan bersikap cool.
"Harusnya kamu makan perlahan. Untuk makan seperti ini potong lah sedikit-sedikit dagingnya, hingga kamu bisa pastikan potongannya sekecil ini atau lebih kecil lagi kalau ukuran mulutmu lebih kecil" Richard bicara sambil mengangkat garpunya dan menunjukkan potongan daging yang ada di garpunya kepada Lea lalu melanjutkan lagi kalimatnya, "dan baru kamu masukkan dalam mulutmu dan pastikan tidak mengenal bibirmu, jangan lupa digigit perlahan seperti ini." dengan detail Richard menjelaskan step by step nya
"Ssssshhhhh... kalian orang kaya Ribet sekali sih! Makan pun aturannya terlalu banyak! porsinya sedikit sekali seperti ini, nggak ngenyangin loh!" jawab Lea memprotes Richard dan mencibirnya.
"Makan itu bukan untuk kenyang! Kalau kamu makan untuk kenyang maka kamu akan menjadi tidak sehat. makan itu untuk memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh". Richard lalu meminum airnya dan melanjutkan kalimatnya, "Lihat yang ada di piringmu, di sana sudah lengkapkan, semua kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh dengan porsi yang cukup."
"Hmmm.. kata-kata Tuan bisa diterima kalau ingin memenuhi kebutuhan standar gizi yang ditetapkan oleh ahli gizi... tapi aku hanya mahasiswa! Untukku, itu semua tidak penting... Bahkan aku pernah makan mie instan tiga hari berturut-turut untuk bertahan hidup. Lea tersenyum ke Richard dan melahap makanannya lagi tanpa memperdulikan apa yang tadi sudah diajarkan oleh Richard.
"Kenapa dengan anda, Tuan? Apa anda baru melihat hantu? Wajah anda sangat ketakutan seperti itu!" komentar Lea yang kaget melihat raut wajah Richard berubah saat dia telah mengatakan kebiasaannya tentang mie instan dulu. .
"Anakku, selama kamu mengandungnya, kamu tidak boleh makan yang seperti itu! Apa Kamu paham? Gizi anak harus diutamakan!" jawab Richard refleks dan sangat cepat kepada Lea.
"Ah... Tenang saja, Tuan Richard! Selama aku mengandung anak Anda, Aku berjanji akan memberikan gizi yang cukup sesuai standar ahli gizi dunia untuk ibu hamil". Lea tersenyum dan kemudian melahap lagi makanannya
"Huh! Aku kira apa... ternyata dia ketakutan kalau aku memberikan anaknya makanan tidak bergizi! Tapi kenapa membahas anak? Hmmm.. jadi dia mengkhawatirkanku karena anaknya
Dia membiayai Spa seperti tadi tujuannya adalah anaknya. Dia ingin ibu yang sehat untuk anaknya. Ada sedikit rasa kurang bahagia di hati Lea saat menyadari apa yang baru saja dikatakannya tadi di dalam hati.
"Apa kamu sudah mengecek?"Lea menggelengkan kepala
__ADS_1
"Hari Minggu nanti aku cek. Tanggal periodeku adalah tanggal delapan belas dan itu jatuh di hari Rabu minggu depan. Seharusnya sekarang-sekarang ini adalah masa suburku".Lea mencoba menghitung dengan kalender kesuburan wanita
"Apa kamu serius?" tanya Richard dengan sangat antusias dan menunjukkan ketertarikannya.
Lea mengangguk
"Sepertinya Jumat Sabtu Minggu sampai dengan Selasa.. kisaran itulah!" Lea lalu melanjutkan makannya lagi setelah menjelaskan kepada Richard.
"Alea, aku tanya sekali lagi. Apa kamu serius?" kali ini Richard tampak serius dan menunjukkan aura wajahnya yang dingin dan tegas.
Lea mengangguk.
"Apa ada masalah?" tanya Lea sambil mengambil gelas dan meminum air di dalamnya tanpa memperdulikan raut wajah Richard.
"Apa tuan sudah selesai makannya?" tanya Lea yang melihat piring Richard masih penuh sedangkan piringnya sudah kosong
Richard mengangguk
"Sudah. Ada apa? jawab Richard sambil membersihkan sudut bibirnya
"Tapi di piring Tuan masih banyak makanannya". Lea menunjuk dengan mata dan dagunya ke arah piring Richard yang ada di seberang mejanya.
"Ah, ini sudah hampir jam 1 malam. Aku hanya makan beberapa suap saja. Tak baik untuk tubuh."
"Apa dia tidak tahu kalau makan malam romantis itu hanya untuk menghangatkan suasana, bukan untuk kenyang?" Richard sedikit bingung
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca novel author dari awal semoga kalian tidak bosan dengan alur ceritanya dan jangan lupa sedekah like vote dan komennya ❤😁😁