
Recky memasuki ruangan Gabriel, netranya langsung tersuguhkan oleh Gabriel dan Gibran yang tengah memakan apel sambil di temani oleh Savanna.
"Ih abang! bagi-bagi apelna! janan lakus jadi olang!!" Kesal Gibran ketika lagi-lagi apelnya kembali di makan oleh Gabriel.
"Mama." Gabriel meminta pembelaan pada Savanna, sehingga wanita itu pun kembali memotongkan apel untuk Gibran.
Mendengar panggilan Gabriel pada Savanna, membuat Recky terheran. Dia beralih menatap Darren meminta penjelasan, tentang apa yang dirinya dengar.
"Gabreil mengalami amnesia, saat dia terbangun Savanna berbicara dengan kalimat yang terdapat kata mama. Kemudian Gabriel menangkapnya, dan memanggil Savanna dengan sebutan mama. Bahkan dengan Darren saja dia takut," ujar Darren dengan sendu.
Savanna baru menyadari jika sedari tadi kedua pria berbeda usia itu tengah memandangnya, Savanna menjadi kikuk sendiri. Dia menaruh pisau beserta buah yang ia pegang, lalu berdiri menyapa Recky.
"Halo tuan." Sapa Savanna.
Recky mengangguk sambil tersenyum, dia mengingat Savanna. Wanita yang membongkar rahasia istrinya mengenai Darren.
"Bicara soal kemarin, terima kasih. Kalau tidak, mungkin saya dan Darren tidak pernah akan tahu hal ini," ujar Recky.
"Hem, saya hanya ingin keadilan untuk sahabat saya." Sahut Savanna.
Recky menganggukkan kepalanya, dia berjalan mendekati kedua cucunya yang sedang anteng memakan buah apel.
"Opa!" Pekik Gibran saat melihat Recky mendekat.
Gibran menaruh apelnya, dia merentangkan tangannya pada Recky. Opa nya itu menyambutnya dengan baik, di bawanya Gibran ke dalam gendongannya.
"Opa, abang otakna lagi gesel. Dali tadi panggil bu gulu mama telus, nanti capi dia panggil eyang." Celoteh Gibran mampu membuat senyum Recky terbit.
"Memangnya Gibran gak mau punya mama kayak bu guru cantiknya Gibran ini hm?" Tanya Recky membuat suasana menjadi sangat canggung.
Pipi Savanna bersemu merah, begitu pun dengan Darren, sedangkan Gibran. Dia menatap daddy serta bu gurunya secara bergantian.
"Nda mau, bu guluna jadi pacalna dedek aja." Tolak Gubran membuat Darren melotot tak terima.
"Bu gulu telalu tantik untuk daddy." Ledek Gibran dan memeluk erat leher opa nya itu.
"Bisa aja kamu gombalnya. Udah, opa mau bicara sama daddy kamu dulu sebentar yah." Pinta Recky.
Recky kembali menurunkan Gibran, dia mengode Darren agar mengikutinya. Mereka berbincang di depan ruang rawat Gabriel, ada banyak hak yang mau di sampaikan oleh Recky.
"Tuan, saya ...,"
"Maafkan daddy, maaf jika daddy egois. Maaf, kamu tidaklah salah. Tapi, daddy kecewa. Daddy kecewa kenapa kamu bukan putra daddy." Lirih Recky dengan menatap Darren.
Darren tak kuasa menahan haru nya, mata pun kini berkaca-kaca menatap sang daddy yang menatapnya dengan sendu.
"Saat pertama kali kamu berbicara, kata yang kamu ucapkan adalah daddy. Yang mengajarimu berjalan adalah daddy, yang mengajarimu naik sepeda adalah daddy. Orang pertama yang khawatir ketika kamu sakit adalah daddy. Kenyataan ini membuat daddy tak terima, kenapa kamu bukan anak daddy?" Lirih Recky.
"Darren tetap anak daddy, bagaimana pun keadaannya kini Darren hanya menganggap ayah Darren adalah daddy." Balas Darren.
Recky memeluk erat putra yang ternyata adalah putra tirinya, keduanya saking berpelukan erat dengan air kata yang membasahi pipi mereka.
"Kembalilah ke rumah utama, daddy dan adikmu kesepian." Pinta Recky setelah pelukan mereka terlepas.
Darren menatap daddynya, dia menggeleng dengan memaksa senyumnya.
"Tidak bisa dad, Darren gak ada hak." Ujar Darren dengan tegas.
"Darren, sejak kecil kamu kehidupan kamu selalu tercukupi. Kamu tidak akan bisa hidup di luaran sana tanpa semua fasilitas yang pernah daddy berikan. Apalagi sekarang kamu memiliki dua tanggung jawab!" Sahut Recky yang bingung dengan pola pikir anaknya itu.
__ADS_1
Darren tersenyum dan menggeleng. Dia membenarkan perkataan daddy nya, hanya saja dirinya tahu di mana posisinya. Dia tidak berhak menikmati harta pria itu, dirinya bukanlah anak kandung dari Recky.
"Daddy, Darren bisa berdiri di atas kaki Darren sendiri." Tegas Darren.
"Tapi Darren,"
"Dad, Darren tidak tahu siapa korban yang sebenarnya. Mommy memang tidak berselingkuh, tapi mnipu daddy melupakan suatu kejahatan. Darren sadar diri dad, Darren gak mau jika nantinya media akan berkomentar buruk terhadap perusahaan daddy."
Recky terdiam, kejadian kemarin ada yang memvideokannya hingga viral di sosial media. Bahkan, sedikit berdampak negatif bagi perusahaan nya.
"Setelah Gabriel sembuh, sementara Darren akan membawa anak-anak pindah sementara dari kota ini. Berita tentang kita sudah tersebar luas, akan sangat berdampak bagi si kembar." Ucap Darren sambil mengalihkan tatapannya dari Recky.
"Jika itu maumu, maka daddy akan menerimanya." Pasrah Recky.
Sementara di dalam ruang rawat Gabriel, sedari tadi Gibran sibuk berceloteh. Dia pun menceritakan apa.yang terjadi di sekolahnya.
"Oh ya, bu gulu tadi ada ibu temen dedek yang bilang. Kalau daddy dedek itu anak pungut, dedek kila campah aja yang di suluh pungut."
Deghh!!!
Savanna terkejut mendengar penuturan dari anak didiknya, dia mendekati Gibran untuk mencari informasi lebih.
"Gibran dengar kapan?" Tanya Savanna, perasaan dia selalu ada bersama Gibran.
"Dedek dengel pas nunggu bu gulu waktu pulang," ujar Gibran dengan polosnya.
Savanna mengerutkan keningnya, sedari semalam dia tak mengecek ponselnya. Segera Savanna membuka ponselnya dan melihat berita hari ini.
"Pemirsa, ramai viral video yang menayangkan bahwa penerus Atmajaya yakni Darren Atmajaya bukanlah anak kandung dari Recky Atmajaya. Bahkan, pernikahan mantan penerus Atmajaya itu harus batal karena terbeberkannya rahasia."
Savanna membekap mulutnya sendiri, dia kembali mencari berita. Bahkan wajahnya dan Adinda ada di video itu. Savanna segera menghampiri Adinda yang masih terlelap itu.
"Eungghh!! apaan sih Sav!! gue masih ngantuk!" Kesal Adinda.
Savanna menarik tangan Adinda sehingga wanita itu terduduk langsung dengan mata yang masih terpejam, Savanna memberikan ponselnya dan Adinda terpaksa haru melihat rekaman itu.
"Eh, kita Viral Sav?" Tanya Adinda yang merasa kaget.
"Dih iya, kita Viral hahahah!!"
Savanna mengerutkan keningnya, mengapa temannya ini sangat bahagia. Tak lama, Darren kembali masuk tanpa Recky. Pria paruh baya itu baru saja di telpon dan haris buru-buru pulang.
"Ada apa?" Tanya Darren yang mendengar tawa keras dari Adinda.
"Ada yang videoin kita kemarin dan sekarang Viral," ujar Savanna dengan raut wajah pucatnya.
Savanna merasa sangat bersalah, sebab dirinya keadaan semakin kacau. Tidak seharusnya dia membeberkan di depan semua orang, tapi semuanya sudah terlambat.
"Di sekolah juga, ibu-ibu wali murid sudah membicarakan kakak. Bahkan dengan bergosip di dekat Gibran." Sambung Savanna.
"Bergosip bagaimana?" Tanya Darren dengan kening mengerut.
Savanna menceritakan sesuai apa yang Gibran ceritakan, rahang Darren mengeras. DIrinya tidak terima di katakan seperti itu.
"Sekarang banyak media yang pastinya akan mengincar kalian demi menaikkan followers mereka. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Savanna dengan raut wajah penuh khawatir.
"Sav, gue jadi artis dadakan Sav!" Seru Adinda yang masih saja girang.
Savanna membujuk bahu sahabatnya itu dengan kencang, Adinda yang kerasa kesakitan akhirnya mengelus bahunya dengan menatap kesal Savanna.
__ADS_1
"Terus kita harus apa? udah terlanjur viral kan, nikmatin aja. Kita nanti pasti banyak di undang ke acara-acara yang viral itu tuh."
"Lo aja sana! sekalian perceraian lo masukin berita biar pada heboh!!" Kesal Savanna.
"Bener juga! kok lo pinter sih Sav? gue tunjukkin aja wajah pelakor nya, biar si pantat panci panik dan akhirnya setuju cerai sama gue." Pekik Adinda membuat Savanna menghela nafas sabar.
***
Sedangkan di kantor polisi, Reno tengah menemui Nadira. Kini keduanya duduk berhadapan, saling diam tanpa membuka suara.
"Buat apa lo kesini? mau ngetawain gue?" Seru Nadira dengan ketus.
"Tidak, saya turut prihatin atas apa yang menimpa kamu." Sahut Reno.
Nadira memutar bola matanya malas, dia menegakkan tubuhnya dan meneliti raut wajah Reno.
"Gue bakalan balas dendam."
Reno membulatkan matanya, netranya menangkap raut wajah Nadira yang terlihat sungguh-sungguh. Perasaan khawatir menyergap hatinya, akan ada kejadian yang terjadi nanti.
"Gak waras kamu?" Ucap Reno menatap tajam Nadira.
Nadira tertawa sumbang, dia mengetuk jarinya di meja sambil menggigit bibirnya.
"Eum ... udah enggak kayaknya yah. Gue bisa pastikan, jika cewek yang rusak acara pernikahan gue saat itu. Habis di tangan gue!" Lirih Nadira dengan sorot mata penuh kebencian.
"Saya heran, seharusnya kamu itu sadar. Bukan semakin jahat!" Sentak Reno.
Nadira menatap Reno sinis. "Oh, apa cewek kemarin itu ... kekasih lo?"
Reno terdiam, dia tidak menyanggah dan tidak membenarkan. Tapi, Nadira salah tangkap. Dia tertawa keras mengejek Reno yang menatapnya kesal.
"Pegang janji gue! setelah gue bebas, gue bakalan balas semuanya!! gara-gara dia, masa depan gue hancur!! Gue di coret dari keluarga Sanjaya, dan harus hidup di balik jeruji besi!!" Sentak Nadira.
Reno menggelengkan kepalanya, Nadira sungguh tidak waras. Tiba-tiba, Reno mengatakan sesuatu yang membuat Nadira kaget.
"Saya akan mengeluarkan kamu dari sini."
"Lo mabuk?" Bingung Nadira.
"No, saya tidak mabuk. Saya akan mengeluarkan kamu dari sini dengan syarat."
Nadira tertawa, dia meremehkan Reno. Bagaimana bisa Reno mengeluarkannya dari penjara? sementara Xander yang merupakan daddy kandungnya berusaha untuk memberatkan hukumannya.
Reno yang merasa di remehkan, segera mengeluarkan dompetnya. Dia memperlihatkan sebuah kartu pada Nadira yang merupakan identitas aslinya.
"Kusuma? Reno cucu keluarga kusuma? pengusaha berlian terbesar di eropa?" Batin Nadira merasa terkejut dengan identitas Reno.
"Oke, apa syaratnya?" Tanya nAdira dengan santai sambil bersedekap dada.
Reno membenarkan posisi duduknya, dia mendekatkan kepalanya pada Nadira sehingga membuat gadis itu tambah bingung.
"Menikah dengan saya."
______
Walah Authornya cuman up satu, besok lagi yah kawan. Besok up kayaknya pagi menjelang siang, pastinya para pembaca udah pada penasaran kan🤭🤭.
Yaudah, besok kita triple up. Ayo dukungannya, komennya dan likenya dong jangan lupa🤭🤭🤭🤗🤗🥰🥰.
__ADS_1