
Di tengah kebingungannya, Dania keluar dari mobil dan duduk di tepi jalan. Berharap ada taksi yang lewat, akan tetapi tak ada satu pun taksi yang lewat hanya mobil besar dan juga motor.
"Gue harus gimana?" Lirih Dania.
"Non!"
Dania mengerutkan keningnya ketika melihat pak supir berlari padanya setelah memberhentikan sebuah truk.
"Saya sudah dapat mobilnya, ayo naik. Biar mobil saya yang urus." Seru sang supir.
Dania melongo tak percaya, dia mendekati truk itu dan menunjuknya di hadapan supirnya itu.
"Bapak bercanda? oak, saya lagi buru-buru loh." Ujar Dania dengan nada tak percaya.
"Iya atuh non, non nya buru-buru makanya saya carikan tumpangan," ujar supir itu dengan enteng.
"Tapi gak gini juga pak! nanti saya di culik gimana? ih, si bapak mah. Gak mau aku." Rengek Dania dan menjauh dari truk itu dengan menatap kesal supirnya.
"PAK?! JADI GAK?!" Seru supir truk.
Supir Dania pun bingung, dia celingukan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gak jadi deh bang, maaf yah!" Seru supir Dania.
Supir itu akhirnya menjalankan kembali truknya, dan supir Dania pun menghampiri Dania yang menendang ban mobil dengan sebal.
"Salah bapak pokoknya! Kenapa bisa lupa isi bensin? besok-besok bawa bensin cadangan, jadi kalau kehabisan bensin begini kita gak bingung!" Gerutu Dania.
"Ya gak bisa atuh non, emangnya bensin kayak ban? lagian saya udah kasih solusi, si non nya gak mau. Ya salah sendiri to?"
"Kok bapak malah nyalahin saya? udah bosen jadi supir?" Kesal Dania.
"Ya-ya bosen sih non, kepengen gitu jadi bos." Ujar supir Dania sambil cengengesan.
Dania mencak-mencak sebal, jika di hadapannya adalah anak seumurannya. Entah apa yang remaja itu lakukan, sayangnya supirnya itu sudah seumuran dengan sang daddy.
BRUMM!!
BRRUMM!!
Seketika raut wajah Dania menjadi ceria, dia berbalik dan melihat motor sport berwarna hitam mendekat padanya. Segera Dania berlari ke tengah untuk mencegahnya.
"EH!! AWAS NON!!"
CKIITTT!!!
Motor itu mengerem mendadak, bahkan sampai menungg1ng. Dania dengan raut wajah polos tak bersalah memegang kepala motor itu.
__ADS_1
"Adek nebeng dong bang." Genit Dania.
Tak!
Kaca heml pun terbuka, seketika Dania melebarkan matanya setelah tau siapa orang yang berada di balik helm itu.
"BANG SAT?!"
Yup, Satria adalah orang yang di hadang oleh Dania. Seketika gadis itu mundur dan memasang wajah terkejut.
"LO CARI MATI YAH? UDAH BOSEN HIDUP?" Bentak Satria dengan kesal, hampir saja pria itu menabrak Dania.
"Kalau mau mati ya mati aja! gak usah ajak gue! lo mati gue masuk penjara b3g0!!" Sentak Satria.
Supir Dania datang tergopoh-gopoh, dia berdiri di hadapan Dania sambil berkacak pinggang.
"Eh! anak berandalan! dengerin saya yah! majikan saya ini lagi buru-buru! mobil kita kehabisan bensin. Ibunya di rumah sakit terkena stroke, kalau keburu KO gimana?" Bentak balik supir Dania.
Seketika Satria menatap Dania yang kini menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangannya. Sepertinya wanita itu takut akan bentakan Satria, dan melihatnya sedih ... membuat Satria tidak suka.
"Naik!"
"Ha?" Sahut supir Dania.
"Bukan kamu, tapi majikanmu itu!" Unjuk Satria dengan dagunya.
Dania melihat ke bawah, bajunya kotor. Dia belum sempat ganti baju setelah dari sawah tadi. Tangannya meremas baju depannya yang kotor karena terkena lumpur.
"Ck, naik. Gue orang kaya, beli baju bukan hal sulit.," ujar Satria.
Akhirnya Dania pun naik, walau ragu. Dia tak berpegangan dengan Satria, hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Lo kalau gak pegangan, terus jatuh ... gue gak bakalan sadar kalau lu jatuh kuker. Kurus kering dasar!"
Dania mengerucutkan bibirnya sebal, dia berpegangan pada tas yang Satria kenakan. Entah mengapa Satria belum puas, dia sedikit menarik gas motornya sehingga membuat Dania yang terkejut reflek memeluk Satria.
"MODUS! BUAYA DARAT!! MEMANG BANG ...,"
BRUMM!!!
"GUE TANDAIN LO SATRIA!! GUE MATI GUE GENTAYANGIN LOOO!!"
Satria menekan gas motornya dengan kencang hingga membuat Dania reflek memeluknya lebih erat. Motor Satria melesat dengan cepat, hingga membuat wanita itu merapalkan doa agar sampai tujuan dengan selamat. Sebab, Dania hanya bisa memejamkan matajya dan merasa motor itu berjalan sangat cepat.
***
Sedangkan di kantor pengadilan agama, Adinda baru saja resmi bercerai dengan sang mantan suami. Dia berjingkrak senang saat menerima surat resmi perceraiannya dengan Rendi.
__ADS_1
"Yuhuuu janda happy, janda happy. Kira-kira, berondong mana yah target gue? hm ... Berondong, tunggu saja. Sugar mommy mu akan datang, yuhu!!"
Andaikan saja Adinda berteriak seperti itu, pasti banyak yang akan menertawakannya. Raut wajah bahagianya sangat tampak sekali.
"Eh ada mantan istri pacar ku."
Langkah Adinda terhenti ketika melihat sepasang makhluk yang dia benci, dia memutar bola mata malas sambil mengipaskan wajahnya dengan dokumen perpisahannya.
"Eh ada simpenan suami orang, ups ... udah mantan. Tapi masih jadi simpenan yah, uch ... kasihan." Ledek Adinda membuat wanita di hadapannya menatapnya dengan penuh amarah.
"Seharusnya lo tuh instropeksi diri, kenapa suami lo kecantol ama gue. Dia bilang, gue lebih hebat dari pada lo dalam urusan ranjang."
Adinda yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, bahkan dia sampai memegangi perutnya.
"Lo pikir gue janda biasa? gue janda perawan say, masih ting-ting gue. Emamgnya lo! janda bukan, isyri bukan. Tapi udah lebar." Ledek Adinda membuat Pacar Rendi bersungut marah.
Rendi memang tak pernah menyentuh nya, pria itu selalu sibuk bahkan sebelum Adinda mengetahui perselingkuhan mereka berdua. Tak ada nafkah batin yang Rendi berikan, membuat Adinda bersyukur setidaknya dia tahu kebusukan pria di hadapannya sebelum dia menyerahkan yang paling berharga bagi dirinya.
"Tapi tetep aja status lo jadi janda!" Ketus pacar Rendi.
"Cih, lebih baik menjada say ... dari pada punya suami gak ada guna. BYE!"
Rendi serta pacarnya melongo tak percaya, apalagi saat Adinda pergi dari hadapan mereka sambil bersenandung.
"Minum susu rasa semangka, di tidurin doang di nikahin kagak. Siapa lagi kalau bukan si lon ... takut dosa gue hahahah!!"
Adinda memasuki mobil mewahnya, dia memakai kacamatanya dan menatap kedua pasangan itu dengan seringai di bibirnya.
"Nikmatin laki gak ada guna tuh, kere kere dah hidup kalian." Sindir Adinda dan melajukan mobilnya pergi dari sana.
Sementara itu, Rendi dan pacarnya ribut. Tak peduli banyak pasang kata yang melihat ke arah mereka.
"Maksud mantan kamu tadi apa? kamu kere? bukannya kamu kaya Ren?!" Pekiknya.
"Adinda nipu aku, dia ambil 70% hartaku termasuk 3 cabang kafe milikku. Dan 30% sahamku." Cicit Rendi
"APa?! kok kamu b0d0h banget sih Ren!!!" Geram wanita itu sambil mencak-mencak kesal.
Sementara di sudut lain, Reno yang baru saja ke pengadilan karena harus menemui temannya di sana terpaku melihat mereka berdebat. Terlebih saat Adinda melawan perkataan keduanya.
"Adinda ... Adinda, dari dulu omongannya selalu mak jleb." Gumam Reno sambil menggelengkan kepalanya.
____
Maaf belum bisa bales komen, sinyal lagi susah. Loading mulu, maklum daya multi media😂😂.
Oh ya banyak ya tanya authornya tinggal di mana, author di daerah jawa tengah kawan. Ternuata kalian banyak yang ngerasa juga yah, apa kalian tinggal di jawa tengah juga?
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya yah🥰🥰