Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Penolakan Darren


__ADS_3

Pagi-pagi, semua keluarga berkumpul untuk sarapan, tak ada yang membahas tentang persoalan tadi malam. Mereka lebih memilih diam karena sedari tadi Darren tidak bicara apapun.


"Kak, aku mau rotinya." Ujar Savanna mencairkan suasana.


Tak banyak bicara, Darren mengambilkan Savanna roti. Dia mengoleskan selai strawberry dan lanjut menyerahkan pada istrinya.


"Terima kasih," ujar Savanna.


Darren menganguk-anggukan kepalanya sembari memakan rotinya. Sedangkan si kembar, keduanya tengah bersitegang akibat semalam Dimana Gibran tak ingin duduk di sebelah Gabriel, dan Gabriel pun sangat cuek dengan orang merajuk.


Ting! Tong!


Pembantu membukakan pintu untuk tamu, saat melihat siapa yang datang. Pembantu tersebut mempersilahkan mereka langsung ke ruang tamu.


"Maaf tuan, keluarga kusuma kembali datang. Saya sudah meminta mereka ke ruang tamu." Jelas pembantu itu.


Seketika Recky menatap Darren, anak sambungnya itu tidak menatap mereka sama sekali. Hanya diam menatap makanannya dengan wajah yang cuek.


"Darren, mereka ...,"


"Sayang, bersiap. Kita pulang ke kampung sekarang."


Semuanya terkejut ketika melihat Darren menyudahi makannya lalu menggendong Gibran pergi. Sedangkan Gabriel, hanya menikmati sarapannya sambil sibuk membaca bukunya.


"Kak .. aduh, gimana ini." Panik Savanna.


"Kamu bujuk suamimu, jangan sampai kalian pulang dulu. Masalah ini harus selesai!" Titah Recky.


Savanna mengangguk, dia menyusul suaminya ke kamar. DI dalam kamar, Darren sudah mengeluarkan koper dan memasukkan baju-baju mereka.


"Kamu ambil baju si kembar di kamar sebelah." Titah Darren saat Savanna mendekat.


"Kak."


"Cepatlah!" Sentak Darren.


Gibran hanya dia duduk di kasur tanpa berceloteh seperti biasanya, sebab dirinya tahu jika saat ini bukanlah waktu yang pas untuk mengeluarkan kata.


"Kak dengarkan aku!!" Sentak Savanna menarik kerah kaos putih yang Darren kenakan.


Mereka saling menatap, jarak wajah keduanya hanya beberapa centi saja. Sehingga Savanna bisa mendengar deru nafas Darren yang terdengar memburu.

__ADS_1


"Kakak gak bisa kabur dari masalah gini aja! kakak butuh keterangan mengenai ayah kandung kaka! Sama seperti si kembar, kakak juga butuh status dari ayah kandung kakak!"


"Kelakuan kakak, sama ayah kakak bukannya gak jauh berbeda? kalian sama-sama merusak wanita!! kenapa kakak merasa yang paling tersakiti saat ini!! setidaknya, dengarkan dulu penjelasan mereka!"


Darren melepaskan tangan Savanna dengan kasar, dia berbalik dan mengusap kasar wajahnya. Bagaimana dirinya bisa lupa, jika mereka sama-sama melakukan kesalahan.


"Ayolah kak, biarkan nyonya kusuma menjelaskan tentang ayah kandung kakak." Bujuk Savanna.


"Kamu mau ikut apa enggak? kalau kamu enggak mau, biar kakak pulang sendiri!" Putus Darren dan kembali mengemasi koper nya.


Savanna menggelengkan kepalanya, suaminya sangat keras kepala. Dirinya tahu, betapa kecewanya Darren. Tapi, kehidupan mereka tidak akan tenang setelah pergi bukan? Pastinya keluarga Reno akan terus mendesak mereka.


"Oke! kakak mau pergi? silahkan! sekalian? aja mampir ke pengadilan!!"


Setelah mengatakan itu, Savanna keluar dari kamar dengan emosi yang tak stabil. Darren membeku sejenak, dia baru menyadari apa yang dirinya lakukan.


"Astaga." Darren mengusap kasar wajahnya, dia segera menyusul istrinya yang keluar dari kamar.


"Telus telusan di tindal, nda ingat puna dedek. Kenapa telus di lupakan." pasrah Gibran.


Darren berlari menyusul Savanna, netranya melihat Savanna yang berjalan ke ruang tanu. Dengan perasaan campur aduk, Darren pun memutuskan untuk menemui keluarga Reno.


Melihat kedatangan suaminya, Savanna hanya mendelik kesal dan duduk di sebelah daddy Recky.


Darren duduk di single sofa, dia menundukkan kepalanya sejenak lalu mengangkatnya.


"Kalian mau apa lagi kesini?" Tanya Darren membuat Savanna melotot kesal.


"Eum kami ... kami ingin menyampaikan pesan dari ayah kandungmu." Jawab Aprilia.


Darren tertawa hambar, dia menyandarkan tubuhnya.


"Kan, kamu liat sendiri Sava. Bahkan, dia tidak berani bertemu denganku. Aku dan dirinya tidak sama, aku berani mempertanggung jawabkan kesalahannya. Tapi dia? dia kabur begitu saja dan menyuruh adiknya yang berbicara padaku."


"Bukan begitu nak!" Sahut Aprilia cepat.


"Lalu apa nyonya? apa dia di penjara sehingga dia tidak bisa menemuiku? baguslah, dia memang pantas di penjara!"


Savanna merasa tidak enak, apalagi Darren seperti membicarakan dirinya sendiri. Dimana kesalahan yang Darren lakukan sama seperti ayah kandungnya.


"Jaga nada bicaramu dengan ibu saya!!" Bentak Reno.

__ADS_1


"Jika tidak terima, silahkan pulang. Tidak perlu kalian berlama-lama disini," ujar Darren dengan ketus.


Reno tak terima, dia bangkit dan segera menarik kerah baju Darren. Tadi Savanna dan sekarang Reno, membuat baju yang Darren kenakan kusut.


"ASAL KAMU TAHU, OM ABHI SUDAH ENGGAK ADA! DIA MENINGGAL DUA PULUH TIGA TAHUN YANG LALU KARENA TRAGEDI PESAWAT JATUH!"


"LO TAHU? DIA MENGAKUI KESALAHAN NYA! DIA MAU BERTANGGUNG JAWAB! TAPI MELIHAT KEHIDUPAN LO YANG LEBIH BAHAGIA BERSAMA KELUARGA INI, MEMBUAT DIA MENGUBUR NIATNYA ITU DALAM-DALAM!!!"


Aprilia mendekat, dia memisahkan Reno dengan Darren. Dengan terisak, Aprilia memegang bahu Darren.


"Benar, dia sangat mencintai mommy kamu. Saat perampokan itu terjadi, dia tak pernah berpikir jika rumah yang akan dia rampok adalah rumah wanita yang ia sukai. Saat melihat mommy kamu, dia gelap mata dan memerkosanya membalaskan rasa sakit hatinya terhadap mommy kamu yang menolak cintanya."


"Tak ada hari tanpa penyesalan, hingga kamu berumur satu tahun. Dia ingin mengakui kesalahannya, dia ingin mengambilmu dan merawatmu. Tapi, kehidupan kami saat itu sangat susah. Untuk makan pun harus meminta belas kasih orang."


"Berbeda dengan kamu, tinggal di keluarga berada. Dia tidak ingin kamu kesulitan dengannya, hingga dia memutuskan untuk pergi dan tak lagi menganggu kehidupan kamu serta mommy kamu."


Entah karena Darren merasa kecewa atau sedih, dia hanya bisa terdiam dengan mata memerah. Tak berani menatap Aprilia yang saat ini menatapnya penuh sayang.


"Ini surat yang ayah kamu berikan, dia ... dia tidak mengatakan siapa wanita yang ia rusak. Dia hanya bercerita tentang kelakuan jahatnya. Tapi, setelah berita itu beredar. Kami sangat yakin jika wanita itu adalah mommy kamu, dan benar. Wajahmu mirip dengan dia, kalian benar-benar mirip." Isak Aprilia menangkup wajah Darren.


"Enggak, kalian salah. Mungkin hanya ceritanya yang mirip, kalian salah sangka."


Aprilia menggeleng, dia kembali mengeluarkan sebuah buku kecil. Di sana terdapat foto anak kecil yang Darren tahu jika itu dirinya.


"Ini kamu kan?" Tanya Aprilia.


Darren tak bisa berkata-kata, dia melihat beberapa fotonya yang bermain di halaman rumah.


"Dia selalu memotretmu diam-diam, saya menemui kamu karena kamu satu-satunya keturunan kakak saya. Setidaknya, dalam diri kakak saya hidup dalam diri kamu." Lirih Aprilia.


Darren tak kuasa menjawab, dia hanya bisa memandang gambar dirinya saat kecil dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Dia akan merubah hidupnya dengan pergi ke luar negri, dia akan mencari pekerjaan untuk bisa merubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Namun sayang, dia telah berpulang dengan membawa segenap penyesalan. Saya mohon, maafkan dia. Maafkan kesalahannya."


Reno hanyalah anak sambung Aprilia, sehingga umur Reno dan Darren hanya terpaut 1 tahun saja. Setelah mengetahui bahwa Darren adalah putra yang kakaknya maksud, Aprilia meminta suaminya untuk memberikan bantuan apapun pada Darren secara diam-diam.


Aprilia beralih menatap Recky dengan menangkup kedua tangannya, Recky juga hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata.


"Pulanglah." Titah Darren beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja dengan membawa kertas serta foto masa kecil nya.


suami Aprilia langsung memeluknya erat. Memberikan kekuatan dan mengatakan jika semuanya butuh waktu.

__ADS_1


____


__ADS_2