Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Penolakan Delia


__ADS_3

Savanna baru saja membuat bubur untuk ibu mertuanya, dia berniat mengurus ibu mertuanya itu selama dirinya tinggal di rumah sang mertua.


Baru saja masuk kamar Delia, wanita itu sudah menatapnya dengan tajam. Walau begitu, Savanna tetap menampilkan senyum ramahnya dan mendekat dengan nampan di tangannya.


"Sava bawain mommy bubur, kata daddy mommy suka sekali bubur ayam. Ini buburnya sudah Sava lebih haluskan, biar mommy gampang nelennya." Ucap Savanna dengan penuh perhatian.


Savanna duduk di tepian ranjang, dia menaruh nampan di atas nakas. Posisi Delia sudah terduduk dengan banyak tumpukan bantal di belakangnya.


"Mommy makan yah, Savanna suapin." Ujar Savanna sambil menyuapkan Delia.


Akan tetapi, mulut Delia terkunci rapat. Savanna dengan sabar menanti ibu mertuanya membuka mulutnya.


"Mom, mommy ingin makanan lain? atau apa? biar Sava buatkan yah, sekarang jadwal mommy minum obat." Ucap Savanna dengan memasang wajah memelas.


Savanna kembali menyuapkan, tetapi tetap saja Delia menutup mulutnya sambil menatap tajam Savanna.


"Sesuap aja mom, ayo." Bujuk Savanna dan kembali mencoba menyuapkan.


PRANG!!!


Delia menghempaskan mangkok yang Savanna pegang dengan gerakan yang membuat Savanna kaget. Netranya menatap tak percaya Delia yang menatapnya penuh amarah.


"Jangan harap saya merestui pernikahan kalian!! Saya tidak akan pernah merestuinya!!" Batin Delia dengan menggumamkan bahasa yang taj jelas.


Savanna tersenyum pedih, dia berjongkok dan memungut pecahan kaca dengan tangannya. Tak lama, Darren dan Recky datang dengan wajah terkejutnya.


"Kenapa yang?!" Panik Darren.


Savanna mendongakkan kepalanya, raut wajah sedihnya dia ubah menjadi tersenyum.


"Enggak kak, aku agak pusing tadi. gak sengaja mangkoknya terjatuh. Maaf yah, mommy jadi tidak makan. AKu akan minta bibi buatkan makanan khusus untuk mommy."


Savanna kembali membereskannya, akan tetapi Darren malah menarik tangannya hingga wanita itu berdiri di sisi suaminya.


"Jangan, biarkan bibi saja yang bersihkan." Titah Darren.


"Tapi ...,"


"Jangan membantah! kamu istirahat aja di kamar, aku lihat wajahmu juga pucat." Ujar Darren sambil menangkup kedua pipi istrinya.


Melihat adegan manis itu, tatapan Delia semakin menajam. Rasa bencinya pada Savanna sangat menggebu, dia menyalahkan Savanna atas semua yang terjadi pada dirinya.


Savanna pun masuk.ke dalam kamar, dia menumpahkan tangisnya. Baru kali ini dirinya di perlakukan seperti tadi. Sakit, tentu saja Savanna merasakannya. Dia tidak mungkin berkata yang sebenarnya, sebab dirinya tidak ingin ada keributan lagi karena dirinya.


Cklek!!

__ADS_1


Savanna segera menghapus air matanya, entah mengapa dirinya sangat sensitif saat ini.


"Mamah, are you okay?"


Gabriel memasuki kamar orang tuanya, dia mendekati Savanna yang tersenyum tapi terkesan memaksa.


"I'm okay baby, ada apa? kau butuh sesuatu?" Tanya Savanna.


"Mungkin daddy bisa mamah bohongi, tapi aku tidak. Katakan, apa yang oma lakukan pada mamah?" Tanya Gabriel yang kini berdiri di hadapan Savanna yang terduduk di tepi kasur.


"Hei, oma tidak mengapa-apakan mamah. Jangan khawatir, hm." Ujar Savanna sambil mengusap pipi Gabriel.


"Mamah bohong, Gab belajar dari buku yang Gabriel baca. Jika seseorang habis menangis itu matanya akan berkaca-kaca, hidungnya pasti memerah, dan suaranya bergetar." Sahut Gabriel.


Savanna tersenyum, kecerdasan Gabriel di umurnya yang masih kecil membuat siapa saja kagum. Tapi, ada kesan rasa khawatir dalam diri Savanna. Gabriel tak seperti anak lainnya yang tertarik dengan mainan.


"Gab juga pernah baca, kalau perempuan bilang aku tidak papa. Itu artinya aku sedan tidak baik saja. perempuan seperti mamah, susah di tebak. Jadi, katakan. Apa yang oma lakukan pada mamah?"


Savanna terkekeh di buatnya, dia membawa Gabriel ke pangkuannya dan mengecup cepat pipi gembul anak itu.


"Jangan terlalu dewasa, mamah jadi sedih," ujar Savanna.


"Aku selalu menjadi anak kecil mamah." Sahut Gabriel dan memeluk erat Savanna.


Savanna membalas pelukan Gabriel, dia memejamkan matanya merasakan pelukan hangat anak sambungnya.


Darren selesai mengurus Delia, suster yang akan menjaga Delia akan datang besok. Sehingga mereka bergantian akan menjaga dan mengurus Delia saat ini.


Karenamasa tahanan Delia di undur, para polisi pun tak lagi mengawasinya. Namun, mereka masih terus memantau keadaan Delia.


"Dad, aku ke kamar dulu." Pamit Darren setelah Delia tertidur.


Recky mengangguk, setelah Darren pergi dia juga keluar untuk mengerjakan tugas kantornya di ruang kerja.


___


Sementara di rumah Xander, Gabriel bocah itu tengah tertawa riang sambil memainkan gelembung sabun yang Xander belikan. Raut wajahnya terlihat senang, dia bahkan melompat-lompat di atas rumput.


"KAkek!! tembak lagi!!!" Seru Gibran.


Xander tersenyum, dia kembali menembak gelembung sabun itu ke arah Gibran hingga membuat anak itu berteriak senang.


Lompatan Gibran terhenti saat melihat kucing yang sedang menatapnya dengan wajah yang mengantuk.


Segera Gibran melepaskan tembakannya, dia berlari kecil mendekat pada kucing itu dan memegang tangannya.

__ADS_1


"MEONG!!"


Gibran mencomot mulut kucing itu, sehingga kucing itu pasrah saat Gibran menyeretnya dengan memegang satu tangannya.


"Astaga Gibran!! itu kucing! bukan karung!!" Pekik Xander saat melihat kucing yang di seret seperti karung beras.


"Yang bilang ini kalung ciapa?" Sahut Gibran.


Gibran menarik kucing itu masuk ke dalam rumah, tak lagi di seret saat ini dia malah menentengnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Kucing lucu halus mandi, bial nda bau."


Gibran menutup pintu kamar mandi dan ikut mandi bersama. Suara teriakan kucing dan gerutuan Gibran menggema di kamar mandi. Xander hanya bisa menepuk kepalanya melihat tingkah luar biasa sang cucu.


Cklek!!


"Si kucing belali, si kucing belali di mana caja. Apa yang paling dia cenangiii ... jilat bijina cendili!!!"


"Jilan bijina telus, nda pelnah cebok di jilat telus. Nanti dedek ajakin cebok yang benel yah."


Xander di buat menganga menatap cucunya yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit keduanya.


"Gibran!! itu burungnya keliatan, kenapa gak di tutup juga!!" Pekik Xander saat melihat Handuk Gibran yang hanya menutupi badannya saja.


Gibran melihat ke bawah, dia pun menyengir dan mengangkat wajahnya kembali menatap Xander.


"Dia na nongol, penacalan kali."


"Astaga Gibran." Xander menepuk keningnya, dia segera membantu cucunya kembali berpakaian. Untung saja dia masih punya baju Gibran di rumahnya.


Selesai memakai baju, Gibran duduk di teras rumah Xander sambil memangku si kucing. Dia mengelus bulu putih kucing itu dengan sayang.


Tak lama, datanglah kucing entah dari mana. Kucing yang sangat cantik, dengan buku berwarna abu.


"Kucingna tantik, dedek mau ... EH!!"


Kucing yang berada di pangkuan Gibran melompat dan langsung menerkam kucing cantik itu. Kucing tersebut menggigit leher belakang kucing si abu dengan saling tindih.


"KAKEEEKK!!!" Teriak Gibran dengan takut.


Xander datang dengan raut wajah panik, cucunya langsung menunjuk kucing yang sepertinya sedang melalukan peranakan.


"Astaga." Pekik Xander.


Xander langsung memisahkan keduanya, dia memegang masing-masing kucing itu di tangannya.

__ADS_1


"Kalian ini sama-sama biji, gak boleh nyangkul sawah!!! gimana sih nih kucing!!!"


__ADS_2