Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Terpaksa menikah


__ADS_3

"Apa?! Dania mau nikah?"


"....,"


"Dad, Dania masih muda. Dia masih sekolah, yang benar saja. Bahkan dia baru kelas dua SMA, masa depannya masih panjang." Kekeuh Darren.


Setelah mematikan sambungan ponselnya, Darren terduduk di sofa ruang tengah sambil memijat keningnya. Baru saja dia mendapatkan kabar yang mengejutkan dari keluarganya yang mana mengharuskan dirinya kembali ke kota.


"Dania kenapa kak?" Tanya Savanna yang datang menghampirinya dengan membawa secangkir kopi.


Darren menyuruh istrinya duduk di sebelahnya, dia merangkul Savanna sambil mengelus perut istrinya yang sudah membuncit itu.


Di kehamilan Savanna yang memasuki usia 5 bulan, membuat Darren selalu siaga. Bahkan, semua pekerjaan rumah. Pria itu yang mengerjakannya.


"Siang ini kakak harus ke kota, kamu mau ikut apa enggak?" Tanya Darren.


"Loh, bukannya baru beberapa hari yang lalu yah? apa kondisi mommy memburuk?" Ada gurat kekhawatiran di wajah Savanna.


"Enggak, bukan karena itu." Sahut Darren cepat sambil mengetuk perut istrinya, berharap dia mendapat sambutan dari anaknya.


Darren menghela nafas sejenak, dia menatap istrinya dengan sorot mata yang serius.


"Dania akan menikah."


"Ha? nikah? bukannya Dania masih sekolah?" Kaget Savanna.


"Keluarga calonnya salah paham, mereka kekeuh menikahkan Dania dengan anak mereka. Daddy sudah berusaha menjelaskan nya kalau itu semua salah paham, tapi keluarga calonnya gak mau tau." Lirih Darren.


"Emang kejadiannya gimana sih?" Bingung Savanna.


Darren pun menjelaskan kronologinya, Savanna yang mendengarnya pun tertawa lepas.


"Malahan, nyonya Setiawan sampe di rawat di rumah sakit. Darah tingginya kumat, dia nangis-nangis minta anaknya buat tanggung jawab." Ucap Darren.


"Masa sampai segitunya mas." Savanna benar-benar merasa heran.


"Keluarga Setiawan memang seperti itu, melihat Satria dan Dania berduaan di dalam kamar. Bagi mereka itu adalah sesuatu yang tidak wajar. Apalagi pergaulan jaman sekarang, saling tatap lama-lama ehem-ehem. Bahaya sayang."


"Kaya kamu kan." Iseng Savanna sambil menaik turunkan alisnya menggoda suaminya.


Darren berdecak sebal, dia mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan d4d4nya.


"Jangan mancing yang, nanti aku jawab kamu yang ngambek. Ih emang yah, cewek mah nyari penyakit mulu. Heran."


"Hahaha iya-iya, yaudah. Beres-beres yuk." Ajak Savanna.


Darren dan Savanna memutuskan untuk ke kota, bersyukur pria itu sudah membeli mobil walau tidak mewah. Tanah yang ia beli saat itu, sedikit demi sedikit dia renov untuk di jadikan tempat wisata. Walau beluk jadi 100%, taoi setidaknya sudah terlihat betapa bagusnya rancangan yang Darren bangun di tambah dengan nuansa alam yang begitu memukau.


***


Dania menangis di hadapan cermin, saat ini dia tengah di rias oleh seorang MUA. Berulang kali MUA sudah menegurnya karena terus merusak hiasan akibat menangis.

__ADS_1


"Mba, jangan nangis terus. Make up nya luntur terus mba, acara udah hampir mulai." ujar perias itu.


"Mba itu gak tau gimana rasanya jadi saja, orang gak ngelakuin apa-apa di suruh nikah hiks ... masa depan saya masih panjang loh mba. Mba nya kenapa sih mau aja di suruh dandanin saya, saya juga kesel sama mba nya." Isak Dania.


Perias itu kebingungan, dia menggaruk kening nya yang tak gatal sambil memperhatikan kliennya yang terus menangis.


Cklek!!


"Belum selesai kah?"


Queenara, seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Satria. Wanita yang sangat cantik dan lemah lembut, membuat para anaknya sangat meratukan dirinya.


"Loh, kok masih nangis?" Tanya Queen sambil menghampiri Dania.


"Tante, bisa di batalin gak sih? beneran loh, kita gak ngapa-ngapain. Sueerr. Masih ting-ting aku tan." Isak Dania.


Queen tersenyum, dia meminta perias agar dirinya lah yang merias calon menantunya. Dia menghapus air mata Dania sambil bercerita agar mengalihkan kesedihan remaja itu.


"Dulu tante sama om menikah karena salah pengantin," ujar Queen.


"Kok bisa?" Dania mulai terpancing dengan cerita Queen, membuat Queen mudah merias menantunya.


"Bisa, karena nama pengantin wanita sama. Hanya berbeda nama ayah kami, tapi calon ayah mertuamu malah salah ucap. Jadilah tante yang menjadi istrinya," ujar Queen.


"Kenapa gak di batalin aja?" Tanya Dania.


Queen tersenyum, dia mengambil lipstik dan memakaikannya pada bibir cantik Dania. Dania lun hanya menurut, sambil memperhatikan wajah cantik Queen.


"Kok bisa gitu?" Bingung Dania.


Tak!


"Nah, sudah selesai. Cantiknya calon mantuku."


Dania terkejut, dia beralih menatap cermin. Dirinya sudah sangat cantik, balutan kebaya putih di sertai riasan ringan. Sangat cocok dengan Dania yang sudah cantik pada dasarnya.


"Kamu cantik sekali, Satria pasti akan terpukau sama kecantikan kamu." Puji Queen.


Cklek!!


Dania mengangkat wajahnya, netranya langsung berembun saat melihat siapa yang masuk.


"Abang hiks ...,"


Darren menghela nafas kasar, dia segera mendekati adiknya dan memeluknya tanpa memperdulikan kehadiran Queen di sana.


"Bang, aku gak mau nikah muda. Aku gak mau hiks,"


"Sabar yah, biar abang bicara sama daddy," ujar Darren sambil mengusap lembut bahu adiknya.


"Terlambat bang, daddy udah siapin acaranya. Beneran bang, aku sama bang Sat gak ngapa-ngapain." Isak Dania.

__ADS_1


Darren mengelus bahu adiknya, tak lama dia melepaskan pelukan mereka dan beralih menatap Queen yang menatapnya intens.


"Tante calon mertua adik saya?" Tanya Darren.


Queen mengangguk, dia mendekati Darren dengan masih menatapnya intens.


"Kamu kakaknya Dania?" Ragu Queen.


"Iya, tan. Saya Darren," ujar Darren dengan sopan.


"Tapi wajah kamu kenapa familiar banget yah," ujar Queen.


"Muka saya pasaran kali tan." Canda Darren.


Queen menggeleng, dia bahkan sampai menyipitkan matanya.


"Enggak kok, muka kamu gak pasaran. Tapi tante jadi inget seseorang, siapa yah ...,"


Cklek!!


"Daddy! pak penggilingna dah dateng!" Celetuk Gibran yang kini bergelantungan di pintu.


Darren tersenyum, dia mengangkat putranya ke gendongannya.


"Pak penghulu."


"Iya itu makcudna, cama aja. Beda tipis doang loh!"


Darren menc1umi pipi putranya, kemudian dia beralih menatap Queen dan Dania bersamaan.


"Penghulu nya sudah datang, ayo Dania."


Dania menuruni tangga sambil menggandeng tangan Darren, sementara Gibran. Berjalan di depan mereka sambil memegang toples kripik kegemarannya.


"Wah, pengantinnya sudah datang!" Seru Aurel.


Satria yang sedang duduk di hadapan penghulu pun mengalihkan tatapannya, dia tertegun sejenak menatap kecantikan Dania.


"Jangan di liatin mulu bang, nanti malah lupa bacaan ijabnya!" Goda Aurel.


Satria berdehem, telinganya terasa panas. Dia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah merah meronanya.


Satria berdiri, dia menyambut Dania. Darren melepaskan rangkulan Dania dari lengannya, nentranya menatap Satria dengan tatapan berkaca-kaca.


"Jaga adik saya, dia satu-satunya saudara yang saya miliki. Jangan sakiti dia, jika suatu saat nanti kamu tidak lagi mencintainya. Kembalikan dia dengan cara baik-baik. Saya tidak akan pernah rela jika adik saya di sakiti. Jika sampai kamu membuatnya bersedih, maka detik itu juga saya menganggap jika kamu telah mengembalikannya pada keluarganya."


Satria mengangguk mantap, dia menatap Darren dengan sorot mata yang serius.


"Pegang janji saya bang, saya akan membahagiakan adik abang. Saya tidak bisa berjanji untuk tidak membuatnya menangis, tapi saya berjanji akan selalu membuat nya tersenyum." Tegas Satria.


Darren tersenyum, dia menepuk bahu Satria. Setidaknya, hatinya sedikit tenang meninggalkan adiknya dengan pria tersebut.

__ADS_1


___


__ADS_2