
"Selamat datang di kampung kami pak, sebuah kehormatan bisa menyambut kedatangan anda." Ujar Darren sambil menjabat tangan seorang pria yang ternyata adalah seorang bupati yang tengah berkunjung.
"Saya senang, akhirnya bisa mengunjungi kampung ini. Wisata yang Mas Darren bangun itu sangat viral, bahkan lonjakan pengunjungnya membuat saya semakin penasaran akan keindahan wisata disini." Sambut bupati itu.
Darren tersenyum, dia mengajak bupati beserta orang-orangnya untuk masuk ke dalam wilayah wisatanya. Karena kedatangan bupati, membuat tempat wisata itu di tutup sementara.
"Kenapa tempat wisata ini di namakan Dava Green?" Tanya bupati itu.
"Singkatan nama saya dengan istri saya pak." JAwab Darren di sertai dengan senyum tipisnya.
Bapak bupati itu terlihat tampak syok. "Oh, kamu sudah menikah? saya kira, kamu masih anak kuliahan." Seru bupati itu.
Darren tersenyum singkat. "Saya sudah punya 3 anak pak."
"Tiga? usia kamu berapa?" Tanya bapak bupati penasaran.
"Bentar lagi umur saya 30." Jawab Darren.
Bupati itu menganggukkan kepalanya, dia melihat sekitar area wisata. Sangat memukau, kebun teh yang cukup asri. Ayunan gantung yang berjalan di atas sungai kecil, dan juga spot foto yang bagus. Benar-benar menarik untuk kalangan anak muda.
"Saya memiliki anak di usia saya yang ke 35 tahun, dia juga menjadi satu-satunya putri saya." Ujar bapak bupati itu.
"Dia senang sama pemandangan seperti ini, bahkan dia merengek ingin ikut ke kampung ini. Sekarang, entah sekarang dia berada dimana. Dia suka sekali jalan-jalan mengitari kampung." Darren hanya menyimak saja tanpa bertanya lebih.
Hingga matahari mulai meninggi, Darren dan yang lainnya memutuskan untuk berteduh di kios-kios pedagang. Mereka menyantap minuman dan juga makanan yang tersedia dari pedagang kecil itu.
"Papah!"
Sontak pak bupati menoleh, dia tersenyum saat melihat gadis remaja berjalan ke arahnya dengan wajah cemberut.
Sedang Darren, dia sedang membalas chat Savanna yang mengatakan jika Arisha sedang rewel mencari nya.
"Hai sayang, sini duduk. Kenapa mukanya kusut banget hm?" Sambut pak bupati.
Gadis itu langsung duduk di sebelah papahnya, dia bergelanyut manja dengan wajah tertekuk sebal.
"Aku udah keliling kampung buat cari abang ganteng yang nolong aku, tapi gak ketemu juga." Adunya.
"Adara, papah kan sudah bilang. Nanti sore ada perkumpulan warga, kamu bisa cari disana. Ngapain muter-muter, panas-panasan lagi." Pak bupati mengambil tisu dan mengeringkan keringat di kening anaknya
Darren masih sibuk menunduk melihat ponselnya, hingga tak menyadari kedatangan anak pak bupati.
"Ekhem, Mas Darren kenalkan ini putri saya. Adara Wijaya."
Darren mengangkat kepalanya, seketika netranya membulat saat melihat Adara gadis yang kemarin di tolongnya ternyata adalah putri seorang bupati.
"Astaga! papah! dia yang Adara cari!!" Pekik gadis itu dan beranjak duduk di sebelah Darren.
Darren terlihat risih, dia mencoba menjaga jarak dari Adara. Namun, tetap saja gadis itu mendekati nya.
"Adara! jaga sikapmu!!" Titah Pak bupati.
"Pak bupati nenar-benar merasa tidak enak dengan Darren."
"Nas Darren, aduh makasih yah udah nolongin anak saya dan maaf atas sikapnya."
__ADS_1
Darren hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis, dia masih sibuk menjauhkan dirinya dari Adara.
"Dara! jaga sopan santunku! dia itu su ...,"
"Permisi."
Semua orang menatap ke arah dua bocah kembar yang salah satunya sedang menggendong seorang bayi. Menyadari itu anak-anaknya, Darren buru-buru menghampiri mereka apalagi saat melihat wajah sembab Arisha.
"Arisha menangis." Adu Gibran.
Gabriel menyerahkan Arisha pada Darren, sehingga kini bayi cantik itu menemplok erat pada gendongan sang daddy.
"Bunda mana?" Tanya Darren.
"Bunda lagi ada tamu." Jawab Gabriel sekenanya.
Darren membawa Arisha duduk, dia membalikkan tubuh Arisha sehingga pak bupati bisa melihat jelas wajah cantik dan lucu bayi itu.
"Wah, adiknya abang yah? cantik banget. Nanti kalau kita nikah, pasti lebih cantik deh."
"Dara!" Peringat pak bupati.
Gibran dan Gabriel masih berada di sana, seketika keduanya mendelik menatap gadis yang duduk di sebelah daddy mereka.
Tiba-tiba saja Gibran menggeser Adara, dia duduk di tengah-tengah keduanya tanpa memperdulikan Adara yang kesal.
"Abang, adikmu ini gak sopan loh!" Pekik Adara.
"Adik. .. adik. .. Buka matanya lebar lebar tante!! ini Dedek, anaknya daddy. Daddy Darren, ingat Darren. Dia ini daddy aku, udah tua."
"Abang udah nikah?" Kaget Adara.
"Iya, saya sudah menikah."
Arisha kembali menangis, sehingga Darren harus berdiri untuk menimangnya.
"Maaf pak putri saya sedang rewel, dia gak biasa di tinggal lama sama saya." Ujar Darren dengan tidak enak.
"Gak papa mas, saya juga pernah di posisi mas Darren ini. Apalagi anak perempuan, ya manjanya sama ayahnya." Sahut pak bupati.
Darren sedikit tenang, sehingga dia fokus menenangkan Arisha dengan memberikan permen untuk anak itu sekedar pegang saja.
.
.
.
.
"Jangan ngawur kamu Adara, dia pria beristri." Sentak pak bupati .
"Tapi Dara suka pah!! gak masalah kok, sekarang jhga jamannya kaki-laki gak cukup satu istri." Berani Adara.
Pak bupati memijat pelipisnya, sepertinya selama ibi dia salah mendidik putrinya hingga membuat ADara berani melakukan hal itu.
__ADS_1
"Dara, dengerin papah. Kamu bisa dapet laki-laki yang jauh lebih baik dan tentunya masih single."
"Tapi Dara suka sama dia!" Pekik Adara.
Oak Hendra gak tau lagi harus bicara apa, putrinya sangat keras kepala. Dia mendiamkan kemauan putrinya itu, biarlah putrinya merengek asal dia tidak bertindak macam-macam.
Sementara di rumah Darren tengah makan malam dengan keluarganya, Savanna terlihat menyuapkan Arisha makan. Belakangan ini anak itu sedang sulit makan, butuh kesabaran ekstra untuk menyuapinya.
"Makan dulu sayang." Pinta Darren merasa kasihan dengan istrinya, sebab makanannya hampir habis. Tapi, istrinya belum makan apapun dan masih menyuapi Arisha.
"Bentar kak, Arisha lagi susah makan. Kalau suapinnya di tunda bisa gak mau mangap lagi mulutnya." Seru Savanna sambil menyuapkan putrinya kembali.
Darren segera menghabiskan makannya, kemudian dia mengambil nasi dan lauk kembali. Dia menyendokkan nasi serta lauknya dan menyuapkan ke hadapan mulut istrinya.
"Ayo." Ucap Darren saat Savanna menatapnya dengan penuh pertanyaan.
Savanna menerima makanan yang suaminya suapkan, memang perutnya lapar. Tapi, dari pada putrinya kelaparan malam nanti. Lebih baik dia menunda makannya.
"Kamu selalu sibuk dengan anak-anak, lihat. tulang di pipimu bahkan hampir keliatan. Tubuh kamu juga terlihat makin kurus, kakak gak mau di sangka menyiksamu oleh ayah nantinya." Oceh Darren.
"Aku lagi diet kak."
Kegiatan Darren yang sedang mengaduk nasi terhenti, dia mengangkat wajahnya menatap dalam istrinya itu.
"Kamu diet?" Tanya Darren.
"Iya, aku merasa berat badan ku terus naik. Jadi aku memutuskan untuk diet."
"Dengan meminum obat diet?" Tebak Darren, tak di sangka Savanna menganggukkan kepalanya.
Dengan kesal, Darren menaruh sendok yang ia pegang. Netranya menatap tajam istrinya yang belum menyadari kalau dirinya marah.
"Lambung kamu itu bermasalah! dan kamu mengkonsumsi obat diet. Kamu mau masuk rumah sakit atau gimana?"
Seketika Savanna menatap Darren dengan tatapan sedikit terkejut, tak menyangka respon Darren terhadap obat diet yang dirinya lakukan terlihat sangat berlebihan menurutnya.
"Aku sudah tanyakan teman, katanya gak masalah. Aman, malahan dia udah turun 5 kilo." Ujar Savanna mencoba tenang.
"Enggak! Pokoknya kakak gak kau kamu konsumsi obat diet itu lagi!"
"Terus kakak maunya aku gemuk? jelek? biar kakak punya alesan nikah lagi gitu?!"
Sontak saja Darren menatap tak percaya pada istrinya, padahal tak pernah terbesit dalam dirinya untuk menduakan istrinya. Tapi, sikap overthingking Savanna membuat lagi-lagi Darren merasa aneh dengan sikap istrinya itu.
"Kamu itu kenapa sih? KAlau kamu gemuk itu bukanlah hal yang salah, kamu menyusui jelas putri kita butuh nutrisi. Kalau kamu kekurangan asupan, jelas asi kamu enggak berkualitas. Pantes aja Arisha susah makan, karena nutrisi yang di terima dia itu kurang!"
Savanna menganggap jika Darren sedang menyalahkannya atas apa yang terjadi pada putri mereka. Seketika air mata Savanna luruh begitu saja, bukannya kasihan Darren malah semakin kesal.
"Ck." Darren beranjak dari duduknya, dia pergi ke halaman belakang untuk menenangkan diri.
Si kembar yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
"Mamah gak papa?" Tanya Gibran.
"Em, kalian habiskan makanan kalian. Mamah sama adek masuk kamar yah." Ujar Savanna dengan suara bergetar. Beranjak dengan membawa Arusha dari ruang makan.
__ADS_1