Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
dedek mau di taluh cini?


__ADS_3

"Jadi gimana? daddy udah bicara dengan om Xander?" Tanya Darren.


Darren dan Recky sedang berdiskusi mengenai Delia, dengan kondisi seperti itu apakah Delia akan tetap di tahan atau tidak? Melihat kondisinya, membuat Recky dan Darren tak tega. Bahkan, wanita itu sudah tak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Daddy khawatir Xander tidak akan mencabut tuntutannya." Jawab Recky.


"Dad, kondisi mommy sudah tidak bisa lagi menjalankan hukumannya. Dia sudah menerima balasan yang lebih, bukan hanya terkurung dalam ruangan. Tapi dia harus selalu di tempat tidur." Ujar Darren dengan sedikit emosi.


"Daddy tahu, tapi daddy mengerti bagaimana perasaan Xander ketika kehilangan putrinya sama seperti saat kehilangan adikmu." Sahut Recky dengan sendu.


Darren terdiam, dia juga tak melupakan kejadian dimana adiknya kehilangan nyawanya setelah mereka pergi berlibur. Sebenarnya Darren memiliki 2 adik, dan Dania adalah adik bungsunya.


Adik pertama Darren meninggal karena tenggelam di kolam renang dewasa, adiknya sangat aktif mirip seperti Gibran. Hingga saat mereka terfokus pada hal lain, adik Darren sudah tidak ada di dekat mereka.


Setelah di cari, sayang keadaannya sudah tak dapat di tolong. Recky begitu trauma, bahkan dia sempat tak mengizinkan kedua anaknya kembali berenang.


"Raisa sudah tenang dad, jangan di bahas lagi." Sendu Darren.


"Ya, melihat Gibran daddy seperti melihat adikmu. Bocah itu sangat hiperaktif, jangan sampai kamu lengah Darren." Peringat Recky.


Darren mengangguk, kemudian keduanya sama-sama terdiam. Memikirkan bagaimana solusi dari permasalahan mereka saat ini.


"Besok kita coba kesana, gak ada salahnya kan dad? kita juga gak tahu apakah stroke mommy bisa di sembuhkan atau tidak." Usul Darren.


"Tapi mommy kamu belum menyesal Ren, dia belum menyesali perbuatannya." Sahut Recky dengan cepat.


Darren terdiam, memang tak ada rasa penyesalan dari Delia. Mommy nya selalu memaksa untuk keluar dari penjara, tapi tak pernah berkata jika wanita tua itu menyesal.


"Posisi daddy saat ini serba salah, kami seperti sudah tidak bisa bersama lagi. Tapi, daddy masih memikirkan perasaan Dania. Jika daddy dan mommy kamu bercerai, dia akan tumbuh menjadi anak di tengah keluarga yang hancur. Apalagi saat ini adalah masa-masa remajanya, daddy takut dia mengambil kesimpulan yang salah dari perceraian kami." Lirih Recky.


"Maafkan mommy dad, kalau daddy mau bercerai dengan mommy. Bercerai lah, Darren akan memberi Dania pengertian. Daddy berhak bahagia."


Perkataan Darren membuat Recky tersenyum sedih, dia mengerjapkan matanya yang akan berembun itu.


"Andaikan hal itu begitu mudah daddy lakukan, pasti sedari kemarin sudah daddy lakukan. Darren, kamu sudah menjadi seorang ayah. Pasti tahu bagaimana rasanya mengurus anak tanpa seorang ibu. Bagaimana mereka tumbuh, dengan merasa haus kasih sayang. Beruntungnya, Savanna hadir di saat mereka membutuhkannya. Tapi Dania? dalam masa remaja yang banyak membuat anak berontak."


"Jika Dania tidak terima, dia akan kecewa dengan jalan hidupnya. Adikmu segalanya bagi daddy, dia satu-satunya keturunan daddy. Daddy tidak ingin mengecewakan dia Darren."


Darren merasa daddy nya berpikir sangat jauh, tapi memang benar. Dulu, sebelum si kembar lahir. Darren sempat berniat meneruskan pernikahan nya dengan Nadia. Dia memikirkan bagaimana putranya nanti, terlebih saat tahu anaknya kembar. Akan tetapi, setiap dia memikirkan Savanna. Niat menceraikan Nadia kembali menjadi rencananya.


Selepas berbincang, Darren pun pamit ke kamarnya. Di sana, sudah terdapat istrinya yang tidur bersama kedua putra kembarnya, dengan Gibran yang memeluk leher Savanna. Sedangkan Gabriel, seperti biasa yang ia peluk adalah buku.


"Kenapa nih dua bocah pada tidur di sini? Mereka kan punya kamar, bisa tidur kamar sebelah." Gerutu Darren, niat hati ingin bermanja-manja. Malah terhaklng oleh kedua anaknya.

__ADS_1


Darren mengambil buku Gabriel, setelah itu dia beralih menggendong Gabriel dan meletakkannya di samping Gibran sebab khawatir bocah itu akan terjatuh jika di belakang Savanna.


Setelah meletakkan putranya, Darren ikut merebahkan dirinya. Dia memeluk kedua putranya sambil memandang wajah cantik istrinya yang bisa tertidur nyenyak.


"Ini yang selalu kita impikan, good night sayang." Lirih Darren.


Darren mencuri kecupan istrinya, dia oun memejamkan matanya dan menyusul mereka ke dalam mimpi.


***


Pagi-pagi Gibran sudah ribut, bocah itu ingin ikut bersama dengan Darren dan Recky. Dia sudah seperti gangsing di lantai, bagaimana tidak? dia tiduran di sana sambil berputar-putar, bahkan Savanna sulit membujuknya.


"DEDEK MAU IKUT DEDEK MAU IKUT!!" Rengek Gibran.


"Iya, nanti yah. Sekarang Gibran ikut mamah dulu yuk." Ajak Savanna.


Gibran menggeleng, lalu dia duduk dan menatap Darren yang bersedekap d4d4 sambil menatapnya datar.


"Biarin aja yang, lagi tantrum dia. Biarin." Titah Darren.


"Bawa aja Kak," ujar Savanna karena merasa kasihan dengan Gibran.


"Udah gak usah, ayo dad." Saat Darren memutuskan akan pergi, Gibran bangkit dan melompat-lompat. Bahkan anak itu berlari ke arah sofa dan memukulnya dengan kencang.


AKhirnya, karena tak ingin Savanna repot membujuk putranya. Akhirnya dia membawa Gibran ikut, sementara Gabriel meminta di rumah untuk menemani mamah sambungnya itu.


Di perjalanan, Darren hanya diam. Dia masih kesal dengan putranya yang tak menurut, sementara Recky sedang sibuk dengan ponselnya.


Darren menghentikan mobilnya di depan warung, dia berniat ingin membeli minum. Tapi sebelum keluar, Darren mengecek ponselnya dulu mengirimi pesan untuk istrinya.


Tatapan Gibran beralih menatap sebuah plang, matanya menyipit untuk membaca plang itu.


"Panti acuhan kacih bunda. Oohh panti ... eh, panti acuhan. Panti acuhan ... daddy belenti di cini. Belalti mau taluh anak di cini."


Gubran menoleh ke kana dan kekiri, tiba-tiba dirinya menyadari sesuatu.


"Anak daddy di cini dedek doang, dedek mau di taluh di cini?" Batin Gibran yang saat ini mulai gelisah.


"NDAAAA!!!"


Darren yang sedang menghubungi Savanna segera menoleh lantaran terkejut mendengar suara teriakan Gibran. Bahkan Recky sampai memutar badannya karena khawatir pada cucunya itu.


"Gibran kenapa?!" Panik Recky.

__ADS_1


Gibran memeluk leher Darren, pria itu hanya diam mengamati apa yang putranya itu lakukan.


"Daddy hiks .. maapin dedek. Maapin dedek. Maapin dedek. Janji nda nakal nakal, janji nda nakal nakal lagi Hiks ... dedek janji nulut telus hiks ... hiks ...,"


Darren mengerutkan keningnya, entah apa yang putranya maksud.


"Ayo pulang, ayo pulang. Dedek nda jadi ikut, janan malah. Dedek nda jadi ikut, daddy janan malah hiks ... janan taluh dedek di panti acuhan dedek nda mau. Janan taluh dedek di cana."


Sontak Darren dan Recky mencari panti asuhan yang Gibran maksud, netra mereka tak sengaja melihat plang bertuliskan panti asuhan dengan posisi di sebrang warung. Seketika Recky menahan tawanya, padahal mereka tidak ada niatan ingin ke sana. Pas kebetulan mereka berhenti disini.


"Dedek janji nda banak jajann, dedek mau ikut ke pacal. Dedek nda gelian lagi, dedek bantu daddy di cawah kayak abang. Tapi janan tulunin dedek di cini, dedek mau pulang. Dedek mau cama mamah." Histeris Gibran.


"Beneran? janji?" Sahut Darren memutuskan untuk berbicara.


"Janjii ..." Isak Gibran yang sudah menangis bombay.


"Kalau Gibran kayak tadi lagi, daddy taruh Gibran disini yah."


Gibran mengangguk, Darren yang merasa tak tega pun mengambil putranya dari kursi belakang. Pria itu menghapus air kata putranya dan mengajaknya keluar.


"Kita beli minum dulu," ujar Darren.


Setidaknya mereka ke warung, dan Gibran bisa tenang. Sementara di mobil, Recky tertawa kencang. Bahkan dia terus melihat plang itu dan kembali tertawa.


"Seharusnya dulu aku mengerjai Darren saja sama seperti Gibran." Gumam Recky


Tak lama, Darren kembali. Dia kembali mendudukkan Gibran di belakang, bocah gembil itu tengah memakan es krimnya sambil sesenggukan sehabis nangis.


"Ren, jadi kan taruh Gibran di panti?" Iseng Recky membuat Darren seketika melototkan matanya.


"Hiks HUAAA!!"


"Eh eng-enggak ...,"


"Enggak salah! ayo buruan, kita ganti anak baru."


Gibran membuka mulutnya bersiap menangis keras, bahkan Recky yang melihat Gibran mangap seperti itu semakin tak kuat menahan tawa.


"Enggak opa suka bercanda, udah jangan nangis." Sesal Recky dan memasukkan es krim cucunya itu kembali ke dalam mulut.


____


Jangan lupa dukungannya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2