
Sudah dua hari berlalu, Darren hanya diam. Selalu berada di samping Delia, dan menggenggam tangan wanita tua itu.
"Darren." Bisik Delia.
Darren mengangkat wajahnya, kedua matanya bertemu dengan sepasang manik mata sendu Dania.
"Mommy ... mommy sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin, ini sudah jalannya. Dengan begitu, kamu lahir ke dunia." Delia berkata sambil terbata-bata.
"Sulit mom." Balas Darren.
"Kamu tidak akan bisa tenang nak."
"Mommy mau, sebelum mommy tutup usia ... mommy melihatmu bahagia. Maafkan mommy karena sudah menjauhkan mu dari wanita yang kamu cintai."
Delia menyesali apa yang dia perbuat, bahkan setiap malam dia tak henti-hentinya menangis karena teringat akan kejahatannya.
"Mommy ngomong apa? mommy akan melihat cucu-cucu mommy besar. Mommy ingin punya cucu perempuan kan? Sava sedang hamil anak perempuan mom, mommy senang?"
Air mata Delia luruh, menantu yang tidak dia inginkan selalu mewujudkan keinginannya. Menantu yang tidak dia harapkan, sangat menyayangi putranya.
"Mommy senang."
.
.
.
.
Darren sudah memutuskan, dia meminta bertemu keluarga kusuma. Darren mengatakan jika dia ingin berkunjung ke makam Ayah kandungnya. Abhi.
"Darren, ini makamnya." Unjuk Aprilia pada sebuah gundukan tanah.
Darren yang tadinya bergandengan dengan Savanna segera melepas pegangannya. Dia berlutut di hadapan nisan itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Aku ... aku sudah memaafkanmu. Walau kita belum sempat bertemu, tapi ada secuil rasa sayang di hatiku untuk kamu ... ayah."
Aprilia menangis saat Darren memanggil Abhi dengan sebutan ayah, dia langsung memeluk suaminya itu dengan erat.
"Kakak selalu ingin di panggil ayah oleh putranya, kini dia mendapatkan apa yang dia mau. AKu yakin, dia pasti mendengarnya dari sana."
Suami Aprilia memeluk istrinya itu dengan erat. Sedangkan Reno, dia menatap Darren, tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Paman, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tenanglah di sana." Batin Reno.
2 tahun kemudian.
PRANG!!
PRAnG!!
"GIBRAN!! LIAT ADIKNYA DULU NAK!" Teriak Savanna yang berada di kamar mandi saat mendengar bunyi yang berasal dari dapur.
Gibran yang sedang belajar mendengus sebal, dia beranjak dan melihat apa yang di lakukan oleh makhluk cantik itu.
"Astaga, Arisha!! apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Seorang anak perempuan berusia 1,5 tahun berbalik dan tertawa senang. Dia menepuk-nepuk tangannya yang terkena selai strawberry yang toplesnya tidak di tutup.
"Da! da! hihi!"
"Dada hihi!" Pekik Gibran kesal.
Gibran tidak lagi cadel di umurnya yang ke enam tahun, bahkan Savanna sampai menangis saat mengetahui Gibran tak lagi kecil.
"Mamah! adek mainin selai nih! cemong semua mukanya!!" Pekik Gibran.
Savanna bergegas ke dapur, netra nya membulat sempurna saat melihat apa yang putri nya itu lakukan.
"Astaga, Arisha. Nanti daddy pulang, marah loh!" Pekik Savanna.
Arisha, bayi gembul itu hanya tertawa riang sambil memasukkan selai ke dalam mulutnya.
Savanna segera membersihkan Arisha, setelah bersih. Seperti biasa, anaknya itu akan meminta asinya.
"Arisha, yang bener nyusunya!" Pekik Savanna.
Bagaimana tidak, B0k0ng Arisha berada di wajah Savanna. Sambil menyusu nutrisi dari ibunya, dia selalu melakukan cara aneh.
"Yang, pergi dulu yah liat tanah."
Darren sudah membangun usahanya, dimana dia telah menjadi orang terkaya di kampung itu. Bahkan, rumahnya ia bangun besar dengan membeli tanah di sebelah yang kosong. Warga di sana sangat terbantu dengan keberadaan Darren, dimana mereka mendapat pekerjaan dari usaha restauran perkebunan dan sawah yang Darren jalankan.
Savanna tak menjawab, dia tak mendengar panggilan suaminya yang berasa dari luar kamar.
"Yang!"
Darren melongokan kepalanya ke dalam kamar, netranya membulat saat melihat apa yang putrinya kerjakan.
Arisha yang mendengar suara daddynya segera mengangkat wajahnya, dia melepaskan sumber nutrisinya.
"Daddy!" Pekik nya dan melihatkan giginya yang baru tumbuh delapan. Empat atas dan empat bawah.
"Anak kamu nih kak! ada aja gayanya! macam bapaknya!" Pekik Savanna.
Darren menggelengkan kepalanya, dia menghampiri putrinya yang merentangkan tangan padanya.
"Daddy mau pergi, Arisha mau ikut?" Tanya Darren.
Arisha tetap mengangkat tangannya, Darren segera membawa putrinya ke gendongannya. Melihat itu, Savanna segera menutup asetnya dan menatap dua kesayangannya.
Sementara di dapur, Gibran tengah membereskan kerusuhan yang adiknya buat.
"Udah Gibran bilang kan, punya adek itu gak enak. Ngeyel sih daddy kasih adek buat Gibran. Lihat sekarang, siapa yang repot!" Gerutu Gibran.
Gabriel baru saja dari kebun belakang rumahnya, dia mengambil buah strawberry yang sudah matang.
"Adek berulah lagi?" Tanya Gabriel menyadari kelakuan adiknya.
"Abang gak liat Gibran lagi apa? susah kan punya adek!" Gerutu Gibran sambil membersihkan lantai itu dengan kain lap.
Gabriel menggelengkan kepalanya, dia berjalan menuju westafel untuk mencuci buah strawberry yang ia petik
"Kamu kesel-kesel begitu sayang juga kan?"
__ADS_1
"Mana ada!" Ketus Gibran.
"Kalau gak sayang, kamu gak mungkin nangis kejer pas adek di titipin ke aunty Dania. Kamu sampai gak tidur semalaman, suruh daddy buat jemput adek."
Wajah Gibran memerah, dia sangat malu. Dirinya sangat menyayangi adiknya, tapi adiknya selalu membuat ulah.
"Kamu tahu, bahkan kelakuan kamu dulu lebih menjengkelkan di banding Arisha." Gabriel tetap membeberkan kejelekan adiknya itu.
"Mana ada!" Gibran melotot kesal.
"Hais, waktu kamu umur 3 tahun. Daddy pikir kamu di culik, ternyata kamu tidur di kolong tempat tidur." Gabriel terkekeh gemas saat melihat wajah adiknya yang memerah.
Sore hari, seperti biasa Darren akan menemani anak-anaknya bermain di taman yang ia buat. Banyak anak-anak lainnya yang bermain dengan wajah senang. Para warga berterima kasih dengan itu, anak-anak mereka memiliki permainan.
"Gibran di jaga adeknya yah." Pinta Darren yang menggandeng tangan putri kecilnya.
Gibran mendengus sebal, tapi dia mau menjaga adiknya itu. Genggaman tangan Arisha berpindah pada Gibran, dengan wajah lucunya dia memekik senang.
Sementara Gabriel, seperti biasa. Dia duduk di sebuah bangku taman dengan buku yang ia pegang. Tak ada hari tanpa buku, membuat Darren khawatir dengan mata putranya itu.
"Padahal aku tidak suka membaca buku." Gumam Darren.
"Nadia senang membaca buku bukan?" Savanna menimpali perkataan sang suami.
Darren mengangguk membenarkan, Nadia sangat suka membaca buku. Itu yang mereka tahu.
"Minggu depan kita jadi kan ke pernikahan Reno?" Tanya Savanna.
"Jadi, aku tak menyangka dia akan menikah dengan Adinda." Kekeh Darren
Savanna mengangguk setuju, entah dari kapan Reno sudah dekat dengan sahabatnya. Tangannya merangkul lengan suaminya, mereka berdua memperhatikan para anak yang main.
Melihat tawa putrinya, membuat Darren mengembangkan senyumnya.
"Kalau mommy masih ada, dia pasti akan senang melihat cucu perempuannya." Sedih Darren.
"Mommy sudah tidak merasakan sakit lagi, jangan terus di ratapi. Kasihan mommy."
Tepat sebelum Savanna melahirkan, Delia tak sanggup melawan sakitnya. Selain stroke yang ia alami, ternyata dirinya juga memiliki riwayat penyakit jantung.
Semua keluarga berduka, terlebih Recky. Kepergian istrinya, membuatnya sangat terpukul.
"Dari semua yang kita lalui, aku sangat bersyukur. Cinta kita sampai saat ini dan seterusnya akan terus berkembang. Pertemuan kita, dengan cinta kita yang belum usai. Aku berharap, kita akan menua bersama. I love you."
Savanna terharu, bahkan netranya sampai berkaca-kaca.
"I love you more."
...Tamat...
Terima kasih atas dukungan kalian. ekstra part hanya 3 saja yah. satunya menyusul.
Terima kasih atas dukungan kalian. ekstra part hanya 3 saja yah. satunya menyusul.
Terima kasih atas dukungan kalian. ekstra part hanya 3 saja yah. satunya menyusul.
Terima kasih atas dukungan kalian. ekstra part hanya 3 saja yah. satunya menyusul.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian. ekstra part hanya 3 saja yah. satunya menyusul.
SAMPAI JUMPA🤗🤗