Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Tidak bisa bebas


__ADS_3

Darren dan Recky tengah berhadapan dengan Xander, mereka sedang duduk di ruang tamu sambil menatap sang tuan rumah yang menatap mereka dengan tajam.


"Jadi, tujuan kalian datang kesini apa?" Tanya xander dengan aura yang tidak mengenakkan.


Darren menatap Recky, dia menganggukkan kepalanya pada daddy sambungnya itu. Lalu, tatapannya beralih pada Gibran yang duduk di sebelah Xander sambil memangku cemilan keripik kesukaannya.


"Kami mau meminta maaf sebelumnya, mungkin permintaan kami berat. Tapi, kami harus mengatakannya. Bisakah ... bisakah kamu mencabut tuntutan mu pada istriku?"


Xander menggeram marah, dengan tegas dia menolaknya tanpa meninggikan suaranya. Sebab, disini ada cucunya. Dia tidak ingin Gibran merasa takut padanya.


"Tidak! tidak akan pernah! jadi maksud kalian datang membawa cucu saya, agar saya mau mencabut tuntutan saya? iya? jujur saja, jika membunuh di perbolehkan. Saya akan melakukan hal yang sama pada istri anda, wanita yang telah merenggut nyawa putri saya. Cucu saya kehilangan ibunya, mereka kehilangan cinta pertama nya!" Sentak Xander.


"Saya tahu, saya paham. Tapi, saat ini istri saya tidak bisa menjalan hukumannya. Bahkan, alam sudah menghukumnya. Dia terkena stroke dan kini hanya terbaring tempat di tempat tidur." Lirih Recky.


"Tidak akan pernah!!" Balas Xander dengan keras.


Darren bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Xander dan menjatuhkan lututnya di hadaoan Xander. Seketika Recky dan Xander terkejut dengan perlakuan Darren.


"Darren tahu om, seberapa lama pun mommy menjalankan masa hukumannya di penjara. Tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa Nadia. Saya mengerti, om kehilangan putri om. Tapi saya juga kehilangan istri saya, dan saya tidak ingin kehilangan ibu saya. Saya butuh ibu saya, saya butuh dia untuk mempertemukan saya dengan ayah kandung saya."


"Jangan seperti ini Darren, bangun!" Sentak Xander.


Darren menggeleng, dia mengeluarkan air matanya. Melihat Delia yang terbaring tak berdaya di tempat tidur, membuat jiwa seorang anak dalam Darren membara. Rasa sakit, pedih, sesak memeluk hatinya.


"Om, bebaskan mommy. Biarkan Darren yang menggantikannya. Darren yang akan menjalani sisa hukuman mommy,"


"APA-APAAN KAMU DARREN!!" sentak Recky berusaha menarik Darren untuk bangkit. Namun, putra sambungnya itu tak kunjung bangkit dan malah menepis tangan Recky yang menghampirinya.


Gibran menatap kaget ke arah Recky, dia bahkan sampai menaruh toplesnya dan beralih memeluk Xander.


Xander yang pengertian segera memanggil pembantu di rumahnya, dia meminta untuk mengamankan Gibran sementara sampai dirinya menyelesaikan masalah ini.


"Darren mohon om, cabut laporannya. Darren yang akan menggantikan posisi mommy, Darren yang akan melengkapkan hukumannya." Lirih Darren.


"Apa kau bodoh?"


Darren yang mendengar perkataan seperti itu seketika mengangkat wajahnya, dia menatap Xander yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.


"Bagaimana bisa aku menghukum orang yang tidak bersalah? om tidak sejahat itu Darren."


"Bangun!!" Titah XAnder.


Darren menurut, Xander kini berdiri di hadapan Darren dan menepuk bahunya.


"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang putri. Putri yang sangat kamu banggakan. Sakit, tidak ada obat untuk menyembuhkan rasa kehilangan itu. Tapi, Nadia orang yang sangat pemaaf. Dia pasti memaafkan kalian."


"Tapu, om sulit memaafkan mommy kamu. Jika dengan alasan sakit om akan mencabut tuntutan itu, maka kalian salah."


"Sementara, hukuman mommy kamu akan di perpanjang. Setelah dia sembuh, dia akan kembali memjadi tahanan. Maaf, Darren. Suatu saat kamu pasti akan mengerti."


Setelah mengatakan itu, Xander langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Darren yang terduduk lemas sambil mengusap kasar wajahnya.


"Daddy sudah bilang, tidak mudah bagi Xander untuk merelakan semuanya. Daddy paham perasaannya," ujar Recky.


"Setidaknya, hukuman mommy kamu bisa di undur sampai dia sembuh." Lanuutnya.


Sementara Xander, dia menghampiri cucunya yang sedang bermain di taman belakang dengan burung beo kesayangannya.


"Dedek danteng. Coba bilang, dedek danteng."


"Dedek genteng, dedek genteng."

__ADS_1


Xander tersenyum tipis saat melihat cucunya yang kesal, sebab sedari tadi burung beo itu tak meniru ucapannya.


"Denteng denteng, memamgna dedek lumah!! citu yang wece!" Gerutu Gibran.


Hap!!


Tubuh Gibran tiba-tiba melayang, bocah itu sempat terpekik kaget. Kepalanya dia tolehkan sedikit, ternyata Xander lah yang menggendongnya.


"Kakek!! lompat ke lual jantung dedek!!" Pekik Gibran.


Xander tersenyum, dia mengecup pipi cucunya yang bertambah gembul. Bahkan berat Gibran kini bertambah, dia yakin cucunya kini di urus dengan sangat baik.


"Gibran kenapa jarang mengunjungi kakek?" Tanya Xander sambil membawa Gibran menduduki ayunan kayu.


"Dedek cibuk," ujar Gibran membuat Xander terkekeh.


"Sibuk apa sibuk?" Canda Xander.


"Cibuk loh! dedek ke pacal, ke cawah. Mandiin kelbau, ulus padi bantu daddy juga." Celoteh Gubran.


Apa yang Gibran katakan tidak sepenuhnya yang terjadi dan tidak sebenuhnya benar, dia memang ikut ke pasar dan sawah. Tapi bocah itu hanya menemplok di kaki Savanna tanpa mau menyentuh tanah yang basah.


"Oh ya, keren dong."


"Dedek gitu loh!!" Seru Gibran dengan senyuman lebar nya.


"Gibran nginep sini yah, temenin kakek. Mau? kakek kesepian." Pinta Xander dengan wajah memelas.


Gibran terdiam, dia tidak pernah jauh dari Darren.


Walaupun tinggal dengan Xander, Bagaimana bisa dia menginap di rumah Xander saat ini?


***


Savanna menyambut suaminya pulang, tetapi ada yang aneh. Dia tak menemukan Gibran berada di dekat suami serta ayah mertuanya.


"Loh, Gibran mana?"


Darren merangkul istrinya masuk, dia belum menjawab perkataan istrinya dan malah mengajak Savanna ke kamar mereka.


"Kak, aku tanya. Mana Gibran?!" Kesal Savanna.


"Pijitin kakak dulu, baru kakak jawab." Sahut Darren dengan santai.


Darren membuka kaos yang ia kenakan, hingga tampaklah punggung kekar berototnya. Savanna yang kesal tetap menuruti keinginan suaminya itu.


"Udah kan! sekarang jawab!!" Kesal Savanna.


Darren tersenyum, dia yang tadinya telungkup seketika membalikkan badannya. Dia meraih istrinya sehingga tubuh Savanna menindih suaminya.


"KAAKK!!" Rengek Savanna.


"Anaknya terus yang di cariin, yang buat anaknya enggak di cariin. Gimana sih!!" Gemas Darren.


Savanna terpekik saat Darren kembali membalikkan tubuhnya sehingga kini Savanna di bawa kungkungan suaminya.


"Kak, pintunya belum kekunci. Nanti Gabriel masuk." Cicit Savanna.


"Emangnya kakak mau ngapain kamu?" Ledek Darren sambil menaik turunkan alisnya.


Pipi Savanna bersemu merah, jujur saja dirinya. sangat malu saat ini. Darren yang melihat istrinya malu-malu pun tersenyum gemas, ingin rasanya dia menerkam istrinya saat ini jiga.

__ADS_1


"Sayang."


"Hm." Darren memegang dagu Savanna, kini kedua netra mereka terkunci satu sama lain.


"Apa bulan ini, kamu sudah datang bulan?" Tanya Darren dengan serius.


"Belum." Sahut Savanna dengan cepat.


Darren tersenyum, dia mendekatkan mulutnya di dekat telinga istrinya dan berbisik. "Aku harus memupuknya agar cepat jadi bukan?"


Pipi Savanna sudah seperti kepiting rebus, sangat merah. Darren berhasil membuat perutnya terasa banyak sekali kupu-kupu berterbangan.


"Kak." Lirih Savanna.


"Jangan menolakku sayang." Sahut Darren dengan cepat tak sabar memulai aksinya.


BRAK!!!


"DADDY!!? Dimana de ... Kenapa kalian seperti itu?"


BRUGH!!!


Savanna mendorong suaminya hingga terjungkal dan terjatuh dari atas tempat tidur,dia segera merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan dan menata rambutnya.


"Ga-gabriel, ada apa sayang?" Tanya Savanna dengan kikuk.


"Kenapa daddy buka baju?" Tanya Gabriel dengan tatapan bingung.


"Itu daddy kepanasan. Iya, daddy kepanasan." Sahut Savanna cepat sambil mebgibaskan tangannya.


Sementara Darren, dia tengah mengusap kepalanya yang tak sengaja terhantuk lantai.


"Di kamar ini kan ada AC nya, kita gak lagi di kampung loh." Sahut Gabriel dengan tatapan memincing.


"Gak usah kepo, udah sana keluar." Usir Darren.


"Daddy belum jawab pertanyaan Gabriel, tadi daddy ngapain!" Sentak Gabriel dengan raut wajah kesal.


"Daddy tadi lagi latihan push up."


Gabriel terdiam, tak lama dia menganggukkan kepalanya. Savanna dan Darren bernafas lega sebab anaknya bisa di perdaya.


"Ada apa?"


Tiba-tiba saja Recky datang dan penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Netranya menatap tajam Darren yang tak memakai baju.


"Daddy lagi push up di atas mamah opa, ayo kita melukis di taman saja." Ajak Gabriel sambil menggandeng tangan Recky berniat pergi dari sana.


Namun, sebelum pergi. Recky sempat menatap Darren dan berkata. "Masih siang bolong begini, tahan!" Ketus Recky.


Recky mengajak cucunya pergi dari sana, dia tidak ingin fikiran polos cucunya terkontaminasi dengan kelakuan ayahnya.


"Dih, mau siang bolong kek. Siang robek kek, yang penting ada yang halal. Ya gak yang."


"Sana sama sapi!" Ketus Savanna dan beranjak keluar kamar meninggalkan Darren yang menganga di buatnya.


____


Jangan lupa dukungannya💗💗💗.


Bagi yang beragama muslim, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga di beri kemudahan dalam menjalankannya. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2