
Gibran tengah berada di gendongan Savanna, dia memeluk leher Savanna sangat erat seakan tak mau terlepas. Sedangkan Darren, tengah menatap Xander yang meratapi kepergian ayamnya.
"Ehm ... maaf yah om, Darren ganti yah ayamnya." Bujuk Darren sambil memegang bahu Xander. Pria paruh baya itu masih berjongkok di hadapan bangkai ayamnya.
"Om sayang banget ama si kukur, malah mati hiks ... Gibran ... Gibran. Mau marah ya cucu sendiri, mau sabar tapi ayam langka." Lirih Xander.
Darren beralih menatap Savanna, Savanna hanya bisa menatapnya memelas. Sebab Gibran juga tidak tahu jika obat nyamuk bisa membuat ayam XAnder mati.
"Adek minta maaf dulu sama kakek nak." Bujuk Savanna.
"Liat tuh, kasihan kakeknya." Unjuk Savanna.
Gibran mengangkat kepalanya, netranya memperhatikan Xander yang menatap sedih ayamnya.
Savanna mencoba menurunkan Gibran, beruntung bocah itu tidak menolak dan kini mendekati kakeknya.
"Kakek solly yah."
Xander hanya melirik sejenak dan kembali melihat ayamnya.
"Nanti dedek minta opa ganti kan." Cicitnya sambil memainkan ujung bajunya.
"Harus! opamu harus gantikan ayam kakek!"
"Yaudah, kakek na janan nanis. Nanti dedek minta opa belikan, iya kan daddy."
Gibran menatap Darren meminta persetujuan, akan tetapi daddy nya itu tidak mengiyakan dan malah berkata yang membuatnya seketika melototkan matanya.
"Yang salah kan dedek, harusnya dedek yang ganti kan?" Iseng Darren.
"Loh, gunana dedek punya opa cama daddy apa kalau nda bica balikin ayam kakek?"
Darren menahan tawanya, begitu pun dengan Xander. Mungkin saja saat ini Recky tengah merasakan telinganya panas karena sang cucu.
"Dedek yang harus balikin ayam kakek," ujar Darren.
"Daddy bica beltelol nda?"
"Ya enggak bisa, tapi daddy punya telor." Sahut Darren membuat Savanna seketika melototkan matanya.
"Yaudah, kacih kakek aja telolna."
"Kalau di kasih kakek, kamu gak punya adek Gib," ujar Darren menahan tawanya.
Gibran menatap orang sekelilingnya yang sepertinya menatap Darren mengisyaratkan sesuatu yang Gibran tak paham.
"Jangan di dengerin ucapan daddy kamu, ngawur dia itu," ujar Savanma menutup telinga Gibran.
"Hahaha, maaf om. Aku akan mengganti nya," ujar Darren.
"Harus! Besok harus ada!" Pekik Xander.
__ADS_1
Darren tertawa hambar, dia mendekati Xander yang kini telah berdiri dan merangkulnya. Dia membawa mantan ayah mertuanya itu menjauh dari Savanna dan juga putranya.
"Darren gak punya uang sekarang, nanti nunggu panen lagi yah. Sekitar 2-3 bulan lagi, gimana?" pinta Darren.
"Sebagai jaminannya, Gibran tinggal di sini aja." Ujar Darren yang mana membuat Xander seketika melepaskan rangkulan Darren.
"Ya enggak bisa, hari ini ayam om mati. Besok bisa-bisa om yang ikut ayam om, enggak! bisa darah tinggi om." Sewot Xander.
Darren melongo, dimana-mana kakek senang kalau cucunya tinggal di rumahnya. Tapi berbeda dengan Xander, dia malah kuwalahan dengan sikap Gibran yang kelewat aktif.
"Untung istrimu masih tahan Ren, om pokoknya gak tahan. Gak usah di ganti, bawa pulang anakmu." Usir Xander.
"Dedek ini bawa kebeluntungan loh! kakek halusna ceneng dedek tinggal di cini! kakek dali mamah aja ceneng dedek tinggal di lumahna!" Sewot Gibran tak terima dengan apa yang keduanya bicarakan.
"Seneng kalau ada untungnya. Bukannya untung malah buntung kakek. Udah, sekarang Gibran ikut daddy pulang yah. Kakek gak papa, kakek bisa beli lagi." Sahut Xander dengan cepat.
Akhirnya Gibran telah kembali ke di kediaman Atmajaya, dia harus kembali bersiap-siap lantaran akan kembali ke kampung.
Darren tengah pamit dengan Delia, wanita tua itu menangis saat Darren pamitan kembali ke kampung. Delia ingin putranya disini, bersamanya. Namun, Darren tak bisa terus tinggal di sini lantaran memiliki tanggung jawab lain.
"Darren janji, setiap tiga hari sekali Darren jenguk mommy. Sekarang Darren harus pulang, sawah gak ada yang urus. Doain Darren yah mom, semoga Darren bisa sukses dan banggain mommy." Ujar Darren sambil memegang tangan Delia.
Setelah berpamitan, Darren berbincang dengan Dania. Dia menitipkan Delia pada adiknya itu selama dirinya belum bisa tinggal di sini.
"Abang gak tinggal disini aja?" Sendu Dania, lagi-lagi mereka akan terpisah.
"Abang kan punya tanggung jawab, nanti abang kesini lagi kok. Jaga mommy yah, kami pamit dulu."
***
Taksi yang Darren kendarai sampai di depan rumahnya, dia langsung turun dan membereskan barang bawaannya yang ada di bagasi mobik.
Sementara Savanna, dia turun dengan Gibran yang tertidur. Sementara Gabriel, sudah turun bareng dengan Darren.
"Eh kalian udah pulang!" Seru Farah yang sepertinya baru pulang dari pasar.
Farah segera mengambil alih Gibran, dia menc1umi pipi bocah menggemaskan yang sedang tertidur pulas itu.
"Udah kangen bunda tuh sama si kembar," ujar Farah.
Savanna tersenyum, dia membuka pintu rumahnya. Walaupun rumah yang Darren berikan sangat sederhana, tapi Savanna begitu merindukan rumahnya.
Sementara di depan rumah, Darren berbincang dengan seorang bapak-bapak yang ternyata pekerja di sawahnya.
"Kemarin pak bagas sudah membawa berasnya ke kota, uangnya juga ada di pak bagas."
"Baik pak kalau gitu, nanti upahnya saya berikan besok yah." Sahut Darren.
Tiba-tiba Darren mengingat tanahnya yang haru saja dia beli, rencana dirinya akan menanam sayuran untuk di jual. Namun, melihat view yang bagus membuatnya berpikir kembali.
"Ehm pak, saya kan baru beli tanah. Kira-kira kalau di jadikan tempat wisata bagaimana yah?" Usul Darren.
__ADS_1
"Wisata apa tuh mas?" Tanya bapak tersebut.
"Wisata jembatan bambu pak, apalagi di sana viewnya bagus untuk foto-foto. Lumayan juga, buat pedagang kecil menjajakan dagangan." Jawab Darren.
"Bener sih mas, tapi modalnya gak sedikit. Kalau sampeyan punya, yah gak papa buat saja. Lumayan, kampung kita jadi ramai."
Darren tersenyum, benar apa yang di katakan bapak tersebut. Modal yang di perlukan lumayan besar. Dia harus kembali mengumpulkan dananya agar dirinya bisa membangun tempat itu.
Selesai berbincang, Darren masuk ke dalam rumah. DIa bergegas ke kamar dan mendapati istrinya yang tengah memijat kepalanya.
"Kamu sakit yang?" Tanya Darren sedikit khawatir.
"Enggak mas, mungkin aku mabuk perjalanan." Sahut Savanna dengan memaksa senyumnya.
Darren duduk di tepian kasur, dia memegang kening Savanna. Suhu tubuh istrinya biasa saja, mungkin benar jika Savanna mabuk perjalanan.
"Dari kemarin kamu pucat loh, kita ke puskesmas yah." Saran Darren.
"Enggak usah, minum jahe hangat juga nanti sembuh," ujar Savanna menolak cepat.
Darren menghela nafasnya, dia beranjak ke dapur untuk membuatkan Savanna air jahe. Tak lama dia kembali, dia meminta istrinya itu untuk meminumnya.
"Gibran mana?" Tanya Darren, pasalnya dia hanya melihat Gabriel yang tidur di sebelah istrinya.
"Di bawa bunda pulang," ujar Savanna di sela minumnya.
Darren tersenyun tipis, beruntung dia mempunyai mertua yang sangat menyayangi anak-anaknya. Oadahal, anak-anaknya hanyalah cucu sambung mertuanya.
"Kak, bisa minta tolong?" Tanya Savanna setelah menghabiskan air jahenya.
"Boleh, kenapa?"
"Aku minta jambu monyet, lagi pengen banget." Pinta Savanna dengan raut wajah pengen nya.
"Jambu monyet? emangnya ada?" Bingung Darren.
"Ada!! tapi aku gak tahu yang jual dimana." Pekik Savann.
"Terus, kakak cari dimana?" Bingung Darren.
Savanna berpikir sejenak, entah mengapa dia sangat menginginkan jambu itu. Terasa sangat menggiurkan.
"Ya .. ya enggak tahu, pokonya aku mau itu."
Seketika senyum Darren pun menjadi palsu.
______
Semoga tidak bosan yah🙃🙃🙃.
Rencana akhir bulan selesai, yang masih menunggu S2 I'm coming daddy. Sepertinya ada kalaborasi dengan ceritaku yang lainðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1