
"AAAA!!!"
Darren terbangun dam bergegas berlari, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Dia segera bergegas ke kamar mandi dan melihat istrinya yang sedang memegang alat persegi panjang di tangannya.
"Kenapa? ada apa? wc nya mampet lagi?" Tanya Darren dengan wajah bantalnya.
Savanna menunjukkan benda itu di hadapan suaminya, Darren yang melihat pun mengerutkan keningnya dan berinisiatif mengambil benda tersebut.
SET!!
Darren menyodorkan benda itu pada mulut Savanna, dirinya pikir itu adalah termometer pengatur suhu. Apalagi sejak kemarin Savanna sakit.
"KAAAAKK!!!" Pekik Savanna mengeluarkan benda itu dari mulutnya.
"Kenapa? Coba sini cek berapa derajat," ujar Darren yang masih belum mengerti situasi.
Savanna menghela nafas kasar, dia menunjukkan benda tersebut di depan mata Darren yang menunjukkan dua garis merah.
"Kak, ini apa?" Tanya Savanna.
"Termometer." Jawab Darren enteng.
"Huftt ... kakak ... ini namanya testpack."
"Terus?"
Ingin rasanya Savanna mencak-mencak saat ini, mengapa suami nya belum mengerti juga.
"Testpack buat apa?" Tanya Savanna.
"Gak tau." Sahut Darren sambil menguap.
"Testpack itu pendeteksi hamil, lihat kak. Garisnya dua." Unjuk Savanna.
Darren mengambil testpack itu, dia menganggukkan kepalanya dan mengembalikan benda itu pada Savanna. Tanpa merasa salah, Darren kembali ke tempat tidur dan memejamkan matanya.
"Udah, gitu doang? gak ada rasa seneng gitu? bahagia gitu?" Beo Savanna.
Pagi pun tiba, Darren bangun dari tidurnya. Dengan santai doa berjalan keluar kamar menuju dapur. Netranya melihat ibu mertuanya yang sedang menyuapi Gibran makan.
"Sava mana bun?" Tanya Darren sambil menuangkan air dalam teko ke gelas.
"Loh, bunda pikir dia udah pamit sama kamu," ujar Farah dengan bingung.
"Pamit kemana?" Tanya Darren lalu meminum airnya.
"Ke bidan kampung sebelah, kan istrimu hamil,"
UHUK!!
BYURRR!!!
"HAMIL?!"
Farah dan Darren sama-sana terkejut, Farah pikir Darren sudah tahu. Mungkin menantunya lelah mengurus sawah sehingga tidak bisa mengantar istrinya. Rupanya menantunya malah tidak tahu.
"Terus Sava berangkat naik apa?!" Pekik Darren.
"Naik motor sama ayah, Gabriel juga ikut kok," ujat Farah dengan linglung.
Darren menaruh gelasnya, dia beranjak ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah siap, Darren berniat menyusul istrinya.
"Mau kemana?" Tanya Bagas yang baru saja masuk.
__ADS_1
"Udah pulang yah? istriku mana?" Tanya Darren dengan nafas memburu.
"Ada tuh."
Bagas menunjuk Savanna yang sedang berjalan masuk sambil menggandeng Gabriel.
"Yang!!"
"Kamu hamil yang? beneran?! kamu hamil!!!" Pekik Darren dengan bahagia.
Savanna menatap suaminya itu datar, masih tersimpan rasa kesal saat Darren memasukkan testpack dalam mulutnya padahal testpack itu bekas air kecilnya sendiri.
"Istrimu itu ternyata hamil, pantes aja dari kemarin pengennya aneh terus." Sahut Bagas.
"Beneran yang?!" Senang Darren.
Darren memeluk Savanna, dia menc1umi kening istrinya sambil mengelus perut datar sang istri.
"Kenapa wajah kamu begitu?" Tanya Darren menyadari raut datar istrinya.
"Semalem juga udah di kasih tahu aku hamil, tapi kamunya aja yang aneh." Sinis Savanna.
Seketika Darren kembali mengingat malam tadi, dia merutuki keb0dohannya sendiri. Dia meminta maaf pada istrinya berulang kali, tapi tetap saja Savanna masih merasa kesal.
"Maaf yah sayang, beneran. AKu gak tahu kalau itu ternyata testpack. Aku gak pernah lihat soalnya, habisnya mirip termometer,"
Savanna berselonjoran di atas tempat tidur, dia ingin berisitirahat tapi suaminya terus mengikutinya.
"Udah sana kak! kesel aku kalau liat kamu!" Usir Savanna.
"Enggak, aku mau di sini jaga kamu!" KEkeuh Darren.
"Udah sana!! sawah gak ada yang ngurus!"
Savanna menyerah, suaminya sangat keras kepala. Bahkan dia pasrah saat Darren memeluk perutnya dan mengelus nya.
"Mudah-mudahan yang ini cewek yah, nanti aku pupuk biar jadi cewek." Celetuk Darren.
"Mana bisa begitu!" Ketus Savanna.
"Bisa! aku aja bisa buat anak kembar," ujar Darren tak sadar jika perkataannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Kamu pupukin juga?" Tanya Savanna dengan tatapan tajam.
"Ya iyalah kan ...,"
Darren baru menyadari ucapannya, dia menatap Savanna takut-takut sambil menyengir memperlihatkan gigi putihnya.
BRAK!!!
"KELUAR KAMU!!"
Gubran dan Gabriel yang sedang memakan kue terkejut lantaran daddy nya yang di dorong paksa keluar dari kamar lalu menutup keras pintu kamar tersebut.
"Yang." Cicit Darren.
"PUPUKIN AYAM SONO!!"
Gabriel dan Gibran saling pandang, keduanya segera beranjak sambil membawa piring menuju teras depan rumah.
***
Malam hari, seperti biasa sebelum tidur Gibran dan Gabriel akan bercerita dengan Savanna. Keduanya sangat antusaias mendengar cerita Savanna.
__ADS_1
"Dedek juga ...,"
"Abang, sekarang kan Gibran udah jadi abang. Kok dedek lagi?" Sahut Savanna dengan cepat.
Gibran mengerucutkan bibirnya kesal, dia mematap perut Savanna yang masih terlihat datar. Tangan mungilnya mengelus perut ibu sambungnya itu.
"Dedeknya lebut pocici dedek," ijar Gibran.
"Loh, kok Gibran ngomongnya gitu? bagus loh Gibran punya adek, kan bisa jadi ada temennya," ujar Savanna dengan lembut.
"Tapi dedek nda mau hiks ...,"
Savanna bingung saat Gibran menangis, dia segera meminta Gabriel memanggil Darren. Saat Darren masuk, Gibran tengah menangis sambil menyembunyikan wajahnya di perut Savanna.
"Hei, jagoan daddy kenapa?" Tanya Darren sambil membawa putranya dalam gendongannya.
Gibran tak menjawab, dia memepuk leher Darren sambil menumpahkan apa yang dia pendam sedari tadi.
Savann menatap Darren dengan raut wajah memelas, Darren pun menganggukjan kepalanya mengisyaratkan jika dia akan menenangkan Gibran.
Darren membawa Gibran ke depan rumah, dia menimang putranya di temani dengan angin malam.
"Sudah tenang?" Tanya Darren saat Gibran tak lagi menangis, hanya sisa sesenggukan.
Gibran mengangguk, dia menarik kaos yang Darren kenakan untuk menge lap ingusnya. Darren hanya bisa sabar, tak ingin membuat Gibran kembali menangis walau batinnya yang menangis. Padahal, dirinya baru saja mengganti kaos.
"Coba cerita sama daddy, dedek sedih kenapa?"
Darren duduk di krusi teras, sambil memandang putranya yang bersandar nyaman di d4d4nya.
"Dedek cedih," ujar Gibran.
"Sedih kenapa? kan daddy udah kasih Gibran temen buat main," ujar Darren.
"Daddy kenapa taluh dedekna di pelut mamah?" Tanya Gibran.
"Loh, harusnya taruh dimana dong? kan daddy suntiknya ke perut mamah, emang ke perut siapa lagi? Istri daddy kan mamah " Bingung Darren.
Ginran yang kesal memukul d4d4 Darren, tak terasa sakit. Hanya terasa geli bagi Darren. Tapi dia penasaran, mengapa putranya terlihat marah padanya.
"Kalau daddy mau puna anak lagi, taluh di pelut daddy aja! kenapa halus di pelut mamah! nanti kalau mamah kayak mommy gimana?! dedek nda mau di tindal mamah! cama kayak di tindal mommy!!"
Gubran kembali menangis, Darren kembali memeluk Gubran dengan penuh kasih. Kini, dia mengerti mengapa putranya menangis saat mendengar berita kehamilan Savanna.
"Kalau di perut daddy gak bisa, gak ada tempatnya nak. Keluar lewat mana nanti, masa belakang?" Canda Darren.
"Gibran jaga mamah yah, doain supaya mamah gak seperti mommy. Gibran kan anak baik," ujar Darren memberi pengertian sederhana pada putranya itu.
"Nanti kalau mamah ikut mommy gimana? kacian nanti dedeknya."
Darren tersenyun tipis, ketakutan Gubran membuatnya tersentuh. Sebegitu takutnya putranya kehilangan ibu sambungnya? rasa trauma yang putranya alami mampu membuatnya teriris.
Sedangkan di jendela, Savanna menyaksikan semuanya. Dia sampai terharu dengan pemikiran polos putranya. Sebegitu sayangnya Gubran pada dirinya, sehingga putranya memikirkan nyawanya.
Savanna menghapus air matanya yang sempat turun, dia bergegas menghampiri Darren dan Gibran. Lalu, tangannya terangkat mengelus rambut lebat putranya.
"Mamah akan kuat, Gibran percaya sama mamah?"
Gubran menatap Savanna, dia mengangguk sambil merentangkan tangannya. Savanna dengan cepat membawa Gibran ke gendongannya, dia memeluk anak sambungnya dengan erat.
"Mamah jangan ikut mommy, dedek macih butuh mamah."
_____
__ADS_1
Double up nih, jangan lupa dukungannya🥰🥰🥰😍😍