Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
64


__ADS_3

Axel mengajak semua putranya untuk menikmati liburan di Indonesia, mereka akan pergi ke mall yang terkenal disini.


"Ayah adek bica jalan diliii nda mau gendong!" Rengek Kenzo saat Axel akan menggendongnya menuju mobil.


"Baiklah, jangan berlari baby!" Seru Axel saat baru menurunkan Kenzo dan anak itu sudah berlari pergi.


Axle menggelengkan kepalanya, putranya sangat aktif. Bahkan dia sampai kewalahan, tetapi dia senang melihat keaktifan Kenzo.


"Kenzo gak curiga kan yah?" Tanya Kevan yang entah kapan berada di samping ayahnya.


"Ya tidak, tapi apa kamu yakin temanmu akan bisa menangani Kenzo?" Ragu Axel.


Kevan berniat membawa Kenzo ke rumah sakit tempat dimana temannya bekerja, dia akan konsultasi dengan temannya itu tentang keadaan Kenzo.


"Aku akan menyusul adik-adik." Ucap Kevan dan meninggalkan ayahnya.


Axel berbalik, tetapi dia terkejut saat melihat Alex yang berada di belakangnya.


"Kakak mengejutkanku!" Pekik Axel sambil memegangi dadanya.


"Mau kemana kamu bawa Kenzo?" Tanya Alex dengan dingin.


"Apa urusannya dengamu kak? Dia kan putraku, terserah aku mau bawa dia kemana." Kesal Axel dan hendak meninggalkan Alex saat itu juga. Namun, perkataan Alex mampu membuatnya tercengang.


"Yakin dia anakmu?" Tanya Alex dengan suara dinginnya.


Axel mendadak terdiam, detak jantungnya berpacu dengan cepat. Banyak dugaan yang bersarang di benaknya, apakah Alex tau sesuatu tentang Kenzo.


"Aku yang buat, tentu aku tahu. Apa aku juga harus menceritakan bagaimana proses buatnya juga?" Ujar Axel sambil membalikkan badannya.


"Ck!" Decak Alex kesal.


"Lagian kak, kenapa kau begitu ikut campur dengan keluargaku? Kenzo putraku, bukan putramu! Ingat itu kak!"


Setelah mengatakan itu, Axel pergi dari hadapan Alex. Dari pada berlama-lama menghadapi kakaknya itu, lebih baik dia menyusul istrinya yang masih bersiap.


Alex mengepalkan tangannya melihat kepergian kembarannya, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Halo Jon, kamu selidiki kejadian 5 tahun lalu di rumah sakit XX. Hari dimana istri kembaranku melahirkan, aku minta data itu segera." Titah Alex dan mengakhiri telponnya.


Alex pergi dari sana, dia tak tahu jika Arcio berada di belakangnya sedari Axel pergi.


"Heh curiga juga ternyata." Gumam Arcio.


Arcio menatap tangannya, terdapat beberapa helai rambut berwarna cokelat yang berada di sebuah kantung kecil.


Flashback Off.


Arcio akan masuk ke kamarnya, tetapi dia melihat Kenzo yang keluar dari kamar orang tuanya dengan cara mengendap-ngendap sambil memegangi botol infus.


"Mau kemana bocah itu?" Gumam Arcio.


Arcio pun mengikuti Kenzo, ternyata anak itu akan masuk ke dapur. Arcio pun masih memantaunya, dia melihat Kenzo yang berusaha membuka kulkas.


"Cucah banet ciihhhh!! Eemmmmghhh!!!" Kenzo berusaha membukanya, tetapi kulkas itu tak kunjung terbuka.


"Apa kau lapar?" Seru Arcio saat menyadari jika bocah gembul itu tengah mencari makanan.


Kenzo terperanjat kaget, dia membalikkan badannya dan melihat Arcio dengan tatapan takut.


"Jangan takut, abang akan membantumu." Ujar Arcio sambil berjalan mendekat.


Arcio membuka kulkas, dia mengambil susu kotak dan juga biskuit cokelat. Setelahnya dia menutup kulkas kembali dan menatap ke bawah dimana Kenzo berdiri sambil memperhatikan jajan yang berada di tangan Arcio dengan tatapan berbinar.


"Kamu mau? Ayo sini sama abang." Ajak Arcio dan membawa Kenzo ke atas meja makan.


Dia mendudukkan Kenzo disana, sementara dirinya duduk di kursi berhadapan dengan Kenzo.


"Kenapa malam-malam keluar?" Tanya Arcio sambil menusuk susu kotak itu dengan seditan.


"Lapal," ujar Kenzo dengan fokus menatap susu kotak.


Arcio memberikan susu kotak itu, Kenzo dengan senang hati meminumnya.


"Tokatna?" Tanya Kenzo melepas sedotannya.


"Cokelat? Ini?" Tanya Arcio sambil memegang biskuit coklat itu.


Kenzo memgangguk antusias, melihat itu Arcio mengangkat satu sudut bibirnya menyeringai dalam.


"Oke, abang akan kasih biskuit cokelat ini dengan syarat ...,"


"Panggil abang, abang Arcio baby. Coba, abang ingui mendengarnya." pinta Arvio.

__ADS_1


Kenzo mengerutkan keningnya, dia menatap wajah datar Arcio yang berusaha untuk lembut.


"Abang capa tadi?" Tanya Kenzo.


"Arcio," ujar Arcio kembali.


"Abang Cio!" Seru KEnzo.


Arcio tersenyum, tak apalah dia di panggil Cio. Anggap saja panggilan dari adik tersayangnya.


"Oke, abang akan bukakan ini untukmu." Ujar Arcio sambil tersenyum lembut.


Arcio membuka bungkus biskuit itu, lalu dia menyerahkan nya pada Kenzo. Kenzo menerima dengan baik, dia memakannya dengan hati-hati takut mengenai infusnya.


Arcio membantu memegang botol infus itu, dia juga memperhatikan setiap gerakan Kenzo agar infus itu tidak macet.


"Kenapa kamu di infus? Bukankah kau tidak sakit?" Tanya Arcio.


"Abang lagi telcangkut otakna, jadi cuntik Ken." Jawab Kenzo di sela makannya.


"Apa? Tersangkut otaknya? Hahahaha!!!" Arcio tertawa melihat kelucuan Kenzo, bahkan Kenzo sampai menghentikan kunyahannya dan menatap Arcio dengan kening mengerut.


"Kenapa teltawa?" bingung Kenzo.


Arcio menghentikan tawanya, dia menyisir rambut tebal kecoklatan milik Kenzo dengan jari tangannya. Namun, tak sengaja dirinya menarik rambut Kenzo sehingga membuat sang empu kesakitan.


"Aww!!"


"Eh maafkan abang, rambutmu kusut," ujar Arcio.


Arcio akan membuang rambut Kenzo, tetapi tangannya terhenti ketika otaknya memikirkan sesuatu.


Flashback Off.


"Aku akan melakukan tes DNA dengan rambut ini, jika terbukti Kenzo adalah adikku. Lalu, dimana anak om Axel yang asli?" Gumam Arcio.


Arcio pun pergi dari sana, dia harus bersiap mendampingi Alex ke kantor hari ini.


***


"Kau mau kemana?" Tanya Alex ketika dia dan Arcio selesai meeting dengan klien.


Arcio yang berniat akan pergi dari ruang rapat pun mengurungkan niatnya.


"Urusan apa? Ingat, mommy meminta kita pulang untuk makan siang di rumah." Larang Alex.


Arcio menatap kesal Alex dia berniat akan ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.


"Aku akan pulang jam 2 nanti, aku sudah bicara dengan mommy." Jelas Arcio.


Arcio kemudian pergi tanpa menunggu Alex kembali berbicara, dia harus segera pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, Arcio mencari ruangan dokter. Setelah menemukan, dia mengetuk pintu dan menunggu sahutan dari dalam.


"Masuk!"


Cklek!


Terlihat pria berseragam dokter menatap Arcio dengan dahi berkerut.


"Arc?"


"Om Rendra, selamat siang. Maaf mengganggu waktunya," ujar Arcio.


Arcio berjalan mendekati Dokter bernama Rendra itu.


"Duduk Arc, tumben kamu menemui om. Apa kau perlu sesuatu?" Tanya Rendra.


Arcio duduk dan menyilangkan kakinya, dia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan memberikannya di hadapan Rendra.


"Apa ini?" Tanya Rendra sambil mengambil benda tersebut.


"Aku mau om melakukan tes DNA terhadap kedua sample tersebut," ucap Arcio.


"Tapi ini rambut siapa?" Tanya Rendra menatap Arcio dengan tatapan bingung.


"Rambut daddy dan sepupuku." Jawab Arcio.


Rendra membekap mulutnya, dia menatap Arcio dengan tatapan tak percaya.


"Apa kau curiga Alex selingkuh dengan adik iparnya?" Beo Rendra.


"Ck, bukanlah om! Aku curiga jika Kenzo adalah adik bungsuku. Wajahnya mirip dengan mommy, gelagat om Axel juga aneh ketika aku mendekati Kenzo. Seperti ada hal yang dia sembunyikan, kecurigaanku semakin bertambah saat aku mencurigai jika Keisya bukan anak kandung daddy." Terang Arcio.

__ADS_1


"Kenzo ... Anak bungsu Axel? Aku memang belum pernah melihatnya, dan bagaimana bisa kamu mengatakan jika Keisya bukan adik kandungmu?" Heran Rendra.


"Gampang saja, tidak ada kemiripan di antara kami dengannya. Hati ku mengatakan jika Kenzo lah adikku," Ujar Arcio.


Rendra mengangguk, dia tak mengerti tentang keluarga temannya Alex. Tapi satu hal yang ia tahu, temannya itu akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


"Yasudah, om akan melalukan tes DNA pada daddy mu dan adikmu. Tapi ... Apa ini rahasia?" Bisik Rendra dengan mendekatkan wajahnya pada Arcio.


"Ya tentu saja," ujar Arcio dengan santai.


"Apa om dapat bayaran tutup mulut?" Tanya Rendra dengan menaik turunkan alisnya.


Arcio berdecak sebal, dia merogoh saku dalam jas nya dan mengambil sebuah kunci.


Hap!


"Mobil Bentley, sudah ada di parkiran apartemenmu." Ucap Arcio sambil melempar kunci tersebut pada Rendra dan di tangkap baik oleh pria tersebut.


"Ku pastikan rahasia ini akan aman," ujar Rendra dengan senyum mengembang.


Arcio bangkit dari duduknya, dia membenarkan jasnya dan pergi begitu saja dari ruangan Rendra.


***


Axel dan anak-anaknya sudah kembali dari luar, Kenzo berjalan masuk ke dalam rumah sambil di gandeng oleh Romeo.


"Ayah memutuskan untuk kembali ke jerman besok, bagaimana?" Tanya Axel pada anak sulungnya.


"Kalau bisa, malam ini saja. Aku tidak betah disini," ujar Kevam.


"Benar, aku juga tidak betah." Sahut KEano.


Romeo dan Kenzo tak memperdulikan. Mereka, keduanya masuk ke dapur untuk mencari jajan.


"Mas, lihat Kenzo. Sepertinya Romeo mengajaknya makan jajan, sebentar lagi sudah waktunya makan siang!"


Mendengar titah istrinya,Axel langsung bergegas ke dapur. Langkahnya terhenti ketika melihat Farh menggendong putranya sambil memberikan sebuah agar.


"Makanlah, sedikit saja karena sebentar lagi akan masuk waktu makan siang." Ujar Fara dengan lembut.


Kenzo menerimanya, dia makan agar itu dengan pelan. Sedangkan Romeo, dia sudah duduk di kursi dengan soda di tangannya.


"Eh adik ipar, maaf. kenzo ku berikan Agar, dia sepertinya lapar. Makan siang masih lumayan lama matangnya, jadi biar dia mengganjal perutnya dulu," ujar Farah yang menyadari keberadaan Axel.


Ada rasa takut dalam hati Axel, takut jika Farah dan Kenzo menyadari ikatan mereka. Bagaimana pun, ikatan batin seorang ibu dan anak sangat lah kuat.


"Berikan Kenzo padaku, kau bisa mengerjakan hal lain." Pinta Axel sambil merentangkan tangannya pada sang putra.


"O-oh begitu, baiklah." Ragu Farah.


Saat Fara akan menyerahkan Kenzo pada Axel, bocah gembul itu melengos kan wajahnya dari sang ayah. dia seperti enggan di gendong oleh Axel.


"Ken." Tekan Axel.


"Ken malah cama ayah, tadi bawa Ken cuntik. Ayah cama abang cama aja, telcangkut otakna." Kesal Kenzo.


"Baby, itu kan buat kebaikan kamu. tadi di suntik vitamin biar besok pagi kita bisa pulang." Bujuk Axel.


Mendengar kata pulang membuat Fara terkejut, dia menatap adik iparnya itu dengan tatapan sendu.


"Apa kau tidak bisa lebih lama tinggal disini?" Tanya Farah.


"Maaf kak, sebentar lagi Kevan akan menjalankan Koasnya. Dan Keano, dia sedang menjalankan bisnis cabang perusahaan yang baru aku rintis. pekerjaanku di sana sedang menumpuk, kami harus kembali."


Farah mendadak sedih, dia mengelus rambut kecoklatan Kenzo. Keberadaan KEnzo membuat kesedihannya terhadap Keisya sedikit hilang.


"Keberadaan Kenzo membuat kakak tenang Xel, tingkah nya yang menggemaskan membuat kesedihan kakak berkurang. Apa tidak bisa lebih lama kamu tinggal disini?" Tanya Fara dengan sendu.


"Maaf kak, kakak tahu sendiri bagaimana kalian kehilangan Keisya. Aku tidak ingin putraku mengalami hal yang sama, ketiga anakku bisa bertarung. tapi Kenzo? Untuk mandiri saja dia masih belum bisa. Maaf kak, lebih baik aku membawa Kenzo ke kamar sampai waktu makan siang tiba."


Axel tak lagi meminta Kenzo, dia mengambil paksa Kenzo dan membawanya kembali ke kamarnya. Farah sedikit terkejut dengan perlakuan Axel yang seperti tadi.


"Sayang!"


Lamunan Farah buyar karena panggilan Alex, dia menatap suaminya yang baru saja kembali dari kantor.


"Mas, kamu sudah pulang?"


"Ya sudah dari tadi, kamu terus saja bengong. Ada apa? Kamu masih memikirkan soal Keisya?"


Farah menggeleng, dia mendekati suaminya dan membantunya membuka jasnya.


"Bukan, bukan soal Keisya. tapi soal Kenzo, entah mengapa aku merasa dekat dengan anak itu. Dia anak yang sangat menggemaskan," ujar Farah dengan sendu.

__ADS_1


__ADS_2