Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Ekstra part


__ADS_3

Seperti biasa pagi-pagi Darren memantau data usahanya, karena mendekati liburan akhir tahun. Mereka mempersiapkan segala hal karena khawatir pengunjung akan membeludak.


"Semua kios yang kita bangun sudah penuh Pak, sehingga pedagang yang tidak kebagian menjajakan dagangan masuk ke dalam perkebunan. Membuat pedagang Kios mengalami penurunan pemasukan." Ujar anak buah Darren memberikan laporan.


Darren mengangguk-anggukan kepalanya, pedagang kecil memasuki area perkebunan teh membuat banyaknya sampah plastik yang berserakan. Baik pengunjung yang sengaja membuangnya, atau bahkan pedagang itu sendiri. Maka darinya, Darren membuat kios-kios pedagang agar tak menimbun sampah di kawasan wisata.


"Tanah pak Baron apakah masih di jual?" Tanya Darren mengingat tanah milik warga kampungnya yang terletak bersebelahan dengan tanah miliknya yang kini menjadi tempat wisata.


"Masih pak, tapi karena kampung kita sudah ramai di kunjungi karena wisata yang ada. Membuat harga tanah disini menjadi naik pak." Darren lagi-lagi harus memikirkannya, bukan hal mudah membangun tempat wisata di kampung istrinya. Memang penghasilan nya banyak, tapi banyak juga pertimbangan yang harus dia pikirkan.


"Yasudah Pak Haikal tolong bicarakan ini dengan pak Baron yah. Siapa tahu harganya bisa di nego. Saya justru kasihan kalau pedagang itu kita larang berjualan, biarlah kita beli tanah itu dan bangun tempat lagi untuk mereka berjualan. Demi kenyamanan bersama."


Pak HAikal setuju, Darren pamit pulang karena hari sudah siang. Dia akan berjalan kaki ketika pulang karena jaraknya yang menurutnya tak terlaku jauh.


"AAA!!! TOLONG!!"


Darren mengalihkan pandangannya, netranya melihat seorang gadis SMA yang sedang di kejar oleh dua orang preman.


Gadis itu melihat Darren dan berlari ke arahnya, dia bersembunyi di balik tubuh Darren sehingga kedua preman itu menatap sangar pada Darren.


"Bang! tolongin bang! aku takut!" Pekik Gadis itu.


Darren tak menjawab, dia menatap kedua preman tadi dengan tatapan datar.


"Apa kalian tidak ada kerjaan sehingga mengganggu seorang gadis?" Tanya Darren.


"Halah bac0t! Diam lu! lu gak tau apa-apa! siniin gadis itu! dari pada gue gibeng lu!" Seru salah satu preman itu.


Darren tetap melindungi gadis itu, hingga preman ituarah dan mulai memukul Darren. Darren membalasnya, ilmu bela dirinya ternyata dapat ia gunakan di kampung untuk melindungi orang.


Gadis itu tepukau melihat betapa lihainya Darren menghajar kedua preman itu tanpa ampun.


"Keren banget tuh cowok." Gumamnya.


Kedua preman itu kabur karena kalah, Darren menepuk tangannya yang kotor.


"Kamu sudah aman, saya pulang dulu." Pamit Darren.


"Eehh!! tunggu!" Gadis itu memegang tangan Darren.


Darren menatap tangannya yang di pegang gadis yang dirinya tolong, dia oun menepisnya dengan cepat dan menatapnya tajam.


"Tolong jaga sopan santun kamu!" Ketus Darren.


"Ye elah bang ketus amat. Cuman mau ngucapin makasih, kenalin nama saya Adara." Gadis itu menyodorkan tangannya pada Darren.


Darren menatap tangan Adara tanpa berniat membalasnya, Adara yang kesal kembali menarik tangannya.


"Sama-sama." Cuek Darren dan berlalu pergi.


Adara masih kesal dengan sikap Darren, tapi dia senyum-senyum sendiri mengingat pria yang sudah menolongnya.


"Kayaknya dia warga sini yah, aaa ganteng banget. Mudah-mudahan belum punya pacar." Gumam Adara.


Sementara Darren, dia pulang dengan baju kusut dan kotor di karenakan dirinya memakai kemeja putih.


"Loh kak. Abis dari mana? katanya dari kantor wisata? kok kayak habis ke sawah?" Sambut Savanna sambil menggendong Arisha.


"Tadi ada anak sekolah yang di isengin preman, kakak bantu nolongin." Jawab Darren.


"Dad! dad! dad!"


Darren menatap putrinya yang berceloteh riang, putrinya merentangkan kedua tangannya pada Darren meminta agar di gendong.


"Uuhhh princess daddy, daddy lagi kotor sayang. Daddy mandi dulu yah." Tolak Darren secara halus.

__ADS_1


"Andi?" Tanya Arisha.


"Iya, mandi dulu. Arisha udah mandi?" Putrinya itu mengangguk cepat hingga membuat kunciran di tengah kepalanya ikut bergoyang.


"Iihh pengen daddy kiss ...." Darren memajukan bibirnya, tapi Savanna dengan cepat menempelkan pipinya membuat Arisha melengkungkan bibirnya kesal karena tak dapat kehilangan dari daddynya.


"Hiks ... ekheee ...."


Nah kan. Nangis sudah Arisha membuat Darren dan Savanna tertawa keras.


"Daddy mandi dulu." Pamit Darren buru-buru mandi sebelum tangisan putrinya semakin keras.


Savanna berusaha menenangkan Arisha akibat kejailannya, dia membawanya berjalan ke depan rumahnya dengan menimangnya.


"Eh Savanna, kenapa nangis Arisha nya?" Tanya ibu-ibu yang lewat.


"Oh biasa bu, pengen minta gendong daddy nya. Tapi daddy nya lagi mandi." Ujar Savanna.


"Oalah, sayang banget yah sama daddy nya." Balasnya kembali.


Savanna hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu-ibu itu.


"Eh Savanna, hidup kamu kan sekarang udah enak nih. Punya suami ganteng di tambah mapan, hati-hati loh. Pelakor lagi merajalela, apalagi sekarang laki-laki mah nyarinya yang lebih muda." Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tak senang dengan kebahagiaan irang lain, selalu membuat bara api yang mana membakar orang yang menjadi lawan bicaranya


"Enggak ah bu, suami saya orangnya setia." Bantah Savanna cepat.


"Heee kanu itu jangan gampang di bodohi di balik kata setia, buktinya itu si Kanaya suaminya di bilang setia. Eh nikah lagi sama perempuan lebih muda dari si Kanaya, saran ibu mah kamu lebih hati-hati. Apalagi kamu udah melahirkan, mesti badannya gak sebagus dulu pas masih gadis."


Kanaya sedang menjadi gosip hangat di kampungnya dimana suaminya menikah lagi dengan gadis kampung sebelah.


Savanna menyadari perubahan tubuhnya, sedikit lebih gemuk. Tiba-tuba Savanna merasa insecure, padahal wanita itu tetap terlihat cantik walau tubuhnya sedikit berisi.


"Eh Sav, ibu pulang yah. Coba kamu dengerin kata-kata ibu, jaga suami kamu." Ujar ibu itu lalu pergi begitu saja setelah membuat Savanna overthingking pada dirinya sendiri.


"Daddy sudah mandi, ayo sini siapa yang mau minta gendong!" Seru Darren.


Arisha melompat senang di gendongan Savanna, dia merentangkan tangannya pada Darren dan di sambut baik oleh pria itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Darren menyadari perubahan sikap istrinya.


"Kak, aku mau tanya sama kamu!"


"Heng?!" Darren terkejut dengan perubahan ekspresi istrinya dengan sebelum ia mandi.


"Kakak udah bosan yah sama aku? badan aku udah melar, muka aku tambah tua. Jujur! kakak udah bosan yah sama aku?!"


Darren menganga, tidak ada angin tidak ada hujan kenapa istrinya bertanya hak yang memicu pertengkaran.


"Ya enggak lah sayang, mana bisa kakak bosan sama kamu. Terus, siapa bilang kamu udah gak cantik lagi. Malahan kamu tambah se ...,"


"Aku kan gak bilang kalau aku gak cantik! tapi kakak ... tau ah aku sebel sama kakak!!" Omel Savanna.


Darren menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung dengan wanita yang sudah marah seperti ini.


"Belakangan ini juga kakak jarang sentuh aku! biasanya biarpun pulang jam 12 malem, tetep minta jatah."


"Yang ...,"


"Aku belum selesai ngomong kak!"


Darren meneguk ludahnya kasar, dia menatap was-was sekitar. Suara istrinya lumayan kencang. Takut tetangga atau orang lewat mendebar pertengkaran mereka.


"Kakak gak butuh aku lagi atau gimana? atau udah ada yang lain? yang lebih langsing, yang lebih bikin kakak puas?"


"Sayang, kok ngomongnya gitu? udah yah, kita bicarain di dalem, malu sama tetangga." Bujuk Darren dengan lembut.

__ADS_1


Savanna melengos masuk ke dalam lebih dulu, Darren mengusap d4d4nya sabar menghadapi tingkah istrinya yang sangat aneh.


Di dalam, Savanna masih ngambek. Dia hanya berdiam diri di kamar tanpa mau keluar Walaupun Darren sudah membujuknya.


"Mamah kenapa dad?" Tanya Gibran ketika tak melihat adanya Savanna di ruang makan.


"Daddy gak tahu, daddy titip adek yah. Mau lihat mamah dulu," ujar Darren memberikan Arisha yang sedang memakan biskuit bayinya.


Gibran menerima adiknya itu dan membawanya ke kamarnya untuk mengajaknya bermain. Untunglah Arisha tak rewel bersama kakaknya kali ini dan fokus dengan biskuitnya.


Darren memasuki kamar, dia lihat istrinya itu sedang tiduran sambil memunggunginya. Perlahan Darren mendekat dan duduk di tepi ranjang, dia menatap Savanna yang ternyata tak tidur.


"Kamu kenapa? kok tiba-tiba sensitif begitu? apa kamu ada denger perkataan orang?" Tanya Darren dengan lembut.


Savanna hanya diam, membuat Darren semakin serba salah. Darren juga ikutan diam, hingga terdengarlah suara orang menangis.


Hiks ... hiks ...


Darren terkesiap melihat istrinya menangis, dia mengusap rambut istrinya dengan menatapnya lembut.


"Ada apa? coba cerita sama kakak? kamu kenapa ngomong kayak tadi hm?"


"Aku tuh kesel sama kakak! dari kemarin pulang cepet, tapi kakak gak pernah sentuh aku. Sebelumnya biarpun pulang tengah malam. KAkak tetep bangunin aku buat ngelayanin hak kakak. Tapi sekarang enggak. Kakak udah bosen kan sama aku? iya aku tahu aku udah gak kayak waktu sebelum melahirkan Arisha, tapi setidaknya kakak ngomong. Jangan kayak gini hiks ...,"


Darren tersenyum geli, ternyata istrinya sedang overthingking padanya. Dia menarik tangan Savanna dan menyandarkan tubuh istrinya pada d4d4 bidangnya.


"Oh jadi karena jatah? Maaf yah, kakak pikir kamu capek ngurus Arisha dan si kembar. Apalagi Arisha lagi aktif-aktifnya, kakak cuman beri kamu sedikit waktu untuk beristirahat. Setidaknya kamu tidak merasa lelah karena harus melayani kakak."


Savanna menutup wajahnya malu, ternyata alasan itu yang membuat suaminya urung dengan hak nya.


"Tapi kalau kamu mau, ya hayo! sekarang nih? kakak siap kok!" Tantang Darren.


"Kakak." Rengek Savanna dengan malu.


....


Di kamar Gibran, karena lelah menjaga adiknya akhirnya Gibran tertidur lelap di karpet. Sedangkan Arisha yang melihat abangnya tidur memanfaatkan kondisi itu untuk keluar kamar.


Bocah gembul cantik itu berjalan tertatih keluar kamar, melihat pintu utama yang terbuka membuatnya semangat berjalan cepat keluar.


Namun, saat sampai di ambang pintu. Tiba-tiba tubuhnya melayang, kepalanya menolah dan mendapati Gabriel menatapnya.


"Mau kemana? abang Gibran tidur malah mau keluar yah? lupa kalau abangnya ada dua huh?" Ledek Gabriel membuat Arisha cemberut di buatnya.


"Lagian daddy sama mamah kemana ini?" Gumam Gabriel.


Dengan menggendong Arisha, Gabriel akan berjalan menuju kamar orang tuanya.


Tok!


tok/


"Dad! Arisha ngantuk nih!" Seru Gabriel.


Sedangkan di kamar, Darren mengusap kasar wajahnya. Menatap istrinya yang berada di bawahnya.


"Sana kak, ambil Arisha nya."


"Nanggung yang."


"Nanti malam bisa. Nanti keburu nangis anaknya, udah cepet!"


Mau tak mau Darren mengambil putrinya itu setelah dia mengenakan pakaian lengkapnya.


"Sakit kepalaku." Lirih Darren.

__ADS_1


__ADS_2