Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
???


__ADS_3

Axel mengangguk senang, beruntung putra-putranya mudah di bujuk. Sebenarnya dia berat jika kembali ke kediaman Matteo, tetapi dirinya merasa kasihan dengan kakaknya yang sepertinya merasa sangat terpukul atas meninggalnya putri bungsu mereka.


"Oh iya, kenapa adek belum bangun juga?" Tanya Deva saat suasana sudah membaik.


"Adek baru tidur jam tiga tadi bun, tadi juga di pasangin nasal Cannula sama abang," ujar Romeo.


"Loh, kenapa?" Bingung Deva.


"pernafasannya kurang baik," ujar Kevan dengan cuek.


Romeo baru ingat jika mereka sempat lari-larian, mungkin karena itu pernafasan adiknya jadi terganggu.


"Malam ini aku akan menyuntikkan dia vitamin, sebelum kita berangkat aku harus memastikan kondisinya dulu," ujar Kevan.


"Sayang, kau bangunkan dia. Takutnya dia akan begadang malam nanti, besok pagi kita harus berangkat," ujar Axel.


Deva mengangguk, baru saja dia akan bangkit. Sosok yang akan dia temui tengah berdiri di ujung tangga sambil memeluk guling kesayangannya dan menatap tajam kearah mereka walau tatapan itu terkesan sangat lucu dan menggemaskan.


Seperti yang di rencanakan tadi malam, pagi ini mereka sudah siap untuk berangkat.


"Eyang cantik sama eyang tampan mana yah?" Tanya Kenzo sambil celingak-celinguk mencari kedua eyangnya.


Kenzo sudah beberapa kali di beri masukan jika memanggil opa Axel dengan sebutan kakek buyut. Namun, putranya itu lebih memilih memanggil keduanya eyang.


"Mereka sudah terlebih dahulu pergi, pakai jaketmu sebelum abangmu marah." Titah Axel.


Kenzo mengambil jaketnya dari tangan sang ayah, dia memakainya dengan bantuan Axel. Setelah itu Axel memakaikan topi hangat, dan membawa si bungsu ke gendongannya.


"Sudah semuanya? Romeo singkirkan raut jelekmu itu, jika kau ingin tinggal maka tinggalah disini." Ujar Axel menyapa keluarganya dan kesal saat menatap putra ketiganya yang cemberut.


Mereka pun menaiki jet, masing-masing mengambil tempat duduk. Kecuali Kenzo yang masih berada di pangkuan sang ayah.


"Mana pacifier adek?" Tanya Axel pada istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Sebentar." Sahut Deva.


Deva mengambilkan pacifier milik Kenzo dari dalam tas putranya itu, setelah dapat dia memberikannya pada sang suami.


"Ayah ... Kenzo takut hiks ... Kenzo takut jatuh hiks ... Takut,"


Axel menduga jika putranya akan rewel, tak pernah ia membawa Kenzo pergi menggunakan pesawat apalagi jet. Ini pertana kalinya Kenzo menaiki jet milik ayahnya.


"Ssyuttt, tidur yah. Sayang, susu adek,"


Deva memberikan botol susu, Axel pun mengambilnya dan memasukkan ujung dot itu pada mulut si kecil. Sedangkan pacifier yang seperti kalung itu, iya kalungkan pada leher putranya.


Kevan sedang sibuk dengan suntikannya, dia menyuntikkan suntikan itu pada sebuah botol kecil berisi cairan bening.


"Cairan apa itu bang?" Tanya Romeo yabg penasaran.


"Vitamin adek," ujar Kevan dengan singkat.


"Gak bisa pake obat apa bang? Suntik mulu perasaan," ujar Romeo dengan pelan.


Kevan tak menanggapi, dia hanya melakukan tugasnya untuk sang adik. Obat yang dia suntikkan pun berasal dari resep dokter dengan dosis normal.


Kevan bangkit dari duduknya, dia mendekat pada sang ayah yang tengah menepuk punggung Kenzo yang tengah bersandar padanya.


Beruntung Kenzo membelakanginya sehingga bocah itu tidak tahu kedatangannya.


Kevan menatap sang ayah, Axel yang mengerti pun menurunkan jaket yang Kenzo gunakan. Dia menyingkap kaos lengan pendek Kenzo dan menahannya.


Kevan mulai menempelkan kapas alcohol dan membersihkan lengan adiknya, mungkin karena merasa dingin Kenzo melepaskan dotnya dan menatap ke arah samping.


"HUAAA!!! HUAAA!! NDAAAA!!!"


Tanpa berlama-lama lagi, Kevan menyuntikkannya pada lengan putih sang adik. Axel menahan berontak Kenzo agar jarum suntik itu tidak melukai dirinya.


"Sudah sudah sudah, cup ... Pinternya bungsu ayah." Seru Axel saat Kevan sudah menarik kembali suntikannya.


"Nakal! Hiks ... Abangna nakal! Cuntik cuntik telus! Dacal Doktel nda laku!" Histeris Kenzo.


Axel kembali membenarkan jaket putranya, dia pun memasukkan ujung dot itu pada mulut sang putra.


"Ehm hiks .. Hiks ... Abwang na kal! Hiks ...,"


Axel dan Deva terkekeh, walau Putranya tengah menyusu tetapi belum selesai memarahi sang abang.


Selama perjalanan, Kenzo tertidur pulas bahkan ketika jet terguncang anak menggemaskan itu tetap pulas.


"Lepaskan!" Sentak Keano pada Romeo.


"Kau jahat sekali, aku ketakutan bang. Guncangannya sangat kencang, bagaimana kalau kita terjatuh." Takut Romeo sambil kembali memeluk sang abang.


"Lepaskan sebelum aku melemparmu keluar!" Geram Keano.

__ADS_1


"Kau jahat sekali!" Kesal Romeo.


Romeo menekuk wajahnya kesal, dia benar-benar takut saat ini.


"Kevan, lebih baik kau suntikkan juga Romeo agar dia tidak rewel dan anteng. Bahkan rengekannya sangat membuatku mual," ujar Keano.


Tentu saja Romeo mendelik, dia sangat takut dengan jarum suntik. Malahan sang abang ingin membuatnya di suntik, tentu saja Romeo akan berontak nanti.


Axel menatap putra bungsunya yang masih tertidur pulas, dia membenarkan topi yang Kenzo kenakan dan mencium pipi gembul kemerahan itu.


"Bayiku menggemaskan bukan mas? Tentu saja, karena dia bayiku." Celetuk Deva.


"Hahaha, iya sayang dia bayimu. Anak kita," ujar Axel dan merangkul istrinya masuk ke dalam pelukannya.


"Yah, dia bayi kita. Putra kita, bukan Alex atau siapapun. Dia hanya milik kita." Batin Axel.


Ketakutan dalam diri Axel mengenai Kenzo hanyalah satu, yaitu terbongkarnya rahasia siapa orang tua kandung Kenzo. Dia tak bisa mengembalikan Kenzo, baginya Kenzo adalah putranya walaupun tidak menutup kemungkinan jika wajah Kenzo mirip dengan Fara.


"Sepertinya saat aku mengidam, aku sangat mengagumi wajah kakak ipar. Bahkan putra kita sangat mirip dengannya, kau lihat kulit Kenzo. Dia seperti orang korea bukan? Putih, untung saja tidak pucat."


Kata-kata yang pernah Deva katakan membuat hati Axel tak nyaman, dia merasa takut kembali pulang ke tanah air. Namun, ini adalah pemakaman keponakan dia. Dia harus mengunjunginya walau hanya sekedar beberapa hari saja.


Tak lama jet pun mendarat, Axel bangkit bersamaan dengan Deva.


"Biar aku saja yah," ujar Kevan meminta Kenzo.


Karena memang pegal, Axel menyerahkan Kenzo pada Kevan. Sementara dirinya merangkul sang istri keluar terlebih dahulu dari jet.


Keano mengambil selimut tipis Kenzo dan membantu Kevan memakaikannya.


Mereka pun turun dari jet, Kevan memeluk erat Kenzo saat panas matahari menyilaukan pandangan.


Kevan kembali berjalan mendekati mobil, dia memasuki mobil urutan kedua karena sepertinya urutan pertama sudah penuh oleh orang tua serta adiknya Romeo.


"Panas sekali, apa adek tidak gerah?" Tanya Keano yang sudah melepas jaketnya dan membuka dua kancing kemejanya.


Kevan hanya diam, tetapi dia membuka selimut dan juga jaket milik adiknya.


"Kenapa dia pulas sekali, apa kau memberinya obat tidur?" Curiga Keano.


"Vitamin," ujar Kevan.


"Ck, aku tak mengerti soal kedokteran. Kau bisa jelaskan bukan?" Geram Keano.


Kevan hanya menatap datar Keano, entah mengapa dia merasa jika Keano dan Romeo memiliki sifat yang sama. Dan seharunya bukan dia yang menjadi kembaran Keano melainkan Romeo.


Mobil pun memasuki gerbang, ini merupakan Kawasan keluarga Matteo yang tak bisa di masuki sembarangan orang kecuali dengan izin dari Abercio ataupun Alex.


"Kau lihat, rumahnya sangat besar bahkan lebih besar dari rumah keluarga kita. Tapi aku tetap tidak suka, sangat muram auranya." Celetuk Keano.


"Diamlah!" Greget Kevan.


Sedangkan di mobil Axel, dia merasa jengah dengan putra ketiganya yang terus berceloteh.


"Rumah kita tak sebesar ini, apa ayah kurang giat bekerja? Iya sih, seharian ayah banyak di rumah. Beda sama om Alex lebih banyak keluar, sedangkan tante Fara pasti selalu di rumah menjaga lilin," ujar Romeo.


Deva menggelengkan kepalanya, sungguh lucu ucapan putranya itu. Namun, perkataan Romeo memang tidak boleh di benarkan.


Mobil pun terhenti, pintu terbuka oleh bodyguard. Hal itu membuat Romeo tebar pesona.


"Astaga, jadi pangeran dadakan gue di kastil istana beginian," ujar Romeo.


Axel dan Deva turun, mereka melihat rumah yang sudah penuh dengan rangkaian tulisan turut berduka cita.


"Ayo mas." Ajak Deva saat melihat suaminya yang hanya diam mematung.


Axel dan istrinya pun masuk, sedangkan Romeo mengikuti mereka dari belakang.


Ketiganya sudah di sambut oleh keluarga besar, dan tuan rumah belum tampak sedari tadi.


Keluarga banyak yang datang, maka dari itu rumah besar seperti ini masih terlihat sangat ramai.


"Kalian sudah datang,"


Ketiganya menoleh, mereka melihat Abercio dan juga Rani mendekati mereka.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Axel memeluk kedua orang tuanya.


"Kami baik," ujar Rani.


"Maaf, aku tidak ikut membantu. Saat itu Kenzo sedang sakit, asmanya kembali kambuh." Sesal Axel.


"Tak apa, kami mengerti." Ujar Rani sambil mengelus punggung sang putra.


Sedangkan Abercio, dia tengah celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Tingkahnya membuat Romeo yang memperhatikannya menjadi heran.

__ADS_1


"Lagi cari siapa grandpa?" Tanya Romeo.


Abercio menatap Romeo, dia menelisik cucunya itu dari kepala hingga kaki.


"Kau Kenzo?" Tanya Abercio.


"Astagaaa ... Apa wajahku mirip bayi? Kau tidak lihat jika aku Romeo sang pahlawan juliet? Tega sekali," ujar Romeo.


"Jadi kau bukan Kenzo?" Tanya Abercio.


"Grandpa ku tersayang, Kenzo itu masih berumur 5 tahun. Yang benar saja!" Heran Romeo.


"Habisnya kau pendek," ujar Abercio yang mana membuat Romeo melototkan matanya.


"A-apa? Aku ... Pendek? Kau ... Apakah kaca matamu bertambah tebal? Atau perlu Romeo belikan kaca mata kuda agar penglihatanmu lebih jelas?" Kesal Romeo.


Axel yang tadinya berbincang pada sang ibu turut memerhatikan Romeo beserta sang ayah.


"Putramu sangat langka." Ujar Rani sambil terkekeh.


"Benar, terlebih putra bungsuku. Mamah akan sangat kaget saat melihatnya," ujar Axel menatap lurus ke depan.


"Oh ya, dimana ketiga cucuku yang lain?"


"Kami disini grandma,"


"Kami disini oma,"


Tatapan Rani mengarah pada cucu pertamanya yang tengah menggendong sang bungsu.


Kevan berjalan mendekat, begitu pula dengan Keano. Tatapan Rani mengarah pada Kenzo yang berada di gendongan Kevan, balita itu masih tertidur pulas dan belum juga terbangun.


"Dia ... Kenzo?" Tanya Rani ragu.


Kevan mengangguk, dia menatap Kenzo yang tertidur dengan mengemut pacifiernya. Kepala anak itu bersandar ria di dada sang abang.


"Astaga ... Dia imut sekali, ku pikir dia sama sepertimu Kevan." Gumam Rani.


Mendengar perkataan istrinya, membuat Abercio penasaran. Dia pun melangkah mendekati Keban dan menatap bocah manis yang tertidur pulas.


"Jangan mengganggu nya opa!" Peringat Keano, sebab kini tangan Abercio akan menyentuh pipi bulat adik manisnya.


"Ck, posesif sekali. Dia juga cucuku!" Kesal Abercio.


"Iya cucu yang baru di akui setelah si permata tiada." Dingin Kevan.


Abercio dan Rani menatap Kevan, mereka tahu jika aura yang di keluarkan Kevan tidak main-main. Dirinya juga membenarkan perkataan Kevan, mereka terlalu sibuk dengan Keysa cucu perempuan satu-satunya sehingga mengabaikan cucunya yang lain.


"Kevan." Peringat Axel.


Kevan memutar bola matanya malas, dan tak lama Kenzo menggeliatkan badannya dan mulai membuka matanya.


"Hiks ... Hiks ...,"


"Syutt .... Tenang baby," ujar Kevan dengan mengayunkan Kenzo.


KEnzo membuka matanya, dia mengerjap pelan dan merasa asing dengan dua orang yang berada di depannya.


Bibirnya melengkung, matanya berkaca-kaca. Dia belum hafal dengan orang di depannya, matanya pun mencari keberadaan sang ayah.


"Ayah hiks ... Mau ayah hiks ...." Isak Kenzo sambil melepas pacifiernya.


"Ayah di sini baby," ujar Axel dan berjalan mendekat.


Kenzo merentangkan tangannya, tetapi bukannya masuk ke dalam pelukan sang ayah dia malah masuk ke gendongan Abercio.


"Huaaa!! Nda mau, mau ayah mau ayah!" Rengek Kenzo.


"Hei aku opamu!" Seru Abercio.


Kenzo terdiam, dia tak lagi menangis walau air matanya meleleh. Dirinya menahan sesak di dada karena menahan tangis.


Wajahnya merah, membuat Axel menjadi tidak tega.


"Pah maafkan aku, jangan di paksa. Kenzo baru kali ini bertemu papah, dia masih belum merasa nyaman." Bujuk Axel.


Karena merasa tak tega, dia pun memberikan Kenzo pada Axel walau tak rela.


"Mau pulang." Cicit Kenzo.


"Iya nanti kita pulang, sekarang liat kondisi tante kamu dulu yuk." Bujuk Deva.


Kenzo mengangguk, dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah. Tangannya mengambil pacifiernya yang tergantung di dadanya dan kembali mengemutnya.


"Ayo kita lihat Fara dan Alex, mereka di kamar Keysa. Selesai Keysa di kubur, mereka belum keluar kamar putri mereka." Ajak Rani sambil merangkul Deva.

__ADS_1


"Mah, pasti kak Fara terpukul sekali." Lirih Deva.


__ADS_2