
Darren pergi ke minimarket untuk membeli es krim, di karenakan berat janin yang ada di dalam kandungan Savanna kurang. Dokter menyarankan agar bumil cantik itu sering memakan es krim.
"Daddy, dedek mau ini."
Darren menunduk, dia melihat putranya yang menegang coklat berbentuk telur.
"Gak di jual sama mbak nya," ujar Darren.
"Aaa dedek mau ini!!" Rengek Gibran sambil melompat kecil.
Darren mengambil coklat itu dan menaruhnya kembali di tempatnya, kasir pun hanya bisa menahan senyum.
"Daddy!!" Gibran akan menangis, Darren pun segera membujuknya.
"Gak di jual! gak di jual kan mba? tuh! gak di jual!!" Darren meminta dukungan dari mbak kasir.
Sang kasir hanya bisa mengangguk pasrah, dia bingung harus bersikap bagaimana.
"Serba salah gue jadi kasir." Batin mbak tersebut.
"Beli es krim aja, nih. Daddy udah beli banyak." Seru Darren.
Dengan terpaksa, Gibran akhirnya menuruti keinginan daddynya itu. Selesai berbelanja, keduanya pulang ke rumah.
"Habis dari mana?" Tanya Recky yang baru saja akan ke dapur.
"Beli es krim dad," ujar Darren.
"Buat si kembar?" Tanya kembali Recky, pasalnya es krim yang Darren belikan lumayan banyak.
Darren menggeleng, "Enggak cuma buat si kembar aja sih, sama ibunya juga."
"Loh? Savanna seneng es krim?" Kaget Recky.
"Enggak begitu suka, tapi dokter yang menyarankan. Berat badan janinnya jurang, makanya di suruh sering makan es krim." Terang Darren.
Recky mengangguk-anggukan kepalanya, karena tak ada yang penting lagi akhirnya Darren pamit ke kamar.
Sebelum ke kamar, Darren melewati kamar Delia. Ternyata istrinya berada di sana, dia tertegun sejenak melihat istrinya yang sedang memijat kaki Delia.
"Yang." Panggil Darren.
"Sebentar kak, es krimnya taro di kulkas aja dulu." Sahut Savanna.
Darren buru-buru meletakkan es krim itu, lalu dia kembali dan mendekat pada istrinya.
"Biar aku aja, nanti kamu pegel." Darren meminta Savanna untuk menghentikan kegiatannya, lalu dia pun mengambil alih kegiatan Savanna tadi.
Delia hanya bisa menatap keduanya dengan perasaan campur aduk, melihat betapa cintanya putranya itu pada sang istri.
"Darren benar-benar mencintai istrinya." Batin Delia.
"Apa aku terlalu jahat memisahkan mereka? mereka saling mencintai, tapi Savanna bukan menantu idamanku. Namun, aku akui. Dia sangat baik." Delia hanya bisa membatin.
Setelah Delia tertidur, Darren dan istrinya kembali ke kamar. Darren melanjutkan kegiatannya sebagai suami siaga, apalagi kalai tidak mengelus pinggang istrinya yang sering mengeluh pegal.
__ADS_1
"Kak, sebentar. Aku buatkan susu dulu untuk si kembar." Celetuk Savanna dan buru-buru bangkit keluar kamar.
Sementara di kamar si kembar, tak henti-hentinya Gibran berceloteh kesal karena Darren tak mengizinkannya untuk membeli jajan yang dia inginkan.
"Mickin kali, maca nda bica beli!"
"Kok miskin? kamu beli es krim banyak gini kok ya!" Sewot Gabriel tak terima.
"Tadi dedek tuh mau coklat itu, tapi daddy nda ijinin." Cicit Gibran.
"Enggak di izinin itu karena kamu beli coklat bulat! udah isinya dikit! mahal lagi! coba kamu beli coklat yang panjang! itu mah kamu cuman mau mainan nya doang!" SInis Gabriel.
Karena kesal, Gibran melempar stik es krimnya yang sudah habis.
"Abang kenapa cih julid mulu cama dedek!!" Pekik Gibran kesal.
"Tahu dari kana kamu bahasa julid?" Tanya Gabriel sambil menatap Gibran penuh selidik.
"Nda tau!" Ketus Gibran.
Gabriel menghela nafas pelan, dia menutup bukunya dan menatap Gibran dengan sorot mata yang serius.
"Kamu gak bisa selamanya manja! Sebentar lagi kita akan punya adek, kalau kamu manja terus lama-lama daddy kesel sama kamu." Peringat Gabriel.
Netra Gibran sudah berkaca-kaca, dia menunduk sambil memainkan jarinya.
"Jangan dedek dedek terus, kamu itu udah jadi kakak. Jangan manja!"
Gabriel turun dari tempat tidur, dia berlalu keluar kamar meninggalkan Gibran yang menangis karena merasa tersinggung dengan apa yang Gabriel katakan.
Gibran menangis, bahkan sambil sesenggukan. Dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sendiri, agar bisa menangis sepuasnya.
Cklek!
"Dek, susunya dulu sayang."
Savanna masuk ke dalam kamar si kembar, dia mengerutkan keningnya saat melihat Gibran yang menyelimuti dirinya seperti saat ini.
"Adek udah tidur?" Tanya Savanna, tapi tak ada jawaban.
Savanna bergegas mendekati Gibran, dia menaruh gelas susu itu dan mengecek apakah putra nya baik-baik saja.
Tangan Savanna yang akan menarik selimut seketika terhenti saat mendengar suara isak tangis, dia meyakinkan dirinya bahwa Gibran menangis.
"Gibran, kenapa sayang?"
Savanna mulai menarik selimut Gubran, tetapi bocah gembul itu tetap menarik selimutnya. Savanna semakin kuat menarik, hingga kini Gibran tak dapat lagi menahan selimutnya.
"Hei kenapa?" Tanya Savanna.
Bukannya menjawab, Gibran malah tambah menangis. Hal itu membuat Savanna bingung, hingga dia memutuskan untuk memanggil Darren.
"Gibran." Panggil Darren yang saat ini duduk di tepi kasur.
Darren mengangkat Gibran ke pangkuannya, walau anak itu berontak. Darren tetap menenangkan nya, begitu pun dengan Savanna yang berdiri di sisi suaminya.
__ADS_1
"Ceritanya gimana sih yang?" Tanya Darren heran.
"Gak tau, aku masuk udah nangis begitu." Jawab Savanna.
"Gabriel mana?" Tanya Darren yang mulai menyadari tidak ada anak sulungnya di sana.
Gibran uang mendengar nama Gabriel segera menghentikan tangisannya, dia menghapus kasar air matanya dan menatap Darren dengan wajah sembabnya.
"Giblan nda papa, daddy cama mamah tidul aja cana. Giblan juga mau tidul."
Darren dan Savanna saling pandang, Gibran turun dari pangkuan Darren dan merebahkan dirinya di kasur.
"Gibran sakit? atau kenapa?" Tanya Savanna sambil mengelus rambut lepek Gibran akibar keringat.
"Oh, marah sama daddy soal coklat tadi yah?!" Darren mengingat perkara tadi, tapi saat dia pulang tak ada tangisan dari putranya.
Gibran tetap diam, dia lebih memilih memejamkan matanya dari pada harus membalas perkataan Darren yang membuat moodnya semakin buruk.
"Coklat apa kak?" Herab Savanna.
"Tadi dia mau beli coklat, tapi ini sudah malam. Ni anak paling males gosok gigi." Terang Darren.
Tok!
Tok!
Tok!
Darren dan Savanna menoleh ke arah pintu, di sana Recky sudah berdiri dengan tatapan bingung.
"Darren, Reno sama keluarganya datang ingin bertemu kamu." Ujar Recky yang mana membuat Savanna dan Darren saling tatap.
"Kakak ada janji sama Reno? semalam ini?"
"Enggak kok." Dengan cepat, Gibran menggeleng, bagaimana bisa dia membuat janji semalam ini?
"Yasudah, temuin dulu."
Gibran mengangguk, dia mengesampingkan dulu urusan Gibran. Biarkan Savanna yang mengatasi putranya. Sedangkan dirinya, pergi menemui Reno dan keluarga.
Langkah Darren membuat ketiga orang yang sedang duduk menoleh pada sang tokoh utama yang sedang di tunggu.
Reno dan keluarganya berdiri, ketiganya menatap Darren dengan pandangan berbeda.
"Ada apa tuan dan nyonya kusuma datang repot-repot ke rumah daddy saya? bukankah Reno dan saya tidak ada lagi urusan?"
Seketika Reno menatap wanita paruh baya di sampingnya, wanita itu menatap Darren dengan air kata berlinang membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan bingung.
"Jangan terlalu emosional mam, tenangkan diri mama." Bisik Reno.
Ibu dari Reno segera menghapus air matanya, dia mencoba memaksa senyumnya menatap Darren yang sudah berada di hadapan ketiganya.
____
Jangan lupa dukungannya😍😍😍
__ADS_1