Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Sah!!


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Dania Atmajaya binti Recky Atmajaya dengan mas kawin emas berlian seberat 20 gram. Satu unit mobil porsche dan satu unit rumah di bayar Tunai!"


Dania tak lagi berkata sah, dia melotot menatap Satria yang tengah tanda tangan di buku nikah. Benar-benar terkejut, tak menyangka mahar yang Satria siapkan sangat wah.


"Bang." Bisik Dania.


"Lo gak ngutang kan?"


Satria menaikkan satu alisnya, bagaimana bisa istrinya menyangka jika mas kawin yang dia berikan adalah hutang?


"Lo lupa bokap gue siapa?" Sindir Satria.


Dania mengerucutkan bibirnya sebal, di beralih bertanda tangan. Sedangkan Darren dan Recky, mereka menangis bahagia. Tanggung jawab mereka sudah beralih pada Satria, wanita yang telah mereka jaga sedari bayi kini bukan lagi tanggung jawab mereka.


Sementara itu, Delia masih berada di kamar. Karena kondisi, tidak memungkinkan dirinya hadir di sini.


"Kakak sedih?" Tanya Savanna melihat suaminya berkali-kali mengusap air matanya.


"Aku sedang bahagia sayang." Lirih Darren.


Darren merangkul istrinya, dia mengelus perut buncit istrinya itu dengan sayang.


"Banak kali makananna, dedek mau ini. Mau itu, pokokna cemuana." Celoteh Gibran.


Gibran mengambil beberapa kue, dia merentangkan bawahan bajunya untuk menangkup kue yang ia ambil. Kaki gempalnya berjalan dan netranya menatap berbinar ke arah kue yang ia bawa.


"Cini, aku bantuin!"


Gibran memundurkan langkahnya saat seorang anak perempuan akan mengambil kue nya, netranya menatap aneh anak tersebut.


"Kamu napain? kenapa mau ambil kue dedek?" Bingung Gibran.


"Mau di bantuin juga!" Sewot anak perempuan itu.


"Diihh ... CEKULITI!! CEKULITII!!" Teriak Gibran.


Darren yang sedang menyuapkan Savanna kue seketika mengalihkan tatapannya saat mendengar teriakan Gibran yang memanggil security.


"Cekuliti, emangna aku maling! aku ini ci gemoy tau nda!!" Sewot anak itu.


"Dih, ci cemong balu benel."


"KAMUU!!!"


Darren seketika bangkit, dia segera mendekati putranya yang hampir di cakar oleh anak orang itu.


"E-eehh!!" Panik Darren, dia akan menarik Gibran. Namun, bocah gembul itu malah menantang balik anak perempuan tersebut.


"NAPA?! BELANI CAMA DEDEK HAH?!"


"DACAL GENDUT!!" Teriak anak perempuan itu.


"HE!! CADAL DILI DONG!! CITU DUGA GENDUT!!"


"APAAAA!!!"


Darren bingung sendiri, begitu pun dengan orang tua si anak perempuan tersebut yang ikut menyaksikan pertengkaran mereka.


Gibran menaruh kuenya di sebuah bangku, dia menarik lengan bajunya dan berkacak pinggang menatap anak perempuan tadi dengan garang.


"Tadi ngatain! di balikin kok malah!! Udah lambut kayak helem, badanna kayak gentong!"


"KAMU ITU PALANAN KAYAK CAWAH!!"


"Gwen, sudah nak, jangan seperti ini." Ibu dari anak bernama Gwen itu segera mengamankan putrinya.


"Lepacin buna! bial Gwen hajal dia!!"

__ADS_1


"Memangna dedek takut apa?! cini!!"


Gwen dan Gibran saling menabrakkan tubuh mereka, bahkan kepala mereka pun di benturkan satu sama lain.


Savanna pun turun tangan, dia mendekati Gibran dan menunduk di dekat anak itu.


"Gibran sayang, jangan begitu nak. Dedek Gibran gak suka, dari tadi dedeknya nendangin perut mamah loh. Dia bilang gak suka liat Gibran berantem."


Gibran menarik dirinya, emosinya masih belum stabil. Gabriel berinisiatif memberikan susu kotak pada kembarannya itu, seketika Gibran meminumnya hingga kandas.


"Tuh! dengelin! dedek na nda cuka!" Ketus Gibran.


"Tadikan Gwen cuman niat mau tolong doang!" kekeuh Gwen.


"Kamu itu mau ambil jajan dedek! coalna di meja habic! emangnya dedek nda tau apa?!"


Gibran memandang sinis Gwen, dia kembali membawa makanannya pergi dari tempat itu. Gwen masih merasa kesal, ayah dari Gwen segera mengamankan anaknya.


"Nyonya, maafkan Gwen." Ujar ibu dari Gwen pada Savanna.


"Enggak papa, masalah anak-anak. Kita gak perlu ikut campur, hanya soal makanan saja." Santai Savanna.


Darren menggelengkan kepalanya, netranya melihat Gibran yang sudah anteng kembali dengan makanan di pangkuannya.


***


"Abang duluan saja."


"Lo dulu."


"Abang dulu."


"Lo,"


"Abang."


"Abang!!"


"CK!!"


Mau ke kamar mandi saja keduanya saling mengalah, keduanya masih di hinggapi rasa malu.


"Yaudah, berdua aja yuk!" Ajak Satria.


"Dih, abang modus!" Sentak Dania.


"Kok modus sih? he! asal kamu tahu yah! abang minta kamu buka baju semuanya aja itu adalah hal yang wajib kamu lakukan!" Balas Satria yang mana membuat Dania sontak menyilangkan tangannya di depan d4d4.


"Ngapain di tutupin gitu? gak napsu, orang tepos juga."


Dania menatap Satria tak percaya, pria yang telah menjadi suaminya itu dengan santainya mendorongnya masuk sambil memberikan sebuah paperbag.


"Baju ganti!" Sahut Satria dengan cepat saat Dania akan menjawabnya.


Dania mengerucutkan bibirnya, dia pun membersihkan dirinya. Sementara itu, Satria menunggu Dania sambil memainkan ponselnya di tepian ranjang.


"BANG!!!


" BANG!!! INI BAJUNYA YANG BENER DONG?!"


"Apa lagi nih bocah." Gerutu Satria.


Satria meletakkan ponselnya ke atas nakas, dia beranjak ke kamar mandi untuk melihat apa yang istrinya itu lakukan.


Cklek!


"Kenapa?" Tanya Satria, tanpa ba bi bu pria itu membuka pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Masa bajunya bolong begini?"


Satria seketika menjatuhkan rahangnya, saat melihat penampilan Dania yang membuat jakunnya bergerak naik turun. Dengan polosnya, istrinya itu menunjukkan tubuhnya yang berbalutkan kain satin tipis.


"Bajunya di gigit tikus yah?" Tanya Dania.


BRAK!!


Satria menutup pintu kamar mandi dengan keras, seketika Dania berusaha menuju pintu dan membukanya.


"ABANG!!! KOK DI TUTUP!!"


"LO DIEM DI SITU! GUE BAWAIN BAJU YANG BAGUS!!" Teriak Satria.


Satria mengusap kasar wajahnya, dia sudah mengira jika ini pastinya lah perbuatan adik bungsunya itu.


"Awal lo Aurel!!" Geram Satria.


Satria beralih membuka lemari Dania, dia yakin sekali pastikan Dania memiliki banyak piyama tidur. Namun ...,


"Loh, kenapa lemarinya kosong?"


Lemari Dania benar-benar kosong melompong, Satria bahkan sampai terheran-heran. Tak sampai disitu, Satria mencoba membuka lemari lain, tetapi hasilnya nihil.


"Aduh, gimana ini." Lirih Satria.


"Abang cari apa?"


Seketika tubuh Satria menegang, dia berbalik dan melototkan matanya saat melihat Dania yang benar-benar menguji kesabarannya.


Satria menarik selimut, dia bergegas menyelimuti tubuh istrinya. Sungguh, Satria tidak tahan saat di hidangkan santapan halal di depan mata.


"Abang, kenapa?" Tanya Dania dengan polosnya menatap Satria yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Lo sengaja yah?!" Gertak Satria.


"Sengaja?" Beo Dania.


"Huft ... lo taukan gue laki-laki normal?"


"Emangnya abang gak normal?" Tanya Dania sambil memiringkan kepalanya.


Satria benar-benar ingin melompat keluar sekarang, bagaimana bisa dia menikahi gadis polos seperti Dania? apalagi di umur mereka yang masih belasan tahun, tetapi hal seperti ini bukanlah hal yang aneh bagi Satria.


"Lo ... Lo buat kepala gue pusing tau gak!!" Sentak Satria.


"Pusing kenapa sih? abang sakit? aku minta pembantu bawain obat yah." Bujuk Dania.


Saat tangan Dania yang berbalut selimut akan keluar, seketika Satria mendekap erat isyrinya agar selimut itu tidak turun. Dania yang di perlakukan seperti itu membuat degup jantungnya berpacu dengan cepat.


"Jangan bergerak." Lirih Satria tepat di telinga Dania.


"Abang." Cicit Dania.


Satria menahan nafasnya, mungkin saat ini dia masih bisa menahan diri. Mengingat, mereka masih muda walau sudah sah.


"Ada yang tegak, tapi bukan keadilan." Lirih Satria.


"Kalau bukan keadilan, berarti kezaliman dong?"


Satria menepuk keningnya, bisa tidak dia mengganti istri? Sungguh, saat ini dia ingin menghilang saja dari muka bumi.


Sedangkan Dania yang melihat raut wajah frustasi Satria seketika mengangkat satu sudut bibirnya. DIa menyeringai tanpa satria tahu.


"Rasakan! tepos-tepos gini bisa lemahin pertahanan kamu kan!" Batin Dania.


_____

__ADS_1


__ADS_2