
"Berikan dia padaku!" Titah Arcio sambil merentangkan tangannya.
"Diamlah! Dia adikku!" Sentak Kevan
"Berikan dia! Kau tega melihatnya menangis sampai serak seperti itu? Keysa pernah seperti ini dan berakhir kejang, apa kau mau adikmu seperti adikku hah?!" Ancam Arcio.
Kevan terdiam, walau sebenarnya dia khawatir dengan kondisi adiknya. Namun, Kevan sangat waspada dengan keluarga Alex.
"Hanya sebentar, aku berjanji," ujar Arcio.
Dengan berat hati, Kevan memberikan Kenzo pada Arcio. Di gendongnya ala koala oleh Arcio dan di bawa menuju balkon.
"Ssyutt, diam anak pintar. Lihat, banyak sekali burung di sana. Apa kau lihat, itu kucing. Kau suka kucing bukan?" Tunjuk Arcio pada hewan di bawah sana.
Kenzo mulai tertarik, dia melihat apa yang di tunjukkan oleh Arcio. Tangisannya terhenti, Arcio segera mengambil sapu tangannya yang ada di saku dan mengusap lelehan air mata dan juga ingus Kenzo.
"Meong?" Gumam Kenzo.
"Ya, Kenzo suka? Cepatlah sembuh, nanti kita akan bermain dengan kucing," ujar Arcio.
Arcio menimang Kenzo, dia menggerakkan tubuhnya ke kana dan ke kiri dengan tangan yang menepuk pelan bahu Kenzo.
Mungkin karena obat demam yang Kenzo minum baru mulai bereaksi, mata anak itu sudah terlihat mengantuk.
Kevan datang membawa susu, dia memasukkan ujung dot itu pada mulut Kenzo dan di terima baik oleh anak itu.
Tak lama, Kenzo tertidur dengan susu yang tersisa sedikit. Kevan menarik kembali botol itu dan mengusap bibir sang adik yang terdapat noda susu.
Kevan mengeluarkan pacifier dan menyumpalnya di mulut sang adik, kini Kenzo sudah tenang dengan mengisap pacifier kesayangannya.
"Berikan adikku!" Pinta Kevan.
Dengan enggan, Arcio memberikan Kenzo yang tertidur. Kevan membawa Kenzo masuk dan merebahkannya di kasur, dia menarik selimut dan menyelimuti sang adik.
"Ngapain kamu masih disini? Sudah sana!" Usir Kevan.
"Kenapa kau selalu memusuhiku? Dia juga adikku jika kau lupa," ujar Arcio dengan kesal.
"Dia hanya adikku ... Adikku!" Tekan Kevan.
Arcio memutar bola matanya jengah, dan akhirnya dia pun keluar kamar dengan perasaan kesal.
Kevan menatap sang adik sebentar sebelum ia duduk di sofa untuk membaca buku.
Lagi-lagi pintu terbuka, hal itu membuat Kevan mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
"Bang, di panggil sama opa." Ujar Romeo sambil berjalan masuk.
Kevan langsung menutup buku dan beranjak dati duduknya.
"Titip adek, kalau dia bangun dan menangis panggil abang," ujar Kevan.
Romeo mengangguk, dia berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya. Memang Romeo anak yang mudah tertidur, dia langsung saja tertidur dengan memeluk adiknya.
KEdua anak itu tidur tanpa tahu jika ada seseorang yang masuk dengan berjalan pelan.
Sosok pria itu berjalan mendekati Kenzo dan berdiri di samping ranjang, pandangannya menatap lurus Kenzo dengan mata elangnya.
"Wajahnya, warna kulit dan rambutnya semua mirip dengan Fara. Tapi kenapa kebetulan sekali, apa bayi itu telah mati ataukah ... Tidak mungkin. Dari mana Axel tahu jika aku membuang putraku? Tidak mungkin bukan, pasti hanya kebetulan saja."
Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus kepala Kenzo, dua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Dia manis, rasanya tak adil jika Axel yang memiliki putra semanis dirinya. Melihatnya ... Seperti melihat bayi yang ku buang dulu,"
Pria itu mendekatkan wajahnya pada Kenzo, dia mengecup pipi berisi Kenzo.
Setelahnya, pria itu keluar kamar Kenzo dan kembali menutup pintunya.
ROmeo terbangun, matanya melotot kaget. Apa dirinya tidak salah dengar? PAmannya membuang bayinya sendiri?
Walau dia tertidur, tetapi Romeo masih sadar. Dia masih mendengar sekitarnya.
Beranjak dari tidurnya, ROmeo masih memikirkan ucapan pria itu yang tak lain adalah Alex.
"Lah kalau anaknya di buang, terus si keysa siapa? Anak pungut gitu?" Gumam Romeo.
"Halah! Salah denger kali gue, palingan telinga gue lagi bermasalah. Besok gue mesti ke dokter nih." Bantah Romeo.
***
Axel dan Deva telah kembali, mereka sedikit terkejut saat melihat Kenzo tertawa lebar dengan Fara dan juga Alex.
__ADS_1
Bahkan, Deva sampai kaget jika kakak iparnya itu bisa tersenyum seperti itu.
Berbeda dengan Axel, dalam hatinya dia merasakan ketakutan. Takut Kenzo akan kembali pada sang kakak jika semuanya terbongkar.
Tanpa berlama-lama, Axel mendekat ke arah Kenzo yang duduk di pangkuan Alex dan mengambil putranya.
"Hei, bisakah kau mengambilnya dengan pelan? Dia terkejut!" Seru Alex.
"Dia putraku!" Ketus Axel.
Axel segera membawa putranya memasuki lift, sementara Deva masih berdiam di tempat mencerna semuanya.
"Ada apa dengan mas Axel?" Gumam Deva.
"Deva, ada apa dengan suamimu?" Tanya Fara dengan heran.
Deva tersentak kaget, dia bingung ingin menjawab apa.
"Maafin mas Axel ya mbak, dia emang posesif sama bungsu kami. Dia hanya takut Kenzo kenapa-napa," ujar Deva dengan sedikit tak enak.
"Pantas saja, dia sangat sayang pada bungsunya. Sama seperti kami, hanya saja ... Kami gagal menjaganya." Sendu Fara.
Alex bangkit, dia berjalan memasuki lift meninggalkan kedua wanita itu.
Sesampainya di lantai dua, Alex berjalan menuju kamar Axel. Dia membukanya tanpa permisi dan melihat kembarannya yang tengah berada di kasur bersama putranya.
Axel melirik sekilas, dia kembali menemani putranya bermain miniatur pesawat.
"Ayah, tadi om Alex belikan adek jam. Tapi, abang ambil. Padahal adek suka," ujar anak itu.
Alex berjalan mendekat, dia memberikan pada Axel jam yang Kevan kembalikan tadi.
"Istriku yang membelikannya, tolong hargai pemberian istriku. kenzo juga keponakanku yang berarti adalah putraku, jangan karena perselisihan di antara kita akan berdampak pada Kenzo." Pinta Alex.
Kenzo menatap Alex, tatapannya bertemu dengan manik mata sang ayah kandung.
Alex tertegun sejenak melihat tatapan itu, tatapan yang sama saat dia membuang bayinya dulu.
"Di cini lobotna, di cana pecatwatna. Tembak! Duaaalll!!"
Fara yang sedang berjalan menuju kamarnya terhenti ketika mendengar ocehan anak dari kamar bermain bekas putrinya dulu.
Dia melihat Kenzo sedang bermain di karpet berbulu bersamaan dengan mainan miliknya.
Entah dorongan dari mana, Fara berjalan mendekat. Kenzo yang menyadari ada seseorang yang masuk, segera mengangkat wajahnya.
"Tante tantik." Seru Kenzo dengan senyum yang mengembang.
Fara tersenyum, dia mendudukkan dirinya di sebelah Kenzo sehingga kini keduanya duduk saling berhadapan.
"Kok mainnya sendiri? Gak di temani sama abang?" Tanya Fara sambil mengelus rambut Kenzo.
"Tadi Ken di culuh ictilahat, tapi Ken cape bobo telus. Jadi Ken kabul kecini. Solly tante, Ken nda izin," ujar anak itu dengan nada polosnya.
Fara tersenyum, dia mencubit pelan bibi putih berisi milik Kenzo.
"Tak apa sayang, tapi pasti sekarang mereka mengkhawatirkanmu. Apa.kau sudah makan malam?" Tanya Fara.
"Cudah, tadi di cuapi bubul cama bunda. Telus bunda dah tidul, kacian capek," ujar Kenzo dengan polos.
Fara tersenyum, dia mengamati wajah Kenzo. Hatinya merasakan debaran yang tak biasa, di lihatnya baik-baik pahatan wajah Kenzo.
"Kenapa dia malah mirip sekali denganku? Iya, aku ingat fotoku saat masih bayi dan itu sangat mirip sekali dengan Kenzo." Batin Fara.
Kerap kali Fara merasakan perasaan tak enak, dirinya bahkan sampai menanyakan keadaan suami dan anak-anaknya. MEreka tak mengalami kesulitan apapun, dan entah mengapa hati Fara selalu menuju pada Kenzo walau dia hanya melihatnya sekali saja saat Kenzo masuk ke rumah sakit kala umurnya 2 tahun akibat asma yang di deritanya.
"Kenzo tinggal disini sama tante mau? Nanti banyak tante belikan mainan," ujar FAra dengan lembut.
Dengan lugunya, Kenzo menggeleng. Dia tak mau berpisah dari ayah dan bundanya.
"Nda mau, Ken mau cama. Unda cama ayah cama abang juga. Tante tantik yang ikut Ken aja," ujar Kenzo.
Fara tersenyum, entah berapa kali hari ini dia tersenyum setelah kepergian putrinya. Menurutnya, Kenzo merupakan obat penghilang rindunya pada sang putri.
"Ternyata kau disini, lihat ayah marah padamu karena kau tidak ada di kamar. Jika kau nakal, Bang Kevan akan menyuntikmu lagi. Apa kau mau?" Seru Keano yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.
"Eh Keano," ujar Fara dan bangkit dari duduknya.
"Maaf tan, pasti adikku nakal. Memang seperti itu, sayangnya dia berlian di keluargaku." Gurau Keano.
Fara mengangguk memaklumi, sementara Keano langsung membawa Kenzo ke gendongannya.
__ADS_1
"Masih sakit tidak dadanya?" Tanya Keano saat merasakan nafas Kenzo yang masih terasa berat.
"Nda," ujar anak itu.
"Jangan bohong, kakak akan mengadukanmu pada bang Kevan biar di suntik ribuan kali sekalian." Ancam Keano.
Kenzo melengkungkan bibirnya ke bawa, matanya telah berkaca-kaca bersiap akan menangis.
"Eh eh eh ... Aduh jangan nangis ... Bisa di suntik mati kakak sama abang." Panik Keano.
"Hiks .... Huaaaaa!!! Kakak nakal! Dacal! Telcangkut otakna! Ken lapolin cama abang huaaa!!!"
Fara melongo tak percaya, dia tak menyangka ucapan Kenzo akan membuat Keano panik seperti itu.
"Aduh maaf tan, Ken ke kamar dulu yah. Permisi tan," ujar Keano dan berlalu cepat dari sana.
Keano memasuki.kamar orang tuanya dengan panik, Axel segera mengambil alih Kenzo yang sudah menangis sesenggukan.
"Kenapa adek nangis Kean?" Tanya Deva yang terlihat bingung.
"Itu bun, gak mau tidur dia jadi Kean paksa," ujar Keano pembelaan dirinya.
KEnzo berusaha menjelaskan, tetapi karena dia menangis sehingga tak terdengar jelas.
Axel duduk di tepi kasur, dia memasangkan Kenzo masker oksigen dan mengusap punggung sempit putranya.
Kenzo mulai terdiam, dia menghirup oksigen dengan pelan sambil menatap kesal ke arah Keano.
Pintu kembali terbuka, Kevan masuk dengan tas yang berukuran kecil di tangannya.
"Apa dia kesulitan bernafas lagi?" Tanya Kevan sambil duduk di sebelah ayahnya.
Kenzo sudah merasakan adanya sinyal tidak baik, dia segera menarik kaos yang ayahnya gunakan dan menghindar saat Kevan berusaha mengambil tangannya.
"DIAM ABANG! JANAN CUNTIK TELUS! TELCANGKUT OTAKNA NANTI HIKS ... AYAAAHHH!!"
Kevan tak menghiraukannya, sementara Axel memegang erat tangan anaknya itu agar tidak berontak.
"Hari ini baby sudah nakal, ayah yang meminta abang menghukummu. BEsok nakal lagi, ayah akan meminta abang menyuntikmu dengan suntikan gajah." Ancam Axel.
"Solly ayah, adek nda nakal-nakal lagi hiks ... Tapi janan di cuntik." Seru Kenzo dan membuka masker oksigen nya.
Axel kembali memasangkan masker oksigen itu, Kevan menempelkan kapas dingin pada punggung tangan Kenzo dan menancapkan selang infus.
Sebenarnya Axel yang menyuruh Kevan memasangkan infus karena setiap kali Kenzo makan pasti anak itu akan muntah. Hanya sedikit asupan hari ini yang Kenzo terima akibat dirinya sakit.
Kekesalannya bertambah saat sang putra kabur saat dirinya di suruh tidur.
"Sudah, aku akan menggantung selang infusnya di sana. Jangan sampai dia kebanyakan bergerak." Titah Kevan.
Kenzo sudah pasrah, menangis pun percuma. Axel membaringkan Kenzo dan menepuk paha anak itu dengan pelan.
Karena memang sudah lelah, Kenzo dengan mudah tertidur. Deva memasangkan plester demam di kening putranya dan setelah itu mengecupnya pelan.
"Aku akan kembali ke kamar yah," ujar Kevan.
Kevan berjalan menuju sang bunda, dia mengecup pipi sang bunda sebelum berlalu ke kamarnya.
Setelah kepergian Kevan, Deva duduk di tepi kasur sambil memperhatikan suaminya yang tengah mengusap kening putranya.
"Mas, boleh aku bertanya?" Tanya Deva.
"Hm?" Sahut Axel dan melirik istrinya.
"KEnapa setiap kali kakak ipar mendekati Kenzo, ada ketakutan di matamu? Kenapa kau takut sekali melihat putra kita dekat dengan mereka, bukankah mereka juga bibi dan paman dari putra kita. Bukankah wajar jika mereka dekat dengan putra kita?" Tanya Deva.
Axel terdiam, satu-satunya alasan dia menjauhkan Kenzo adalah karema Kenzo adalah anak kandung dari Alex.
KEbohongan cepat atau lambat pasti akan terungkap, tetapi Axel lebih memilih menyembunyikannya dan biarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya. Jika dia bisa merahasiakan ini lebih lama lagi, maka dia akan lakukan demi mempertahankan putra kesayangannya.
"AKu hanya takut putra kita akan bernasib sama dengan Keysa," ujar Axel dengan alasan yang aneh.
"Mas, kita disini hanya beberapa hari saja. Keysa tiada itu karena takdir, bukan karena kakak ipar." Kesal Deva.
Axel menegakkan duduknya, dia menatap mata sang istri dengan sendu.
"Kita hampir kehilangan Kenzo saat kita titip kan dia bersama dengan baby sitter, dan hal itu membuatku trauma. Aku tidak ingin kejadian itu berulang lagi, bagaimana jika saat itu Kenzo tak selamat? Bahkan dengan kejamnya dia membiarkan Kenzo kehabisan nafas di bawah air."
"KAu tahu kakakku, dia akan lakukan apapun demi mencapai tujuannya. Termasuk untuk menyingkirkan Kenzo, putraku sendiri," ujar Axel dengan pelan.
Sedikit bingung, Deva mencoba memahami sang suami. Dia ragu, apakah Alex setega itu pada keponakannya?
__ADS_1