
"Gimana? dia jadi membeli tanah anda?" Tanya seorang pria yang sedang bertelepon dengan pak Andi.
"Sudah tuan, awalnya dia ragu. Tapi saya terus desak agar dia mau, jadi ... 2 m nya jadi kan tuan?" Binar pak Andi saat mengatakan itu terlihat jelas di matanya.
"Ya, saya akan mengirim uangnya besok." Ucapnya dan langsung mematikan sambungan telepon.
Pak Andi berjingkrak girang, dia langsung menemui istrinya yang sedang berada di ruang tamu.
"Bu! ibu! kita mau dapet 2 m bu!!" Seru PAk Andi.
"Ha? bapak jual tanak kita dua m? siapa yang mau beli pak? 1,5 aja udah mahal pak." Bingung istri pak Andi.
Pak Andi langsung duduk di sebelah istrinya, dirinya memang belum menceritakan tentang apa yang dia rencanakan dengan orang yang di telpon.
"Begini bu, ada orang kota. Orang kaya, dia mau beli tanah itu asalkan bapak jual ke Pak Darren tujuh ratus juta."
"Bapak yang bener aja pak, tujuh ratus juta?" Bingung istri Andi.
"Iya bu, jadi gini. Orang ini yang akan beli tanahnya, nah uang Pak Darren akan dia bawa begitu bu."
Istri pak Andi masih bingung, bagaimana bisa seseorang membeli tanah dengan mudahnya bahkan dengan harga yang fantastis.
"Bapak jangan aneh-aneh deh pak! nanti kalau orangnya nipu gimana?" Panik istri Pak Andi.
"Halah bu, dia itu orang ternama di kota. Masa iya nipu, udah. Ibu percayakan aja sama bapak, besok uangnya akan di antar kesini."
Walau sedikit ragu, istri pak Andi mengiyakan perkataan suaminya. Dia merasa heran, mengapa orang itu membeli tanah untuk Darren secara tidak langsung?
Sementara Darren, dia masih menatap sertifikat tanah yang ia pegang. Bingung dengan semua yang terjadi, bahkan uang di amplop yang berjumlah sepuluh juta berada di sebelah sertifikat itu.
"Kamu telpon daddy, abang mau bicara." Tegas Darren.
"Abang ini! apa sih bang! kalau daddy mau bantu abang, kenapa gak bantu langsung!" Greget Dania.
"Udah! kamu telpon daddy!" Sentak Darren.
"Kan abang punya ponsel, telpon aja." Ketus Dania.
"Abang belum beli pulsa."
Dania berdecak sebal, bisa-bisanya abangnya itu tidak memiliki pulsa. Dengan perasaan kesal, Dania menelpon Recky.
"Nih." Ujar Dania sambil memberikan ponselnya pada Darren.
__ADS_1
"Halo dad."
"Oh, Darren? ada apa? kau butuh sesuatu? atau Dania buat masalah?" Tanya Recky beruntun.
"Em enggak, ini ... apa daddy yang bantu Darren beli tanah pak Andi?" Tanya Darren dengan hati-hati.
Recky terdiam cukup lama, membuah Darren menatap cemas Dania yang kini menatapnya penasaran.
"Enggak, daddy gak kenal dengan Pak Andi. Lagian, daddy baru tahu kalau kamu mau beli tanah. Apa perlu bantuan daddy? apa uang kamu kurang? daddy transfer yah."
"Oh, gak perlu dad. Darren cuman tanya aja, takutnya kan daddy ikut bayar gitu. Darren gak enak." Ujar Darren menyangkal Recky yang mengira putra sambungnya itu sedang butuh uang.
"Yasudah kalau begitu. Ehmm Darren, bisakah kamu ke kota sekarang?"
Dania dapat melihat jelas raut bingung dari abang nya itu, dia penasaran apa yang daddy nya katakan pada Darren sehingga membuat pria itu bingung.
"Apa ada masalah?" Tanya Darren.
"Ehm ... mommy, mommy masuk rumah sakit."
"APA?!" Kaget Darren hingga dia berdiri dari duduknya.
"Darren, belakangan ini kesehatan mommy menurun. Pihak kepolisian tadi pagi memanggil daddy datang tempat tahanan, ternyata mommy mu harus rujuk ke rumah sakit besar. Dan di sana. .. hah ... mommymu di vonis terkena stroke."
Darren sungguh lemas mendengarnya, dia menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, Dania yang melihatnya juga sangat terkejut.
"Mommy ... Mommy stroke." Lirih Darren menjatuhkan ponsel Dania.
Dania membekap mulutnya sendiri, selama Delia di penjara. Dania tak pernah menjumpainya, melihat mommy nya saja dia tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup.
"Mommy hiks ... mommy! Dania mau pulang bang, Dania mau ketemu mommy." Histeris Dania.
"Tapi abang belum bisa ke sana, kamu pulang bareng supir lagi aja yah. Besok abang nyusul." Darren memeluk adiknya, keduanya sama-sama menangis karena keadaan Delia.
"Mudah-mudahan stroke nya mommy gak parah," ujar Darren dan Dania mengangguk kan kepalanya.
Gabriel yang tadinya ada di kamar seketika keluar saat mendengar suara keributan. Dia hanya berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menatap daddy dan tantenya yang sedang berpelukan.
"DEDEK PU ... lang loh? kok pada nanis? ini benel lumah dedek cih?" Gibran yang baru pulang di buat terhenti dengan kelakuan daddy dan tantenya. Karena bingung, anak itu keluar rumah dan melihat rumahnya.
"Benel kok, ini lumah dedek. Tapi kok pada nanis? kan nda ada bendela kuning." Bingung Gibran.
Pasalnya, sepekan lalu di kampungnya ada yang meninggal. Gibran ikut melayat ke sana dan melihat banyaknya orang yang menangis, dirinya pikir dia salah masuk rumah kali ini.
__ADS_1
Tak lama, Dania keluar dengan koper nya. Niat hati ingin liburan di rumah kakaknya, malah harus pulang setelah mendengar kondisi Delia.
"Loh Dania? kapan dateng?" Seru Savanna yang badu saja masuk ke pekarangan rumahnya.
"AKu mau pulang kak," ujar Dania dengan mata sembab.
"Eh kamu nangis? Di usir sama Kak Darren yah? bentar yah, kakak bicara sama abangmu itu." Ujar Savanna dengan kekesalan melanda dirinya. DIa pikir, Dania nangis akibat suaminya.
Dania menahan tangan Savanna, dia menggelengkan kepalanya dan kembali menangis.
"Abang juga lagi nangis kak hiks ...,"
"Loh? kenapa?" Bingung Savanna.
"Mommy masuk rumah sakit, dia terkena stroke."
Savanna membekap mulutnya sendiri, merasa terkejut dengan pemberitahuan yang baru dia dapatkan.
"Jadi aku mau pulang ke kota." Ujar Dania sambil menghapus air matanya.
"Bentar, kakak panggil abangmu dulu. Dia harus ikut sama kamu ke kota, biar dia yang antar." Bujuk Savanna.
"Aku gak bisa yang." Sahut Darren yang baru keluar menemui adik serta istrinya.
"Kamu gimana sih kak! ibu kamu lagi sakit loh!" Pekik Savanna.
"Aku ada janji sama orang, padi belum ke urus. Besok pagi kita berangkat sama-sama ke sana, biar Dania yang pulang dulu." Pinta Darren.
Savanna tak lagi membantah, dia mengantar Dania sampai ke mobil Recky yang masih berada di depan rumah. Biasanya supir Recky akan kembali setelah sore, tetapi hari masih siang jadi dia masih berada di sana.
"Beneran kamu gak sekalian ikut kak? nanti gampang, kalau soal padi biar aku minta ayah yang handle." Ujar Savanna memegang bahu suaminya.
"Enggak, kasihan ayah capek pastinya. Gak papa, kita berangkat besok pagi. Sama-sama," ujar Darren dengan kekeuh.
Mobil yang Dania tumpangi pun berjalan, remaja itu masih saja menangis. Setelah keluar dadi kampung dan masuk jalan besar, tuba-tiba saja mobil itu terhenti.
"Kenapa pak?" Tanya Dania.
"Aduh mba, saya lupa isi bensin lagi."
"APA?! Terus ... terus kita gimana pak?"
"Ya gimana lagi non, dorong lah."
__ADS_1
_______
Jangan lupa dukungannya🥰🥰🥰