
Savanna tetap sabar melayani Delia, bahkan ketika wanita tua itu buang air besar. Savanna yang membantu membersihkannya.
"Yang, makan dulu. Udah jam sebelas ini, kamu belum makan." Ucap Darren sambil berjalan mendekati istrinya yang tengah merapihkan selimut yang Delia kenakan.
"Iya Kak, sebentar." Sahut Savanna.
Savanna mengambil nampan bekas makan Delia, dia dan Darren sama-sama keluar dari kamar menuju dapur.
"Udah sini biar kakak yang cuci, kamu makan aja." Ucap Darren sambil mengambil alih nampan yang Savanna bawa.
Tak lagi berdebat, Savanna menurut. Dia duduk di meja makan dan melaksanakan makan malamnya. Sementara Darren, dia mencuci bekas makan Delia.
Setelah selesai, Darren kembali menemui istrinya. Dia duduk di hadapan Savanna sambil memperhatikan istrinya itu.
"Besok kita pulang," ujar Darren membuat suapan Savanna terhenti.
"Pulang? mommy gimana?" Bingung Savanna.
"Besok sudah ada suster yang rawat. Kita akan jenguk setiap akhir pekan saja. Sawah tidak ada yang urus, kasihan ayah kalau ngurus sendirian. Lagian, si kembar juga mulai sekolah di sana." Terang Darren.
"Terserah kaka saja," ujar Savanna.
Darren melihat raut wajah kelegaan dari sang istri, dia kembali mengingat perkataan Gabriel beberapa jam lalu.
Flashback On.
Gabriel mengajak Darren berbicara setelah Savanna tertidur, mereka berbicara di kamar tamu yang di tempati oleh si kembar.
"Oma masih gak suka sama mamah, kelihatan mamah gak nyaman di sini. Kapan kita pulang?"
"Memangnya, apa yang di perbuat oma pada mamah?" Bingung Darren menanggapi perkataan putranya.
"Oma tidak menerima niat baik mamah, aku melihatnya siang tadi." Jelas Gabriel dan menceritakan tentang apa yang terjadi sebelumnya.
Darren mengepalkan tangannya, dia benar-benar kecewa atas sikap mommy nya terhadap sang istri.
"Kenapa Savanna diam? kenapa dia tidak cerita padaku? apakah jika dia di perlakukan seperti Nadia, dia juga akan diam?" Batin Darren.
"Mamah bisa saja melawan oma, tapi dia masih menghormati oma sebagai ibu kandung daddy. Oma satu-satunya orang tua daddy, dan mamah gak mau merusak hubungan kalian. Apalagi dengan kondisi oma saat ini." Sahut Gabriel mengerti dengan jalan pikir daddy nya itu.
"Mamah gak selemah itu dad, dia hanya bisa sabar dengan daddy. Dia menekan ego dan keinginannya untuk daddy, jadi ... peka lah sedikit dad."
Flashback Off.
Perkataan Gabriel membuat Darren berpikir, selama Delia belum bisa menerima Savanna. Maka sebaiknya Darren tidak menempatkan istrinya satu atap dengan ibunya. Untuk menghindari masalah dan memahami perasaan istrinya.
"Terus Gibran gimana?" Tanya Savanna yang kembali mengingat Gibran.
"Kita jemput besok." Sahut Darren.
Selesai Savanna makan, Darren mengajaknya beristirahat. Tak ada ritual malam, mereka berdua tertidur lantaran kelelahan. Tengah malam, Savanna harus terbangun karena mendengar suara gelas pecah.
PRANG!!!
__ADS_1
Savanna segera mendudukkan dirinya, dia menoleh menatap suaminya dan Gabriel yang masih terlelap di sampingnya. Keduanya tak terusik dengan pecahan barusan.
"Suaranya dari kamar mommy yah." Gumam Savanna.
Savanna bergegas turun dari tempat tidur, dia segera keluar menuju kamar Delia. Saat pintu kamar Delia Savanna buka, langkahnya terhenti ketika melihat Delia yang berusaha ingin turun dari ranjang.
"Mom!" Pekik Savanna.
Savanna segera mendekat, dia menghalangi Delia turun.
"Mommy mau apa?" Tanya Savanna.
"Ha ... haus." Lirih Delia dengan terbata-bata.
"Mommy haus, kalau gitu Sava ambilkan mommy minum dulu. Sebentar yah, itu biar Sava bereskan nanti." Pamit Savanna dan berlalu pergi.
Delia menatap kepergian Savanna dengan tatapan tak bisa di artikan. Bahkan di saat sakit pun, Recky tak menjaganya. Sebab pria itu lebih memilih tidur di kamar lain.
"Ni mom minum nya." Sahut Savanna yang ternyata sudah kembali dengan membawa segelas air.
Savanna menyendokkan air itu ke dalam mulut Delia dengan telaten dan sabar, Delia hanya bisa menatap wajah Savanna yang fokus menyuapinya.
"Apa mommy lapar?" Tanya Savanna sambil mengelap mulut Delia dengan tisu.
Delia menggeleng, Savanna pun menaruh gelas itu kembali ke atas nakas dan beralih berjongkok di hadapan pecahan gelas yang berserakan.
"Mengapa dia tidak marah? Padahal aku sudah menyakitinya." Batin Delia dengan netra yang masih memperhatikan Savanna.
"Sava ke kamar dulu yah mom, takut kak Darren bangun." Pamit Savanna.
Setelah Savanna keluar dari kamarnya, Delia belum bisa memejamkan matanya. Dia masih heran dengan sikap Savanna terhadap nya. Bukankah seharusnya Savanna membalasnya dengan perlakuannya siang tadi? apalagi saat ini tidak ada Darren dan yang lainnya. Savanna bisa membalasnya bukan?
"Kenapa juga aku harus hidup seperti ini?" Batin Delia.
Air mata Delia luruh, dia merindukan kehidupan nya dulu. Dia merindukan kehangatan keluarganya. Dia ingin memutar waktu, seharusnya dia menerima Savanna sebagai pilihan putranya.
Sementara itu, Savanna tengah mengobati tangannya. Tak sengaja pecahan gelas itu menggores jarinya, sehingga dirinya tengah meneteskan obat merah pada jarinya.
"Sayang."
Tubuh Savanma menegang, dia menoleh dan mendapati Darren yang tengah mendudukkan dirinya sambil mengucek matanya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Darren.
"U-udah, tadi kebangun. Kebelet," ujar Savanna dengan gugup.
Darren merasa ada yang tak beres, apalagi melihat posisi istrinya yang terduduk di tepi ranjang sambil membelakanginya.
"Kamu sedang menyembunyikan apa?" Tanya Darren dengan tatapan penuh curiga.
"A-aa tidak papa, ini hanya ... sudah malam kak. Ayo tidur. Kita harus bangun pagi untuk menjemput Gibran. Pasti nanti pagi dia akan kesal pada kita karena terlambat menjemput nya." Savanna bergegas masuk dalam selimut, doa meyembunyikan tangannya dan segera memejamkan matanya.
Darren masih memperhatikan istri nya, ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Saat Darren berniat akan merebahkan diri kembali, netranya tak sengaja melihat obat merah beserta kapas di atas nakas.
__ADS_1
"Apa Sava terluka?" Batin Darren.
Darren ingin menodongnya dengan pertanyaan, tetapi mendengar nafas teratur dari istrinya membuat Darren urung.
Besok pagi, Darren pasti akan menodong istrinya itu dengan banyak pertanyaan.
***
Xander tengah menggendong Gibran di teras rumahnya, rupanya bocah gembul itu menangis karena tak kunjung di jemput.
"Dedek kangen mamah, dedek mau cama mamah hiks ...,"
"Iya sabar, mungkin jalanan macet," ujar Xander menenangkan cucunya.
"Ada pecawat, kenapa lepot macet di jalan. Apa gunana pecawat kalau nda di pake!" Rengek Gibran.
Xander terkekeh di buatnya, jika naik pesawat. Mau parkir dimana? Di genteng? walau dia memiliki halaman cukup luas, tapi pesawat tidak akan muat.
"Daddy mana ini!!! nda tau apa dedek jamulan nungguinna lama!! Pacti mamah di kunciin dulu di kamal cama daddy!!!"
"Kan nungguinnya sama kakek, kakek gak jamuran tuh." Sahut Xander.
"Kakekna lumutan." Ucap Gibran sejenak menghentikan tangisannya.
Xander tertawa keras, bahkan dia sampai mengeluarkan air matanya.
"Janan ketawa! janan ketawa! janan ketawa! nda betul hiks ... hiks ... nda betul!"
"Kakeknya harus nangis juga?" Tanya Xander.
"Iya." Sahut Gibran cepat.
"Kenapa kakek harus nangis?" Tanya Xander.
Gibran menatap Xander dengan mata berkaca-kaca dan hidung memerah. Dia masih sesenggukan sehabis nangis.
"Dedek matiin ayam kakek." Cicit Gibran.
"Ayam?"
Seketika Xander melototkan matanya, ayam yang ia beli puluhan juta. Yang ia rawat seperti anaknya sendiri, telah mati karena Gibran.
"Tadi malem banak namuk, dedek bakalin obat nyamuk bial ayamna nda di gigit namuk. Malah mati."
"TUAN!! SI KUKUR MATI!!!"
Xander seketika melemas, ayam mahalnya sudah mati. Dia harus mencari ayam langka itu kemana lagi?
"Solly kakek, dedek juga balu tahu. Makana dedek mau cepet pulang." Cicit Gibran.
_______
Jangan lupa dukungannya💗💗💗
__ADS_1