Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
problem Dania dan Satria


__ADS_3

Dania berniat akan pergi ke minimarket dekat rumah, padahal hari sudah malam. Remaja itu tidak takut di jalanan sepi seperti saat ini, demi sebuah jajan yang sangat dia inginkan.


"Tadi gue liat ni mie lagi diskon, lumayan. Beli dua gratis satu, berakhir hari ini. Mudah-mudahan aja masih banyak." Gumam Dania sambil memperhatikan ponselnya.


BRUMMM!!


Dania mendengar suara bunyi kotor yabg sahut-sahutan, dia menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia segera memejamkan matanya saat ada yang akan melewati dirinya.


BRUUMM!!


BRAK!!


Dania kembali memuka matanya, dia melihat sebuah motor ambruk di trotoar jalan setelah menabrak pohon. Netranya melihat tiga motor lain yang kabur dengan melaju sangat kencang.


"Eh, tabrak lari? tapi orangnya naik motor, gak lari." Dania loading sebentar, barulah dia menyadari sesuatu.


"Eh!! gak papa mas?! waduh!!" Pekik Dania saat melihat seorang pria terkapar begitu saja di samping motor besarnya.


Dania memasukkan ponselnya ke dalam cardigannya, dia menjatuhkan tubuhnya di samping pria itu dan menatapnya penuh takut.


"Nanti kalau gue buka helmnya, gue di apa-apain lagi. Gimana kalau ini sandiwara penculik? nanti organ gue di ambil? atau di jual jadi pelayan nafsu? atau ...,"


Lama sekali Dania memikirkan nya, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil balik tak jauh dari pohon sebagai alat perlindungannya. Lalu, dia pun membuka helm pria itu dengan takut-takut.


"Satu ... dua ... tiiii ... BANG SAT!!"


Dania melempar balok yang ia pegang, segera dia memangku kepala Satria karena pria itu dalam kondisi pingsan.


"Bang, lu kenapa sih? tiduran jangan disini coba, banyak nyamuk tau."


Satria tetap bergeming, dia memang beneran pingsan. Tapi, tingkah aneh Dania mungkin bisa membuat nyamuk merasa terfitnah.


Dania mencoba menarik Satria, sebab kaki Satria yang sebelah kanan masih tertimpa motor. Namun, tubuh Satria sangatlah berat. Dia juga sudah mencoba mencari pertolongan, tapi tak ada satu oun orang yang lewat.


"Masa gue harus nungguin dia bangun sih!" Gerutu Dania.


"Eh, gue kan punya hp." Gumam Dania.


Dania mencoba untuk membuka ponselnya, dia menekan panggilan pada Aurel.Tak butuh waktu lama, Aurel pun mengangkatnya.


"Halo? apaan?! gak tau apa gue lagi bete!!" Kesal Aurel.


"Eh, penting loh ini!" Seru Dania.

__ADS_1


"Lebih penting mana dari gue yang di tinggalin di pinggir jalan hah?!"


Dania terdiam, biasanya Aurel akan bersama para abangnya. Apakah ketiga orang tadi adalah abang Aurel juga? tapi, mengapa mereka kabur begitu saja setelah menjatuhkan Satria?


"Lo tadi bereng siapa?" Tanya Dania.


"Bareng si bang sat, tapi mana tuh orang. Gak balik-balik, kalau gue di culik gimana dong." Rengek Aurel.


"Rel, tapi ini abang lo ada di pangkuan gue." Sahut Dania membuat Aurel mengartikan hal yang berbeda.


"Maksud nya?"


"Eh, maksud gue tuh. Abang lo tiduran deket gue, eh aduh ...,"


"APA?!! KALIAN ... KALIAN ... DI HOTEL MANA HAH?! GUE GAK NYANGKA KALIAN BERDUA ... ARGHH!!!"


Tuutt!!


Dania melihat ponselnya, ternyata daya ponselnya telah habis. Kini, Dania bingung harus bagaimana. Berbeda dengan Aurel, dia segera menelpon papi nya untuk menjemput nya.


"Oh ninggalin gue biar bisa tidur bareng gitu, kecewa gue sama lo bang. Tega lo ngerusak temen gue." Lirih Delia.


***


Melihat putrinya yang duduk di pinggir jalan, membuat Recky segera menghentikan mobilnya dan membantu sang putri.


"Udah, kamu istirahat aja. Dokter juga udah bilangkan kalau dia gak papa." Ujar Recky sambil mengusap bahu putrinya.


"Gak mati kan dad? kalau nanti, gak mau Dania di gentayangin arwahnya," ujar Dania dengan sendu.


"Ngaco kamu! udah, daddy mau istirahat dulu." Pamit Recky.


Sedangkan Dania, dia masih duduk di tepian ranjang. Netranya menatap Satria yang tertidur damai dengan plester di hidung dan juga dagunya.


"Ganteng juga lo kalau kalem, kalau lagi ngereog. Udah kayak penghuni hutan." Bisik Dania.


Entah keberanian dari mana, Dania menyingkap poni Satria. Dia bisa tersenyum lucu, akhirnya dirinya bisa melihat kening Satria yang selalu tertutupi dengan poninya.


Srett!!


Dania terpaku saat tangannya di cekal dan sedikit tertarik, sehingga membuat wajahnya dan juga Satria hanya tersisa beberapa centi saja.


Mata pria itu terbuka, mata hitam menatap Dania dengan tajam. Tatapan keduanya saling terkunci, sebelum seseorang merusak suasana itu.

__ADS_1


BRAK!!!


"NAAHH!!! BENER KAN PI!! KUMPUL KEBO MEREKA!!"


Seketika keduanya menatap terkejut ke arah pintu, di sana semua anggota keluarga termasuk keluarga Satria tengah memandangnya dengan tatapan yang sama.


"SATRIA!!APA-APAAN KAMU!!" Sentak seorang pria paruh baya berjalan tergesa-gesa menghampiri Satria.


Satria melepas cekalannya pada tangan Dania, kedua remaja itu terkejut saat pria paruh baya itu mencengkram baju yang Satria kenakan.


"Om, sabar dulu om. Ini salah paham, bang Satria sedang sakit." Panik Dania.


"Udah, kamu gak usah bela anak gak tau diri ini! sampai mana dia ngerusak kamu?! berapa lama dia jadiin kamu boneka dia? bilang sama om!! biar dia tanggung jawab!!"


Dania hanya bisa melongo, Aurel segera mendekati sahabatnya itu. Dia mengusap bahu Dania dengan menatapnya dnegan netra berkaca-kaca.


"Lo tenang aja, bang Satria pasti tanggung jawab. Pantes aja beberapa hari ini lo murung terus," ujar Aurel.


"Rel, ini maksudnya gimana sih? abang lo itu kan lagi sakit, bukan ...,"


"Pasti bokap lo kecewa banget sama abang gue kan? tenang, bokap gue bakal bicara sama bokap lo. Kita pasti akan buat dia tanggung jawab!"


Aurel pikir, Satria seperti sekarang karena di pukul oleh Recky. Namun, kesalahpahaman tak sampai situ aja. Recky datang dengan membawa sapu, pria paruh baya itu berniat mengembalikan sapu itu ke sebelah lemari yang ada di kamar itu.


Namun, langkahnya terhenti saat melihat semua pasang mata menatapnya dengan tatapan berbeda-beda.


"Oh, kalian keluarga nak Satria yah? Dia gak papa, dokter telah memeriksanya."


"Kamu bikin koma saja juga gak papa, dari pada jadi anak yang hanya membuat malu!" Sindir papi Aurel, Karel Setiawan.


Dania dan Recky semakin tak mengerti, dan Karel pun mendekati Recky dengan wajah bersalahnya.


"Maafkan putra saya, saya akan membuatnya bertanggung jawab." Tegas KArel.


"Pi!! papi salah paham!" Seru Satria tak teri.a.


"Husstt!! diam! bisanya cuman malu-maluin orang tua aja kamu!! liat! mami mu sampai pingsan begitu!"


sontak mereka mengalihkan tatapannya, baru menyadari jika ada seorang wanita paruh baya yang bersandar pada Kenzi.


"Mi, Satria gak begitu." Lirih Satria.


"Rasanya mami mau pingsan Satria ... kenapa gak bunuh mami sekalian. Malu-maluin keluarga kamu naakk ... astaga. Apa yang salah mami ngajarin kamu Sat. Kurang pengajaran apa mami sama kamu naakk."

__ADS_1


__ADS_2