Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Kata mutiara Gibran


__ADS_3

Savanna masuk ke dalam warung milik orang tuanya sambil menggendong Gibran yang menangis, Farah yang sedang melayani pembeli menoleh kaget saat melihat cucu sambung menangis.


"Kamu apakan Gibran Sav?" Tanya Farah membuat Bagas yang sedang mencatat pemasukan pun mengalihkan tatapannya.


"Biasa bun, rewel kalau ke pasar." Jawab Savanna sambil menurunkan Gibran di kursi berhadapan dengan Bagas.


Bagas tersenyum melihat cucu sambungnya, dia berdiri dan mengambil minum untuk Gibran.


"Minum duku, memang iseng mamah mu itu."


Dengan masih sesenggukan, Gibran meminum nya. Setelah itu, bocah tersebut menatap Bagas dan mengadu tentang apa yang Savanna perbuat padanya.


"Tadi, Tadi mamah malah lewat tempat daging. Dedek nda cuka malah lewat cana, udah tau dedek nda bica lewat cana. Mau lewat jalan lain, takut nyacal." Adu Gibran dengan tatapan kesal.


"Savaa ... iseng banget sih!" Omel Bagas.


Savanna mengerucutkan bibirnya sebal, sebenarnya siapa yang anak orang tuanya? dirinya seperti di anak tirikan disini.


"Sudah-sudah, Sava. Kamu antar catatan ini ke pak Cecep yah, ini semua total borongan dia." Pinta Bagas sambil menyerahkan kertas pada Savanna.


"Gibran ikut enggak?" Tanya Bagas.


"Nda mau!" Ketus Gibran dengan kesal.


"Yasudah, nanti pulang sama kakek saja."


Savanna akhirnya pergi sendiri mengantar catatan itu, sementara Gibran. Dia sudah berpindah duduk di sebelah Farah yang sedang melayani pembeli.


"Gak bisa kurang kah bu minyaknya? dua lima dua liter deh," ujar seorang ibu-ibu pada Farah.


"Ya gak bisa bu, harga minyak lagi naik. Adanya minyak curah, mau?"


"Ih ogah banget minyak curah! saya maunya ini, lagian ambil untung jangan banyak-banyak." Ketus ibu tersebut.


Gibran memperhatikan keduanya berdebat dnegan kening mengerut, anak itu berusaha menangkap apa yang sedang mereka bicarakan.


"Gak bisa bu, disini gak bisa di tawar," ujar Farah dengan sopan.


"Eh bu! pembeli adalah raja! masa nolak raja!!" Sentak ibu-ibu tak tau malu tersebut.


"Laja kok nawal? citu laja apa lakyat jelata?"


Perkataan Gibran membuat atensi mereka beralih menatap bocah gembul yang sedang menatap ibu-ibu itu dengan taham.


"Nda punya duit ya di lebus aja, tadi nenek dedek udah bilang nda bica di tawal kan? Laja kok cukana nawal, udah kele?"


"Hus! Gibran!" Panik Farah saat Gibran mengeluarkan kata-kata mutiara nya.


Raut wajah ibu-ibu tersebut tampak merah padam, dia pun pergi dengan kekesalan di hatinya. Sedangkan Bagas, dia memberikan Gibran permen karena keberanian anak itu.


"Lain kali gak boleh begitu yah nak, itu gak sopan," ujar Farah dengan lembut.


"Dedek copan cama olang yang copan, dia nda copan makana dedek nda bica copan." Sahut Gibran dengan enteng sambil membuka bungkus permen nya.


Bagas mengacungkan jempolnya pada Gibran membuat Farah mendelik kesal.

__ADS_1


"Ayah ini! bukannya di ajarin yang baik, malah di dukung!" Kesal Farah.


"Loh bunda, justru bagus Gibran kayak tadi. Sering-sering Gibran ke warung yah, kalau perlu setiap hari. Biar gak ada yang nawar sama ngutang bun." Celetuk Bagas.


Benar saja, ketika ada pelanggan ingin berhutang. Gibran mengeluarkan kata-kata mutiaranya lagi seperti saat ini.


"Bu ngutang dulu yah, di gabung aja sama bon kemarin." Sahut ibu-ibu.


"Ibu tantik nda lihat ada tulisan, di lalang hutang! bayal hutang! kalau nda bayal kubulanna gelap, mau?!" Unjuk Gibran pada papan tulisan yang sudah Bagas siapkan.


"He adek, saya biasa ngutang disini. Lagian kamu masih kecil, gak udah ikut campur!" Pekik nya kesal.


"Dedek kecil-kecil nda pelnah ngutang lo!"


Ibu-ibu tersebut di tertawakan oleh para ibu yang lain, membuatnya kesal seketika. Gibran hanya menanggapinya dengan santai, sebab dia tahu betapa kasihannya kakek neneknya jika orang lain berhutang terus.


"Tau tuh, bu painem ngutang terus. Gimana mau maju bu Farahnya kalau di hutangin terus!" Sahut ibu-ibu yang lain.


Bu painem akhirnya memutuskan tuk pergi dengan menahan malu, berkali-kali dirinya ngutang tanpa mau membayar. Padahal, kehidupan nya berkecukupan tidak kekurangan.


"Jangan mau bu Farah di hutangin lagi, warung juga butuh pemasukan."


"Iya bener bu, gimana mau maju kalau di hutangin terus."


Farah tersenyum menanggapi ocehan ibu-ibu, netranya menatap Gibran yang sedari tadi menguap. Sepertinya anak itu sudah mengantuk karena kelelahan.


***


Di sawah, Darren sedang mengurusi padinya yang sedang panen. Dia sangat bahagia, panen padi yang dia hasilkan lumayan banyak.


"Oh iya pak Umay, nanti setelah selesai saya susul ke sana." Sahut Darren.


Gabriel pun tengah berada di sawah, bajunya sudah kotor. Wajahnya pun terkena lumpur, akan tetapi anak itu tampak semangat meneliti sesuatu.


"Banyak siputnya, bawa pulang lah." Gumam Gabriel.


Gabriel mengambil ember, dia mengambil beberapa siput untuk dia pelihara. Entah mengapa bocah itu tertarik dengan hewan berlendir tersebut.


"ABAANGG!!! GABRIELL!!!"


Keduanya sontak menoleh, mata mereka terbelalak kaget saat melihat Dania berlari di tengah sawah menghampiri mereka.


"Dania!" Pekik Darren buru-buru naik menghampiri adiknya itu.


"ABANG!!"


"EEEHH!!!"


BUGH!!


Dania memeluk erat Darren dengan kencang hingga keduanya terjatuh ke dalam sawah, para bapak bapak menolong keduanya terlebih Dania yang kini wajahnya penuh dengan lumpur.


"IUWWWW!!! SKINCARE MAHAL GUE!!!" Pekik Dania.


"Hahahah itu SKincare terbaru, skincare lumpur sawah milik Darren tampan!" Ledek Darren.

__ADS_1


Gabriel melihat sesuatu di atas bahu Dania, dia mendekat dan menarik tangan Dania. Dengan perasaan bingung, Dania mendekatkan dirinya ke Gabriel.


"AAAA!!!" Jerit Dania saat melihat sebuah siput yang berjalan di bahunya.


Dania buru-buru naik ke atas, dia mengusap bajunya takut ada siput lagi. Darren dan Gabriel ikut naik, mereka mengajak Dania pulang untuk bebersih setelah pamitan pada para pekerja.


"Abang betah tinggal di kampung?" Tanya Dania yang berkali-kali kesulitan berjalan sebab jalanan yang licin.


"Iya, kamu lihat tanah di sana? niatnya abang mau beli tanah itu, abang ingin membuat kebun buah naga sekaligus wisata buah. Tapi, sayang sekali. Harganya sangat tinggi."


"Dania minta daddy belikan gimana?" Usul Dania.


"JANGAN!" Abang mau membelinya dari hasil usaha abang." Tolak Darren.


Darren menolaknya, sebab pria itu sadar dirinya siapa. Dan lagi, selama menikah dengan Savanna Recky selalu membujuknya untuk kembali ke kediaman utama.


Mendengar penolakan sang abang, Dania tak bisa lagi memaksa. Mereka pun pulang ke rumah Darren yang tidak terlalu jauh dari sawah.


"Kak Sava mana?" Tanya Dania ketika mereka sampai di pelataran rumah sederhana Darren.


"Biasa, lagi di pasar." Jawab Darren.


Saat Darren akan membuka pintu, netranya tak sengaja menangkap sebuah amplop putih yang lumayan tebal. Dengan rasa penasaran, Darren mengambil amplop itu dan mengintipnya.


"Eh, banyak sekali." Gumam Darren saat melihat banyak sekali uang yang berada di amplop itu.


"Dania, pasti kamu yang suruh daddy kasih abang duit kan? ngaku kamu?" Tuduh Darren menatap tajam Dania yang terlihat kebingungan.


"Enggak loh bang! Ngapain daddy ngasihnya di amplopin gini, kenapa gak langsung TF ke abang aja?" Pekik Dania.


Betul juga, kenapa harus dengan amplop. Darren menoleh ke sana dan kemari untuk memastikan apakah ada orang yang berada di sana.


"Permisi pak Darren."


Darren dan lainnya menoleh, seorang bapak bapak seumuran Bagas datang menghampiri Darren dengan senyum lebarnya.


"Pak Andi, ada perlu apa yah pak?" Bingung Darren saat melihat orang yang ternyata adalah pemilik dari tanah yang mau Darren beli sebelumnya.


"Begini pak, saya setuju dengan penawaran pak Darren. Tanah itu akan saya jual 700 jt pak." Ucapnya dengan ramah.


"Ha? ini ... ini bapak berubah pikiran? awalnya kan 1,5 m pak? kok bisa bapak setuju saya yang beli? bapak rugi banyak loh pak." Kaget Darren.


"Iya pak Darren, saya lagi butuh uang. JAdi, saya jual murah saja ke bapak."


Darren mengerutkan keningnya, dia masih tidak percaya dengan apa yang orang tua di depannya ini beritahukan. Pasalnya, jika memang butuh uang, kenapa tidak menggadai tanahnya saja dari pada harus di jual kurang dari setengah harga?


"Jadi ... Gimana pak?"


____


Maaf yah kawan, kemarin mau tiga malah gagal buat. Sebenarnya udah buat dua chapter, tapi gak nyambung dan hambar banget alurnya. Jadi author cepetin dan seneng banget dengan respon kalian🥰🥰.


Besok aku usahakan up siang yah.


Oh ya, ada yang ngerasa gempa gak sehabis isya? author kerasa banget, lumayan lama. Gempanya lumayan kenceng dari biasanya, serumah sampe pada panik😭

__ADS_1


Semoga kita semua dalam perlindungan yang maha kuasa yah. Aamiin


__ADS_2