
Melihat raut wajah terkejut Nadira membuat Reno tertawa kencang, dia tak menyangka respon Nadira akan seperti ini.
"Ya kali saya bebasin kamu," ujar Reno dengan tersenyum sinis.
Nadira mengepakkan tangannya, dia bersiap akan memukul Reno. Namun, seorang polisi menghentikan aksi Nadira.
"Kurang 4jar!!!" Sentak Nadira.
"Syutt tidak boleh berkata kasar sayang." Balas Reno.
Nadira sungguh geram dengan apa yang pria itu inginkan, apakah dirinya sebuah lelucon? sehingga Reno mengerjainya seperti ini.
"Justru saya kesini ingin menyampaikan kabar buruk padamu. Bahwa, saya akan ikut campur dalam memberatkan masa tahananmu."
"KAU SIAPA HAH?! KAU SIAPA SEHINGGA MENGHUKUMKU SEPERTI INI!! KITA TIDAK ADA URUSAN!!" Sentak Nadira dengan penuh emosi.
"Ada, kita ada urusan Nadira. Tentu saja, ada. Buat apa membuang waktu saya jika kita tak memiliki urusan? hm?"
Nadira memandang Reno dengan tatapan nyalang, sedangkan Reno hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
Reno beralih menatap jam tangannya, sudah sangat sore dan dirinya harus pulang. Reno pun bersiap, lalu beranjak dari duduknya.
"Saya masih ada urusan, saya pastikan kamu akan mendekam lama di penjara. Bukan hanya lima belas tahun, saya berharap kamu mendekam seumur hidup."
Reno pergi dari hadapan Nadira yang meneriaki dirinya, dia tak memperdulikan wanita gila itu.
"Tuan, ayah anda menelpon." Ujar bodyguard Reno ketika Reno akan memasuki mobil.
Reno menerima ponsel bodyguard nya itu, dia sedikit menjauh untuk berbincang dengan ayahnya.
"Ada apa?" Tanya Reno dengan datar.
"Apa wanita itu sudah kamu kasih pelajaran?" Tanya ayah Reno.
Reno melihat ke sekeliling, dia menghela nafasnya pelan sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Sedangkan tangan yang lain, memegang ponsel.
"Ya, pelajaran dasar merusak mental. Ada apa?" Tanya balik Reno.
"Pastikan wanita itu membusuk di penjara," ujar ayah Reno.
"Kenapa harus aku? kau saja, aku lelah." Ujar Reno lalu mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Reno mengembalikan ponselnya pada bodyguard, lalu dia masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh bodyguard nya itu.
"Ada fakta yang tidak bisa aku hindari, dan kini fakta itu menyulitkanku." Gumam Reno memijat pelipisnya.
***
Reno menemui Savanna di rumah sakit, setelah banyak media yang ingin menjumpai mereka. Reno yakin jika Savanna dan lainnya sulit keluar.
"Lo disini?" Tanya Adinda saat mendapati Reno yang masuk ke dalam ruangan Gabriel
"Ya, gue bawa makanan dan pakaian unyuk kalian. Di bawah banyak media yang berusaha untuk naik, tapi tenang. Gue udah halangin mereka untuk naik," ujar Reno dan menyerahkan beberapa paper bag yang ia bawa.
Netra Reno menatap Darren yang tertidur di sofa, mungkin pria itu sangat lelah hari ini. Mengerti tatapan Reno, Adinda pun menjelaskan.
"Tubuhnya demam, kayaknya kelelahan. Apalagi dia lagi stres mikirin berita yang beredar," ujar Adinda.
"Ya, gue tahu. Mana Savanna?"
Adinda menunjuk pintu, ternyata Savanna baru saja kembali setelah dia berusaha ke kantin rumah sakit mencari makan.
"Reno?" Tanya Savanna.
Reno tersenyum tipis, dia mengajak Savanna berbincang di luar. Karena ada hal yang ingin dirinya bicarakan berdua dengan Savanna.
"Ada yang mau aku bicarain, tentang ... perasaan."
Savanna semakin tak mengerti, dia menarik Reno untuk duduk agar keduanya daoat bebrincang dengan nyaman.
"Perasaan siapa?" Tanya Savanna.
"Perasaan aku ke kamu," ujar Reno membuat Savanna sedikit bingung.
"Kamu bawa aku kesini cuman mau ngegombal aja Ren?" Tanya Savanna.
Reno menggelengkan kepalanya, dia sedikit menggeser tubuhnya agar lebih menatap pada Savanna yang kini menatapnya serius.
"Bukan Sav, mau sampai kapan kamu anggap semua omongan aku gombalan semata? apa yang selalu aku omongin ke kamu, entah perasaan sayang, cinta, itu semua tulus dari hati aku. AKu gak ada niat untuk bercanda." Tegas Reno.
"Aku suka sama kamu Sav!"
Savanna benar-benar tak menyangka, karena selama ini dirinya pikir kebaikan Reno padanya hanya sebatas teman. Dia tidak tahu bahwa pendekatan mereka membuat Reno menggunakan perasaan.
__ADS_1
"Apa kamu sayang juga sama aku Sav?" Tanya Reno dengan harapan yang memenuhi dirinya.
"Ren, jujur aja. Aku sayang sama kamu, tapi sebatas teman. Terima kasih banget kamu sudah memberikan aku hati kamu dengan tulus, tapi aku tidak bisa memaksakan hatiku."
Reno menundukkan kepalanya, sehingga Savanna yang melihatnya pun kini tersenyum. Tangan Savanna terangkat, dia menepuk bahu Reno dengan pelan.
"Ren, kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku. Perasaan aku ke kamu itu sebatas teman, gak lebih. Aku khawatir, menyakiti kamu lebih dalam lagi jika memberi kamu harapan." Ujar Savanna yang kini menatap lurus ke depan.
"Kita bisa mencoba nya, kita bisa menyatukan hati kita. Aku yakin Sav," ujar Reno meyakinkan Savanna.
Savanna menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus jawab seperti apa. Dia bingung saat ini, di sisi lain. Dirinya masih memiliki perasaan pada Darren, hingga tak membuatnya melabuhkan hati ke lain hati.
"Ren, maaf. Jika ternyata selama ini kedekatan kita membuat kamu salah paham."
Reno dengan cepat menggeleng cepat, dia memegang tangan Savanna dengan menatap lekat Savanna.
(Ye si abang, belum mahrom bang🤭🤭, jangan di contoh kawan💆♀️)
"Bukan karena kedekatan kita, aku sudah menyukaimu sejak lama. Saat kita bersekolah dulu, aku selalu memantaumu. Aku mencintaimu dalam diam, aku memilih mengubur dalam perasaan ku karena saat itu aku mengetahui komitmen yang yang kalian pegang. Aku menunggu di saat kamu dan dia menghentikan komitmen itu Sav. Dan kini saatnya, aku memperjuangkan tambatan hatiku." Jelas Reno panjang lebar kali tinggi.
Tidak keduanya sadari, Darren sedari tadi melihat Dan mendengar percakapan mereka dari pintu ruangan Gabriel. Darren tengah mempersiapkan dirinya, akan keputusan yang Savanna buat. Dan masihkan ada cinta untuknya dari wanita yang masih menempati hatinya itu.
"Reno ...." Savanna melepaskan tangan Reno dari tangannya, dia menatap Reno dengan tatapan bersalah.
"Maaf, aku hanya menganggapmu sebatas teman saja. Tidak lebih, soal perasaan ... cinta gak bisa di paksa Ren. Carilah wanita yang mencintaimu, dan itu ... bukan aku."
Selepas mengatakan itu, Savanna bangkit berdiri. Dia pergi begitu saja meninggalkan Reno yang terdiam merasa sakit atas penolakan yang Savanna berikan.
Reno beranjak dari duduknya, dia berbalik dan terkejut mendapati Darren yang sedati tadi memperhatikan mereka.
"Lo dengar semuanya?" Tanya Reno yang cukup kaget.
Darren mengangguk kaku, Reno pun berjalan mendekati Darren yang terlihat pucat itu.
"Lo dengar semuanya kan? Savanna, masih menaruh hati untuk lo. Apa lo gak mau mengejarnya? perasaannya dari dulu sampai sekarang, nama lo masih terukir di hatinya." Lirih Reni.
Darren tertegun, benarkah seperti itu? Apakah Savanna masih mencintainya? apakah rasa itu masih ada?
"Kejarlah, cinta kalian belum usai." Ucap Reno seraya menguatkan hatinya dan mengikhlaskan jika Savanna bukanlah jodohnya.
_______
__ADS_1
Siapa nih yang kena prank authornya🤭🤭🤭🤭