Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
3 bulan kemudian, kehidupan baru


__ADS_3

3 bulan kemudian.


Berita tentang Keluarga Atmajaya perlahan demi perlahan menghilang, kini berita lain yang sedang di buru. Kehidupan mulai membaik, termasuk kehidupan Savanna dan Darren.


Keduanya telah menggapai impian mereka, menikah dengan pasangan yang mereka cintai. Cinta kisa mereka belum usai, dan kini sudah di ikat dengan ijab kabul dua bulan lalu.


Yah, keduanya menikah dengan sederhana. Darren membeli rumah di dekat dengan rumah otang tua Savanna yang berada di kampung, untuk sementara sampai kehidupan mereka lebih baik. Dan tidak di kejar oleh media yang haus akan berita tentangnya.


Uang tabungan Darren, dia belikan sawah dan ladang untuk usahanya. Dia belajar cara hidup di kampung lewat Savanna, beruntung wanita yang kini berstatus istrinya itu tak mempermasalahkannya.


"ADEK!! TOLONG MAMAH NAK!" seru Savanna yang kini berada di dapur.


Gibran datang sambil membawa bolanya, keringat membasahi pilipisnya. Anak itu sepertinya sudah sangat betah berada di kampung, dia bebas bermain dengan banyak temannya tanpa takut kesepian.


"Iya mama." Sahut Gibran.


Sekarang Gibran ikut memanggil mama setelah Darren memberitahunya jika Savanna sudah menjadi ibu sambung mereka. Tentu saja Gibran dan Gabriel senang, dan bersyukurnya ingatan Gabriel kembali pulih sebulan lalu.


"Mana abang?" Tanya Savanna.


"Abang disni." Sahut Gabriel yang baru saja dari kebun belakang rumah mereka.


"Tolong ke warung yah, mama mau masak buat makan malam." Pinta Savanna.


Savanna membereskan tangannya, dia mengambil uang di dompetnya dan mendekati kedua nya.


"Gabriel tolong pergi ke sawah, panggil daddy suruh pulang yah udah mau gelap." Pinta Savanna.


Savanna menyuruh Gabriel ke sawah karena banyak sekali belokan jalannya, Gibran sering lupa jalan pulang sehingga Savanna takut anak itu akan nyasar nantinya.


"Adek tolong belikan mamah, belikan mamah ketumbar dua ribu. Bawang merah lima ribu sama Rapika buat mamah gosok dua ribu yah. Ingat gak? mamah catet aja yah."


"Nda ucah, dedek bica!" Seru Gibran dengan semangat.


Gubran menadahkan tangannya, Savanna pun memberikan uangnya. Lalu, keduanya pergi melaksanakan tugas masing-masing.


"Ketumbal, bawang melah, lapika. Ketumbal, bawang melah, lapika. Ketumbal, bawang melah, lapika. Ketumbal bawang melah lapika."


Sepanjang langkah Gibran mengucapkan kata-kata itu, tak lama langkahnya terhenti di sebuah warung yang tampak sedikit besar.


Bocaj itu mengetuk kaca etalase, seorang ibu-ibu sedikit melongokan kepalanya untuk melihat Gibran yang kini mendongakkan kepalanya.


"Bude, beli ...."


"Beli ...."


Gibran menggaruk kepalanya, rasa panik menyerang dirinya. Dia lupa ingin membeli apa, tadi dia mengingatnya sepanjang jalan. Kenapa masih lupa?


"Beli apa cah ganteng." Sahut ibu-ibu itu yang menunggu permintaan Gibran.

__ADS_1


"Beli tadi mama suluh beli lapika dua lebu, bawang melah dua lebu telus ... ke ... ke ketombena lima lebu."


"HAHAHAHA!!"


Seketika ibu-ibu warung itu tertawa, Gibran pun menjadi bingung. Warung sedang sepi saat ini, jika tidak Gibran akan di tertawakan banyak orang.


"Bude tidak menjual ketombe nak hahahah,"


"Tapi tadi kata mamah beli ketombe," ujar Gibran kekeuh.


"Aduh sakit perut bude, coba pulang dan tanyakan apa yang mamah kamu suruh." Saran penjual itu.


Dengan wajah menahan tangis, Gibran melangkah pulang. Dia berlari bahkan hampir terjatuh, menyesal tak menuruti saran ibu sambungnya itu.


"Hiks ... huaaa!! dedek nda mau belanja lagi, dedek nda mau!! pokokna nda mau!! nad betul!!"


Darren yang baru saja pulang dari sawah bersama dengan Gabriel di buat bingung, begitu juga dejgan Savanna.


Gibran menaruh uang yang ia bawa di atas meja tamu dan masuk ke dalama kamarnya.


"Gibran kenapa kak?" Bingung Savanna.


"Gak tau, kakak kan baru pulang." Sahut Darren.


Gabriel melihat uang di atas meja, tampaknya dia mengerti apa yang adiknya itu alami.


"Pasti lupa lagi, dasar ngeyel!" Batin Gabriel.


"Ini mah," ujar Gabriel memberikan bungkus belanjaan.


"Loh, belanjaannya di tinggal sama Gibran?" Bingung Savanna.


"Enggak, tadi dia bilang Ketumbar malah ketombe."


Tawa mereka pecah, membuat yang di dalam kamar bertambah jengkel do buatnya.


"JANGAN DI TAWAKAAANN!! NDA BETUL DACAL!!"


***


Malam hari, si kembar sudah tertidur pulas di kamar sederhana. Darren menutup pintu kamar anaknya dengan sangat pelan karena tak ingin menganggu tidur mereka.


"Sudah tidur kak?" Tanya Savanna yang baru saja menyelesaikan pekerjaan dapurnya.


Darren mengangguk, dia mengajak Savanna untuk duduk di sofa ruang keluarga. Savanna pun menyandarkan kepalanya di d4d4 bidang suaminya sambil menikmati usapan lembut di kepalanya.


"Aku masih gak nyangka loh kalau kita sudah menikah," ujar Savanna.


"Yah, kakak juga. Kakak pikir kamu tidak akan menerima kakak lagi," ujar Darren.

__ADS_1


"Hati aku udah di curi kakak soalnya." Canda Savanna.


Darren m3nc1um gemas pipi Savanna, sehingga membuat Savanna memekik kesal.


"Udah bisa gombalnya yah!"


"Iya lah, kan di ajarin kakak!" Sahut Savanna.


Mereka kembali berpelukan mesra, menikmati kesunyian malam. Suasana kampung yang sangat sepi, sangat nyaman bagi orang yang tidak suka kebisingan.


"Maaf, kamu harus bersamaku setelah aku tidak memiliki apa-apa. Tapi aku janji, aku akan kembali bangkit." Lirih Darren.


"Kak, aku kan udah ngomong. Semua yang terjadi itu ada rahasia di baliknya, buktinya kita bisa bersama. Lagian, dengan kamu kere ibu aku malah kasih restu." Ujar Savanna sambil tersenyum.


Memang ibu Savanna tidak suka dengan orang kaya, sehingga saat dulu Savanna akan menikah dengan Darren. Farah selaku ibu Savanna berat untuk mengizinkan putrinya. Namun, sekarang. Ibu Savanna malah menyayangi Darren seperti anak kandungnya sendiri.


"Si kembar juga lebih bahagia disini, walau Gibran masih harus adaptasi." Savanna menahan tawanya mengingat ketika Gibran takut dengan lumpur becek dan pasar yang bau.


Anak itu pasti akan meminta di gendong dan memakai masker, walau begitu anak itu terus ingin ikut dengan Savanna. Walaupun ke tempat yang tidak dia sukai.


Tiba-tiba Darren mendekatkan wajahnya pada Savanna, kini keduanya b3rc*mbu rayu sebagai sepasang suami istri.


"Ayo kita buat adik untuk si kembar."


Savanna menunduk malu saat Darren menggendongnya, sepasang suami istri itu masuk ke dalam kamar mereka dan melakukan ritual ibadah indah.


Pagi harinya, Savanna ingin pergi ke pasar. Dia akan menghampiri Farah yang sedang menjaga toko sembako miliknya yang lumayan besar.


"Dedek ikut! dedek ikut!!" Rengek Gibran sambil mencari sendalnya dengan gusar.


Savanna menunggu Gibran memakai sendal, setelahnya dia menggandeng anak sambungnya itu pergi ke pasar. Sedangkan Gabriel, dia sudah pasti sedang di sawah bersama dengan Darren.


Sesampainya di pasar, Gibran sudah uring-uringan. Dia akan menangis saat melihat ikan besar yang sedang di potong.


"Kenapa?" Tanya Savanna saat merasakan genggaman tangan Gibran di rok nya sangat erat.


"Dedek kegelian, dedek kegelian hiks ...,"


Savanna melihat apa yang Gibran takutkan, dia mengelengkan kepalanya saat tahu apa yang Gibran lihat. Rupanya putranya tak suka melihat perdagingan, banyak sekali yang putranya sambungnya tak suka.


"Inget, mamah gak mau gendong." Ujar Savanna dan berjalan lebih dulu.


"MAMAH!! HIKS ... JANAN TINDAL! TINDAL!! HILANG NANTI DEDEK HIKS!!"


_______


Haah ... Akhirnya. Tau gak, sebenarnya author udah nulis 2 chapter. Tapi, pas aku baca lagi kok kayak aneh alurnya. ENtah mengapa ide nya lagi stuck banget😭😭😭. Pokoknya aneh alurnya, akhirnya aku buat ulang. Dan ini lah hasilnya, authornya sudah kelelahan💆‍♀️💆‍♀️.


Oh ya, author cepetin karena kelamaan kalau ngalur Savanna sama Darren sampe nikah kan😂😂😂. Authornya juga bingung mau gimana, jadi laniut aja yah.

__ADS_1


setelah ini kisah rumah tangga keduanya oke dan juga problem keluarga sih, nantikan aja oasti di iringi sama si kembar kok biar kalian terhibur🥰🥰


__ADS_2